
Tak terasa hari mulai malam tapi, Audrey tak kunjung keluar dari kamar. Akandra pun masih tetap setia duduk di depan pintu kamarnya. Dia tidak akan pergi selama Audrey mau memaafkan dirinya.
Detik demi detik berlalu, menit demi menit pun berlalu. Akandra merasa matanya sudah mengantuk sehingga dalam beberapa menit saja ia sudah tertidur dengar menyandarkan kepala di tembok sebelah pintu kamar Audrey. Berbeda dengan Audrey, dia tidak bisa tidur. Hatinya benar-benar gelisah memikirkan masalahnya.
Untuk bisa merasakan mengantuk, Audrey pun keluar dari kamarnya dan berniat pergi ke balkon. Namun, setelah dia membuka pintu alangkah terkejutnya ia pada saat mendapati Akandra yang tengah tertidur di sebelah pintunya dengan posisi duduk dan kaki diluruskan. Karena merasa tidak tega, akhirnya Audrey kembali masuk ke kamarnya dan mengambil selimut tebal.
Kemudian Audrey membawa selimut tebal itu keluar dari kamar. Secara perlahan Audrey mulai menyelimuti tubuh Akandra. Selain itu, Audrey juga membuka sepatu Akandra namun, tidak melepaskan kaos kakinya agar pria itu tidak merasa kedinginan.
Setelah itu, Audrey hendak pergi meninggalkan Akandra. Akan tetapi tangan kekar Akandra yang menahan jemari Audrey. Sehingga ia pun menoleh kembali ke belakang.
"Maafkan aku Audrey, sungguh semua itu hanya sebuah kecelakaan. Percayalah padaku," Akandra mengigau dengan kedua matanya yang masih terpejam.
"Aku butuh waktu, Kak. Akan aku cari tahu kebenaran tentang kematian Alessa." Audrey melepaskan jemarinya dari pegangan Akandra.
Kemudian dia berjalan menuju balkon dan meninggalkan Akandra. Pikiran Audrey masih berkecamuk bersamaan dengan perasaannya terhadap Akandra. Meski dia sangat kecewa akan tetapi rasa cintanya itu murni.
Sesampainya di balkon, Audrey berdiri di ujung balkon. Kepalanya menegadah menatap langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku hoddie. Benar, saat ini Audrey tengah mengenakan hoddie.
'Alessa, apa benar kamu meninggal karena ulah Kak Akandra? Atau semua itu hanyalah sebuah kecelakaan yang tidak disengaja? Haruskah aku percaya sama Kak Akandra?' batin Audrey bertanya-tanya pada almh. Alessa sambil melihat bintang.
Disaat hatinya bertanya-tanya mengenai masalah ini, tiba-tiba Audrey teringat pada Daniel. "Kenapa aku tidak tanyakan saja pada Kak Daniel? Dia pasti tahu mengenai insiden itu," gumam Audrey dengan pelan.
Setelah yakin, dia pun pergi dari balkon menuju Kak Daniel yang masih berada di luar unit. Langkah Audrey sengaja dia pelankan agar tidak mengganggu tidurnya Akandra. Setelah sampai di depan pintu, ia langsung memegang handle pintu dan membukanya.
"Kak Daniel!" panggil Audrey dengan suara yang sedikit pelan.
Daniel yang tetap setia berdiri di depan unit pun menoleh ke arah Audrey. Dia menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat. "Nona Audrey, ada apa, Non?" tanya Daniel sambil mengernyitkan kedua alisnya.
"Ada yang mau aku tanyakan padamu, Kak."
__ADS_1
"Apa yang ingin Non tanyakan padaku?"
"Aku mau bertanya mengenai insiden kematiannya Alessa," jawab Audrey.
Deg!
Seketika jantung Daniel langsung berhenti berdetak. Wajahnya pucat pasi setelah mendengar pertanyaan Audrey. Ia benar-benar terkejut bukan main karena insiden itu sudah lama dirahasiakan dan sekarang Audrey bertanya mengenai insiden itu.
"Bagaimana Non Audrey tahu mengenai insiden itu?" alih-alih menjawab, Daniel justru balik bertanya kepada Audrey.
"Aku tahu dari Kak Akandra. Tapi, aku ingin mendengarnya dari Kak Daniel. Katakan dengan jujur! Apa Kak Akandra yang telah menghilangkan nyawa Alessa?" Audrey bertanya dengan nada yang tegas.
"Itu tidak benar, Non. Semua itu hanya sebuah kecelakaan. Tuan Akandra begitu menyayangi mendiang Alessa. Dia tidak mungkin tega menghilangkan nyawa tunangannya. Bahkan menyakitinya saja tidak pernah," Daniel menyangkal semua pernyataan Audrey.
"Bisa Kakak jelaskan pada saat insiden itu? Jujur, aku sangat gelisah memikirkan semua ini. Aku tidak akan mau menikah dengan pria yang sudah menghilangkan nyawa saudariku sendiri. Maka, bantulah aku, Kak. Agar aku tidak berprasangka buruk terhadap Kak Akandra," ujar Audrey dengan tatapan yang penuh dengan kegelisahan.
****
'Jadi, Kak Akandra bukan pelakunya. Alessa meninggal karena kemauannya sendiri. Jadi, semua ucapan yang keluar dari mulut Kak Akandra itu benar? Semua ini hanya kesalahpahaman.' Audrey berjalan sangat pelan dengan batinnya yang bertanya-tanya.
"Ekhem!"
Audrey langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara deheman itu. Pada saat dia melihat orang yang berdehem tersebut, kedua matanya terbelalak dengan sempurna. Ia melihat Akandra sudah berdiri di hadapannya dengan memegang selimut.
"Dari mana kamu?" tanya Akandra seraya berjalan ke arah Audrey.
Alih-alih menjawab pertanyaan Akandra, Audrey justru memilih pergi meninggalkannya. Dia tidak menggugris sama sekali bahkan tidak menatap pun. Berbeda dengan Audrey, Akandra justru tidak suka jika Audrey mendiamkan dirinya seperti ini. Lebih baik dia diomelin dari pada dicuekkan seperti ini.
Akandra menarik lengan Audrey dan membawanya ke kamar. Begitu sampai di kamar, ia mendudukkan wanita itu di ranjang. Diikuti olehnya yang duduk di sebelah Audrey.
__ADS_1
"Aku sedang bicara denganmu, Audrey! Tolong hargai aku di sini! Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan besar tapi aku tidak ingin kamu diemin aku kek gini! Lebih baik kamu lampiaskan semua kemarahanmu dari pada diam seperti ini." Akandra memegang kedua bahu Audrey disertai tatapan yang begitu lekat.
"Aku habis dari luar, Kak." Audrey pun terpaksa menjawab pertanyaan Akandra.
"Ngapain?"
"Cuma cari angin aja, Kak."
"Jangan bohong! Katakan dengan jujur! Siapa yang telah kamu temui?" selidik Akandra.
"Tidak ada, Kak. Sudah jangan tanyakan apa pun lagi. Ini sudah malam, biarkan aku tidur." Audrey memalingkan wajahnya.
"Pukul aku, Audrey! Kalau perlu kau tembak aku sampai tiada agar kebencianmu ini bisa hilang," ujar Akandra sembari mengambil sebuah pistol dari dalam sakunya.
"Ayo, tembak aku!" Akandra meletakkan pistol itu di telapak tangan Audrey.
Audrey reflek menjatuhkan pistolnya karena terkejut. "Istighfar, Kak! Apa kamu sudah tidak waras!" pekik Audrey dengan menangkup kedua pipi Akandra.
"Lampiaskan amarahmu padaku, Audrey! Jangan siksa aku dengan sikap bisumu ini. Jujur, ini lebih menyakitkan dari pada luka tembakan. Ayo tembak aku, Audrey." Akandra menyambar kembali pistol yang Audrey jatuhkan tadi dan kembali meletakkannya di tangan Audrey.
Plak!
Audrey secara reflek menampar wajah Akandra dengan pistol tersebut. "Jangan pernah katakan itu lagi! Sejujurnya kematian bukanlah solusi yang tepat. Ingatlah, Kak! Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Bersabarlah, aku diam karena aku tidak ingin membuat keputusan yang salah. Apalagi ini masalah tentang saudariku dan juga dirimu, Kak Akandra. Di satu sisi aku sangat menyayangimu. Aku sudah jatuh cinta padamu tapi di sisi lain, Alessa juga saudariku. Aku benar-benar gelisah. Sungguh, aku butuh waktu untuk sendiri. Biarkan aku sendiri, Kak."
Deg!
****
Stay tune :)
__ADS_1