
"Hai, Sayang. Kemarilah." Akandra melambaikan tangan pada istrinya.
Audrey yang merasa dirinya dipanggil pun segera menutup pintu kamar dan berjalan menghampiri suaminya. Dia berjalan perlahan dengan dress yang cantik melekat di tubuhnya. Rambutnya masih basah dan terurai. Kedua matanya yang indah ditumbuhi bulu mata yang begitu lentik, menatap lekat Akandra.
Hanya senyuman kecil yang terlihat di bibir manis Audrey. Tanpa banyak bicara, setelah sampai di meja makan, ia duduk di kursi sebelah suaminya. Kemudian, wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah mangkuk-mangkuk yang terisi bubur ayam.
"Kakak membuatnya?" tanya Audrey dengan melihat ke arah bubur tersebut.
"Ya, Tentu. Sayang, boleh kukatakan sesuatu?" Akandra memegang tangan istrinya.
"Iya, Kak. Katakan saja," jawab Audrey disertai dengan senyuman.
"Kita ini sudah menikah, kenapa kamu masih memanggilku Kakak? Kenapa tidak panggil dengan sebutan lain yang lebih hangat? Apa kamu tidak mencintaiku?"
Mendengar ucapan itu, membuat kedua manik Audrey terbelalak dan langsung menatap tajam pada suaminya.
"Omong kosong! Mana mungkin aku tidak mencintai pria yang selama ini selalu di sampingku. Kakak selalu ada disaat aku membutuhkan. Aku tulus mencintaimu, Kak. Jika dengan sebutan lain bisa membuatmu percaya, maka aku akan memanggilmu dengan sebutan Mas, Bang, atau apa? Terserah, Kakak maunya apa?"
"Apa saja yang bisa membuatmu nyaman,"
"Baiklah, kalau begitu mulai detik ini aku akan memanggilmu Mas Andra bagaimana? Terdengar aneh bukan," Audrey terkekeh.
"Ya, sedikit aneh tapi aku menyukainya," Akandra turut tertawa kecil.
"Kapan Mas akan pulang?"
"Apa istriku ini sedang mengusirku secara halus?" Akandra menaik-turunkan alisnya.
"No, Sayang. Aku hanya bertanya,"
"Aku akan pulang bersamamu. Jika kamu mau pulang hari ini maka aku akan pulang juga. Kapan pun kamu mau pulang, beri tahu aku. Karena aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini ataupun membiarkanmu pulang sendiri. Aku terlalu takut jika kamu jauh dari pengawasanku," jelas Akandra dengan nada bicara yang lembut.
"Aku belum ingin mau pulang, Mas. Lagipula aku sudah menyewa kamar ini selama tiga bulan. Setidaknya dalam tiga bulan aku bisa beradaptasi dengan dunia yang penuh dengan tipu muslihat ini. Aku belum siap untuk kembali ke rumahmu. Biarkan aku di sini beberapa waktu dulu untuk menyembuhkan lukaku," timpal Audrey dengan nada yang lirih disertai dengan tatapan yang sendu.
"It'a okay, no problem. Aku akan di sini bersamamu. Aku akan menemanimu, merawatmu serta menjagamu. Aku bersamamu, Sayang. Kemarilah." Akandra merentangkan tangannya sebagai tanda pelukan.
Audrey yang melihat itu langsung memeluk suaminya. "Terima kasih, suamiku. Aku beruntung memilikimu," tutur Audrey dengan penuh ketulusan.
"Me too." Akandra membalas pelukan Audrey dengan belaian lembut di rambut sang istri.
Setelah puas melepas rindu dan bicara dari hati ke hati, mereka pun mulai mencicipi bubur ayam buatan Akandra. "Bagaimana?" tanya Akandra pada sang istri.
"Enak sekali, Mas. Kalau sarapan buatanmu seenak ini, bisa-bisa aku ketagihan dan memintamu untuk membuatnya lagi," Audrey memuji bubur buatan suaminya.
"Dengan senang hati aku akan membuatkanmu bubur sebanyak yang kamu mau." Akandra tersenyum.
"Woah ... really?"
__ADS_1
"Yeah. But ...."
"What?" Audrey mengernyitkan kedua alisnya.
Akandra menggeser posisi duduknya agar semakin dekat dengan istrinya. Setelah itu, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Audrey dan ....
"Jika kamu mau mengandung anakku," bisik Akandrab dengan suara yang lembut namun terdengar sedikit berat.
Deg!
Seketika Audrey terkejut mendengar bisikan Akandra. Jantungnya serasa mau lepas. Seluruh tubuhnya seperti tersengat sesuatu yang dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh.
Badannya kaku, bola matanya terbelalak. Bibirnya terkunci rapat seakan sulit untuk menjawab ucapan suaminya. Hanya kedua pipinya yang berubah menjadi merona bak kepiting rebus.
****
"Hai, Baby. Wait!" Seorang pria tampan dan bertubuh kekar dengan pakaian khas jogging tengah mengejar seorang wanita cantik.
"Kejar aku jika bisa!" terdengar teriakan seorang wanita yang sedari tadi dikejar oleh pria tersebut.
Keduanya tidak lain dan tidak bukan adalah pasangan pengantin baru. Mereka adalah Akandra dan Audrey, couple double A. Benar, itu julukan mereka berdua.
Saat ini mereka tengah berada di pinggir jalan tak jauh dari kebun teh. Setelah mempercepat larinya, Akandra kini berhasil menangkap istrinya. Akandra memeluk Audrey dari belakang.
"Kena kamu, Nyonya Xaquille!"
"Ohoo, rupanya kamu sedang mengejekku, Nyonya Xaquille. Akan kubuktikan bahwa aku akan menghamilimu secepat mungkin. Senjataku ini akan menghasilkan banyak anak yang lucu-lucu," bisik Akandra dengan bahasan yang sedikit nakal.
"Hei ... hentikan itu, Tuan Xaquille. Apakah Mas tidak malu membicarakan hal ini di tempat umum? Bagaimana jika ada yang mendengar?" Audrey melepaskan kedua tangan Akandra yang melingkar di perutnya. Kemudian dia berbalik badan dan menatap suaminya.
"Siapa yang akan mendengarnya? Jalanan ini masih sepi. Jadi, masih aman. Bagaimana jika kita ...." Akandra menarik pinggang ramping Audrey sampai tubuh Audrey bersentuhan dengan dada bidangnya.
"Apa? Jangan aneh-aneh! Ini tempat umum. Ayo, kita ke sana." Audrey melepaskan dirinya dari dekapan suaminya serta mengalihkan pembicaraan.
Kemudian jari telunjuknya menunjuk ke arah rumah pohon yang tak jauh dari kebun teh. Setelah itu, Audrey berlari meninggalkan suaminya. Akandra yang melihat tingkat istrinya hanya menggelengkan kepala sambil tertawa kecil.
"Rupanya kamu sudah dikejar ya, Nyonya Xaquille!" Akandra berteriak pada Audrey yang sudah jauh berlari.
"Ayo kejar aku, Tuan kekar!" tantang Audrey.
"Awas kamu, habis jika kali ini tertangkap," kekeh Akandra seraya berlari sekencang mungkin.
****
Rumah pohon ...
Sesampainya di rumah pohon, Akandra mengunci tubuh Audrey dengan dekapannya. Napas keduanya terengah-engah karena lelah sudah berlarian cukup jauh. Audrey tidak melakukan perlawan apa pun, dia sudah pasrah dengan suaminya.
__ADS_1
"Kamu harus dihukum, Nyonya Xaquille."
"Loh, kenapa harus dihukum? Memang apa kesalahanku?"
"Karena kamu telah menantangku, jadi kamu harus dihukum. Bersiaplah!" Akandra mendekatkan bibirnya ke bibir Audrey.
Setelah itu mereka ....
Drrtt! Drrtt!
Belum sempat memulai permainan bibir, tiba-tiba ponsel Akandra berdering tanda apa yang meneleponnya. Seketika raut wajah Akandra langsung berubah menjadi wajah yang bete. Audrey melepaskan pagutannya.
"Siapa?" tanya Audrey sembari menatap Akandra yang sedang melihat ke layar ponselnya.
"Daniel," jawab Akandra dengan bibir cemberut.
"Angkatlah, barangkali penting," tutur Audrey dengan santun dan sedikit membumbuinya dengan senyuman.
"Baiklah."
Mau tidak mau, suka tidak suka Akandra harus menjawabnya. Meski dia mengangkat telepon dari Daniel, dalam hati kecilnya dia mengumpat. 'Awas kamu, Daniel!'
Telepon terhubung!
"Hallo, ada apa?" tanya Akandra to the point begitu telepon tersambung.
"Hallo, Tuan. Ada kabar buruk, Tuan." terdengar suara Daniel yang begitu panik.
"Katakan, ada apa? Kabar buruk apa?"
"Tuan Rama, Tuan--"
"Katakan dengan jelas! Kakek kenapa? Apa yang terjadi padanya?" tanya Akandra yang ikut panik.
"Sebaiknya Tuan pulang sekarang dan lihat sendiri. Saya tidak sanggup mengatakannya," jawab Daniel dengan nada bicara yang pelan dan sedih.
"Baiklah, aku pulang sekarang. Tutt!" Akandra segera menutup teleponnya.
Telepon terputus!
"Sayang, kita harus pulang sekarang." Akandra mengajak Audrey.
"Ada apa? Kakek kenapa, Mas?"
"Tanyakan itu nanti karena aku juga tidak tahu. Kita lihat saja nanti. Ayo,"
****
__ADS_1
Stay tune :)