
Setelah cukup lama bermain di pantai, kini Akandra dan Audrey pun memutuskan untuk pergi ke salah satu restoran tak jauh dari pantai tersebut. Tentu sebelum mereka pergi, keduanya pergi ke hotel untuk mandi dan mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Karena saat ini pakaian mereka sudah basah kuyup serta berpasir. Tak membutuhkan waktu yang lama mereka telah sampai di hotel tersebut.
"Sayang, kamu duluan ke kamar ya. Nanti aku nyusul," ujar Akandra sembari melepaskan tangannya dari genggaman sang istri.
"Baiklah, kamu jangan lama ya, Mas." Audrey setuju tanpa banyak bertanya kepada suaminya tentang kenapa dia tidak pergi bersamanya. Dan mau ke mana? Semua itu tidak Audrey tanyakan.
"Iya, Sayang." Akandra tersenyum sembari membalikkan badannya, lalu pergi meninggalkan Audrey yang sudah memasuki lift.
****
Ting!
Pintu lift terbuka. Dengan cepat Audrey keluar dari lift dan berjalan menuju kamarnya. Begitu sampai di depan pintu kamar, Audrey langsung menempelkan sebuah kartu untuk membuka pintu tersebut. Setelah pintu terbuka, wanita itu masuk.
Audrey membiarkan pintu sedikit terbuka agar jika suaminya datang tidak perlu mengetuk pintu dan langsung masuk jika dirinya sedang berada di kamar mandi. Sama sekali tidak ada rasa takut pada wanita itu tentang penyusup yang akan masuk ke kamarnya. Semua pikiran negatif yang ada di benak sang Nyonya Xaquille telah ditepis jauh-jauh.
Tanpa membuang waktu lagi, Audrey mengambil handuk bersih dan masuk ke kamar mandi. Begitu berada di dalam kamar mandi, Audrey mengunci pintunya dan segera melucuti pakaiannya satu persatu hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benang apa pun. Audrey berjalan dan berdiri tepat di bawah air shower yang sudah menyala.
Dalam beberapa detik, tubuhnya sudah terguyur air. Wanita itu segera membersihkan rambut serta seluruh tubuhnya dengan sabun dan air yang mengalir. Ia merasa benar-benar segar di kala rasa gerah yang melanda. Di kotanya saat ini benar-benar terasa sangat panas dari biasanya.
Ceklek!
Ketika Audrey tengah asyik bermain air, tiba-tiba kedua telinganya mendengar suara pintu terbuka lalu tertutup. Dia yakin jika yang masuk ke kamarnya tidak lain dan tidak bukan adalah suaminya, Akandra. Dengan cepat, Audrey mengambil handuk dan membungkus tubuh polosnya sebelum keluar dari kamar mandi. Namun, begitu Audrey keluar dari kamar mandi, alangkah terkejutnya ia pada saat mendapati seorang pria memakai topeng mata tengah terbaring di ranjang dengan tubuh bagian atas tidak mengenakan kaos.
__ADS_1
"Aarrgghhh!" Sontak melihat pemandangan seperti itu membuat Audrey secara reflek langsung menutup kedua matanya serta berbalik badan.
Sementara itu, pria yang saat ini tengah terbaring tanpa busana bagian atas pun hanya tertawa kecil seraya beranjak dari ranjang tersebut serta berjalan menghampiri Audrey yang masih mematung. Dengan wajah tanpa dosa dan merasa bersalah, pria itu mulai berani memegang kedua bahu Audrey yang belum mengenakan pakaian. Bukan hanya memegang melainkan mengelus-elusnya.
Audrey yang merasa dirinya telah dilecehkan pun dengan segera berbalik badan dan ...
Plakk!
Sebuah tamparan keras mendarat di salah satu pipi pria tersebut. Tamparan yang Audrey layangkan cukup meninggalkan bekas merah, panas dan perih di pipi pria asing itu. Namun, anehnya ... pria br*ngs*k tersebut tidak melawan perlakuan kasar Audrey. Justru dirinya semakin memberanikan diri untuk memegang ujung handuk yang melingkar membungkus tubuh Audrey, seakan ingin menariknya.
"Jangan macam-macam anda! Jika anda berani macam-macam, maka saya akan teriak!" Audrey mengancam pria asing tersebut.
Audrey berusaha menghilang semua rasa takutnya dengan membentak pria yang memakai topeng di bagian matanya. Ia tidak mengerti, apa alasan pria bertopeng itu masuk ke kamarnya? Dan kenapa dia harus memamerkan bentuk tubuhnya pada wanita yang tidak pria itu kenal.
"Jika Nona berteriak maka saya akan semakin berani menyentuhmu! Sebaiknya Nona turuti perkataanku jika ingin selamat!" Alih-alih takut dengan ancaman Audrey, justru pria bertopeng itu balik mengancam Audrey.
Mendengar semua yang dilontarkan oleh pria tersebut tentu membuat seorang Audrey bergidik ketakutan. Melihat dari postur tubuh pria itu cukup kekar dan memiliki tato di perut sixpack sebelah kanannya. Entah apa arti tulisan tato tersebut yang jelas, bahasa yang ditulis dalam tato tersebut bukanlah bahasa Indonesia ataupun Inggris. Mau tidak mau, agar pria itu tidak menyakiti dan menyentuhnya, Audrey terpaksa menuruti perkataan pria tersebut.
"Baiklah, sekarang katakan! Apa maumu? Dan kenapa anda memasuki kamarku? Ada masalah apa anda dengan saya?" tanya Audrey dengan menatap tajam pria tersebut.
"Kamu tidak perlu siapa saya. Yang terpenting saya kemari untuk menjalankan tugas. Sekarang kamu minum ini dan saya akan pergi dari kamarmu sekarang juga." Pria itu mengambil segelas air yang berada di meja dan memberikannya pada Audrey.
"Tidak! Bagaimana bisa saya meminum air ini dari pria asing seperti anda? Bagaimana jika anda telah mencampurkan sesuatu dalam air ini? Saya tidak mau meminumnya!" Audrey menolak secara mentah-mentah.
__ADS_1
"Jangan salahkan saya jika jika pria yang sangat kamu cintai akan meregang nyawa di kota ini! Saya tidak menjamin jika suamimu akan hidup dalam beberapa menit ke depan!" Pria itu menyeringai ke arah Audrey.
"Apa maksudmu?" Audrey menautkan kedua alisnya karena bingung.
"Akandra. Bukankah dia suamimu? Kamu lihat ini, Nona! Anak buahku telah menyekap suamimu di markasku. Pikirkan baik-baik! Jangan bertindak gegabah atau nyawa suamimu akan melayang!" Pria itu menunjukkan rekaman di ponselnya pada Audrey.
Tentu, Audrey yang melihat itu seketika langsung terlonjak kaget dengan kedua mata yang terbelalak dengan sempurna. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan merasa takut hingga panik. Dia takut jika nyawa suaminya akan melayang dalam sekejap, sesuai yang dikatakan pria bertopeng tersebut.
Dalam rekaman tersebut, terlihat Akandra sedang terduduk di kursi dengan kedua tangan dan kaki terikat. Selain itu, kepala Akandra tertutup oleh plastik putih yang diikat kencang oleh beberapa pria bertubuh kekar menyeramkan. Terdengar suara Akandra yang memanggil istrinya serta meminta maaf dengan napas yang berat dan sedikit sesak disertai darah yang mengalir dari hidung serta mulut.
Semua itu terlihat jelas oleh kedua mata Audrey. Melihat plastik itu berlumuran darah membuat Audrey berteriak histeris dan langsung menyambar air yang berada di tangan pria itu serta menjatuhkan ponsel yang ia pegang tadi. Tanpa membuang waktu lama, wanita itu langsung menenggak airnya sampai habis.
"Aku sudah meminumnya, maka lepaskan suamiku! Dan obati luka-lukanya!" perintah Audrey.
"Bagus, Nona manis. Sekarang kamu sudah masuk perangkapku. Haha," Pria itu tertawa puas seraya membuka topengnya.
"Kk-kamu?"
Brugh!
Belum selesai Audrey berbicara tiba-tiba pandangannya kabur serta tubuhnya langsung lemas, hingga dirinya jatuh tak berdaya di depan pria tersebut.
****
__ADS_1
Stay tune :)