Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 71 > Perihal Singa


__ADS_3

Ceklek!


Akandra membuka pintu kamarnya. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk dan mendapati sang istri yang tengah merias diri di depan meja rias. Kemudian pria itu pun berjalan menghampiri istrinya.


"Wah, wah ... istriku ini cantik sekali." Akandra memeluk sang istri dari belakang sembari menyelipkan pujian kecil disertai tatapan yang lembut dari pantulan cermin.


"Mas ini selalu berlebihan dalam memuji. Jangan memujiku seperti itu nanti aku bisa besar kepala," kekeh Audrey.


"Apakah suami tampanmu ini tidak boleh memuji istrinya sendiri, heum?" Akandra menaik-turunkan alisnya.


"Tentu saja, boleh. Tuan tampan," sahut Audrey sembari mengelus lembut wajah sang suami.


"Apakah kamu sudah siap? Ayo kita pergi jalan-jalan," ajak Akandra pada istrinya.


"Jalan-jalan? Sekarang juga?" Audrey menoleh ke samping.


"Iya, Sayang. Ayo kita nonton, belanja habiskan waktu berdua aja sebelum kita melakukan perjalanan honeymoon,"


"Loh, bukannya hari ini Mas mau membebaskan Alessa?"


"Soal itu gampang, aku akan membebaskannya setelah kita berangkat honeymoon. Daniel yang akan membebaskannya," jawab Akandra.


"Tapi, kenapa? Kenapa tidak sekarang saja, Mas? Kenapa harus menunggu kita pergi? Mas tidak sedang mengingkari janjimu, 'kan?" Audrey memandang suaminya dengan tatapan yang serius.


"Tentu saja tidak, Sayang. Aku hanya tidak ingin melihat wajah saudarimu lagi. Sudah terlalu baik aku mau membebaskannya. Aku sudah muak berurusan dengan Alessa, aku harap kamu memahami dan menghargai keputusanku ini," jelas Akandra dengan menatap teduh sang istri.


Mendengar itu, Audrey tidak protes ataupun bertanya lagi. Dia tersenyum dan mengangguk kecil. "Baiklah, Mas. Jika itu yang Mas mau, maka aku tidak akan mengganggu gugat keputusanmu itu. Sudah cukup karena Mas mau membebaskan saudariku. Itu sudah lebih dari cukup. Kalau begitu, ayo kita berangkat." Audrey tersenyum seraya beranjak dari duduknya.


"Sebentar, Mas pakai hoddie dulu. Tolong ambilkan kunci mobil di sebelah sana." Akandra menunjukkan jari telunjuknya ke arah meja nakas.


Dengan cepat, Audrey langsung berjalan menuju meja nakas dan mengambil kunci mobil. Setelah itu, ia menghampiri sang suami yang sedang mengganti pakaiannya. Terlihat jelas perut seksi sang suami membuat sang istri tertegun beberapa saat.


"Ekhem!" Akandra berdehem menyadarkan lamunan Audrey.


Seketika Audrey langsung tersadar dari lamunannya. "Eh, ini Mas kunci mobilnya." Audrey menyodorkan kunci mobil tersebut pada suaminya.


"Pegang saja dulu, aku mau pakai baju."


"Mas ...."

__ADS_1


"Iya, kenapa?"


"Boleh enggak, aku pegang roti sobekmu itu," celetuk Audrey dengan mata yang tertuju pada perut kotak-kotaknya sang suami.


"Kamu menyukainya?" Akandra mengerutkan dahinya.


Audrey mengangguk meng-iyakan. "Kalau begitu, peganglah sepuas dan selama yang kamu mau." Akandra berjalan beberapa langkah hingga jarak antara dirinya dengan tubuh sang istri begitu dekat.


Dengan rasa penasaran dan sedikit gemetar, Audrey mulai menyentuh perut roti sobek sang suami. Tangan halus Audrey membelainya dengan sangat lembut sehingga membuat si empunya merasa geli. Tanpa Audrey duga, belaian yang ia berikan pada suaminya telah memberikan sedikit r*ngs*ngan pada Akandra.


Akandra yang merasakan hal itu hanya bisa memejamkan matanya menahan rasa sensasi yang begitu memabukkan. Setelah beberapa saat, sentuhan Audrey sudah selesai. Hal itu justru membuat Akandra sedikit kecewa dan langsung membuka kedua matanya.


"Sayang, kamu harus tanggungjawab," ujar Akandra dengan tatapan yang sayu.


"Tanggungjawab apa, Mas?" Audrey mengerutkan kebingnya.


Tangan kekar Akandra langsung menarik pinggang ramping sang istri. "Karena kamu telah membangunkan singa yang sedang tertidur. Kamu harus membantuku sekarang," bisik Akandra dengan suara yang berat.


Gleuk!


Audrey seketika langsung tertegun disertai degupan jantungnya yang begitu cepat. Kedua matanya menatap ke sana ke mari. Ia tidak berani memandang mata suaminya. Kini, ia dalam bahaya. Dia telah melakukan kesalahan karena secara tidak sengaja telah membangunkan singa, sang junior Akandra bangun dengan gagahnya.


"Jangan beralasan! Kamu harus tanggungjawab, suruh siapa telah membangunkan singaku? Mau tidak mau kamu harus membantu singaku untuk tertidur kembali." Akandra semakin mendekatkankan wajahnya pada Audrey.


'Gawat! Yang semalam saja masih terasa perih, sekarang harus digempur lagi. Oh, no!' Audrey mengumpat dalam hatinya.


Muach!


Sebelum Audrey menjawab ucapan sang suami, Akandra langsung menyerangnya dengan ciuman kecil di bibir. Audrey membelalakkan kedua matanya karena sedikit terkejut. Setelah beberapa menit kemudian, Audrey pun mulai membalas permainan suaminya. Tepat pada saat Akandra hendak melucuti pakaian istrinya, tiba-tiba pintu terketuk dari luar disertai dengan pintu yang terbuka.


"Hei!" teriak Akandra karena terkejut melihat pintu kamarnya terbuka.


"Oh, ya ampun. Maafkan aku, Kak." Affandra yang tiba-tiba masuk kamar sang kakak seketika langsung membalikkan badannya. Ia sama-sama terkejut dengan Akandra.


Bukan hanya kedua pria tersebut, melainkan Audrey juga ikut terlonjak kaget sehingga ia melompat ke ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut. "Fan, kamu kalau mau masuk ketuk pintu dulu. Jangan nyelonong masuk aja! Ingat, Kakak sudah menikah sekarang. Untunglah istriku masih memakai pakaian," tegur Akandra pada adiknya.


"Maafkan Fandra, Kak. Ya mana aku tahu jika kalian sedang melakukan itu. Lagian, aku ketuk dari tadi tidak ada jawaban sama sekali," Affandra mengelak dengan memegang beberapa berkas di tangannya.


"Jangan kebanyakan ngeles kamu. Tetap saja, kamu tidak boleh langsung masuk gitu aja. Hargai privasi kami. Sekarang minta maaf pada kakak iparmu!" tegas Akandra.

__ADS_1


"Fandra minta maaf ya, Kak Audrey. Sungguh, aku tidak tahu jika singa Kakakku sedang beraksi," Affandra meminta maaf pada kakak iparnya disertai ledekan kecil yang ia tujukan pada Akandra.


"Hei, jaga ucapanmu!" Akandra mentabok pelan kepala adiknya.


"Aduh, sakit. Ngapain pakai nabok segala sih. Dari pada nabok mending tandatangani semua berkas ini," Affandra mengomeli sang kakak sembari menyodorkan berkas yang dia bawa.


"Yee, dibilangin pake ngelawan lagi. Adik durjana kamu ini," Akandra balik mengomeli sang adik.


"Abisnya punya Kakak laknat kali," timbal sang adik.


"Apa kamu bilang? Kakak adukan pada Kakek, mau?" ancam Akandra yang tidak terima dengan perkataan sang adik.


"Silakan saja, aku juga akan melaporkanmu jika Kakak tidak mau menandatangani berkas ini dan malah menggempur Kak Audrey dengan singa kecilmu itu," Affandra justru malah balik mengancam sang kakak.


"Apa kamu bilang? Singaku kecil?"


"Sudah cukup!" teriak Audrey yang mulai bete dengan pertengkaran kecil kakak beradik ini.


Seketika keduanya langsung terdiam. Kedua pria tersebut menoleh ke arah wanita cantik yang memasang raut wajah yang cemberut. Terlihat jelas jika Audrey tengah melipat kedua tangan di dada.


"Apa kalian sudah selesai beradu mulutnya? Kenapa mesti ribut terus sih? Ingat umur!" tegas Audrey yang sudah lelah dengan sikap kekanak-kanakan keduanya.


Gleuk!


Akandra dan Affandra hanya bisa tertegun mendengar kalimat yang dilontarkan Audrey. Keduanya hanya saling menatap satu sama lain tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Meski mereka terdiam, tapi pandangan keduanya masih terlihat seperti sedang bertengkar.


"Selesaikan pertengkaran kecil ini, aku akan pergi ke rumah Kakek Rama dan mengadukan kalian berdua!" Audrey mengancam keduanya agar kakak beradik ini mau saling meminta maaf.


Keduanya masih terdiam. Tidak ada yang mau mengalah salah satu dari mereka. "Baiklah, jika kalian terus terdiam membisu seperti ini maka aku akan mengadukannya sekedar juga." Audrey beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu.


"Aku minta maaf," ucap keduanya serempak.


Mendengar itu, Audrey langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan. "Bagus, sekarang peluklah adikmu, Mas."


"Apa? Memeluknya?" sontak kedua mata Akandra terbelalak dengan sempurna.


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2