Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 28 > Persiapan Lamaran


__ADS_3

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tak terasa sekarang tepat satu bulan masa gadaian Audrey habis. Hari ini Audrey tengah berdiri di balkon kamarnya sembari menatap orang yang yang sedang berlalu lalang. Hati Audrey sedang dilanda kegelisahan, di mana dia harus memutuskan dua pilihan yang sulit.


Dia terjebak dua pria sekaligus. Di satu sisi dia ingin terus bersama Akandra, pria yang selama ini selalu menghormati dan memperlakukannya dengan baik. Namun, di sisi lain dia tidak ingin bercerai dengan suaminya. Karena dia sangat paham jika dia resmi bercerai dengan Devanka, itu artinya dia telah gagal dalam sebuah pernikahan.


Bukan hanya itu, Audrey juga tidak tahu pasti bagaimana perasaan Akandra. Apa pria yang selama sebulan ini bersamanya benar-benar mencintainya karena Allah SWT atau karena parasnya yang mirip dengan saudari kembarnya. Wanita gadaian ini benar-benar berada di jalan buntu. Dia tidak tahu harus memutuskan apa?


"Haruskah aku kembali bersama suamiku atau memilih Kak Akandra dan menerima tawarannya?" Audrey bertanya pada dirinya sendiri.


Sejak di ruang rahasia hari itu, Audrey memang sepakat dengan tuannya jika dia akan memanggil Akandra dengan sebutan Kakak, bukan dengan sebutan Tuan lagi. Dan Akandra tidak mempermasalahkan itu, asalkan Audrey tidak memanggilnya dengan sebutan Tuan lagi. Semenjak itulah, hubungan Audrey dengan Akandra semakin dekat.


"Ikuti kata hatimu saja, Nona," timpal seseorang dari belakang.


Reflek, Audrey langsung menoleh ke belakang. "Bi Lina," panggil Audrey setelah melihat orang tersebut yang tidak lain tidak bukan adalah kepala pelayanan di Xaquille home.


Bi Lina berjalan ke arah Audrey dengan senyuman di bibirnya. Dengan lembut, Bi Lina mengelus wajah Audrey penuh kasih sayang. "Nona, Bibi paham dengan perasaanmu saat ini. Bibi sarankan Non ikuti saja kata hati Nona. Sebab pernikahan yang dipaksakan itu tidak akan baik ujungnya apalagi suami Non tidak pernah memperlakukanmu dengan layak seperti seorang istri pada umumnya. Pikirkan dan putuskan dengan baik," Bi Lina memberikan saran pada Audrey.


"Saya benar-benar bingung, Bi. Saya tidak tahu bagaimana perasaan Kak Akandra padaku. Kak Akandra memang pria yang selama ini selalu memperlakukanku dengan baik akan tetapi aku tidak ingin Kak Akandra menikahiku hanya karena wajahku yang mirip dengan Alessa, saudari kembarku. Aku tidak ingin menikah hanya karena itu, Bi." Audrey memandang Bi Lina dengan tatapan yang penuh dengan kegelisahan.


"Tenanglah, Nona. Tuan Akandra akan segera menyatakan perasaannya. Bersabarlah sebentar lagi, percayalah pada takdir Allah SWT. Serahkan semuanya padaNya, InsyaAllah semua akan baik-baik saja. Semoga Non diberikan petunjuk sama Allah SWT." Bi Lina menggenggam kedua tangan wanita gadaian itu.


"Iya, Bi. Aku akan ikuti saran dari Bibi. Terima kasih, karena Bibi selalu bersamamu dan mengajariku banyak hal." Audrey memeluk Bi Lina penuh kasih sayang.


Dia memeluk Bi Lina layaknya seperti ibunya sendiri. Semenjak di datang ke kediaman Xaquille, Audrey benar-benar merasakan kebahagiaan yang belum pernah suaminya berikan. Di rumah Akandra lah dia merasa seperti lahir kembali dan dia merasa dihormati layaknya seperti seorang wanita.


Bi Lina mengelus punggung Audrey dengan lembut. "Ya sudah, sekarang Bibi bantu bersiap-siap, mari." Bi Lina melepaskan pelukannya dan tersenyum.


"Bersiap-siap?" Audrey menautkan kedua alisnya karena bingung.


"Iya, Nona. Tuan Akandra menyuruhku untuk membantu Non merias diri. Bukan hanya itu, Tuan juga sudah membelikan dress yang akan anon pakai malam ini," jelas Bi Lina dengan wajah yang ceria.


"Benarkah itu, Bi? Memangnya ada acara apa malam ini? Apa ini sebagai tanda perpisahanku dengannya?" tanya Audrey.


"Bibi tidak tahu pasti, Non. Yang jelas Nona harus segera bersiap-siap. Ayo, sebelum Tuan Akandra kesal,"


"Ya udah, ayo." Audrey an Bi Lina pun pergi meninggalkan balkon.

__ADS_1


****


Akandra saat ini sedang berada di salah satu ruangan yang sudah dihiasiĀ  bunga mawar dan background yang bertuliskan nama Audrey. Bukan hanya itu, Akandra juga sedang menyuruh beberapa anak buahnya untuk menaruh alat musik berupa piano di salah satu sudut di ruangan tersebut. Dia berniat ingin melamar Audrey malam ini.


Hatinya sudah mantap untuk menikahi Audrey. Dia rela mengeluarkan banyak uang jika Devanka menginginkan uang tebusan yang banyak. Dia sudah tidak sabar ingin menyatakan perasaannya pada sangat pujaan hati, wanita gadaiannya.


Setelah selesai persiapan di salah satu ruangan itu, Akandra pergi bersama bodyguard-nya, Daniel. Dia akan pergi membeli sebuah cincin diamond sebagai pengikat dari hubungannya nanti dengan Audrey. Selain itu, dia juga mengajak adiknya, Affandra untuk menyaksikan lamarannya nanti malam.


Sementara di sisi lain, Devanka tengah bersiap-siap untuk pergi ke perumahan elite Bryce Wilton. Dia sudah membuat rencana jika dia akan terus memanfaatkan istrinya untuk memberikan banyak uang untuknya. Dengan begitu, dia bisa menjadi kaya mendadak. Tidak peduli seberapa lama istrinya tinggal dengan pria asing. Devanka sama sekali tidak pernah mencemaskan Audrey apalagi merindukannya.


"Aku tidak akan menjemputmu secepat ini, Audrey. Walau hutangku sudah lunas, aku ingin kamu tetap di rumah itu agar kamu bisa menghasilkan banyak uang untukku! Tidak peduli seberapa lama kamu harus tinggal bersama Tuan Akandra, karena yang aku butuhkan bukanlah istri tapi uang," gumam Devanka sembari memegang foto istrinya yang dipajang.


Tiba-tiba ponselnya berdering dan terlihat nama Tuan Akandra. Devanka yang melihat itu langsung menaruh foto Audrey dan menjawab telepon dari Tuan Akandra. Dengan senyuman yang licik, dia menempelkan ponselnya di telinga kanan.


Telepon terhubung!


"Hallo, Tuan Akandra," sapa Devanka dengan suara yang ramah.


"Tidak perlu banyak basa-basi, saya meneleponmu hanya untuk memberi tahukanmu untuk datang ke rumah nanti malam saja. Saya sedang ada urusan, begitupun dengan istrimu!" tegas Tuan Akandra dari seberang telepon.


"Bagus! Saya tunggu kamu nanti malam! Tutt!" Tuan Akandra langsung mengakhiri pembicaraan.


Telepon terputus!


****


Tak lama kemudian, Akandra sudah sampai di kediaman adiknya. Dia langsung masuk ke kediaman Affandra setelah menyentuh dan memasukkan password pada sensor di pintunya. Daniel mengikuti langkah tuannya dari belakang dengan membawa barang belanjaannya.


"Fan, kamu di mana? Sini bentar!" Akandra memanggil adiknya dengan suara yang lantang.


"Kakak? Kapan datang?" tanya Affandra yang datang dari arah dapur dengan membawa secangkir kopi.


"Baru saja, kemarilah ... ada yang ingin aku katakan padamu." Akandra berjalan menuju ruang tengah.


Sesampainya di ruang tengah, Akandra beserta bodyguard-nya pun duduk di sofa. Diikuti Affandra yang duduk berhadapan dengan kakaknya. Dia duduk dengan tegak dan menunggu kakaknya mengatakan sesuatu padanya.

__ADS_1


"Aku akan menikahi Audrey," ucap Akandra to the point.


Uhuk! Uhuk!


Affandra yang tengah menyeruput kopi pun seketika langsung tersedak ketika mendengar ucapan kakaknya. "Mm-menikahi Audrey?" tanya Affandra dengan gelagapan.


"Iya, tapi aku butuh kamu, Fan."


"Apa yang Kakak butuhkan dariku?" tanya Affandra sambil mengambil tissue dan mengelap bibirnya.


"Aku ingin kamu menjadi saksi dari lamaranku nanti malam,"


"Malam ini?"


"Iya, malam ini. Jika kamu ada pekerjaan lain maka pending saja. Ini lebih penting dari pekerjaan!"


"Tidak masalah, Kak. Aku akan lakukan itu. Tapi, kenapa baru memberi tahuku sekarang? Kenapa mendadak seperti ini? Semua baik-baik saja 'kan?" Affandra menatap serius kakaknya.


"Apa maksudmu bertanya seperti itu, Fan?" Akandra mengerutkan dahinya.


"Kakak tidak menghamili Kak Audrey, 'kan?" celetuk Affandra.


Pluk!


Akandra langsung mengambil bantal kecil yang berada di sebelahnya dan menimpuk wajah adiknya. "Sembarangan! Walau aku pria brengsek, aku tidak akan berani menghamili Audrey apalagi dia masih menjadi istri orang," omel Akandra dengan matanya yang sinis.


"Haha, sorry. Aku pikir Kakak menghamilinya. Lantas, jika Kak Audrey masih menjadi istri orang ... bagaimana Kakak bisa menikahinya? Jan katakan kalau Kakak akan menjadi pebinor?" tuduh Affandra dengan tertawa ledek.


"Perkataanmu memang tidak pernah difilter! Aku tegaskan, aku menikahi Audrey karena aku tulus mencintainya. Maka dari itu, aku ingin menebusnya dari Devanka. Aku akan mengeluarkan banyak hartaku demi membeli Audrey. Takkan pernah aku lepaskan Audrey, dia hanya milikku!"


"Wah, wah ... luar biasa! Pria sejati, ini yang ingin aku lihat dari dirimu, Kak. Sudah lama sekali Kakak tidak berambisi kek gini. Tenanglah, Kak. Apa pun yang sekarang menjadi milik Kakak, itu akan tetap menjadi milikmu. Jangan khawatir, aku akan membantumu." Affandra bertepuk tangan sebagai tanda kagum pada kakaknya.


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2