Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 56 > Kecurigaan Daniel


__ADS_3

Audrey meludahi wajah mantan suaminya. "Itu tidak mungkin! Sekalipun itu memang benar jika Alessa telah menggantikanku, Kak Akandra akan mengenalinya, dia tidak akan mengkhianati cinta tulus kami itu tidak akan terjadi!" Audrey membantah semua perkataan Devanka.


"Oh iya? Bagaimana caranya? Bagaimana cara membedakannya? Wajah kalian sangat mirip tidak ada yang bisa mengenali kalian seorang pun termasuk Tuan Akandra!" bentak Devanka sembari mengelap wajahnya yang terkena ludah Audrey.


Kali ini Devanka masih bisa menahan dirinya. Tidak masalah jika Audrey telah berbuat lancang padanya. Sebab untuk mendapatkan bidadari seperti Audrey sangatlah sulit dan membutuhkan sebuah pejuangan.


"Ada satu yang membedakan kami berdua. Tuan Akandra akan melihat luka di lengan Alessa. Di situ dia akan menyadari jika wanita yang saat ini sedang bersamanya adalah Alessa bukan diriku. Aku percaya penuh pada Kak Akandra," tegas Audrey dengan segala keyakinannya.


"Benarkah? Bagaimana jika luka itu berhasil disembunyikan? Contohnya dia akan menutupi luka tersebut dengan make up dengan warna yang senada dengan kulit? Apa kamu yakin jika Tuan Akandra akan menyadarinya? Tidak, Audrey! Kamu itu terlalu polos. Yang ada dipikiran Tuan Akandra saat ini hanyalah melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh pasangan pengantin baru. Dan kamu tau apa artinya itu?" Devanka memperngaruhi pikiran Audrey.


"CUKUP, DEVANKA! Pergi kamu dari hadapanku!" pekik Audrey dengan kedua matanya yang sudah memerah.


Saat ini Audrey benar-benar marah. Dia kecewa dan takut akan semua yang semua Devanka katakan. Hatinya akan hancur berkeping-keping jika hal itu benar-benar terjadi pada Akandra. Kehidupannya akan kembali hancur dan jatuh ke dalam lubang yang lebih dalam dari sebelumnya.


Wanita gadaian ini pun akhirnya meneteskan air matanya setelah dia berusaha menahannya sedari tadi. Devanka yang melihat mantan istrinya menangis pun merasa hatinya mulai terenyuh. Perlahan dia kembali mendekatinya dan langsung memeluk Audrey.


"Aku memahamimu, Sayang. Maka dari itu, aku ingin menikahimu. Bukankah aku sudah katakan jika Akandra hanya menganggapmu sebagai wanita gadaian saja, heum?" ujar Devanka dengan kedua tangan yang memeluk mantan istrinya.


"Lepaskan aku!" teriak Audrey dengan berusaha memberontak.


Sayangnya, Audrey tidak bisa melepaskan diri dari delapan Devanka. Kedua tangan dan kakinya masih terikat kuat. Bukannya terlepas, kini kedua tangan dan kakinya justru terluka dan membuatnya harus merasakan rasa sakit. Meski begitu, rasa sakit fisik ini tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya.


"Kak Akandra adalah pria yang sangat baik. Dia tidak pernah menganggapku sebagai wanita gadaian! Dia selalu memperlakukanku dengan sangat baik. Selama ini dia tidak pernah menyentuhku. Kamu tahu, Devan? Wanita yang paling jahat, paling br*ngs*k adalah dirimu sendiri! Kamu tidak berhak menikah dengan wanita manapun termasuk AKU!" skak Audrey dengan darah yang mendidih.


Bugh!


Mendengar perkataan kasar dari Audrey membuat Devanka naik pitam. Sehingga membuat darah mendidih sampai mengepalkan kedua tangannya. Tidak membutuhkan waktu lama, hanya dalam beberapa detik saja, ia sudah melayangkan satu pukulan tepat mengenai sudut bibir Audrey. Audrey langsung terhempas wajahnya ke kiri dengan darah segar yang mengalir di sudut bibirnya.


"Si*lan! Berani kamu mengatakan itu. Lihat saja, aku akan mengurungmu di sini sampai kamu mau menikah denganku lagi!" bentak Devanka dengan segala kemarahannya.

__ADS_1


Kemudian Devanka pergi meninggalkan Audrey dalam ruangan tak terawat tersebut. Tidak lupa Devanka telah mengunci ruangan tersebut sebelum pergi. Sementara itu Audrey hanya bisa menangis.


"Aku yakin Kak Akandra akan datang dan membebaskanku dari ruangan ini," ucap Audrey dengan suaranya yang begitu lirih dan kesakitan.


****


Di sisi lain tepatnya di kamar hotel, terlihat sepasang pengantin yang baru selesai melakukan kewajibannya yaitu malam pertama. Benar, pasangan pengantin tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Akandra dan Audrey. Tidak, bukan Audrey asli melainkan Alessa yang berpura-pura menjadi Audrey dan menggantikannya.


Akandra memeluk Alessa dengan lembut. Keduanya masih berada di ranjang tanpa mengenakan pakaian. Tubuh mereka hanya tertutup selimut tebal saja.


"Aku menyayangimu, Akandra Sayang." Alessa semakin erat memeluk suami kembarannya.


Seketika Akandra langsung melepaskan pelukannya begitu mendengar ucapan istri palsunya ini. Bagaimana tidak, setahu dia Audrey tidak pernah memanggilnya dengan panggilan itu. Hal ini terasa begitu asing dan sangat aneh bagi Akandra.


"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu, Suamiku?" tanya Alessa dengan senyuman penuh kemenangan.


"Tidak. Aku hanya sedikit aneh saja mendengarmu memanggilku seperti itu. Sejauh ini kamu selalu memanggilku dengan sebutan Kakak dan sekarang kamu memanggilku dengan sebutan nama. Itu terasa asing di telingaku," jawab Akandra dengan tatapan yang serius.


Akandra yang mendengar itu hanya tersenyum. Kemudian dia mencubit hidung Alessa dengan gemas. "Tentu saja, kamu boleh memanggilku dengan panggilan apa pun yang kamu inginkan," tutur Akandra dengan penuh kelembutan.


Dia tidak tahu jika wanita yang saat ini sudah melakukan penyatuan tersebut adalah wanita yang sangat ia benci. Wanita yang dulu telah berkhianat padanya. Wanita yang dulunya menjadi tunangannya dan kali ini Alessa kembali berulah lagi. Kali ini ia berulah benar-benar sangat fatal.


Jika saja Akandra tahu jika wanita yang melakukan malam pertama dengannya bukanlah Audrey melainkan Alessa, sang kembaran Audrey. Apa yang akan Akandra lakukan jika dia mengetahui kebenaran itu?


****


"Daniel!" panggil pria paruh baya yang tiba-tiba datang dan menepuk pundak Daniel.


Daniel yang saat ini tengah melamun pun seketika langsung tersadar dari monolognya dan menoleh ke belakang. "Eh, Pak Arman." Daniel tersenyum tipis.

__ADS_1


Saat ini Daniel sedang duduk di salah satu tangga. Kemudian Pak Arman pun duduk di sebelah Daniel. Bukan tanpa sebab dia mendatangi Daniel. Dia sudah sedari tadi memperhatikan orang kepercayaan Akandra, terus melamun dengan tatapan yang kosong.


"Apa yang mengganggu pikiranmu saat ini?" tanya Pak Arman.


"Tidak ada, Pak," jawab Daniel dengan berbohong.


"Jangan berbohong. Saya tahu jika kamu sedang meragukan Nona Audrey 'kan?" celetuk Pak Arman.


Seketika kedua bola mata Daniel langsung terbelalak. Di menoleh ke arah Pak Arman, pria yang berada di sampingnya. "Apa maksudmu?" tanya Daniel dengan berpura-pura tidak mengerti.


"Saya tahu jika kamu meragukan Audrey saat pernikahan kemarin. Bukan kamu saja, Daniel. Saya pun merasakan hal yang sama. Saya merasa wanita yang sedang Tuan Akandra nikahi bukanlah Nona Audrey melainkan Alessa," jelas Pak Arman.


'Ternyata bukan hanya aku yang meragukannya. Pak Arman juga merasakan hal yang sama,' batin Daniel berbicara.


"Apa kamu tahu cara membedakan mana Audrey yang asli dan mana Audrey yang palsu alias Alessa?" tanya Pak Arman pada Daniel yang tengah melamun.


"Heumm ... setahu saya, di lengan Alessa memiliki bekas luka. Tapi, saya tidak ingat luka tersebut ada di sebelah kanan atau kiri. Saya benar-benar tidak mengingatnya." Daniel terus mencoba mengingat perihal perbedaan antara kembar A ini.


"Baiklah, sepertinya kita perlu memberi tahu Tuan Akandra sebelum semuanya terlambat," ujar Pak Arman.


"Pak Arman benar, kita harus segera memberi tahu Tuan Akandra. Tapi, bagaimana caranya? Apa kita memiliki bukti untuk menunjukkannya pada Tuan? Bukankah Tuan Akandra tidak akan mempercayainya jika kita tidak memiliki bukti?" Daniel kembali kebingungan perihal bukti yang akan dia tunjukkan pada tuannya.


"Kamu benar, Daniel. Setidaknya kita harus memiliki saksi. Oh iya, pada saat kamu menjemput Nona Audrey kemarin, apakah ada sesuatu yang janggal? Apa ada sesuatu yang berbeda dari Nona Audrey?" tanya Pak Arman.


Setelah mendengar pertanyaan dari Pak Arman, Daniel tiba-tiba teringat kejadian janggal kemarin. "Ya, aku tahu. Aku punya dua saksi yang akan menguatkan kecurigaan kita. Ayo kita temui dua orang itu," Daniel mengajak Pak Arman untuk menemui dua saksi tersebut.


Siapakah dua saksi tersebut?


****

__ADS_1


Stay tune :)


__ADS_2