
"Tidak, Audrey. Aku mohon jangan tinggalkan aku, semua itu hanya salah paham. Apa yang kamu lihat barusan tidaklah benar," ujar Akandra dengan meyakinkan istrinya.
Namun, Audrey hanya terdiam membisu. Tubuhnya mematung dengan sorotan matanya yang begitu tajam dan menunjukkan kekecewaannya. Kemudian, pria itu melihat jika istrinya meneteskan air mata.
Akandra bersimpuh di kaki Audrey disertai berlinang air mata. Dia menggenggam kedua tangan istrinya disertai tatapan yang sendu. "Aku mohon, jangan tinggalkan aku, Audrey. Aku berani bersumpah jika aku tidak melakukan hal keji itu pada saudarimu. Percayalah padaku," Akandra terus meyakinkan istrinya mengenai kesalahpahaman yang terjadi.
"Harus berapa kali aku mempercayaimu, Mas? Kamu selalu mematahkan kepercayaanku. Jika kamu memang melakukannya maka jujur saja, aku lebih suka kamu jujur dari pada bohong seperti ini." Audrey melepaskan tangannya dari genggaman sang suami.
"Aku berani bersumpah, aku tidak pernah melakukan itu, Sayang. Semua itu hanya salah paham. Percayalah padaku."
"Tidak, Mas. Untuk kali ini kesalahanmu benar-benar sulit untuk aku terima. Kamu telah melakukan kesalahan untuk yang kesekian kalinya. Harus berapa kali aku merasa kekecewaan seperti ini? Hatiku hancur melihat suamiku sendiri selalu bermalam dengan wanita lain meski itu saudariku sendiri. Hal itu sangat menyakitkan untukku. Aku minta maaf jika selama ini belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Aku putuskan mulai detik ini, aku bukan lagi istrimu. Aku akan mengurus perceraian kita secepatnya." Audrey pergi meninggalkan suaminya dengan meneteskan air matanya.
"Tidak, Audrey. Jangan tinggalkan aku, aku mohon. Aku mohon, aku tidak melakukan itu. Percayalah!" Akandra berteriak melihat kepergian istrinya.
****
"Hei, Sayang. Bangunlah! Kamu kenapa?" tanya Audrey dengan mengelus lembut jidat suaminya yang dibanjiri dengan keringat.
"Tidak!" Akandra terbangun dari tidurnya.
Audrey yang melihat suaminya seperti itu langsung duduk dan mengelus lengan sang suami. Dia menatap teduh Akandra. "Mas, kamu kenapa? Kamu mimpi buruk?" tanya Audrey sekali lagi.
Akandra masih mengumpulkan puing-puing kesadaran. Dia menatap ke sekeliling termasuk juga menatap istrinya. Pada saat melihat istrinya yang berada di samping dan mengelus lengannya, seketika Akandra langsung memeluk tubuh Audrey. Pelukannya begitu erat.
"Maafkan aku, Sayang. Aku sungguh minta maaf," ucap Akandra dengan posisi yang masih memeluk erat sang istri.
"Ada apa, Mas? Kenapa minta maaf? Mas itu sedang bermimpi, sadarlah."
Mendengar itu, Akandra melepaskan pelukannya dan menatap Audrey dengan begitu tajam. "Benarkah? Aku hanya bermimpi?" alih-alih menjawabnya, Akandra justru balik bertanya.
__ADS_1
Audrey mengangguk mantap. "Iya, tentu saja kamu bermimpi, Mas. Aku mendengarnya sendiri jika kamu mengigau menyebut namaku. Memangnya apa yang sedang kamu mimpikan?"
"Bukan apa-apa. Syukurlah itu hanya mimpi. Jika tidak, aku tidak akan sanggup kehilanganmu untuk yang kesekian kalinya." Akandra kembali menarik tubuh Audrey dan memeluknya.
"Itu tidak akan pernah terjadi, Mas. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu selama kamu masih menjaga kesucian pernikahan kita. Sudah, sekarang Mas mandi gih. Setelah itu kita pergi ke pantai," ajak Audrey dengan menunjukkan senyumannya yang menenangkan.
"Baiklah, aku akan mandi. Tunggu sebentar ya," ujar Akandra seraya beranjak dari ranjangnya.
"Iya, Mas. Cepatlah,"
Akandra menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berjalan menuju kamar mandi. Sementara itu, Audrey menunggu suaminya di kamar. Sambil menunggu rutinitas suaminya, ia pun merapikan tempat tidurnya serta menyiapkan pakaian untuk sang suami.
****
"Sa, kamu mau ke mana bawa koper segala?" tanya seorang pria dengan sebotol alkohol di tangannya.
"Jangan kepo deh, Devan" celetuk wanita bernama Alessa kepada pria bernama Devanka.
"Ingat, saat ini kamu masih dicari Tuan Akandra. Jika kamu sampai ditangkap untuk yang kedua kalinya, maka habislah kamu. Tuan Akandra tidak akan mengampunimu dan dia tidak akan pernah membiarkan kamu bebas lagi. Apakah kamu mau kembali ke tempat itu lagi?" jelas Devanka dengan menakut-nakuti wanita itu.
"Aku tidak pernah takut. Kamu tahu, aku semakin terobsesi padanya. Takkan kubiarkan Audrey hidup bahagia bersama pria rampasannya itu. Akan kukejar dia sampai ke ujung dunia sekali pun!" tegas Alessa dengan amarah yang kian memuncak serta semangat yang menggebu-gebu.
"Baiklah, kamu memang wanita yang sulit untuk dihalangi. Tapi, setidaknya kamu beri tahu aku ke mana kamu akan pergi. Siapa tahu aku bisa membantumu. Kamu juga jangan lupa jika aku masih mengharapkan kembali Audrey. Aku ingin menikahinya lagi," timpal Devanka.
"Kamu yakin ingin ikut bersamaku? Dan kamu tahu, ke mana aku akan pergi?" Alessa menyunggingkan senyumannya.
"Ke mana?"
"Kota B. Karena saat ini Mereka berada di Kota B, dan aku ingin menyusul mereka dan mengambil kembali hakku! Jika kamu mau ikut, maka cepat packing barang-barangmu dan kita berangkat besok pagi!" perintah Alessa.
__ADS_1
"Kamu yakin, mereka berada di kota B? Dari mana kamu tahu mereka berada di sana?"
"Pertanyaan itu tidak penting dan tidak perlu aku jawab juga. Yang harus kamu lakukan saat ini hanya diam tanpa banyak bicara. Biarkan aku yang memikirkan strategi untuk balas dendam kita. Sekarang, tinggalkan aku! Aku butuh sendiri." Alessa secara terang-terangan mengusir Devanka.
"Baiklah, terserah padamu." Devanka memutar bola matanya malas. Kemudian dia pergi meninggalkan wanita itu.
****
Brugh!
Kaki Audrey tiba-tiba tersandung dan terjatuh di tepi pantai. "Aduh," ucap Audrey sedikit meringis.
Melihat itu, Akandra yang saat ini berada di belakang Audrey dengan cepat berlari untuk menolong sang istri. Namun, begitu ia berada di depan istrinya dan hendak mengulurkan tangannya, tiba-tiba Audrey menyiram pakaiannya dengan air yang berada di tangan kanannya.
"Kena. Pakaianmu sudah basah, Tuan Xaquille," Audrey bersorak dan dengan cepat berdiri, lalu berlari menghindari suaminya.
"Wah, enggak bisa seperti ini. Ini namanya licik, aku harus membalasmu, Nyonya Xaquille." Akandra merasa tidak terima. Dia berlari mengejar sang istri yang sedang berlari di depannya tanpa mengenakan alas kaki.
"Coba aja kejar kalau bisa, wlee!" Audrey meledek suaminya dengan menoleh kr belakang serta menjulurkan lidahnya tanda meledek.
"Jangan menantangku seperti itu, kamu akan menyesal nantinya," timpal Akandra dengan terus menambah kecepatan larinya.
"Oh iya? Sayangnya itu tidak akan terjadi. Karena Mas tidak akan bisa mengejarku. Badan bagus tapi tidak bisa mengejarku!" Audrey berteriak dengan nada menantang dan meledek.
Tak mau banyak bicara, Akandra terus mengejar istrinya. Sehingga dalam hitungan detik, kini Akandra sudah berhasil menangkap istrinya. Dia menarik tubuh Audrey ke dalam dekapannya.
"Kamu licik, Mas! Kamu enggak mau mengalah sama istri sendiri," ujar Audrey dengan ekspresi yang menunjukkan sedang merajuk.
****
__ADS_1
Stay tune :)