
"Kakak?" Kedua bola mata Audrey terbelalak dengan sempurna.
Ternyata, pria yang tengah berdiri di depan kamar kamar kontrakan Audrey dengan memegang koper milik Audrey tidak lain dan tidak bukan adalah Akandra. Benar, pria itu adalah suaminya. Suami yang Audrey sengaja jauhi saat ini.
Akandra hanya mematung dengan tatapan yang berkaca-kaca. "Kita perlu bicara. Biarkan aku masuk," ujar Akandra dengan suara yang berat.
"Baiklah, silakan masuk."
Tidak ada pilihan lain, Audrey pun mempersilakan suaminya masuk. Mau tidak mau, suka tidak suka dia harus bicara dengn Akandra. Biar bagaimana pun juga Akandra masih menjadi suaminya.
"Silakan duduk," ucap Audrey dengan mempersilakan suaminya untuk duduk.
Akandra yang tidak banyak bicara saat ini pun menuruti ucapan istrinya. Sementara itu, Audrey pergi ke dapur untuk membuatkannya minuman. Selesai itu, ia membawa minuman tesebut ke hadapan Akandra.
"Minumlah dulu." Audrey menyodorkan minuman pada suaminya. Kemudian ia duduk berhadapan dengan Akandra.
"Terima kasih, Sayang." Akandra mengambil minuman itu dan meneguknya.
Audrey diam tak mengeluarkan suara apa pun. Rasanya canggung sekali saat ini setelah apa yang dia alami. Namun, berbeda dengan Akandra. Pria itu tampak merasa lega karena setelah seharian full dia mencari istrinya, akhirnya dia mengetahui keberadaannya.
"Kenapa Kakak datang ke sini? Bagaimana Kakak tahu jika aku berada di kota ini?" Setelah beberapa saat membisu, kini Audrey mulai bertanya pada suaminya.
"Semua itu tidak penting. Yang terpenting sekarang, aku bisa bertemu denganmu. Takkan kubiarkan kamu pergi lagu dariku. Apa pun masalahnya, jangan pernah berpikir untuk lari meninggalkanku!" tegas Akandra dengan raut wajah yang berbeda dari biasanya.
"Jika Kakak datang hanya untuk mengomeliku, lebih baik Kakak pulang dan tinggalkan aku!" timpal Audrey seraya beranjak dari duduknya.
Akandra yang mendengar itu pun terdiam. Dia berdiri dan mendekati istrinya. Tanpa berbasa-basi lagi, Akandra langsung memeluk Audrey ke dalam dekapannya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud untuk mengomelimu. Aku banyak bicara karena aku benar-benar khawatir padamu. Aku takut kamu kenapa-kenapa," tutur Akandra dengan lembut.
"Pulanglah dan nikahi saudariku!" Audrey melepaskan pelukan Akandra dan bersikukuh meminta suaminya untuk menikahi Alessa.
Deg!
Jantung Akandra rasanya berhenti berdetak setelah mendengar kalimat yang istrinya lontarkan. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa Audrey meminta suaminya sendiri untuk menikahi kakak iparnya? Itu tidak akan mungkin.
__ADS_1
"Di mana hati nuranimu, Audrey? Tidakkah kamu sadar dengan mengatakan semua ini, hatiku benar-benar hancur. Aku tidak akan mungkin menikahi kakak iparku sendiri!" tegas Akandra.
"Tidak mungkin Kakak bilang? Tidakkah Kakak malu dengan mengatakan semua itu? Padahal Kakak sudah melakukan hubungan terlarang dengan saudariku yakni kakak iparmu sendiri?" Wajah Audrey sudah merah padam menahan amarah.
"CUKUP, AUDREY! Berapa kali harus kukatakan padamu, jika malam itu aku dijebak oleh Alessa!" bentak Akandra kelepasan disertai kedua bola matanya yang berubah merah pekat akibat naik pitam.
"Maka nikahi kakak iparmu! Hanya itu yang bisa kamu lakukan untuk menebus kesalahanmu!" ujar Audrey dengan tegas seraya melangkah mundur menjauhi suaminya.
"Bagaimana dengan Alessa? Bukankah wanita berbisa itu dalang dari semua permasalahan ini?"
"Wanita yang kamu hina itu adalah saudariku! Seburuk apa pun dia, dia tetap saudariku!" pekik Audrey.
"Tapi, aku juga suamimu, Audrey! Kamu jangan lupa itu!" Akandra terus mendekati istrinya.
"Status itu sudah berakhir," timpal Audrey dengan suara yang lemas.
"Apa maksudmu?" Akandra menyorotkan tataoannya yang sangat tajam.
"Hubungan kita sudah berakhir pada saat kamu mengkhianati pernikahan kita, Kak. Dan aku tidak bisa melanjutkan pernikahan dengan diawali sebuah pengkhianatan seperti ini! Ceraikan aku dan nikahi Alessa!" Audrey tetap bersikukuh pada keputusannya.
"Kesepakatan apa?"
"Jika kita sudah bercerai, maka kamu nikahi Affandra dan aku akan menikahi Alessa, bagaimana?"
"Tidak mungkin! Apa kamu sudah tidak waras? Bagaimana bisa aku menikahi pria yang sudah aku anggap adikku sendiri! Dengarkan aku, pernikahan bukan permainan!" pekik Audrey dengan kesal.
"Itulah yang coba kukatakan padamu. Aku juga tidak bisa menikahi kakak iparku. Percayalah Audrey ... semua akan baik-baik saja. Jangan pernah mengatakan kata cerai lagi. Kita pasti bisa melalui semua ini." Akandra menangkup kedua pipi Audrey dan menatapnya dengan tatapan yang teduh.
"Iya, aku percaya hal itu. Tapi, bagaimana jika Alessa hamil? Siapa yang akan bertanggungjawab? Bayi dalam kandungan Alessa tidak bersalah. Dia membutuhkan figur seorang ayah." Audrey membalas tatapan suaminya dengan sendu.
"Alessa tidak hamil, Sayang. Kalau pun dia hamil, aku sudah memutuskan untuk menikahkan Daniel dengan Alessa. Sudah, kamu jangan pikirkan itu lagi. Pikirkan kesehatanmu."
"Bagaimana dengan perasaan Kak Daniel?"
"Sudah, jangan pikirkan hal itu. Serahkan semuanya padaku. Pikirkan tentang dirimu sendiri. Sudah cukup kamu menderita selama ini hanya karena terlalu memikirkan orang lain. Sekarang tenangkan hati dan pikiranmu. Aku akan berada di sampingmu mulai saat ini." Akandra kembali memeluk istrinya.
__ADS_1
****
Pagi hari ...
Akandra bangun lebih dulu dari Audrey. Saat ini dia sedang memakai celemek dan membuat sarapan di pantry. Berbeda dengan Audrey, saat ini ia masih terlelap dalam mimpinya.
Setelah beberapa menit kemudian, Audrey tiba-tiba terbangun karena mencium sesuatu yang mambuatnya merasa lapar. Kemudian Audrey beranjak dari ranjangnya dan ....
"Aaarrgghh!" teriak Audrey pada saat menyadari kalau tubuhnya tidak tertutup sehelai benang pun.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. "Ada apa, Sayang?" tanya Akandra panik dengan celemek masih dipakainya.
Sontak Audrey ketar-ketir menutup tubuh bagian dada dan bawah dengan kedua tangannya. "Kakak! Kalau masuk itu ketuk pintu dulu!" omel Audrey dengan kedua pipi merona bak kepiting rebus.
"Kamu ini lucu ya, padahal jelas-jelas semalam kamu sangat bersemangat olahraga denganku tapi, kamu malu ketika aku masuk. Aku sudah melihat tubuhmu yang seksi ini semalam, Sayang. Kamu tidak perlu malu lagi." Akandra berjalan mengambil handuk dan memberikannya pada istrinya.
"Mandilah, setelah itu temui aku di meja makan. Kita sarapan bersama." Akandra mengelus kepala istrinya dengan lembut.
Sementara itu, Audrey hanya menganggukkan kepalanya seraya berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh ditutupi handuk. Setelah melihat istrinya masuk ke kamar mandi, Akandra keluar dari kamar dan melanjutkan aktivitasnya di pantry. Pria tampan dengan celemek itu saat ini sedang menyajikan masakannya ke dalam mangkuk dan diletakkan di meja makan.
Di sisi lain, Audrey tengah berdiri di depan cermin. "Benarkah semalam aku melakukan itu dengan Kak Akandra? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Apakah semalam aku terlalu banyak minum sampai aku mabuk dan tak sadarkan diri?" Audrey bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Benar, semalam Akandra dan Audrey sempat minum bersama sebagai tanda perayaan karena hubungan mereka sudah mulai membaik. Audrey sudah setuju dengan keputusan suaminya. Sehingga tidak ada alasan lagi untuk menceraikan suaminya.
Tok! Tok!
Seketika Audrey terlonjak kaget dari monolognya setelah mendengar suara ketukan pintu. Dengan cepat, Audrey membuka pintu kamar mandi. "Ada apa?" tanya Audrey dengan membuka pintu kamar mandi sedikit.
"Haruskah kita mandi bersama?"
Gleuk!
****
__ADS_1
Stay tune :)