Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 59 > Akandra Terluka


__ADS_3

Plakk!


Alessa melayangkan sebuah tamparan keras tepat di pipi Audrey. Saat ini dia sudah sampai di tempat penyekapan Audrey, tepatnya di salah satu ruangan tidak terawat yang cukup terpencil dari warga sekitar. Alessa menatap saudarinya dengan kedua matanya yang merah menyala seakan ingin menelan Audrey saat itu juga.


Sementara itu, Audrey hanya bisa terdiam. Dia menahan rasa sakit, perih, panas di pipinya. Ia tidak mampu membalas perlakuan Alessa padanya sebab kedua tangan dan kaki masih terikat kuat oleh tapi.


"Seharusnya aku yang menamparmu, Alessa! Selama ini kamu selalu membuatku kesulitan! Memangnya apa salahku sampai kamu tega membuatku menderita?" Audrey memandang Alessa dengan tatapan yang sendu.


"Apa kamu bilang? Menderita?" Alessa membalas tatapan sendu Audrey dengan tatapan yang tajam.


Kemudian Alessa mendekatkan wajahnya ke wajah Audrey. "Semua penderitaanmu tidak sebanding dengan rasa sakitku! Kamu telah merebut Akandra dariku! Maka kamu pantas menerima semua penderitaan ini! " pekik Alessa.


"Sungguh, aku tidak pernah menyangka jika aku memiliki saudari yang begitu membenciku. Tidakkah kamu sadar, Alessa? Kak Akandra sendiri yang lebih memilih untuk menikahiku bukan dirimu. Maka jangan salahkan aku atas apa yang kamu alami!" tegas Audrey.


"Sadarlah, wanita gadaian! Sekarang Akandra sudah menjadi milikku seutuhnya. Aku sudah mengambil hakmu dan sebentar yakin aku akan segera mengandung buah hati kami berdua, haha." Alessa menertawakan nasib saudarinya.


"Tertawalah sepuasmu, Alessa. Sampai kapan pun aku tidak akan mempercayai ucapanmu. Kalaupun semua itu benar maka yang pertama harus kamu tau adalah kamu lebih hina dariku, kedua ... kamu adalah pelakor. Ketiga, kamu tidak akan bisa hidup sesuai identitasmu. Mau sampai kapan kamu akan hidup dengan namaku, hah? Satu hal penting yang harus kamu ingat, Alessa! Yang Kak Akandra sebut dalam ijab qabulnya adalah namaku bukan namamu. Aku harap kamu tidak lupa akan hal itu," timpal Audrey dengan sedikit meledeknya.


Alessa diam tak berkutik sedikitpun setelah mendengar timpalan Audrey. Kedua tangannya mengepal disertai matanya yang berubah merah menyala. Kedua pipinya seketika berubah merah padam menahan amarah yang kian memuncak. Darahnya semakin mendidih dan membutakan mata hatinya.


Bugh!


Tanpa Audrey sadari, Alessa membalas ucapannya dengan sebuah hantaman keras. Alessa menghantam wajah Audrey dengan tas jelly-nya membuat Audrey meringis kesakitan karena sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Sementara itu, Devanka yang sedari tadi hanya menyaksikan dua wanita sedang beradu mulut pun sekarang turut turun tangan melerai mereka berdua.


"Alessa, hentikan! Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah tidak waras?" bentak Devanka seraya menarik lengan Alessa.


"Lepaskan aku, Devan! Wanita gadaian ini memang pantas diperlakukan seperti ini. Apa kamu lupa, Devan? Dulu kamu juga sering melukainya, kenapa sekarang kamu melarangku? Mau jadi sok jagoan kamu, hah?" Alessa balik membentak Devanka.


"Sebab, aku mulai mencintainya. Aku baru menyadari jika aku sangat membutuhkan dirinya. Aku tidak terima jika dia disakiti seperti ini. Apalagi oleh wanita berbisa sepertimu!" Devanka semakin mencengkram kuat lengan Alessa.


****

__ADS_1


Di salah satu parkiran yang tidak jauh dari tempat penyekapan Audrey. Daniel sedang menunggu kedatangan tuannya yang masih berada di jalan. Sambil menunggu Tuan Akandra datang, dia terus mengawasi tempat tersebut dengan melihatnya menggunakan teropong.


Setelah beberapa menit kemudian, datang sebuah motor Ducati yang terparkir tepat di pinggir mobil Daniel. Daniel yang melihat itu cukup terpanas, bagaimana tidak orang yang mengendarai motor tersebut adalah Tuan Akandra. Selama ini ia belum pernah melihat tuannya berpergian menggunakan motor.


Aura Tuan Akandra semakin keluar. Dia terlihat bagaiakan seorang badboy yang tengah beraksi mencari mangsa. Di tengah keterpanaan Daniel, Tuan Akandra turun dari kuda besinya dan menepuk pundak Daniel.


"Di mana tempat penyekapan Audrey? Apa kamu yakin ini tempatnya?" tanya Tuan Akandra sembari membuka helm full face.


"Iya, Tuan. Saya yakin 100% jika itu tempatnya. Sebab aku melihat jelas jika Devanka tengah mondar mandir di salah satu ruangan yang berada di lantai atas," jawab Daniel dengan yakin.


"Ya sudah, tunggu apa lagi? Ayo kita bebaskan Audrey dan beri pelajaran pada Alessa serta Devanka." Tuan Akandra segera berjalan menuju tempat penyekapan Audrey.


"Mari, Tuan." Daniel mengikuti langkah tuannya dari belakang.


****


"Apa yang akan kamu lakukan, Alessa? Jangan nekat kamu!" pekik Devanka ketika melihat Alessa mengeluarkan sebuah pisau lipat dari tasnya.


"Tidak ada cara lain lagi selain menghilangkan nyawamu, Audrey. Aku tidak ingin kehilangan Akandra untuk yang kedua kalinya maka dari itu aku harus mengorbankan seseorang demi kebahagiaanku bersama Akandra. Tidak masalah jika identitasku harus menjadi namamu, asalkan aku bisa hidup bersama dengan pria yang sangat aku cintai. Sekarang katakan pesan terakhirmu? Akan aku kabulkan," Alessa sudah menempelkan pisau di leher Audrey.


Audrey hanya pasrah disertai tangisan. "Baiklah, jika itu maumu maka lakukanlah. Tapi, dengarkan aku baik-baik, Alessa! Meski kamu telah membunuhku, sampai kapanpun Kak Akandra tidak akan pernah mencintaimu. Kamu akan terus hidup dengan penderitaan. Kamu akan hidup di bawah bayang-bayangku. Sampai kapanpun namamu tidak akan terukir di hati Kak Akandra. Aku tidak mempunyai pesan terakhir yang perlu kamu kabulkan sebab semua ucapanku akan menjadi kenyataan!" tegas Audrey dengan suara yang lirih.


"Kamu akan menyesal, Audrey! Kamu telah membuatku sangat marah, maka aku ucapkan selamat tinggal." Alessa mulai mengangkat tangan kanan yang tengah memegang pisau.


'Akandra, datanglah! Bantu aku, selamatkan aku!' batin Audrey memanggil nama Akandra dan meminta tolong pada suaminya.


Setelah itu Audrey memejamkan matanya. Dia sudah pasrah jika hari ini adalah ajalnya. "Aku membencimu, Audrey! Matilah!" teriak Alessa sembari hendak menusuk leher Audrey.


Brakk!


Sreeettt!

__ADS_1


Sebelum pisau itu melukai leher Audrey, seseorang telah mendobrak pintu ruangan tersebut. Salah satu pria yang baru saja datang menggantikan posisi Audrey. Pisau yang seharusnya melukai Audrey kini beralih menjadi melukai pria tersebut.


Sontak, semua orang yang berada di ruangan tersebut dan menyaksikan insiden tersebut terkejut bukan main. Sebab, pria yang Alessa lukai tidak lain dan tidak bukan adalah Akandra, suami Audrey. Sementara itu, Audrey yang merasa sudah pasrah akan kematiannya seketika langsung membuka kedua matanya.


Begitu kedua mata terbuka dia melihat banyak darah berceceran di di lantai. Kedua bola matanya membulat dengan sempurna. "Kakak!" Audrey teriak histeris melihat insiden tersebut.


"Daniel, tangkap Alessa dan bawa sekap dia di ruang bawah tanah bersama Devan. Sebentar lagi Pak Arman akan datang bersama para algojo!" perintah Akandra dengan menatap tajam ke arah Alessa. Dia sedang menakut-nakuti Alessa dengan menyebutkan nama algojo.


Dan benar saja, nyali Alessa seketika menciut. Dia langsung bersimpuh di kaki Akandra dengan air mata buayanga. "Maafkan aku, Akandra. Aku tau aku salah, tapi semua yang aku lakukan semata-mata untuk membuat hubungan kita kembali seperti dulu. Aku tidak bisa hidup jauh darimu, maafkan aku."


"Daniel, bawa dia pergi!" perintah Akandra dengan suara yang keras.


"Baik, Tuan." Daniel langsung menyeret Alessa dan juga Devanka.


Sementara itu, Akandra bersimpuh di kaki Audrey. Dia menangis melihat kondisi Audrey yang sangat memprihatinkan. Wajah Audrey penuh dengan luka lebam dan juga terdapat darah di leher Audrey bekas goresan kecil pisau tadi.


"Maafkan aku, Audrey. Aku terlambat menyadarinya." Akandra memeluk lutut Audrey dengan tangan yang dipenuhi lumuran darah.


"Jangan meminta maaf seperti itu, Kakak. Kita bicara nanti. Sekarang, bantu aku untuk melepaskan ikatan ini. Tanganku sakit," jawab Audrey.


"Tentu, Sayang." Akandra dengan cepat melepaskan ikatan tali tersebut.


Setelah ikatan itu terlepas, Audrey langsung memeluk Akandra dengan sangat erat. Dia menangis sesegukan melihat sisi perut Akandra yang terluka akibat goresan pisau yang Alessa layangkan tadi. "Kakak, ayo kita ke rumah sakit. Kakak terluka parah." Audrey merangkul lengan Akandra dan memapahnya.


"Aku baik-baik saja, Sayang. Ini hanya luka kecil. Kita pulang saja, dokter akan datang ke rumah," jawab Akandra disertai senyuman kecil.


"Baiklah, yang terpenting Kakak segera diobati." Audrey memapah Akandra menuju ke luar.


Namun, setelah sampai di luar tubuh Akandra tiba-tiba ambruk. Audrey berteriak meminta tolong, berharap seseorang akan menolongnya. Ia tidak sanggup membangunkan tubuh Akandra, sebab tubuh Akandra cukup kekar.


****

__ADS_1


Stay tune :)


__ADS_2