Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 22 > Dikira Istri?


__ADS_3

"Apa? Menikah?" Kedua bola mata Audrey terbelalak diiringi debaran jantungnya yang tak karuan.


"Bagaimana? Apa kamu bersedia menjadi istriku?" Akandra melamar Audrey saat itu juga.


"Konyol! Bagaimana bisa Tuan menikahi seorang wanita yang sudah bersuami? Ingatlah, Tuan ... saya hanya wanita gadaian saja dan Tuan tidak punya hak untuk menikahi saya," tolak Audrey secara terang-terangan.


"Itu mudah bagiku, Audrey. Saya bisa melakukan apa pun yang saya mau termasuk menikahimu. Akan kupastikan wanita gadaian ini menjadi istriku!" tegas Akandra seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Audrey.


"Tidak semua yang Tuan inginkan bisa terwujud di dunia ini, termasuk menikahi saya. Saya tidak akan pernah berkhianat pada suami saya sampai kapanpun juga."


"Benarkah? Lalu, apa yang kamu katakan tadi? Kamu lebih memilih mati hanya untuk terbebas dari suamimu dan juga penderitaanmu. Apa salahnya dengan tawaranku ini? Saya menikahimu hanya untuk menolongmu agar terbebas dari semua penderitaanmu."


"Sekali lagi saya minta maaf, Tuan. Saya tidak bisa menerima tawaran ini. Saya tidak mau dikasihani seperti ini. Saya bisa berdiri dan bertahan di atas kedua kakiku!"


"Jika seperti itu, bagaimana jika saya membuatmu jatuh cinta padaku?" Akandra memegang kedua bahu Audrey.


Reflek Audrey langsung menatap Akandra yang berada tepat di depan wajahnya. Kedua bola mata mereka pun bertemu dan saling bertatapan satu sama lain.

__ADS_1


"Terima kasih atas niat baik Tuan. Saya ucapkan banyak terima kasih. Tapi, sekali lagi saya tidak ingin menyeret Tuan ke dalam masalah ini. Lagi pula, saya sudah tidak percaya lagi dengan kata cinta. Jadi, lupakan obrolan ini dan antarkan saya ke makam Alessa." Lagi-lagi Audrey menolak tawaran Akandra.


Akandra yang tidak suka akan penolakan itu langsung menarik tengkuk Audrey dan menc*um bibirnya. "Yakk!" bentak Audrey dengan sedikit mendorong tubuh Akandra.


"Apa yang Tuan lakukan? Apa Tuan sudah tidak waras? Ingat, saya ini Audrey bukan Alessa! Wajah kami mungkin mirip tapi, saya bukan Alessa!" Audrey kembali menegaskan pada Akandra jika dirinya ini adalah Audrey.


"Cukup! Berhenti menyebut namanya! Biarkan mantan tunanganku tenang di sana. Dan kamu, Nona! Jangan pernah memperingatkan saya akan hal itu sebab saya sudah tahu."


"Baguslah kalau begitu, aku jadi tidak perlu repot-repot untuk mengingatkan Tuan akan hal itu lagi," ucap Audrey semenyebalkan mungkin.


****


Makam Alessa ....


Sesampainya di makam Alessa, Audrey keluar dari mobil dan membeli bunga dan air yang berada di seberang mobil tuannya. Sementara itu, Akandra hanya menunggu di depan mobil. Tiba-tiba sesuatu terjadi mengejutkan semua orang.


Tin! Tin! Tin!

__ADS_1


"Audrey, awas!" Akandra yang melihat Audrey hendak ditabrak oleh mobil truk pun berlari dan meraih pinggang rampungnya.


Setelah itu, Akandra menarik tubuh Audrey ke pinggir jalan tingga tubuh keduanya terjatuh. Kini posisi mereka sangat membuat mata orang lain merasa tidak nyaman. Dimana tubuh Audrey jatuh menimpa tubuh Akandra. Akandra yang merasa tubuhnya tertindih ini hanya bisa terdiam sembari menatap wanita di depannya.


Entah ada gelombang apa, sehingga jantung Audrey tiba-tiba berdegup kencang dari biasanya. Jantungnya seakan hidup kembali setelah beberapa saat lamanya tidak berdegup secepat ini. Tanpa mereka sadari, beberapa warga mulai berdatangan untuk memastikan keadaan Audrey yang hampir menjadi korban tabrak lari.


"Ekhem!" Akandra memberi kode pada Audrey untuk segera bangun dari tubuhnya.


"Maaf, Tuan." Audrey langsung bangun dengan wajah yang sudah merona akibat malu.


"Bagaimana keadaan istri anda, Tuan? Apakah ada yang terluka?" tanya pria paruh baya.


"Istri?" Akandra dan Audrey Seketika saling bertatapan pada saat warga mengurangi jika Audrey adalah istrinya.


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2