Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 27 > Secret Room


__ADS_3

Ting!


Pintu lift terbuka, dengan cepat Audrey segera mendorong tubuh Akandra dan keluar dari lift. "Aahh, hampir saja." Audrey menghela napas lega karena dia bisa terbebas dari Akandra.


Kini dia tengah menetralkan jantungnya yang masih berdegup kencang. Sementara itu, Akandra sudah berdiri tepat di belakang Audrey. Dia berdiri dengan melipat kedua tangan di dada.


"Ekhem!" Akandra berdehem.


Reflek, Audrey membalikkan badannya dan mendapati tuannya sudah berada di belakangnya. "Hehe, Tuan." Audrey menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan.


"Ada apa denganmu? Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Akandra dengan tatapan yang heran melihat tingkah Audrey.


"Ya, Tuan. Saya baik-baik saja," jawab Audrey dengan senyuman palsu.


'Baik dari mananya? Kamu yang sudah bikin aku ketar-ketir kek gini!' Audrey mengumpat di dalam hatinya.


"Syukurlah, ayo ikut saya!" Akandra berjalan di depan Audrey.


Sementara itu, Audrey berjalan di belakang Akandra dan mengikuti setiap langkah tuannya. Setelah beberapa menit menelusuri setia ruangan dan lorong, mereka sampai di salah satu ruangan yang berada di pling pojok. Akandra segera menyentuh sensor pada pintu dan memasukkan password untuk membuka pintunya.


Tak lama kemudian, pintu terbuka. Akandra menarik tangan Audrey untuk masuk. Begitu dia masuk, Audrey lagi-lagi dibuat terkesima melihat keindahan ruang rahasia tersebut. Di mana di ruangan itu tersimpan banyak sekali barang berharga.


Audrey berjalan-jalan ke sekeliling ruangan tersebut dan melihat-melihat barang yang ada di ruangan itu. "Berhenti!" tegas Akandra pada saat melihat Audrey hendak mendekati salah satu benda yang tertutup kain hitam.


Reflek, Audrey pun menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke belakang, lalu Akandra mendekati Audrey dan membawanya menjauh dari benda tersebut. "Jangan pernah dekati benda itu apalagi berani membuka kainnya!" Akandra melarang Audrey untuk tidak membuka benda yang tertutup kain hitam tersebut.


"Boleh saya tahu, kenapa benda itu ditutupi kain?" tanya Audrey dengan mimik yang penasaran.


"Jangan kepo! Pokoknya kamu jangan sekali-kali membuka kain itu, atau aku akan--"


"Akan apa? Apa Tuan akan menyakitiku? Sama seperti suamiku yang selalu menyakitiku?" Audrey memotong pembicaraan Akandra.


Hupp!


Akandra menarik pinggang ramping Audrey dan menatapnya dengan tatapan yang begitu lekat. Tubuh Audrey tersentak dan menempel dengan tubuh tuannya. "Apa kamu sungguh menginginkan aku menyakitimu seperti aku menyakiti saudari kembarmu? Ingat! Jangan pernah memancingku dengan bicara seperti itu!" tegas Akandra dengan tatapan yang mengerikan.


Gleuk!

__ADS_1


Audrey menelan salivanya pada saat mendengar pengakuan Akandra. "**-tuan menyakiti Alessa? Jangan bilang kalau Alessa meninggal karena ulah Tuan?" tuduh Audrey secara tidak langsung.


"Tidak mungkin! Saya tidak mungkin menghilangkan nyawa tunanganku sendiri!" tegas Akandra.


"Lalu, kenapa Tuan menyakiti saudariku? Apa kesalahannya?"


"Jangan tanyakan itu! Itu hanya akan menyakitiku saja. Ingatlah, Nona Audrey Elfrida ... jangan pernah membuka black box yang sudah terkubur dalam. Jika black box itu terbuka maka saya akan jatuh kembali ke lubang tersebut. Kamu paham maksudku 'kan?" Kini tatapan Akandra berbeda, dari yang awalnya terlihat marah, sekarang berubah dengan tatapan sayu.


"Baiklah, aku tidak akan menanyakan hal apa pun mengenai masa lalumu dengan Alessa." Audrey melepaskan tangan kekar Akandra yang tengah melingkar di pinggangnya.


Sebenarnya Audrey masih ingin mengetahui banyak hal mengenai saudari kembarnya dan juga Akandra. Namun, entah kenapa melihat tatapan tuannya yang terlihat sedang menyembunyikan luka, dia mengurungkan niatnya. Audrey memutuskan untuk tidak ikut campur dan membahas masa lalu Akandra dengan Alessa.


Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Audrey kembali berjalan-jalan dan melihat setiap lukisan, foto keluarga dan barang berharga lainnya. Tiba-tiba dia berhenti tepat di sebuah foto besar. Tanpa dia sadari, bibirnya sudah tersenyum lebar ketika melihat foto bayi laki-laki yang begitu menggemaskan dengan memperlihatkan giginya yang baru tumbuh 2 gigi.


"Tuan, siapakah bayi ini? Bayi ini benar-benar sangat menggemaskan," tanya Audrey dengan mata masih menatap foto yang di pajang itu.


"Itu foto saya ketika masih bayi. Dan itu, foto adikku Affandra." Akandra menunjuk ke foto yang berada di sebelah foto dirinya saat bayi.


"Wah, adikmu juga tak kalah menggemaskan darimu, Tuan. Sungguh sangat disayangkan--" Audrey tersenyum manis bak gulali pada Akandra.


"Bayi yang menggemaskan ini tumbuh menjadi pria dewasa yang galak, dingin dan selalu memojokkan wanita," celetuk Audrey disertai tawa kecil.


"Benarkah? Apa kamu menilaiku seperti itu?"


"Heumm, Tuan memang seperti itu. Tapi ... saya menyukai kepribadianmu yang lain. Sisi lain Tuan benar-benar mengagumkan." Audrey memuji Akandra dengan mengacungkan jempolnya.


"Sisi lain yang mana?"


"Itu rahasia." Audrey menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


Setelah itu dia tertawa. Akandra yang melihat wanita gadaiannya tertawa, ia pun turut tertawa juga. Padahal sebelumnya, tidak ada seorang pun yang bisa membuatnya tertawa sampai seperti ini. Entah kenapa wanita asing yang menjadi wanita gadaiannya lah justru yang berhasil membuatnya tertawa.


"Tuan, apa di bawah karpet itu ada ruang rahasia lagi?" tanya Audrey dengan menunjuk ke salah satu karpet berwarna gelap.


"Kamu ingin tahu?"


Audrey mengangguk cepat. "Baiklah, ayo kita telusuri ruangan itu. Tapi, ada syaratnya,"

__ADS_1


"Apa itu?"


"Jangan beri tahukan tentang ruangan ini pada siapa pun termasuk mantan suamimu juga," jelas Akandra.


"Dia masih suamiku, Tuan. Ingatlah, saya belum bercerai dengannya," timpal Audrey meluruskan ucapan Akandra.


"Lihat saja, minggu depan Devanka akan datang karena kamu sudah tinggal satu bulan bersamaku. Kita lihat, apa dia akan membawamu atau kembali memilih uang? Jika dia lebih milih uang, maka saya akan menebusmu dari Devanka agar saya bisa menikahimu dan menjagamu dengan baik. Apa kamu keberatan jika saya mengambil langkah itu?" tanya Akandra dengan menggenggam kedua tangan Audrey.


"Seberapa yakin Tuan tentang Devanka yang akan memilih uang? Dan seberapa yakin kalau Tuan ingin menjadikanku sebagai istrimu?" tanya Audrey dengan tatapan yang serius.


"Saya tau bagaimana Devanka, jika kamu ingin tahu apa saja yang dilakukan suamimu pada saat kamu berada di rumahku, saya bisa menunjukkan sesuatu. Dan untuk pertanyaan yang kedua, saya akan menjawabnya tepat satu bulan nanti. Tepat di hari itu, saya ingin mengatakan sesuatu padamu. Jadi, bersiaplah dan pikirkan jawabanmu. Sekarang, aku akan mengajakmu ke ruang rahasia yang lain. Ayo," ajak Akandra sembari membuka karpet itu.


Dibawah karpet itu terdapat sebuah tombol kecil yang jika ditekan akan terbuka sebuah pintu rahasia. Setelah pintu rahasia itu terbuka, ternyata ruang rahasianya berada di sebelah rak buku. Audrey yang melihat itu hanya tercengang.


"Loh, Tuan ... saya pikir ruangan itu ada di bawah karpet ini, tapi ternyata saya salah. Benar-benar plot twist sekali, saya yakin tidak ada orang yang paham dengan seluk beluk ruangan ini," ucap Audrey.


"Itu terlalu kuno jika saya menjadikan ruang rahasia di bawah karpet ini. Saya ingin membuatnya sedikit berbeda, itulah kenapa saya upgrade ruangan ini sedemikian rupa. Nah, karena kamu sudah tahu ruangan ini. Kamu harus menjaga rahasia ini, sebab hanya kamu satu-satunya orang yang mengetahui ruangan ini. Bahkan adikku dan juga Alessa tidak pernah mengetahui ruangan ini."


"Tuan jangan khawatir. Saya berjanji, saya tidak akan memberi tahu siapa pun tentang ruang rahasia ini. Terima kasih sudah memberikan saya kepercayaan, saya tidak akan mengecewakan Tuan," tutur Audrey dengan lembut.


"Boleh saya katakan sesuatu?"


"Katakan saja, Tuan." Audrey tersenyum.


"Jangan memanggilku dengan Tuan lagi, bisa?"


"Lalu, saya harus memanggil Tuan dengan sebutan apa?"


"Terserah, asal jangan Tuan. Saya tidak ingin kamu memanggilku dengan sebutan itu."


"Bagaimana dengan Daddy?" Audrey seketika langsung tertawa.


"Apa kamu sedang meledekku, Nona?" Akandra menghembuskan napasnya disertai gelengan kepala.


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2