
Hati Akandra bergetar setelah mendengar ucapan tulus yang keluar dari bibir Audrey. Ia meneteskan air matanya dan tubuhnya jatuh ke lantai. Dia tidak menyangka jika Audrey tetap mencintainya walau dia sudah tau penyebab kematian saudarinya adalah ulahnya.
"Sungguh, kamu adalah wanita mulia, Audrey. Kamu masih menyayangiku walau kamu sudah mengetahui semua kesalahanku. Padahal kamu bisa membenci serta menghukumku dengan cara yang sama ketika aku menghilangkan nyawa saudarimu. Tapi, apa yang kamu lakukan? Kamu memilih diam," ujar Akandra dengan nada yang lirih disertai air mata yang menetes membasahi wajah tampannya.
Mendengar itu, Audrey langsung berkongkok dan menggenggam kedua tangan Akandra. "Aku tidak berhak menghakimimu seperti ini, Kak. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan begitupun denganku. Aku hanya berdo'a, semoga Allah SWT mengampunimu atas apa yang telah kamu lakukan dulu terhadap Alessa. Begitu pula dengan saudariku, semoga Allah SWT mengampuni dosanya dan menerima Alessa di sisi-Nya." Audrey menatap lekat kedua maya Akandra.
Tak lama setelah mengatakan hal itu, Audrey menyeka air mata Akandra dengan kedua tangannya yang halus bak kain sutra. "Jangan menangis dan meratapi sesuatu yang sudah terjadi. Belajarlah dari kesalahan yang telah Kakak alami dulu. Jadikan semua itu pelajaran untuk Kakak menjadi lebih baik lagi. Penyesalan hanya datang di akhir dan semua penyesalan itu tidak ada gunanya. Yang harus Kakak lakukan adalah, kontrol emosi Kakak bila Kakak sedang marah agar Kakak tidak melakukan kesalahan yang sama yang akan membuat Kakak menyesal suatu saat nanti. Semoga Allah SWT mengampunimu," tutur Audrey dengan penuh kelembutan.
Akandra langsung memeluk Audrey dengan erat. Air matanya terus menetes membasahi hoddie yang Audrey kenakan. Sementara itu Audrey hanya bisa terdiam sambil mengelus lembut punggung Akandra.
Tanpa dia sadari, ia pun turut meneteskan air matanya. "Sungguh, kamu memang wanita mulia. Aku semakin yakin untuk meminangmu, Audrey. Tolong beri aku kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Ajari aku agar aku bisa menjadi sosok yang penyabar sepertimu," ujar Akandra.
Audrey melepaskan pelukan Akandra dan mengangguk disertai senyuman kecil. "In Sya Allah, aku akan memberimu kesempatan. Akan tetapi sebelum itu, boleh aku katakan sesuatu?"
Akandra mengangguk meng-iyakan perkataan Audrey. "Hapus air mata Kakak dan gantilah dengan senyuman yang menyejukkan. Aku lebih menyukai Kakak saat tersenyum ketimbang menangis seperti ini. Jadi pria itu tidak boleh cengeng," ucap Audrey sembari tersenyum.
Dengan cepat Akandra segera menyeka air matanya dengan tangannya. Sesuai dengan ucapan Audrey, ia pun menunjukkan senyumannya yang menyejukkan. Kemudian, ia menggenggam kedua tangan Audrey.
"Terima kasih, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah kamu berikan padaku. Akan gunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin. Percayalah padaku," ujar Akandra disertai tatapan yang lekat.
__ADS_1
Audrey mengangguk. "Iya, Kak Akandra. Aku percaya padamu. In Sya Allah, Kakak akan menjadi sosok pria yang lebih baik lagi. Aku akan membantumu. Sekarang Kakak pulanglah, ini sudah sangat larut. Tidak baik jika Kakak masih berada di apartemen bersamaku sedangkan kita belum menikah. Aku tidak ingin orang berpikir macam-macam tentang kita." Audrey menyuruh Akandra untuk segera pulang dengan cara yang lembut.
"Baiklah, aku akan pulang sekarang. Hatiku sudah merasa sedikit lega mendengar semua ucapan tulusmu ini walau kamu belum memaafkanku. Aku pulang ya," Akandra membalikkan badannya dan hendak berjalan menuju pintu kamar.
"Aku sudah memaafkanmu, Kak Akandra. Tidurlah dengan nyenyak!" tegas Audrey seraya berdiri dan menatap Akandra.
Akandra yang baru saja sampai di depan pintu seketika langsung membalikkan badannya kembali. Alih-alih meninggalkan Audrey, dia justru kembali menghampiri Audrey dan memandangi wanita uang dia cintai. Kedua tangan Akandra menangkup kedua pipi Audrey.
Cup!
Akandra mengecup lembut kening Audrey dengan penuh cinta serta penuh kelembutan. "Terima kasih banyak, Audrey. Aku akan tidur dengan nyenyak." Akandra tersenyum penuh kebahagiaan.
Audrey mengangguk menanggapi ucapan Akandra. Setelah itu, Akandra pun keluar dari kamar wanita yang dia cintai. Kali ini Audrey tidak mengatakan apa pun lagi selain meneteskan air matanya memandang kepergian sang pria yang menghilangkan nyawa Alessa sekaligus pria yang dia cintai.
Menurutnya ini adalah keadaan yang sulit. Mencintai pria bukanlah kesalahan. Akan tetapi, mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa saudarinya adalah sesuatu yang sulit untuk dilalui. Tidak mudah untuk menyangkal semua kenyataan yang terjadi, selain menerimanya dengan ikhlas.
****
Audrey terbangun dari tidurnya. Alangkah terkejutnya ia pada saat menyadari dirinya berada di sebuah taman yang sangat amat indah. Wanita ini tidak tahu, ada di mana dia. Audrey terbangun sudah berada di taman itu.
__ADS_1
Untuk mencari tahu keberadaan dirinya, ia pun bangkit dan memperhatikan keadaan di sekelilingnya. 'Sungguh, ini benar-benar indah. Aku belum pernah melihat taman seindah ini,' gumam Audrey di dalam hati kecilnya.
Tiba-tiba ia melihat ada kepulan asap yang tercium begitu wangi. Audrey hanya terpaku melihat kepulan asap tersebut yang semakin lama semakin terlihat ada seseorang dibalik kepulan asap tersebut. Dalam benaknya bertanya-tanya tentang apa yang dia lihat dan dia cium.
"Ini sangat aneh. Bagaimana asap bisa sewangi ini?" Audrey bertanya-tanya pada dirinya sendiri dengan kedua matanya masih tertuju ke arah kepulan asap itu.
"Selamat datang saudariku, Audrey," sambut seseorang yang berada dibalik kepulan asap tersebut.
Audrey tidak tahu siapa orang yang menyambutnya seperti itu. Karena penasaran, ia pun berjalan mendekati kepulan asap tersebut agar bisa melihat wajah orang yang menyambutnya itu. Begitu ia semakin dekat dengan kepulan asap itu, alangkah terkejutnya Audrey pada saat melihat sosok wanita yang berwajah sangat mirip dengannya.
Kedua bola matanya membulat dengan sempurna. 'Apakah wanita ini adalah Alessa?' batin Audrey bertanya-tanya.
Tatapannya masih tertuju pada wanita yang berwajah mirip dengannya. "Apakah kamu saudariku, Alessa?" tanya Audrey dengan segala keraguannya.
"Benar, Audrey. Aku adalah saudarimu." Wanita yang diduga Alessa itu pun tersenyum.
"Alessa ... sungguh, aku sudah sangat menyesal karena aku tidak mengetahui keberadaanmu. Aku sudah terlambat mengetahui jika aku memiliki saudari kembar. Aku juga minta maaf karena aku telah memaafkan pria yang telah menghilangkan nyawamu," tangisan Audrey pun pecah setelah melihat sosok saudari kembarnya.
"Janganlah kamu menyesali sesuatu yang telah kamu lakukan. Sesungguhnya, keputusanmu ini adalah yang terbaik. Ketahuilah, aku sudah tenang di sini dan Akandra adalah sosok pria yang terbaik dari yang terbaik. Jangan pernah mengkhianati cinta tulusnya sama seperti yang pernah aku lakukan selama hidupku. Percaya padanya dan satu hal yang harus kamu ketahui, Saudariku ... bukan Akandra yang menyebabkan aku tewas. Semua itu hanya sebuah kecelakaan. Semua itu adalah kesalahan terbesarku. Pergilah, temui Akandra dan hiduplah dengan bahagia bersamanya. Aku merestui kalian," jelas Alessa.
__ADS_1
****
Stay tune :)