Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 41 > SALTING


__ADS_3

"Alessa!"


Brugh!


Audrey terjatuh dari ranjang. Keningnya mencium lantai hingga membuat Audrey bangun dan meringis kesakitan seraya memegangi jidatnya. Dengan cepat Audrey bangun dan melihat jam yang ada di meja nakas.


"Astagfirullah, aku belum shalat shubuh." Audrey reflek pontang panting berlari ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu karena jam sudah mnunjukkan pukul 05.10 menit.


Benar, Audrey telat bangun akibat mimpi panjangnya itu. Kalau saja dia tidak jatuh mungkin dia akan bablas tidur dan entah akan bangun jam berapa. Tak la kemudian, Audrey keluar dari kamar mandi dan segera melaksanakan shalat shubuh.


Dia menggelar sejadah dan mengenakan mukena. Setelah itu dia mengucap niat shalat shubuh dan melaksanakan shalat dia rakaat dengan khusyuk. Gerakan demi gerakan Audrey lakukan dengan pelan dan se-khusyuk mungkin. Setelah beberapa menit kemudian, Audrey telah selesai melakukan shalat dua rakaatnya.


Setelah menyelipkan do'a, ia pun beranjak dari duduknya seraya melepaskan mukena yang melekat di tubuhnya. Audrey juga melipat sejadah beserta mukenanya dan meletakkannya di lemari. Kemudian Audrey berjalan ke meja rias guna untuk merapikan rambutnya yang masih berantakan.


Pada saat kedua tangannya sibuk mengikat rambutnya, tiba-tiba dia mendengar suara bel apartemennya. Dengan cepat Audrey keluar dari kamar dan melihat layar yang terpasang pada dinding seberang ruang tengah. Terlihat dengan jelas seorang pria sedang berdiri di depan unitnya dengan pakaian yang sudah rapi sembari menenteng kantong plastik.


Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Akandra. Pria yang akan meminangnya setelah masa iddah selesai. Sekilas, Audrey terlihat tersenyum simpul pada saat mengetahui sosok yang datang ke apartemennya itu adalah pria yang dia cintai.


Tanpa menunggu lama lagi, Audrey pun membuka pintunya. Mengetahui pintu sudah dibuka, Akandra pun segera masuk. Diikuti oleh Audrey yang dari belakang. Tentunya sebelum mengikuti pria yang baru saja masuk, ia menutup pintu terlebih dahulu.


"Kakak datang sepagi ini? Apa Kakak sudah sarapan?" tanya Audrey.


"Aku merindukanmu, Audrey. Makanya aku datang menemuimu dan membawa sarapan untukmu," jawab Akandra sambil meletakkan kantong plastik bawaannya di meja.


"Ya ampun, kenapa repot-repot, Kak? Padahal aku berniat untuk membuatkanmu sarapan," timpal Audrey dengan malu-malu kucing.


"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Aku ingin kita bersarapan bersama. Ayo," ajak Akandra sembari menyambar kembali sarapan yang ia beli dan membawanya ke meja makan.


"Iya, Kak." Audrey pun mengikuti langkah Akandra yang sudah jalan terlebih dahulu menuju meja makan.


"Sini duduk." Akandra menarik sebuah kursi untuk Audrey.


Audrey hanya tersenyum malu-malu diperlakukan seperti ini. Kemudian dia pun duduk di kursi yang Akandra siapkan. Sementara itu, Akandra duduk di sebelah Audrey.

__ADS_1


"Kakak beli apa ini?" tanya Audrey sembari melihat ke kantong plastik.


"Ini bubur, Sayang. Kamu tidak keberatan 'kan kita kita sarapan ini?" Akandra menatap Audrey dengan wajah yang harap-harap cemas.


"Iya, Kak. Enggak apa-apa kok," jawab Audrey dengan kedua pipinya yang merona bak kepiting rebus.


"Syukurlah kalau begitu. Sekarang kamu makan ya, aku akan suapin kamu." Akandra mengambil porsi bubur ayam itu dan menyendok buburnya.


"Disuapin?" Audrey mengerutkan kedua alisnya.


"Iya, disuapin. Aku ingin menyuapimu," jawab Akandra disertai senyuman yang penuh pesona.


Gleuk!


Seketika Audrey langsung tertegun sembari menatap lekat sang pria yang penuh pesona ini. Sejujurnya saat ini ia malu jika harus disuapin oleh pria yang dia cintai akhir-akhir ini. Jika benar dia disuapin oleh Akandra itu artinya ini hal pertama kalinya bisa merasakan suapan dari tangan seorang pria.


"Ayo, buka mulutmu. Aaa," ujar Akandra seraya mengarahkan suapan pertama ke mulut mungil Audrey.


Mau tidak mau, Audrey pun membuka mulutnya walau ia merasa sangat malu. Satu suapan berhasil masuk ke mulut Audrey dan hal itu membuat sang Akandra pun tersenyum senang. Kemudian dia mengambil tissue dan mengelap bibir Audrey yang sedikit belepotan.


"Ini minumlah dulu, pelan-pelan kalau makan. Toh, aku tidak akan menghabiskan makananmu ini. Makanlah dengan tenang, Wanitaku." Akandra mengelus kepala Audrey dengan penuh kelembutan.


Audrey pun terdiam mematung. Kedua bola matanya terbelalak pada saat kepalanya dielus oleh pria yang ada di hadapannya. Sehingga, dia lupa untuk meminum air yang telah diberikan Akandra.


"Air ini aman, aku tidak mencampurnya dengan racun kok," sindir Akandra sembari terkekeh.


Mendengar hal itu, Audrey pun tersadar dan segerae meminumnya sampai habis. Setelah itu dia pun menaruh kembali gelasnya. Kini wajahnya semakin merona karena ia sudah dibuat malu oleh Akandra sepagi ini.


Audrey benar-benar salah tingkah. Untuk menyembunyikan semua itu, ia pun memalingkan wajah dan menatap ke sembarang arah. Disaat itulah dia bisa leluasa menetralkan debaran jantungnya yang saat ini sedang berdegup sangat kencang.


"Audrey, ini makan lagi buburnya. Aaa ...." Akandra kembali menyuapi Audrey.


"Kenapa Kakak tidak makan?" tanya Audrey.

__ADS_1


"Melihatmu makan saja sudah membuatku kenyang." Akandra tersenyum.


"Loh, terus kenapa Kakak beli bubur sebanyak ini buat siapa? Jangan bilang kalau aku yang harus menghabiskan semua bubur ini." tebak Audrey dengan kedua matanya yang membola dengan sempurna.


Mendengar itu Akandra langsung tertawa. "Jika kamu bisa menghabiskannya maka habiskan lah." Akandra tertawa.


"Ish, Kakak ini!" Audrey mencubit lengan Akandra dengan pelan karena kesal.


"Yang benar aja, masa iya aku yang harus menghabiskan semua ini." Audrey melipat kedua tangan di dada sembari mengerucutkan bibirnya.


"Aku hanya bercanda, Sayangku. Lagian, perempuan mana yang sanggup menghabiskan bubur sebanyak ini," Akandra tertawa lepas sembari memegangi perutnya.


"Nah itu, Kakak tahu. Lalu kenapa Kakak membeli bubur sebanyak ini? Bukankah ini mubazir jika sampai tidak termakan?"


"Tenanglah, aku paham soal itu. Bubur ini aku sengaja belikan untuk ketiga bodyguard-mu yang sebentar lagi akan datang."


"Aku bukan anakmu, Kak. Aku juga bukan tawananmu. Kenapa harus menyewa para bodyguard sih?" Audrey mengernyitkan kedua alisnya. Dia tidak mengerti dengan jalan pikirannya Akandra.


"Tapi kamu adalah calon istriku! Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa, semua yang aku lakukan ini semata-mata untuk melindungimu. Lupakan itu, sekarang katakan ... bagaimana dengan tidurmu semalam?" tanya Akandra dengan mengalihkan pembicaraan.


"Nyenyak sih, tapi aku bermimpi--"


"Mimpi apa? Apa semalam kamu mengalami mimpi buruk?" tebak Akandra.


Audrey menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku bermimpi bertemu dengan Alessa," jawab Audrey dengan sorot matanya yang tajam.


"Alessa?"


Kedua manik Akandra berubah menjadi sangat tajam. Wajahnya telah berubah menjadi lebih serius lagi.


Jantung Akandra terasa mau lepas begitu mendengar perihal mimpi Audrey.


****

__ADS_1


Stay tune :)


__ADS_2