
Bioskop ....
Saat ini Akandra dengan istrinya tengah menonton film horror di salah satu bioskop yang ada di mall tak jauh jadi kediamannya. Mereka duduk di tengah-tengah agar suasananya setengah mencekam. Audrey begitu menikmati filmnya dengan memakan popcorn. Berbeda dengan istrinya, Akandra tidak begitu menyukai film horror.
Sesekali dia menutup kedua matanya pada saat layar menunjukkan jumpscare. "Aarrgghh!" sontak Akandra sedikit berteriak seraya mencengkram tangan Audrey hingga popcorn yang tengah di pegang istrinya jatuh.
"Mas, ada apa? Kamu takut?" tanya Audrey dengan suara yang pelan karena di orang-orang yang ada di ruangan tersebut tengah menatap ke arahnya dan juga suaminya.
"Ini yang tidak aku sukai. Film horror selalu membuat jantungku tidak aman dengan jumpscare-nya," jawab Akandra dengan dahinya yang mengeluarkan keringat.
"Ayolah, Sayang ... ini hanya film saja, semua itu tidak nyata. Nikmatilah filmnya, jika Mas takut. Mas bisa menutup matanya atau bila perlu Mas pegang tanganku," tutur Audrey dengan sedikit senyumannya.
Sebenarnya hal ini cukup memalukan untuk Audrey. Sebab, suami yang seharusnya menjadi pelindung dan penenang di kala istrinya sedang ketakutan. Namun, berbanding terbalik dengan Akandra. Justru Audrey lah yang menjadi pelindung suaminya. Sehingga hal ini membuat Audrey ingin tertawa saat itu juga.
Meski dia ingin sekali tertawa, Audrey masih bisa menahan tawanya. Semua itu agar suaminya tidak merasa malu. Ternyata bukan hanya Audrey, justru Akandra pun merasa dirinya sangat memalukan. Dia merasa dirinya pengecut karena takut dengan film yang tengah ia tonton dan membuat istrinya malu.
Setelah kejadian memalukan itu, Akandra memilih untuk diam. Sepanjang film itu diputar, pria itu diam membisu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sama halnya dengan istrinya, Audrey juga tidak banyak bicara dan tatapannya fokus tertuju pada film tersebut.
Sehingga sesuatu tak terduga membuat Akandra dan Audrey terkejut. Bagaimana tidak, tepat di kedua telinganya, mereka mendengar suara yang membuat mereka merasa risik. Reflek keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara.
Keduanya semakin terkejut setelah menyaksikan adegan terlarang. Suara yang begitu menjijikan membuat keduanya saling menatap satu sama lain dengan mata yang terbelalak dengan sempurna. Karena merasa tidak nyaman, mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut. Setelah mereka berada di luar, mereka saling menatap dan tertawa kecil.
"Are you okay?" tanya Akandra pada sangat istri.
"No. Pemandangan yang begitu buruk membuat kedua mataku perih," jawab Audrey dengan sedikit tertawa.
"Kamu benar, Sayang. Kita saja yang sudah halal malu jika harus melakukan itu di tempat umum seperti ini. Tapi, aku heran kenapa anak muda jaman sekarang berani melakukan itu secara terang-terangan seperti itu. Itu sangat menjijikkan," timpal Akandra.
"Entahlah, Mas ... hanya mereka yang tahu, kenapa mereka nekad melakukan hal terlarang seperti itu. Sudahlah, lupakan kejadian itu. Sekarang kita cari makan yuk, aku lapar." Audrey mengajak Akandra seraya menggandeng tangan suaminya.
****
__ADS_1
"Buka mulutmu, Aaa?" ucap Akandra yang hendak menyuapi istrinya.
Seketika Audrey langsung menatap ke sekeliling. Dan benar saja, saat ini dirinya menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, pria setampan Akandra menyuapi dirinya di tempat umum seperti ini.
"Mas, aku malu. Lihatlah, semua orang sedang memperhatikan kita," ucap Audrey dengan suara yang pelan.
"Fokuslah pada suamimu ini. Abaikan orang-orang yang sedang memperhatikan kita. Sekarang buka mulutmu," timpal Akandra dengan sikap cueknya.
Mendengar itu, Audrey pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari suaminya. Saat ini mereka berada di salah satu restoran cepat saji yang masih berada di mall tersebut. Akandra terus menatap sang istri pada saat dirinya sedang menikmati makanan yang ada di meja makan.
"Mas, jangan ngeliatin terus dong. Cepat makan," tutur Audrey dengan sedikit malu.
"Aku tidak bisa mengendalikan tatapanku ini. Mata ini selalu tertuju pada kecantikanmu. Biarkan aku menikmati kecantikanmu itu, istriku." Akandra semakin lekat menatap Audrey disertai senyuman yang begitu mempesona.
"Astaga, Mas ... ternyata kamu bisa bucin juga ya. Aku pikir kamu orang yang cool dan gengsi untuk menunjukkan rasa sayangmu itu," ledek Audrey agar suaminya berhenti menatap dan segera makan.
"Awalnya aku memang cool tapi, setelah aku mengenalmu dan menikahimu, aku semakin jatuh cinta padamu. Rasa ini begitu besar sehingga aku tidak dapat mengendalikannya. Mata ini, bibir ini selalu memujimu tanpa henti. Jangan salah, pria cool bahkan pria kejam pun bisa bucin kala cintanya semakin besar pada wanita yang sangat dia sayangi," jelas Akandra.
"Abaikan saja,"
"Oh ya ampun ... apa yang telah terjadi padamu, Mas? Kenapa kamu jadi seperti ini? Sadarlah, dunia ini bukan hanya milik kita berdua melainkan milik semua makhluk hidup. Sadarlah, dan simpan bucinmu itu untuk di rumah." Audrey menepuk jidatnya sendiri.
"Haha ... baiklah, baiklah," Akandra tertawa seraya mengelus kepala sang istri.
"Aaahh, so sweet sekali," ucap semua orang yang sedari tadi tengah memperhatikan pasangan pengantin itu.
****
Hari keberangkatan ....
Tidak terasa hari berlalu begitu cepat, sekarang adalah hari Akandra dan Audrey berangkat ke salah satu kota B yang cukup terkenal dan tempat paling pas untuk honeymoon. Kota yang akan mereka datangi sering didatangi para pengusaha negara lain maupun kalangan umum untuk berbulan madu. Selesai berpamitan dengan keluarga, mereka pergi ke bandara diantarkan oleh adiknya, yaitu Affandra.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian, mereka bertiga telah sampai di salah satu bandara. Mereka keluar dari mobil secara bersamaan. Kemudian Akandra berpamitan dengan sang adik.
"Thanks, Fan. Karena udah mau nganterin kita ke bandara. Aku titip hotel Xaquille padamu, kami pergi sekarang."
"Ya, pergilah. Aku akan mengelola hotelmu itu selama Kakak berbulan madu. Oh iya, Kak Audrey ... aku tunggu kabar gembiranya. Semoga Kakak cepat bunting ya," ucap Affandra dengan sedikit menggoda kakak iparnya.
Mendengar itu, Audrey tertawa kecil. "Siap, Fan. Aku juga tunggu kabar gembiranya. Segera perkenalkan kekasihmu itu, heum." Audrey menaik-turunkan alisnya disertai senyumannya.
Deg!
'Loh ... dari mana Kak Audrey tahu jika aku memiliki kekasih sekarang? Perasaan aku belum memberi tahunya,' batin Affandra bergumam.
"Kami pergi dulu ya, Fan. Jaga Kakek dan rumahku baik-baik," ujar Akandra.
"Siap, Tuan." Affandra memutar bola matanya malas.
Mendengar celetukan sang adik, Akandra hanya tertawa kecil seraya pergi bersama istrinya meninggalkan Affandra. Sementara itu, Affandra masih kebingungan dengan ucapan kakak iparnya. Dia tidak tahu, bagaimana bisa Audrey mengetahui jika dirinya sedang menjalin kisah cinta bersama seorang gadis.
****
Sembari menunggu jam terbang, Akandra dan Audrey duduk di salah satu kursi panjang. Kemudian sang suami menatap Audrey yang tengah duduk di sampingnya. "Sayang, apa benar adikku sudah memiliki kekasih?" tanya Akandra dengan tatapan yang penasaran.
"Iya, Mas."
"Kamu tahu dari mana?"
"...."
****
Stay tune :)
__ADS_1