Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 49 > Telah Terdoktrin Alessa


__ADS_3

Saat ini Akandra tengah menunggu Audrey di depan apartemennya. Dia terlihat bak pangeran dengan memegang buket bunga di tangannya. Karena sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Audrey, Akandra pun segera menghubunginya melalui telepon.


Sementara Audrey yang tengah menunggu jemputan sang pujaan hati dengan duduk di depan cermin pun dikejutkan dengan suara dering pobselnya. Lamunannya buyar, dan tatapannya tertuju pada ponsel. Dengan cepat tangan kanannya menyambar ponsel tersebut.


Begitu kedua mata menatap ke arah layar ponsel, seketika bibirnya langsung melukiskan senyuman yang sangat indah. Ternyata yang meneleponnya tidak lain adalah Akandra. Tanpa membuang waktu, ia langsung menggeser layar hijau yang tandanya telepon diangkat. Kemudian dia menempelkan ponsel di telinga kanan.


Telepon terhubung!


"Assalamu'alaikum, Kak," Audrey mengucapkan salam setelah telepon tersambung.


"Wa'alaikumsalam, Sayang." Terdengar suara Akandra yang menjawab salam dari Audrey.


"Kakak masih di mana? Apakah sudah siap?" tanya Audrey.


"Tentu saja. Aku sudah sampai, aku ada di depan apartemenmu," jawab Akandra.


Seketika kedua bola mata Audrey langsung terbelalak. Ia langsung berjalan menuju gordyn. Perlahan dia membuka gordyn dan melihat ke bawah. Dan ternyata memang benar jika Akandra sudah sampai. Audrey tersenyum karena terpesona melihat ketampanan serta kegagahan Akandra.


"Bagaimana penampilanku?" tanya Akandra.


Audrey melihat Akandra melambaikan tangan padanya.


"Perfect. Aku turun sekarang, dah." Audrey melambaikan tangan sembari menutup teleponnya.


Telepon terputus!


Setelah bicara di telepon, Audrey segera keluar dari kamarnya dengan membawa tas mini elegant pemberian Akandra. Dia berlari menuju lift. Dia menekan tombol lift, sehingga tak lama kemudian pintu lift terbuka. Dengan cepat, ia masuk dan menekan tombol lantai dasar.


Ting!


Pintu lift terbuka. Audrey keluar dari lift dan berjalan keluar dengan langkah yang cepat. Sesampainya di luar, langkahnya terhenti ketika melihat Akandra tengah berdiri membelakanginya.


Jantung Audrey berdegup lebih cepat. Wajahnya sudah merona padahal Akandra belum memandanginya. Perlahan Audrey berjalan mendekati sang pria tampan tersebut.


"Ekhem," Audrey berdehem setelah berada di belakang Akandra.


Akandra membalikkan badannya serta memberikan buket bunga pada Audrey. "Untukmu," ujar Akandra dengan senyuman yang mempesona.


"Terima kasih," tutur Audrey sembari membalas senyuman Akandra dengan senyuman yang manis.


Kemudian Akandra membukakan pintu mobilnya untuk Audrey. "Silakan masuk,"


Audrey tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Dia masuk mobil. Setelah melihat Audrey masuk, barulah Akandra menutup pintunya.

__ADS_1


Akandra mengitari mobil dan masuk melalui pintu kemudi. Sebelum melajukan mobilnya, mereka memakai sabuk pengaman terlebih dahulu. Setelah itu, Akandra mulai melajukan mobilnya.


Awalnya mereka sama-sama diam tanpa kata. Akandra yang fokus menyetir dan Audrey sibuk melihat jalanan dari kaca jendela mobil. Meski Akandra tengah fokus menyetir akan tetapi matanya sesekali mencuri pandang ke arah Audrey.


"Perhatikan jalanan dengan baik, Kak. Jangan melihatku terus," ucap Audrey dengan tersenyum.


Dia tahu jika Akandra sedang memperhatikannya dari sudut matanya. Akandra yang tercyduk diam-diam melirik pun hanya tersenyum kecil. Hingga akhirnya, Akandra mengatakan sesuatu yang membuat wajah Audrey seketika langsung merona.


"Sungguh, hari ini kamu terlihat sangat cantik. Aku belum pernah melihat wanita secantik dan bersinar sepertimu," tutur Akandra dengan pujian yang begitu meluluhkan hati Audrey.


Audrey tersipu malu. Dia berusaha menetralkan hati dan jantungnya yang sekarang tengah ketar-ketir. Karena merasa kedua pipinya panas, ia pun mengipas-ngipasi dengan kedua tangannya.


"Ada apa? Kenapa wajahmu merona seperti ini?" Akandra menaik-turunkan alisnya.


"Eoh ... ini, kedua pipiku merasa gerah, Kak. Makanya merona kek gini," Audrey mengelak.


"Oh, gerah ya. Baiklah." Akandra pura-pura percaya dengan ucapan Audrey, meski dia tahu jika wanita itu sedang mengelak.


Kemudian Akandra menepikan mobilnya dan membuka sabuk pengamannya. Sedangkan Audrey kebingungan dengan Akandra yang tiba-tiba menghentikan mobilnya. Dia pun menoleh ke arah pria yang duduk di sebelahnya.


"Ada apa? Kenapa berhenti?" tanya Audrey dengan menatap Akandra.


"Ada yang perlu aku lakukan," jawab Akandra dengan senyumannya.


"Ini!" Akandra mendekatkan wajahnya ke Audrey.


Gleuk!


Audrey tertegun pada saat wajah mereka begitu dekat tanpa jarak. Jantungnya semakin berdegup kencang. Sekali lagi dia dibuat ketar-ketir oleh ulahnya. Bagaimana tidak, dia ditatap begitu dekat.


"Aa-apa yang Kakak lakukan?" tanya Audrey dengan gelagapan karena gugup.


"Membantumu," jawab Akandra masih dengan tatapan yang lekat.


"Hah? Membantuku?" Audrey keheranan dengan jawaban Akandra.


Cup!


Kedua mata Audrey membola dengan sangat sempurna pada saat Akandra mencium pipi kanannya dengan lembut. Tubuhnya mematung. Ia hanya bisa terpaku tanpa sepatah kata pun.


"Kenapa Kakak menciumku?" tanya Audrey tanpa menoleh.


Cup!

__ADS_1


Sekali lagi Akandra mencium pipi sebelah kiri. "Kakak! Apa yang kamu lakukan?" tanya Audrey lagi. Kali ini dua menatapnya dengan bingung.


"Membantumu," jawab Akandra disertai senyumannya.


"Konyol, membantu apa? Memangnya aku kenapa?" kekeh Audrey seraya menggelengkan kepalanya.


"Katanya tadi kedua pipimu merasa gerah. Jadi, aku membantumu agar tidak gerah lagi." Akandra mengedipkan sebelah matanya.


"Konyol! Haha, masa iya gerah dicium sih." Audrey tertawa lepas sembari memegangi perutnya.


Bagaimana bisa orang gerah dibantu dengan menciumnya. Apa hubungannya gerah dengan ciuman. Jawaban paling konyol yang pernah Audrey dengar selama ini.


Akandra turut tertawa melihat Audrey yang tertawa begitu lepas. Sungguh menggemaskan. Belum pernah dia melihat Audrey tertawa selepas ini. Pemandangan yang sangat indah.


****


Tin! Tin!


Akandra membunyikan klakson setelah sampai di depan rumah Kakek Abirama. Kemudian dia dan Audrey keluar dari mobil secara bersamaan. Setelah itu Akandra memegang tangan Audrey dan membawanya menuju pintu utama.


Sebelum masuk, Akandra menekan bel terlebih dahulu. Tak lama kemudian pintu terbuka. Terlihat seorang pelayan yang membukakan pintu. Pada saat itu, pelayan tersebut terlonjak kaget ketika melihat ke arah Audrey.


Melihat hal itu Akandra keheranan dengan ekspresi pelayan tersebut. "Kau kenapa? Kenapa terkejut melihatnya?" tanya Akandra dengan wajah datar.


"Bb-bukankah Nona Alessa ada di dalam? Lalu siapa wanita ini? Apakah penglihatanku salah?" pelayan itu gelagapan seraya mengucek-ngucek matanya.


"Kau ini bicara apa? Ini Audrey, calon istriku. Tunggu! Kau bilang apa barusan? Alessa ada di dalam?" seketika Akandra terbelalak setelah mendengar ucapan sang pelayan.


"Iya, Tuan muda. Nona Alessa ada di dalam," jawab pelayan disertai anggukan.


"Gawat. Ayo, Sayang!" Akandra menarik lembut tangan Audrey dan membawanya masuk.


Sesampainya di ruang tengah, betapa terkejutnya Akandra dan Audrey setelah mendapati Alessa yang sedang mengobrol dengan kakeknya. Bagaimana bisa, Alessa kembali menemui Kakek Rama setelah apa yang terjadi. "Kakek!" panggil Akandra.


Reflek, Kakek Rama dan Alessa pun menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Alessae menunjukkan senyuman penuh misterinya pada Akandra. "Cucuku, kamu baru datang. Kemarilah, duduk bersamaku." Kakek Rama menyambut kedatangan cucunya dengan hangat.


Akandra dan Audrey pun berjalan menuju sofa. Akandra pun duduk dan diikuti oleh Audrey. Namun, sebelum Audrey duduk Kakek Rama menatap sinis ke arah Audrey.


"Stop! Siapa yang menyuruhmu duduk di sofa ini? Wanita gadaian sepertimu tidak pantas duduk bersama kami!"


Deg!


****

__ADS_1


Stay tune :)


__ADS_2