
Bugh!
Devanka terjatuh usai dihantam oleh seorang pria yang tiba-tiba datang dan melayangkan pukulan tepat di pipi Devanka. Audrey yang melihat itu seketika langsung membelalakkan kedua matanya. Bagaimana tidak, pria yang memukul Devanka tidak lain dan tidak bukan adalah Akandra.
"Berani sekali kamu menyentuh calon istriku!" pekik Akandra dengan mencengkram kerah baju Devanka.
"Kak, sudah cukup. Ayo kita pergi." Audrey menarik lengan Akandra dan membawanya menjauh dari mantan suaminya.
Akandra hanya menuruti perkataan Audrey. Sementara Devanka, dia bangkit dan menatap kepergian mantan istrinya bersama Akandra. Tangan kanannya menyeka darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.
Setelah melihat Audrey dan Akandra pergi. Entah kenapa hati kecil Devanka merasa sedikit sakit melihat Audrey pergi bersama pria lain. Tatapannya menjadi sendu dan tubuhnya merosot.
'Apakah aku menyesalinya? Kenapa hatiku sakit melihat Audrey pergi bersama Tuan Akandra?' Devanka bermonolog dalam lamunannya.
****
"Di mana mobilmu, Kak?" tanya Audrey sembari menoleh ke arah Akandra.
"Di sana." Akandra menunjukkan jari telunjuknya ke seberang jalan.
Mereka segera menyebrang. Kali ini Audrey yang memandu jalannya. Sedangkan Akandra hanya terdiam mengikuti Audrey dari belakang.
Kedua matanya terus menatap Audrey. Dia merasa bersalah, karena tadi tidak sempat mengejarnya. Tatapannya menjadi sendu ketika melihat kaki Audrey terlihat lecet.
Untuk menebus kesalahan, Akandra secara tiba-tiba langsung menggendong tubuh Audrey dan membawanya ke mobil. Berbeda dengan Audrey. Dia terkejut kala tubuhnya digendong oleh Akandra.
"Kak, apa yang kamu lakukan?" tanya Audrey dengan menatap kedua mata Akandra.
Namun, Akandra tidak menjawabnya. Ia justru membuka pintu mobil dan memasukkan tubuh Audrey. Kemudian dia menutup kembali pintunya. Akandra mengitari mobil serta masuk melalui pintu kemudi.
"Kakak," panggil Audrey dengan mata yang terus menatap pria di sampingnya.
Sekali lagi Akandra tidak menggubrisnya. Dia justru mengambil kotak obat yang ada di mobilnya. Tanpa banyak bicara, dia langsung menarik pelan kedua kali Audrey dan meletakkan di pahanya.
"Eh, Kakak mau ngapain?" Audrey tercengang begitu melihat Akandra memegang kedua kakinya.
"Maafkan aku, Audrey," ucap Akandra dengan tatapan yang sendu.
"Maaf? Kenapa minta maaf?" Audrey mengernyitkan kedua alisnya karena bingung.
__ADS_1
"Karena aku tidak mengejarmu tadi. Jika saja aku mengejarmu mungkin kedua kakimu ini tidak akan lecet seperti ini." Akandra menatap luka lecet di kedua kaki calon istrinya.
"Uuh, sweet kali sih Kakak ini." Audrey mencubit kedua pipi Akandra.
"Sayang, aku loh yang sudah membuatmu lecet tapi kamu bilang sweeet?"
"Heum ... karena Kakak benar-benar sweet. Ini cuma lecet kecil tapi Kakak langsung minta maaf," kekeh Audrey.
"Sebab aku tidak ingin melihat ada bekas luka apa pun pada saat pernikahan kita nanti. Untuk itu, aku harus segera mengobati luka lecetmu ini," timpal Akandra seraya mulai mengobati luka lecet Audrey.
"Tapi, Kak ... bukankah Kakek Rama--"
"Kakek sudah setuju," sela Akandra tanpa menoleh karena matanya fokus melihat luka yang tengah diobati.
"Benarkah? Bukankah tadi Kakek jelas-jelas tidak menyukaiku?" Audrey kebingungan dengan perubahan Kakek Rama.
"Itu semua karena ulah saudarimu. Dia sengaja memberi tahu Kakek mengenai asal usulmu termasuk Devanka yang telah dengan sengaja memberikanmu padaku. Meski yang awalnya hanya sekedar gadaian saja tapi, aku tidak pernah menganggapmu sebagai wanita gadaian. Aku minta maaf, seharusnya aku berkata jujur pada Kakek Rama dari awal," jelas Akandra dengan tatapan yang serius.
"Loh ... jadi, Kakak tidak menceritakan asal usulku sejak awal pada Kakek Rama?" Audrey tercengang begitu mengetahui jika Akandra tidak pernah memberi tahu mengenai asal usulnya pada Kakek Rama.
"Tidak, Sayang. Aku tidak ingin menceritakan sesuatu yang tidak perlu aku ceritakan. Aku tidak ingin membuatmu terluka dengan mengatakan hal ini." Akandra menggenggam kedua tangan Audrey dan menciumnya dengan lembut.
"Lupakan itu, Sayang. Semua ini karena ulah Alessa. Dia ingin kita gagal menikah. Mungkin ada baiknya jika kita percepat saja pernikahannya. Aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian di apartemen. Aku harus berada di sampingmu agar kamu aman dari saudarimu," saran Akandra.
"Percepat?"
"Iya, percepat. Semua ini demi kebaikanmu juga. Dengan begitu aku bisa menjagamu setiap saat, bagaimana? Apa kamu keberatan jika pernikahannya di percepatan?" tanya Akandra.
Sejenak Audrey terdiam. Dia tampak menghela napas. Sehingga setelah beberapa menit kemudian, Audrey tersenyum disertai celengan kepala.
"Tidak, Kak. Aku tidak keberatan sama sekali. Jika Kakak mau dipercepat maka aku akan menurutinya asalkan Kakek Rama dan Affandra merestui hubungan kita," jawab Audrey dengan segala kejujurannya.
"Baiklah, aku akan memikirkan tanggal yang cantik untuk pernikahan kita. Secepatnya aku akan bicarakan hal ini pada Kakek dan Fandra. Terima kasih, Sayang." Akandra menarik lembut tubuh Audrey dan memeluk ke dalam dekapannya.
****
Ting!
Pintu lift terbuka. Akandra dan Audrey keluar dari lift. Mereka saat ini berada di apartemen Audrey. Keduanya berjalan bergandengan ke unit 403, unit yang Audrey tinggali.
__ADS_1
Kemudian Akandra memasukkan password untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka, keduanya masuk secara satu persatu. Akandra menutup kembali pintunya.
Sedangkan Audrey, dia membuka heels dan menggantinya dengan sandal khusus di dalam apartemen. Begitupun dengan Akandra. Mereka berjalan menuju sofa dan duduk bersebelahan.
Audrey menyandarkan kepalanya di bahu Akandra. Ia memejamkan matanya seperkian detik untuk menghilangkan rasa penatnya. Akandra yang melihat itu hanya tersenyum kecil sembari mengelus lembut rambut Audrey.
"Sayang, boleh aku tanya sesuatu?"
Audrey membuka kedua matanya. Ia mendongak menatap Akandra. "Iya, Kak. Katakan saja apa yang mau Kakak tanyakan," jawab Audrey.
"Bisa kamu ceritakan, bagaimana bisa Devan bersamamu tadi?"
Huft!
Audrey menghembuskan napasnya kasar. "Sebenarnya aku tidak ingin membahasnya lagi. Tapi, karena Kakak yang bertanya maka akan aku ceritakan," ucap Audrey dengan nada yang sedikit bete.
"Jika kamu tidak nyaman untuk membahasnya, maka skip saja."
"Pada saat aku berjalan menelusuri jalan. Aku melihat ada kursi kosong, aku langsung mendudukinya untuk menghilangkan rasa lelahku. Namun, pada saat aku menundukkan kepalaku dan memijat kakiku tiba-tiba saja seseorang memberiku minuman dingin. Dan begitu aku lihat orang tersebut ternyata Devan. Aku tidak menerima minuman itu, aku langsung lari untuk menghindarinya tapi sialnya, aku terjatuh. Aku sempat bangun tapi tidak sempat berlari karena tanganku di pegang oleh Devan. Bukan hanya itu, Devan membekapku ketika aku berteriak minta tolong. Saat itulah Kakak datang dan menyelamatkanku," jelas Audrey dengan sedetail mungkin.
"Apa kamu terluka? Apa Devan melakukan hal yang lebih butuh dari itu. Bagian mana yang terasa sakit?" Akandra terlihat sangat cemas setelah mendengar cerita detail mengenai pertemuannya dengan Devan.
"Tidak ada, Kak. Semuanya aman berkat dirimu. Tapi, aku merasa sakit ...."
"Katakan, bagian mana yang sakit?" tanya Akandra dngan penuh kekhawatiran.
"Di sini." Audrey menunjuk pada hatinya.
"Hatimu sakit?"
"Heumm ... hatiku sakit bila aku melihat kamu bersama Alessa," celetuk Audrey dengan tawa kecilnya.
"Astaga, kupikir sakit kenapa. Kalau soal itu, kamu tidak perlu khawatir. Cintaku hanya untukmu. Nama yang terukir saat ini hingga aku mati nanti hanya terukir namamu saja. Tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikanmu. Aku mencintaimu sampai aku mati." Akandra menangkup kedua pipi Audrey dan menatapnya dengan penuh cinta.
Deg!
****
Stay tune :)
__ADS_1