
"Aku mendengarnya sendiri adikmu berbicara di telepon dengan kekasihnya," jawab Audrey.
"Benarkah? Bisa beri tahu aku bagaimana kekasih adikku itu?" tanya Akandra dengan wajah yang menunjukkan penasarannya.
"Untuk soal itu aku tidak tahu, Mas. Aku hanya mendengar suaranya saja tidak melihat bagaimana rupanya,"
"Baiklah, akan aku tanyakan pada Fandra langsung," ujar Akandra.
****
Di sisi lain, saat ini Daniel tengah berjalan menuju ruang bawah tanah dengan membawakan dua porsi makanan untuk tahanan yang merupakan Alessa dan Devanka. Seperti biasa, pria itu harus harus melewati lorong yang memiliki pintu berkode rahasia. Setelah melewati tiga pintu berkode rahasia, Daniel pun sudah berada di depan ruang penyekapan tersebut.
Namun, belum sempat dia membuka pintu tersebut Daniel merasa ada sesuatu yang janggal. Dengan wajah yang panik, pria itu segera mendobrak pintu itu dan alangkah terkejutnya dia pada saat melihat sesuatu yang tidak dia inginkan. Tanpa berlama-lama, Daniel langsung menjatuhkan makanan yang sedang dia bawa dan langsung berlari meninggalkan ruangan tersebut.
****
Di kota yang berbeda tepatnya di kota B. Saat ini pasangan suami istri tengah berada di kamar hotel. Benar, mereka adalah Akandra dan istrinya, Audrey. Mereka sedang beristirahat sejenak untuk meninggalkan penat setelah perjalanannya.
Mereka yang saat ini sedang duduk di ranjang dengan kepala Audrey yang bersandar di dada bidang suaminya. "Mas, apa Mas sudah mengabari Kakek Rama jika kita telah sampai?" tanya Audrey dengan mendongakkan kepalanya.
"Belum, Sayang. Nanti akan aku kabarin. Saat ini, aku hanya ingin bersamamu," Akandra mencubit pelan dagu sang istri.
"Mas ini ...." Audrey menggelengkan kepalanya. "Aku tiap hari selalu bersamamu, Sayang." Audrey tersenyum manis pada sang suami.
Tiba-tiba terdengar nada dering ponsel Akandra yang berada di meja nakas tepat di sebelah ranjangnya. Seketika Akandra dan Audrey saling bertatapan satu sama lain. Kemudian sang suami Audrey segera meraih benda pipih tesebut.
Setelah ponsel berada di genggamannya, Akandra terlihat mengernyitkan kedua alisnya dengan mata yang melihat layar ponselnya. Audrey yang melihat reaksi sang suami, mencoba membenarkan posisi duduknya dan melihat ke layar ponsel suaminya. "Daniel menghubungi, Mas. Kenapa tidak di angkat teleponnya?" tanya Audrey pada sang suami.
"Biarkan saja, mungkin itu masalah kerjaan. Biarkan dia menghubungi Fandra, karena seluruh kerjaan dihandle oleh adikku. Saat ini aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu tanpa ada yang mengganggunya," jawab Akandra dengan meletakkan kembali ponselnya ke meja nakas semula.
"Angkat aja, Mas. Barangkali ada hal yang penting atau mungkin urgent. Tidak akan sampai berjam-jam 'kan Daniel meneleponmu, jadi angkat saja," tutur Audrey dengan santun seraya mengelus lembut tangan suaminya.
__ADS_1
"Hmm ... baiklah, aku akan mengangkatnya." Akandra yang tadinya tidak mau mengangkat telepon dari orang kepercayaannya tiba-tiba bersedia mengangkat telepon Daniel setelah ucapan sang istri.
Kini tangannya kembali meraih ponselnya kembali yang telah dia letakkan di meja nakas. Setelah ponsel berada di genggamannya, saat itu telepon sudah dimatikan Daniel. Namun, Akandra memutuskan untuk menelepon Daniel kembali.
Sehingga, tak membutuhkan waktu lama untuk Daniel mengangkat telepon darinya. Setelah telepon tersambung, Akandra menempelkan ponsel di telinga kanannya. Sementara itu, Audrey hanya menatap sang suami yang sedang berbicara di telepon.
Telepon terhubung!
"Hallo, Daniel. Ada apa?" Akandra bertanya begitu telepon telah tersambung.
"Gawat, Tuan ...." Terdengar suara Daniel yang begitu panik dan terbata-bata.
"Tenanglah dulu, tarik napas baru bicara," ujar Akandra.
"Alessa dan Devanka, Tuan. Mereka--"
"Ada apa dengan mereka? Kalau bicara itu yang jelas!" tegas Akandra dengan nada yang sedikit di tinggi.
"Apa?"
Seketika Akandra langsung terperanjat dari ranjangnya. Kedua bola matanya menbelalak dengan sempurna. Kemudian tatapan matanya beralih ke arah sang istri yang masih duduk di ranjang dengan kedua mata menatap ke arahnya.
Sama halnya dengan Akandra, Audrey pun turut terkejut. Bagaimana tidak, dia juga mendengar apa yang dikatakan Daniel. Sehingga keduanya saling bertatapan satu sama lain.
"Maafkan saya, Tuan."
"Saya tidak ingin mendengar penyesalanmu, Daniel! Bagaimana bisa mereka berhasil melarikan diri sedangkan semua pintu terdapat kode rahasia yang hanya aku dan kamu yang mengetahuinya. Itu sangat tidak masuk akal!" tegas Akandra dengan suara yang terkesan sedikit marah.
"Saya juga tidak mengerti, Tuan. Bagaimana mereka bisa berhasil melarikan diri. Saya selalu menutup semua pintu ketika saya selesai mengantarkan makanan untuk mereka," timpal Daniel yang sama bingung dengan tuannya.
"Saya tidak mau tahu, sekarang kamu cari mereka sampai dapat! Jika, tidak ... kamu pasti tahu apa yang akan kamu terima. Tutt!" Akandra seketika langsung mengakhiri pembicaraannya dengan memutuskan sambungan telepon.
__ADS_1
Telepon terputus!
Setelah berbicara di telepon, Akandra kembali duduk di sebelah sang istri. Dengan rasa kesal yang pria itu rasakan, dia mulai memeriksa apa yang sebenarnya terjadi di ruang bawah tanah ketika dia tidak ada. Akandra pergi laptopnya dan duduk kembali bersama sang istri. Setelah itu, ia membuka rekaman CCTV melalui laptop tersebut.
Audrey turut menyaksikan rekaman CCTV tersebut. Awalnya mereka tidak menemukan hal-hal yang aneh. Namun, di menit-menit tertentu, mereka jelas melihat sesuatu yang mencurigakan. Di mana, di rekaman CCTV itu menunjukkan Daniel yang sedang berjalan menuju ruang penyekapan dengan membawa kantong plastik berwarna putih.
"Apa yang dia bawa, Mas?" tanya Audrey pada suaminya.
"Entahlah, kita perhatikan dengan seksama. Sepertinya yang dibawa oleh Daniel bukan makanan," jawab Akandra dengan mata yang masih fokus memperhatikan layar laptopnya.
"Mas, sepertinya aku tahu apa yang dibawa Daniel." Audrey menatap sang suami dengan tatapan yang serius.
Kedua bola mata Akandra langsung tertuju pada istrinya. "Perhatikan ini, Mas." Audrey memperbesar layar tepat pada kantong plastik yang Daniel bawa.
"Apa itu?" Akandra bertanya dengan mata yang tertuju pada layar yang sudah istrinya zoom.
"Melihat dari bentuknya, itu seperti bedak bayi," jawab Audrey sembari memeriksa kembali.
"Bedak bayi? Tapi, untuk apa dia membawanya ke ruang penyekapan?"
"Entahlah, sebaiknya kita lihat rekaman CCTV ini tentang apa yang dilakukan Daniel selanjutnya," Audrey memberi saran kepada suaminya.
Mendengar hal itu, Akandra menuruti ucapan istrinya. Dan benar saja di CCTV Daniel terlihat keluar dari ruang penyekapan dengan terburu-buru serta terlihat begitu kesal. Entah apa yang membuat orang kepercayaannya begitu kesal.
Di menit-menit terakhir Akandra dan Audrey melihat dengan sangat jelas jika Alessa dan Devanka sedang melakukan sesuatu. Sontak karena panik, Akandra menyambar ponselku dan segera menghubungi Daniel. Melihat kepanikan di wajah suaminya, Audrey menggenggam tangan sang suaminya disertai dengan senyuman yang menenangkan.
"Tenanglah, Mas. Jangan terlalu panik seperti ini," tutur Audrey dengan lembut.
"Bagaimana bisa aku tidak panik sedangkan kedua orang itu berhasil kabur? Bagaimana jika mereka kembali berulah yang akan membuat kita salah paham lagi?" Akandra menatap lekat sang istri.
****
__ADS_1
Stay tune :)