Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 31 > Waiting For You


__ADS_3

Hati Audrey terenyuh mendengarkan pengakuan cintanya Akandra. Air mata pun menetes karena terharu. Sebelumnya dia belum pernah mendengar pengakuan cinta setulus ini. Bahkan suaminya tidak pernah menyatakan cinta setulus ini.


"MasyaAllah, Kak. Jadi, selama ini Kakak--"


Akandra mengangguk. "Ya, aku mencintaimu. Itulah kenapa aku selalu peduli padamu. Aku semakin yakin untuk mempersuntingmu, tentunya semua keputusan ini ada padamu. Pikirkan baik-baik, aku tidak ingin kamu salah mengambil keputusan yang akan kamu sesali nantinya. Percayalah, aku tidak akan memaksamu. Aku akan senantiasa menunggu keputusanmu." Akandra menangkup kedua pipi Audrey dan menatapnya dengan penuh cinta.


Audrey kembali meneteskan air mata. Dia benar-benar terharu dengan pria yang ada di hadapannya. "Akan aku pikirkan niat baikmu ini, Kak. Aku membutuhkan waktu, karena aku masih belum siap untuk kembali berhubungan. Berikan aku waktu," ucap Audrey dengan membalas tatapan Akandra.


"Tentu saja, aku akan memberikan waktu sebanyak yang kamu inginkan. Aku akan sabar menunggumu." Akandra tersenyum seraya menyeka air mata Audrey yang terus menetes.


"Terima kasih, Kak." Audrey tersenyum manis.


"Jangan berterima kasih seperti ini. Aku akan pastikan, selama kamu bersamaku ... aku akan selalu membuatmu tersenyum. Aku tidak akan membiarkanmu menangis sedetik pun. I promise." Akandra menggenggam kedua tangan Audrey.


Audrey hanya menanggapinya dengan senyuman serta anggukan kecil. "Bangunlah, akan kutunjukkan sesuatu." Akandra membantu Audrey untuk berdiri.


"Daniel, Affandra!" panggil Akandra setelah membangunkan Audrey.


Dengan cepat, kedua pria itu datang. "Iya, Kak."


"Iya, Tuan."


"Kalian ikut bersama kami, ayo." Akandra mengajak adik serta bodyguard-nya.


Kedua pria itu pun mengangguk dan mengikuti langkah Akandra yang berjalan di depannya. Affandra diam-diam tersenyum. Dia yakin jika kakaknya akan segera melamar Audrey di hadapannya.


'Aku akan menyaksikan dua insan yang akan bersatu ini. Berbahagialah wahai Kakakku,' batin Affandra berbicara.


Tak lama kemudian, mereka berempat sudah sampai di salah satu ruangan. Audrey keheranan, kenapa Akandra membawanya ke ruangan itu. Memangnya ada apa di ruangan itu dan apa yang akan Akandra tunjukkan?


Pikiran Audrey sedang bertanya-tanya. Sementara Akandra membuka pintu ruangan itu. Tanpa berlama-lama, Akandra memegang tangan Audrey dan membawanya masuk. Diikuti oleh dua pria di belakangnya.


"MasyaAllah," ucap Audrey yang terkejut dengan ruangan yang dia masuki.

__ADS_1


Ruangan itu sudah dihias dengan sedemikian rupa sampai terlihat begitu indah. Banyak kelopak bunga mawar yang bertaburan di lantai berbentuk love. Bukan hanya itu, ruangan itu dihiasi lampu tumbler dan memakai background yang terdapat tulisan AUDREY MARRY ME.


Akandra melepaskan pegangan tangannya, kemudian dia berjalan ke arah alat musik berupa piano yang dihiasi bunga mawar juga. Tanpa membuang waktu, pria tampan nan baik hati ini pun duduk di kursi. Akandra sedikit menghembuskan napasnya sehingga jemarinya mulai memainkan alat musik tersebut.


Audrey hanya diam mematung menyaksikan Akandra memainkan musiknya. Begitupun dengan Affandra dan juga Daniel. Kini di ruangan tersebut semakin romantis dengan irama yang begitu merdu. Audrey tersenyum kecil dan menyeka air matanya yang sempat menetes.


Jelang beberapa menit, Akandra selesai memainkan alat musiknya. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Audrey. "Bagaimana penampilanku?" Akandra menaik-turunkan alisnya.


Audrey tersenyum. "Perfect!" Audrey mengacungkan dua jempol pada Akandra.


"Sungguh?"


"Iya, Kak. Iramanya benar-benar membuat hatiku nyaman. Benar-benar enak sekali untuk didengar," Audrey memuji Akandra.


"Terima kasih." Akandra tersenyum.


'Astaga, apa ini? Kalian kaku sekali! Ayolah, Kak! Tunjukkan kegantle'anmu! Ayo nyatakan perasaanmu dan lamar Kak Audrey!' batin Affandra berteriak. Dia gemas melihat kakaknya yang tak kunjung menyatakan perasaannya.


Benar, Affandra tidak tahu jika kakaknya sudah menyatakan cinta pada Audrey. Sama halnya dengan Affandra, Daniel pun merasa gemas pada tuannya. Dia sungguh tidak sabar ingin menyaksikan tuannya melamar seorang wanita. Namun, semua itu tidak Akandra lakukan.


"Kak, apa semua ini untukku? Apa Kakak sudah mempersiapkan ini semua untuk melamarku?" tanya Audrey dengan tatapan yang lekat.


Akandra mengangguk dan sedikit tersenyum. "Benar, semua ini untukmu."


"Tapi, Kak ... aku--"


"Aku paham. Jangan pikirkan itu, aku akan kembali melamarmu setelah masa iddah dan hatimu siap untuk menerimaku. Aku sudah berjanji padamu untuk tetap menunggumu. Lagi pula, lamaran ini terlalu biasa dan mirip seperti di film-film. Akan aku pastikan jika lamaranku nanti, aku akan menghiasnya dengan sangat indah," jelas Akandra.


"Maafin aku, Kak."


"Sstt! Jangan meminta maaf seperti itu. Lupakan ini, ayo aku antar ke kamarmu. Kamu butuh istirahat." Akandra memegang tangan Audrey dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.


'Apa-apaan ini? Kakak menyuruhku hanya untuk menyaksikan kekauan ini? Sungguh membosankan!' Affandra mengumpat dalam hatinya.

__ADS_1


Akandra yang melihat adiknya cemberut pun menghentikan langkahnya. Dia berbisik pada adiknya. "Temui aku di ruang rahasia!" bisik Akandra sembari melanjutkan lengkahnya.


****


Sesampainya di kamar Audrey, Akandra membuka kamarnya. Mereka masuk dan menutup kembali pintunya. "Gantilah pakaianmu, aku akan menunggu di sini!" perintah Akandra pada Audrey.


Akandra tidak suka melihat penampilan Audrey yang berantakan seperti ini. Dia ingin melihat Audrey selalu cantik, tersenyum dan bahagia selalu. Itulah, kenapa dia menyuruh Audrey untuk mengganti pakaiannya. Karena pada saat tidur pun, dia ingin melihat Audrey cantik dan bahagia. Sebab kebahagiaan Audrey adalah kebahagiaannya.


Audrey menuruti permintaan Akandra. Dia mengambil pakaian tidur dari lemari. Kali ini, dia tidak mengenakan pakaian mendiang Alessa lagi karena Akandra sudah membelikan banyak pakaian untuk Audrey.


Audrey berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Sementara itu, Akandra menunggu di luar kamar mandi. Dia tidak ingin hal buruk kembali terjadi pada Audrey. Kali ini Akandra tidak ingin kehilangan wanita yang dia cintai. Itulah kenapa Akandra menunggu Audrey di depan pintu kamar mandi, guna untuk berjaga-jaga.


Detik demi detik berlalu. Setelah beberapa menit kemudian, Audrey keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih berantakan. Melihat itu, Akandra mengajak Audrey ke meja rias.


"Duduklah!" Akandra menarik kursi yang ada di depan meja rias.


Audrey pun duduk. "Kakak mau apa?" Audrey mengangkat wajahnya, menatap Akandra.


"Aku akan membuatmu cantik," jawab Akandra.


"Untuk apa, Kak? Aku tidak akan pergi ke pesta, aku hanya akan pergi tidur. Kenapa harus memakai make up seperti ini?" Audrey melihat ke arah skincare yang Akandra pegang.


"Sebab aku ingin melihatmu cantik dan terawat. Takkan aku biarkan calon istriku ini terlihat kucel. Ingatlah, aku ini Akandra! Aku ingin kamu selalu terlihat bersinar dari wanita lain. Kamu harus membiasakan diri untuk memakai skincare sebelum tidur agar kulitmu sehat dan tentunya untuk tampil cantik di depanku," jelas Akandra.


"Kalau begitu, kenapa Kakak tidak menikah saja dengan wanita lain yang jauh lebih cantik. Agar Kakak tidak perlu repot seperti ini," celetuk Audrey.


Akandra menaruh kembali skincare yang dia pegang. Kemudian dia mengambil kursi dan duduk di hadapan Audrey. Dia menggenggam kedua tangan Audrey.


"Dengarkan aku baik-baik! Aku menikahi wanita bukan karena kecantikannya! Aku bisa saja menikahi banyak wanita cantik dalam sekejap akan tetapi, sulit untuk menikahi wanita sepertimu. Bukan kamu tidak cantik, aku hanya ingin mengajarimu memakai skincare karena aku ingin kamu menjadi istri yang pandai merias diri untuk suamimu. Bukankah itu akan menjadi pahala bagi seorang istri yang merias diri untuk suaminya? Kamu tahu? Kebahagiaan suami adalah melihat istrinya selalu bahagia, cantik dan selalu tersenyum. Aku sudah berjanji jika aku akan selalu membuatmu bahagia, sedetikpun aku tidak akan membuatmu menangis. Kamu paham maksudku, 'kan? Tapi, jika kamu tidak ingin, ya sudah tidak perlu memakai skincare ini. Aku akan tetap menerimamu apa adanya," tutur Akandra dengan penuh kelembutan.


"Pakaikan skincare itu di wajahku! Ajari aku cara merias diri." Audrey tersenyum dan mengelus lengan Akandra.


****

__ADS_1


Stay tune :)


__ADS_2