
Kamar Audrey ....
Audrey tengah bersiap-siap untuk tidur. Dia bahkan sudah mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Namun, baru saja dia memejamkan mata tiba-tiba dia kembali mendengar suara ketukan pintu.
Dengan kesal, Audrey membuka matanya kembali dan menyalakan lampu. "Astaga, siapa lagi yang datang malam-malam begini. Selalu saja menggangguku," Audrey menggerutu sembari tetap beranjak dari dan berjalan untuk membuka pintu.
Pada saat pintu terbuka, Audrey mengernyitkan kedua alisnya. Dia tidak melihat siapa pun di luar kamarnya. Karena penasaran, Audrey pun maju beberapa langkah dan celingukkan ke sana ke mari mencari orang yang telah mengetuk pintu kamarnya. Namun, wanita gadaian itu tidak melihat satu orang pun di sekitar kamarnya.
Audrey hendak masuk kamar kembali tapi, sebelum menutup pintunya dia tidak sengaja melihat ada segelas susu dan selembar surat di lantai depan kamarnya. Audrey berjongkok dan mengambil segelas susu beserta surat itu. Entah siapa yang telah menyimpan susu itu? Semua itu tidak penting, yang terpenting Audrey tetap membawa masuk susu itu ke kamarnya.
Audrey duduk di tepi ranjang sembari menaruh susu itu di meja nakas. Dia tidak langsung meminum susu tersebut, melainkan penasaran dengan isi suratnya. Tanpa berlama-lama, Audrey membaca surat itu.
{Saya buatkan segelas susu hangat untukmu, semoga setelah meminum susu ini kamu bisa tidur dengan nyenyak. Good night and sweet dream my wife :)}.
Setelah membaca surat itu, Audrey tersenyum kecil. Seketika wajahnya langsung merona karena malu. "My wife? Haha bagaimana dia bisa memanggilku seperti itu padahal aku masih menjadi istri orang lain," Audrey terkekeh setelah membaca surat itu.
Audrey menyimpan surat itu di laci dan segera meminum susu hangatnya sampai habis. Setelah itu, dia mencoba untuk tidur. Akan tetapi setelah beberapa menit lamanya, Audrey tidak merasa ngantuk sama sekali.
Karena tak kunjung mengantuk, Audrey pun memutuskan untuk keluar dari kamar dengan membawa gelas bekas susu tadi. Audrey berjalan menuruni anak tangga menuju dapur. Dia berniat untuk mencuci gelas itu dan beres-beres sedikit agar mengantuk.
Sesampainya di dapur, langkah Audrey tiba-tiba berhenti. Tubuhnya mematung disertai tatapan yang mengarah pada wastafel. Dia melihat ada seseorang tengah mencuci piring. Namun, orang itu bukanlah para pelayan melainkan seorang pria gagah dengan piyama tidurnya.
Setelah beberapa detik mematung, Audrey perlahan melangkahkan kakinya mendekati pria itu. "Ekhem, apa yang sedang anda lakukan di sini? Biar saya saja yang mengerjakannya," tawar Audrey dengan sedikit berdehem.
Prang!
Betapa terkejutnya Audrey sampai menjatuhkan gelas di tangannya pada saat pria yang tengah mencuci piring itu membalikkan badannya. "**-tuan?" panggil Audrey dengan gelagapan karena kaget.
Ternyata pria yang tengah mencuci piring itu tidak lain tidak bukan adalah Akandra Xaquille. "Rupanya kamu belum tidur, Nona. Kenapa datang ke dapur? Apa kamu membutuhkan sesuatu?" Akandra mencuci tangannya dan menatap Audrey.
"Maafkan saya, Tuan. Akan saya bersihkan ini." Audrey hendak pergi mengambil sapu dan pengki. Namun, tangan kekar Akandra menarik lengan Audrey.
__ADS_1
"Diamlah di situ! Kamu akan terluka, biar saya saja." Akandra yang pada akhirnya mengambil sapu dan pengki.
Dan benar saja, Akandra yang membersihkan semua pecahan gelas itu. Setelah itu dia membuang ke tempat sampah. Sementara itu, Audrey hanya bisa terdiam sembari tercengang melihat sisi lain dari seorang Akandra.
'Benarkah yang aku lihat ini Tuan Akandra? Tapi, kenapa dia melakukan semua pekerjaan ini padahal dia sudah memiliki banyak pelayan?' batin Audrey bertanya-tanya mengenai sisi lain dari Akandra yang dia lihat ini.
Tak!
Akandra menjentikkan jarinya di depan Audrey. Audrey pun tersadar dari monolognya. "Eh ... iya, Tuan."
"Kenapa bengong? Apa kakimu terluka? Biar kulihat." Akandra berlutut di hadapan Audrey dan segera memeriksa kaki Audrey.
"Eh, Tuan. Jangan seperti ini, kakiku tidak terluka. Jangan merendahkan dirimu sendiri seperti ini, bangunlah." Audrey mengulurkan tangan kanannya.
Brugh!
Tanpa Audrey duga, Akandra menarik lengan Audrey sampai tubuhnya tersentak ke arahnya dan terjatuh menindih tubuh kekarnya. Seketika Audrey kedua mata Audrey langsung membola. Berbeda dengan Akandra, dia justru malah asyik menatap Audrey.
"Apa? Konyol sekali!" Audrey langsung berdiri. "Cepat bangun, sebelum ada yang melihat Tuan di sini." Audrey kembali mengulurkan tangannya.
"Memangnya kenapa kalau ada yang melihat saya di sini? Ini rumah saya, saya bebas mau pergi ke manapun termasuk pergi ke ruang rahasia di rumah ini." Akandra memegang tangan Audrey dan segera berdiri.
"Ruang rahasia?"
"Iya, apa kamu mau pergi ke sana bersamaku?" Akandra menaik-turunkan alisnya.
"Memangnya boleh jika ada orang asing memasuki ruang rahasia itu? Bagaimana jika ada yang protes?" tanya Audrey dengan wajah yang cemas.
"Siapa yang berani protes padaku? Sekali lagi saya tegaskan jika ini adalah rumahku. Saya bebas mengajak siapa pun ke setiap ruangan di rumah ini termasuk dirimu, Nona." Akandra tersenyum penuh pesona.
"Sepertinya Tuan lupa kalau saya ini hanya wanita gadaianmu saja. Saya hanya wanita asing di sini,"
__ADS_1
"Wanita gadaian? Tapi, saya tidak pernah menganggapmu sebagai wanita gadaian. Sejak kamu memasuki rumah ini, itu tandanya kamu telah menjadi milikku. Suamimu telah kehilanganmu sejak dia mengantarkanmu padaku. Dan kamu tahu, Nona? Apa pun yang sudah menjadi milikku tidak pernah aku lepaskan semudah itu, termasuk itu Nona sendiri. Tunggulah, dalam beberapa minggu lagi kamu akan menjadi milikku seutuhnya! Kamu akan lihat seperti apa Devanka," jelas Akandra dengan memasang wajah yang serius.
Mendengar itu, Audrey hanya terdiam. Dia tidak menjawab ucapan tuannya. 'Pria ini, aku tidak habis pikir kenapa dia sangat menginginkanku? Apa karena wajahku mirip dengan Alessa?' batin Audrey kembali bertanya-tanya sambil menatap Akandra.
"Lupakan itu, ayo ikut aku!" Akandra menarik lengan Audrey dan membawanya ke salah satu lift yang berada di rumahnya.
Audrey hanya mengikutinya tanpa protes. "Tuan, kenapa tidak naik tangga manual saja? Kenapa harus memakai lift?"
"Apa kamu mau berjalan sampai lantai 20?" alih-alih menjawab, Akandra justru balik bertanya.
"Lantai 20?" Kedua mata Audrey langsung membelalak seakan mau keluar dari tempatnya.
"Ya, kamu mau menaiki tangga sejauh itu, heum?" Akandra menaik-turunkan alisnya.
Dengan cepat Audrey menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan. Oh iya, kalau boleh tahu, rumah ini ada berapa lantai?" tanya Audrey dengan mimik yang penasaran.
"27 lantai. Sudah, jangan tanyakan itu. Tanyakan sesuatu yang membuatku senang," timpal Akandra tanpa menoleh.
"Apa yang harus aku tanyakan, Tuan? Saya tidak tahu hal yang membuat Tuan senang itu apa,"
"Kamu mau tahu, Nona?" Akandra menoleh ke samping Audrey.
Audrey meng-iyakan. "Hal yang membuatku senang adalah pengakuan cintamu!"
Jantung Audrey langsung berdegup kencang tak karuan. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Terlihat jelas jika Audrey salah tingkah dengan ucapan tuannya. Melihat hal itu, Akandra mendekati Audrey dan mengukung dengan kedua lengan kekarnya.
"Tuan mau ngapain?" tanya Audrey yang sudah mulai ketar-ketir.
Akandra tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum kecil sembari terus mendekatkan bibirnya ke bibir Audrey. Jantung Audrey semakin berdegup kencang. Dia bingung harus melakukan apa, sebab dia tidak bisa pergi ke manapun. Kini wanita itu sudah terpojokkan di sudut lift.
****
__ADS_1
Stay tune :)