
"Maaf, Sayang. Untuk permintaanmu yang itu, aku tidak bisa menurutinya," bisik Akandra.
Jelas saja Akandra tidak mau memenuhi permintaan istrinya sebab Audrey meminta suaminya untuk membebaskan Alessa. Bukan hanya membebaskannya akan tetapi Audrey meminta Akandra untuk memaafkannya serta melupakan semua yang telah terjadi. Hal ini sangat tidak mungkin bagi Akandra untuk membebaskan wanita berbisa seperti Alessa. Walau wanita itu adalah kakak iparnya, tetap saja dia adalah wanita yang telah membuat pernikahan dirinya dengan Audrey di ujung tanduk yang hampir saja kandas.
"Tapi kenapa, Mas? Ingat loh, bahwa dia adalah kakakku sekaligus kakak iparmu juga. Sejahat apa pun Alessa, dia tetap saudariku. Hanya dia keluarga satu-satunya yang aku miliki. Maafkanlah dia demi diriku," bujuk Audrey dengan suara yang santun dan penuh kelembutan.
"Aku paham itu, Sayang. Tapi, dia adalah orang yang telah melukaimu. Bukan hanya melukaimu, tapi dia juga telah menodaiku yang seharusnya malam itu aku habiskan denganmu. Tidaklah kamu sakit kala mengingat itu? Semudah itu kamu memaafkannya?" Akandra membalikkan tubuh Audrey dan memandangnya dengan tatapan yang lekat.
Audrey terdiam. Dia membalas tatapan suaminya beberapa saat. Kemudian kedua tangan Akandra memegang bahu istrinya.
"Dengarkan aku, Sayang ... akan lebih baik jika kita memberi Alessa sedikit pelajaran atas apa yang dia lakukan. Aku tidak akan membebaskannya sampai dia benar-benar berubah. Aku tidak ingin dia sampai melukaimu lagi. Semua ini aku lakukan demi kebaikanmu juga. Percayalah padaku, Nyonya Xaquille," Akandra menjelaskan semuanya dengan lembut.
"Akan lebih baiknya jika kita memberinya kesempatan kedua. Biarlah Allah SWT yang membalas semua perbuatannya. Kita do'akan saja yang terbaik untuk saudariku. Aku mohon, bebaskan Alessa." Audrey membujuk suaminya dengan menggenggam tangan suaminya begitu erat disertai mata yang berkaca-kaca.
"Sejujurnya aku tidak percaya pada Alessa. Tapi, berhubung ini permintaan istriku ... aku tidak mungkin mengingkari janjiku padamu. Maka dari itu dengan berat hati, aku akan membebaskan Alessa. Tapi--"
"Kok ada tapinya sih, Mas?" sela Audrey.
"Aku akan membebaskannya setelah acara makan bersama kita selesai, bagaimana? Karena aku tidak ingin acara makan bersama kita terganggu dengan kehadirannya," jawab Akandra.
"Okay, tidak masalah. Asalkn Alessa dibebaskan. Hanya itu yang aku inginkan." Audrey tidak keberadaan akan hal itu. Sebab suaminya yang sudah setuju membebaskan Alessa saja sudah sangat senang.
__ADS_1
"Oh iya, Sayang ... berhubung kita belum pergi honeymoon, bagaimana jika pekan nanti kita pergi honeymoon ke pantai B di kota B?" ajak Akandra dengan mengubah topik pembicaraan.
"Honeymoon? Bukankah waktu di kontrakan kita melakukannya?" Audrey mengerutkan dahinya.
Mendengar itu, seketika Akandra langsung tertawa. Melihat hal itu, tentu membuat Audrey semakin kebingungan. "Ada apa? Kenapa tertawa?" tanya Audrey.
"Malam itu di kontrakkan kita tidak melakukannya, Sayang. Walaupun kita banyak minum, kita tidak melakukannya," jawab Akandra disertai dengan senyuman.
"Loh, bukannya Mas bilang jika kita melakukannya?"
"Itu tidak benar, Sayangku. Aku hanya bercanda saja. Lagipula aku tidak akan melakukannya tanpa seizin darimu. Malam itu kamu tepar tak sadarkan diri. Mana mungkin aku melakukannya pada istriku yang sedang tidak sadar." Akandra mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri.
"Itu akan terasa berbeda sensasinya, haha," bisik Akandra seraya mundur beberapa langkah diakhiri dengan tawa kecilnya.
Kemudian Audrey kembali menatap bintang-bintang di langit yang bersinar begitu terang. Akandra pun kembali memeluk sang istri dari belakang. Sementara itu, Audrey beralih menatap kedua tangan Akandra yang melingkat di perutnya seraya mengelusnya dengan lembut.
"Oh iya, Mas ... jika kita pergi honeymoon, bagaimana dengan kerjaanmu? Aku tidak mau kamu mengabaikan pekerjaanmu hanya untuk pergi honeymoon denganku,"
"Soal itu tidak perlu cemas. Ada Daniel yang akan menghandle semua kerjaan. Lagipula aku hanya pemilik hotel Xaquille saja, aku tidak perlu tiap hari memantau perkembangannya. Jika itu diperlukan, aku bisa bekerja dari rumah. Asalkan aku bisa berada di dekat istriku sepanjang hari, muach," Akandra mengatakan hal-hal yang manis diakhiri dengan mengecup leher sang istri secara tiba-tiba.
"Eh, Mas ngapain? Kita sedang di ruang terbuka. Jangan lakukan itu!" Audrey sontak membalikkan badannya dan ....
__ADS_1
Deg!
Kedua bola matanya terbelalak disertai degupan jantungnya yang kencang. Bagaimana tidak, saat ini Akandra tengah menatap Audrey dengan tatapan yang nakal disertai napasnya yang terasa menyejukkan terasa oleh Audrey. Sementara itu, Sang suami justru menarik pinggang ramping sang istri sehingga membuat tubuhnya saling menempel begitu juga dengan wajah mereka yang sudah tidak berjarak lagi.
Cup!
Lagi-lagi Akandra mengecup bibir sang istri. "Mas, jangan di sini. Ayo masuk. Udara di sini sudah sangat dingin. Ayo," Audrey mengajak suaminya untuk kembali ke kamar.
Ia menggandeng tangan Akandra menuju kamar. Sedangkan Akandra, dia hanya mengikuti langkah sang istri sembari tersenyum. Sesampainya di kamar, Akandra segera mengunci kamarnya dan menggendong tubuh istrinya.
Audrey melingkarkan kedua tangannya di leher Akandra agar dia tidak terjatuh. Kemudian Akandra menidurkan tubuh sang istri di ranjang yang berukuran besar. Kedua bola mata mereka saling bertemu dan saling memandang satu sama lain. Saat ini posisi Audrey berada di bawah kukungan suaminya. Benar, Akandra berada di atas tubuh istrinya dengan kedua tangan yang menopang tubuhnya agar tidak jatuh menindih istrinya.
Beberapa menit kemudian, Akandra mendekatkan bibirnya ke bibir sang istri. Mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, Audrey langsung memejamkan mata serta menunggu ciuman hangat yang akan suaminya berikan. Setelah beberapa detik kemudian, bibir Akandra sudah menempel di bibir Audrey. Tak mau berlama-lama, sang suami Audrey tersebut segera memulai permainan bibir tersebut.
Audrey yang awalnya hanya terdiam dan tidak membalas permainan tersebut lama-lama ia terhanyut dalam irama serta sensasi yang suaminya berikan. Semakin lama, level permainan itu semakin meningkat sehingga Akandra sejenak menghentikan permainan bibir dan dengan cepat melucuti semua pakaiannya.
Tak lupa, dia juga melucuti pakaian sang istri satu persatu dengan cara yang halus dan penuh kelembutan. Sebelum babak penyatuan tersebut, Akandra mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Begitu lampu redup, Akandra dengan cepat menindih tubuh sang istri.
Suara des*han serta rintihan begitu menggema dalam ruangan tersebut. Suasana yang dingin dan hening membuat keduanya semakin bersemangat untuk memeluk satu sama lain. Sehingga tanpa mereka sadari, mereka sudah bermain kurang lebih dua jam.
Karena merasa lelah, keduanya pun terbaring dengan keringat yang bercucuran. Kemudian Akandra menarik tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat. Tubuh mereka masih sama-sama polos hanya diselimuti dengan selimut yang tebal. Selang beberapa menit, keduanya sudah terlelap dalam kegelapan malam.
__ADS_1
****
Stay tune :)