
Cup!
Akandra mengecup bibir Audrey. Seketika tubuh Audrey mematung, matanya hanya membulat tanpa bereaksi apa pun. Setelah itu, Akandra menghabiskan kopi dan beranjak dari duduknya.
Sementara Audrey masih terdiam duduk di depan meja pantry. Kemudian dia memegangi bibirnya yang tadi Akandra kecup. Akandra yang melihat itu tersenyum dan memperhatikannya tanpa Audrey sadari.
"Apa kamu mau lagi, Sayang?" tanya Akandra.
Audrey terperanjat dari duduknya. "Ayo, kita ke rumah sakit." Audrey berjalan lebih dulu keluar dari unit dan meninggalkan Akandra.
Setelah sampai di luar unit, lutut Audrey terasa lemas. Dia benar-benar sangat gugup atas apa yang terjadi di meja pantry. Jantungnya semakin berdegup kencang disertai dengan pipinya yang merona bak kepiting rebus.
Tak lama kemudian, Akandra sudah berada di belakangnya. "Sayang, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Akandra dengan pura-pura tidak tahu.
"Iya, aku baik-baik aja. Ayo, kita pergi. Di sini gerah," ajak Audrey dengan berjalan di depan Akandra.
Akandra hanya tersenyum dan mengikuti langkah calon istrinya dari belakang. Mereka menunggu di depan pintu lift serta menekan tombol. Tak lama kemudian pintu lift terbuka, dengan cepat mereka pun masuk.
Mereka satu lift dengan seorang pria bertubuh kekar. Tanpa Audrey sadari, pria yang berada di belakangnya terus memandangi dirinya dengan tatapan yang tidak biasa. Kemudian, pria kekar tersebut mengeluarkan sebuah benda kecil dan dengan perlahan ia memasukkan benda tersebut ke tas Audrey yang sedikit terbuka.
Setelah itu, pria kekar tersebut keluar lebih dulu begitu pintu terbuka. Akandra dan Audrey tidak merasa curiga sedikit pun pada pria yang satu lift dengan mereka. Bagaimana tidak, pria kekar tersebut berpenampilan biasa, tidak ada kesan-kesan yang mencurigakan.
Tak lama setelah pria kekar itu keluar, kini giliran Akandra dan Audrey yang keluar dari lift. saat ini mereka berada di basement. Mereka berjalan menuju mobil Akandra yang terparkir rapi. Seperti biasanya, Akandra membukakan pintu mobil untuk Audrey.
Audrey pun masuk. Begitupun dengan Akandra, ia mengitari mobilnya dan masuk melalui pintu kemudi. Tanpa membuang banyak waktu lagi, Akandra segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Tentunya sebelum itu, mereka sudah mengenakan seat belt terlebih dahulu.
****
Tangga darurat ....
Terlihat seorang pria kekar tengah duduk di tangga darurat. Ia sedang menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, telepon tersebut dijawab oleh seseorang dibalik telepon.
Telepon terhubung!
"Hallo, Bos ... misi pertama sudah saya kerjakan," ucap pria kekar setelah telepon tersambung.
"Bagus. Sekarang buntuti wanita itu! Potret dia dan kirimkan padaku apa saja yang dia lakukan!" perintah seorang wanita dari seberang telepon.
"Baik, Bos."
__ADS_1
"Tapi ingat! Jangan sampai ada yang curiga jika kamu sedang menguntit wanita itu."
"Bos jangan khawatir, saya akan menguntitnya dari jarak jauh."
"Bagus. Saya tunggu laporanmu! Tutt!" wanita di balik telepon tersebut telah mengakhiri panggilannya.
Telepon terputus!
Selesai bicara di telepon, pria kekar itu segera pergi dari apartemen tersebut dan menjalankan tugasnya. Benar, wanita itu bernama Jordi. Jordian adalah orang suruhan Alessa untuk menguntit keseharian Audrey.
****
Rumah sakit ....
Saat ini Audrey dan Akandra sudah sampai di rumah sakit. Kini ia sedang berada di ruang rawat inap. Sebelumnya Daniel ditemani oleh Affandra. Namun, begitu mereka datang, Affandra pulang.
Keadaan Daniel sudah jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Luka-luka yang terdapat di wajahnya sudah mulai sembuh dan memudar. Akandra berjalan mendekati ranjang dan melihat keadaan orang kepercayaannya.
"Bagaimana kabarmu, Daniel? Maaf, saya baru mengunjungimu lagi."
"Baik, Tuan. Tidak apa-apa, Tuan. Saya mengerti. Oh iya, bagaimana masalah Alessa? Benarkah dia masih hidup?"
"Lantas, bagaimana dengan hubungan Tuan bersama Nona Audrey?" tanya Daniel dengan mencemaskan hubungan tuannya.
"Kami akan menikah bulan depan," jawab Akandra dengan menoleh ke arah Audrey.
Seketika bola mata Audrey langsung terbelalak. Bagaimana tidak, sebelumnya Akandra belum memberi tahu dirinya mengenai pernikahan mereka. Tentu saja hal ini membuatnya terkejut.
Akandra yang melihat reaksi Audrey yang terkejut hanya melemparkan senyuman yang mempesona sembari menggenggam tangan calon istrinya. Sama halnya seperti Audrey, Daniel pun turut terkejut mendengar kabar yang bahagia ini. Setelah sekian lama akhirnya tuannya akan segera menikah.
"Benarkah itu, Tuan? Kalian akan segera menikah?" kedua mata Daniel berbinar merasa sangat bahagia.
"Iya. Hatiku sudah mantap ingin meminang Audrey. Lagipula saya tidak ingin meninggalkannya sendiri. Saya harus menjaga dan melindunginya. Kamu tahu sendiri 'kan jika Alessa adalah wanita berbisa. Saya tidak ingin dia menyentuh atau menyakiti Audrey sedikitpun. Lekas sembuh, Daniel. Saya membutuhkan bantuanmu," jelas Akandra dengan tatapan yang serius.
"Tuan tahu? Kalimat ini yang ingin saya dengar sejak lama. Akhirnya setelah sekian lama Tuan akhirnya menemukan cinta sejati Tuan. Saya sudah membaik, Tuan. Saya bisa pulang besok. Saya akan mengurus segala persiapan pernikahan kalian," timpal Daniel dengan antusias.
"Thanks, Daniel."
Daniel menanggapinya dengan anggukan disertai senyuman. "Nona Audrey, aku ucapkan selamat ya. Semoga pernikahan kalian lancar. Saya akan menjadi perisai untuk kalian. Takkan kubiarkan saudarimu menyakiti salah satu dari kalian," ujar Daniel pada Audrey.
__ADS_1
"Terima kasih, Kak Daniel." Audrey tersenyum manis.
****
Waktu berlalu begitu cepat, kini hari sudah menunjukkan pukul 20.35. Devanka saat ini sedang menonton bola ditemani cemilan dan juga kopi. Tiba-tiba ponselnya berdering membuat ia yang tadinya bersorak menjadi diam.
Dia menyambar ponsel yang berada di atas meja. Kemudian ia melihat jelas jika seseorang yang tak asing menghubunginya. Benar, orang tersebut adalah wanita yang pernah menjalin hubungan asmara dengan Akandra. Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Alessa. Mengetahui jika Alessa yang menelepon, Devanka segera mengecilkan volume TV dan langsung menjawab teleponnya.
Telepon terhubung!
"Hallo, ada apa, Alessa?" tanya Devanka to the point begitu telepon telah tersambung.
"Sekarang giliran misimu!" tegas Alessa di balik telepon.
"Katakan, apa yang harus aku lakukan?" tanya Devanka dengan membenarkan posisi duduknya.
"Dengarkan aku baik-baik! Aku sudah menyuruh seseorang untuk menguntit keseharian Audrey. Dan kamu tahu, Devanka? Audrey dan Akandra akan menikah bulan depan,"
"Apa?" Devanka terhenyak dari duduknya dengan bola mata yang membulat dengan sempurna.
"Mantan istrimu akan menikah dengan Akandra!" Alessa mengulangi ucapannya lagi.
"Itu tidak akan pernah terjadi! Katakan, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak rela jika Audrey menikah dengan Akandra!" Devanka mulai naik pitam. Kedua tangannya mengepal disertai kedua mata yang berubah menjadi merah pekat.
"Yang harus kamu lakukan .... "
Devanka mendengarkan ucapan Alessa dengan seksama. "Okay, akan aku lakukan! Aku tidak akan pernah membiarkan Audrey menikah dengan Akandra. Dia hanya boleh menikah denganku saja. Tidak akan ada seorang pria manapun yang akan menikahinya. Jika itu terjadi, maka aku akan melakukan segala cara. Jika aku tidak bisa mendapatkan Audrey, maka pria manapun juga tidak bisa. Jangan cemas, Alessa. Aku akan menjalankan misi ini dengan baik. Misi ini akan berhasil," ujar Devanka dengan darahnya yang mendidih.
"Bagus. Aku suka semangatmu ini, besok aku akan kirimkan uang muka untukmu. Semoga berhasil. Tutt!" Alessa tertawa kecil seraya mengakhiri obrolannya.
Telepon terputus!
Setelah bicara di telepon dengan Alessa, Devanka mematikan TV-nya dan berjalan menuju kamarnya. Kemudian dia menyiapkan beberapa barang untuk menjalankan misinya. Selesai itu, ia rebahan di kasur dan memandangi foto Audrey dengan tatapan penuh kemarahan.
"Aku tahu aku sudah terlambat menyadari ketulusanmu itu, Audrey. Tapi, bagiku tidak ada kata terlambat sebelum janur kuning melengkung. Aku akan lakukan segala cara untuk mengambilmu kembali!" Devanka menatap lekat foto Audrey dan mengecup Audrey secara virtual.
****
Stay tune :)
__ADS_1