
Terlihat sebuah mobil sport berwarna putih yang melaju dengan kecepatan tinggi. Pemilik mobil tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Akandra Xaquille. Saat ini Akandra dan istrinya pergi menuju kota, tempat dirinya berasal. Namun, kali ini mereka tidak pergi ke kediaman Akandra melainkan pergi ke kediaman Kakek Abirama.
Audrey yang melihat suaminya tengah panik pun menawarkan diri untuk menyetir. Sebab terlalu berbahaya jika menyetir dalam keadaan tidak fokus atau pikiran sedang rancu. Sebelum mengutarakan niatnya Audrey memegang tangan suaminya dengan lembut.
"Jika Mas mengizinkan, biar aku saja yang menyetir. Aku tahu bagaimana perasaanmu, maka alangkah lebih baiknya jika aku saja yang menyetir agar kita aman sampai tujuan, boleh?" tawar Audrey dengan santun.
"Kamu yakin, Sayang?" Akandra menoleh ke samping tepatnya di sebelah.
"Iya, Sayang." Audrey tersenyum.
"Baiklah." Akandra menepikan mobilnya.
Dengan cepat mereka pun berpindah posisi. Akandra yang sedari awal duduk di kursi kemudi, sekarang gantian dengan istrinya. Kali ini Audrey yang akan menyetir. Tentunya sebelum Audrey melajukan mobilnya, tidak lupa mereka memakai sabuk pengaman terlebih dahulu.
Setelah itu, barulah Audrey menyetir dengan kecepatan tinggi. Akandra benar-benar tampak gelisah. Dia mencoba menghubungi Affandra. Namun, tidak ada jawaban dari adiknya. Hal itu yang membuat seorang Akandra semakin panik dan ketakutan.
Bagaimana tidak, setelah mendengar kabar buruk dari orang kepercayaannya yaitu Daniel. Meski Daniel tidak memberi tahu dirinya mengenai kabar buruknya, Akandra yakin jika telah terjadi sesuatu pada kakek kesyangannya. Dan hal ini yang membuatnya semakin ketakutan, dia takut sesuatu yang buruk terjadi sama seperti yang terjadi pada kedua orang tuanya.
Audrey yang memahami suasana hati suaminya pun hanya mampu menenangkannya. "Mas, aku paham dengan perasaanmu. Sebaiknya kita berdo'a saja semoga tidak terjadi hal buruk yang tidak diinginkan pada Kakek Rama. Mas positif thinking aja ya, yakin jika Kakek Rama baik-baik saja," tutur Audrey dengan santun dan penuh kelembutan serta dibumbui dengan senyuman yang menenangkan.
"Iya, Sayang. Kita do'akan Kakek Rama sama-sama ya." Akandra tersenyum untuk menyembunyikan kesedihan dan juga kecemasannya.
Meskipun begitu, Audrey tetap bisa melihat kesedihan serta kecemasan suaminya melalui matanya. Akan tetapi Audrey tidak mempermasalahkan hal itu. Wajar saja jika suaminya begitu mengkhawatirkan keluarganya. Jika dirinya berada di posisi Akandra pun, ia akan merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Audrey memutuskan untuk fokus menyetir tanpa bertanya apa pun pada suaminya. Sehingga tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Kini mereka telah sampai di kediaman Kakek Abirama.
Keduanya keluar dari mobil secara bersamaan. Tanpa berlama-lama, Akandra menggenggam tangan istrinya dan lari memasuki pintu utama. Audrey berusaha mengimbangi larian suaminya yang cukup cepat karena saking panik dan takutnya.
Sementara di sisi lain, tepatnya di kamar Kakek Abirama. Kakek Abirama tengah terbaring di temani cucunya yaitu Affandra dan juga orang kepercayaan Akandra dan juga supir pribadi keluarga Xaquille yaitu Pak Arman. Namun, yang berbeda adalah, Kakek Abirama tampak seperti sehat dan bugar. Beliau hanya terbaring saja dengan kedua matanya yang masih melek.
"Kek, Kak Andra sudah datang. Apa yang harus kami lakukan sekarang?" tanya Affandra pada sang kakek.
"Lakukan sesuai rencana. Ingat, jangan ada yang melakukan kesalahan. Jika itu sampai terjadi, maka Akandra akan marah besar," jawab Kakek Abirama.
"Baiklah, sebaiknya Kakek kenakan syal ini agar terlihat seperti orang sakit. Dan kalian berdua, berpura-pura sedih kalau bisa buang sedikit air mata kalian agar Kak Andra percaya dengan sandiwara ini, paham!" perintah Affandra pada kedua pria berbeda usia itu.
"Lakukanlah, cucuku."
Dengan cepat Affandra segera mengambil syal dan dilingkarkan ke leher sang Kakek. Setelah itu dia duduk di kursi sebelah kakeknya dan mulai berakting. Begitupun dengan Daniel dan Pak Arman.
"Maafkan Fandra, Kek. Seharusnya Fandra bisa mencegah Kakak untuk tidak bercerai dengan Kak Audrey. Dah sekarang Kak Audrey menghilang entah ke mana. Kini Kakakku, Andra sedang mencarinya. Namun, apa yang terjadi sekarang? Kesehatan Kakek drop, seharusnya Fandra tidak memberi tahu Kakek mengenai kondisi rumah tangga Kakak pada Kakek," gumam Affandra dengan nada lirih serta dibumbui dengan berlinang air mata.
Sebenarnya, Affandra sangat membenci menangis. Selama hidupnya, ini yang kedua kalinya menangis. Jika bukan karena rencana Kakek Abirama, ia tidak akan mau melakukan itu. Kakek Abirama melakukan semua ini bukan tanpa sebab, semua itu agar hubungan Akandra dan Audrey bisa membaik dan membatalkan perceraiannya.
Benar, Kakek Abirama mengetahui kondisi rumah tangga cucu pertamanya. Affandra yang telah memberi tahunya. Affandra pun tidak bermaksud untuk membongkar aib sang Kakak, melainkan untuk menyelamatkan Kakaknya dari gugurnya pernikahan atau cintanya. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk kembali dirasakan sang Kakak.
Maka dari itu semua berperan menjalankan semua sandiwara ini untuk menyatukan pernikahan Akandra dan Audrey. Padahal tanpa sepengetahuan mereka, hubungan Akandra dan Audrey sudah membaik. Namun, semua sudah terlanjur dilakukan dan kedua pihak tidak mengetahui apa yang terjadi pada keduanya. Dan yang epicnya lagi, bukan hanya anggota keluarga Xaquille yang turun tangan, tapi juga Daniel dan Pak Arman turut berpartisipasi dalam hal ini.
__ADS_1
Akandra dan Audrey yang baru memasuki kamar Kakek Abirama pun langsung berjalan menghampiri Affandra yang tengah menangis, lebih tepatnya berpura-pura. Sedangkan Affandra, ia terkejut pada saat melihat kakak iparnya datang bersama kakaknya. Pria yang tengah duduk itu pun segera menyeka air matanya dan beranjak dari duduknya.
"Kak Audrey?" Kedua bola matanya terbelalak dengan sempurna.
"Fan, apa yang terjadi pada Kakek Rama?" tanya Audrey dengan lembut.
Mendengar pertanyaan dari Kakak iparnya, Affandra langsung memeluk sang kakak ipar dengan aktingnya. "Semua salahku, Kak Audrey. Semua adalah kesalahanku," racau Affandra dengan segala akting yang ia keluarkan.
"Sudah cukup! Jangan memeluk istriku seperti ini. Sebagai gantinya, peluk kakakmu ini." Akandra menarik tubuh Affandra dari tubuh istrinya. Kemudian dia merentangkan kedua tangannya.
"Aku masih normal, Kak. Aku tidak memeluk pria," celetuk Affandra.
Tak!
Akandra menyentul dahi Affandra. "Sembarangan kalau bicara! Aku juga masih normal."
"Normal kok mau peluk-peluk," omel Affandra.
"Astaga kalian ini. Sudah cukup! Lihatlah, Kakek sedang tidak sadarkan diri dan kalian malah asyik bertengkar! Kalian sudah tua, bukan bocil lagi! Sudah diam!" tegas Audrey yang melerai pertengkaran kecil antara kakak beradik ini.
"Surprise!" Kakek Abirama tiba-tiba bangun dan berdiri di atas ranjang dengan tangan diangkat ke atas.
Akandra dan Audrey yang melihat itu seketika terkejut bukan main. Keduanya saling menatap satu sama lain. Dalam pikiran mereka memiliki pertanyaan yang sama yaitu, "Apa yang sebenernya terjadi?"
__ADS_1
****
Stay tune :)