Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 32 > Sikap Hangat Akandra


__ADS_3

Di Kamar Audrey ....


Akandra masih tetap setia menemani Audrey tidur. Dia duduk di sebuah kursi yang berada di samping ranjang. Kedua matanya menatap lekat wanita yang sudah pergi ke alam mimpi.


Tangan kekar Akandra perlahan mengelus wajah Audrey dengan penuh kelembutan. Kemudian, dia mengeluarkan sebuah kotak mini berwarna biru. Ia membuka kotak tersebut dan memandanginya cukup lama.


"Seharusnya cincin ini sudah tersemat di jari manismu, Audrey. Aku terlalu bersemangat sehingga aku melupakan akan kesedihanmu pada saat dijatuhkan talak oleh suamimu. Aku pikir setelah Devanka mentalakmu, aku bisa langsung menggantikan posisinya di hatimu. Namun, semua itu tidaklah mudah. Aku harus menunggu dan membuatmu jatuh cinta terlebih dahulu. Aku berharap, semoga suatu hari nanti datang sebuah keajaiban yang akan meluluhkan hatimu dan bersedia menikah denganku," gumam Akandra dengan mata yang berkaca-kaca menatap cincin yang masih berada di kotak.


Tak mau berlarut-larut dalam kesedihan dan kekecewaan, Akandra pun kembali memasukkan cincin ke dalam sakunya. Kemudian dia beranjak dari duduknya dan mendekati wajah Audrey. "Tidur yang nyenyak ya, Audrey. Semoga bermimpi indah, aku mencintaimu!" bisik Akandra di telinga Audrey.


Cup!


Akandra mengecup kening Audrey dengan lembut setelah membisikkan kalimat di telinga wanita itu. Dia menarik selimut dan menyelimuti tubuh Audrey. Setelah itu, barulah Akandra pergi meninggalkan sang janda dadakan itu.


****


Ruang rahasia ....


Affandra tengah merasa bosan karena sudah menunggu kakaknya yang tak kunjung datang. Sedari tadi dia terus mondar mandir ke sana ke mari. Meski begitu, Akandra tak datang juga. Sehingga setelah beberapa menit kemudian, dia tidak bisa menunggu kakaknya lebih lama.


Affandra memutuskan untuk keluar dari ruangan rahasia. Dalam beberapa langkah, dia sudah sampai di pintu kamar. Tangannya memegang handle pintu dan segera membukanya.


Pada saat pintu terbuka, dia berpapasan dengan kakaknya. Affandra menghentikan langkahnya. Dia berdiri tepat di pintu ruang tersebut seraya melipat kedua tangan di dada.


"Apakah sudah selesai bermesra-mesraannya dengan Kak Audrey?" sindir Affandra pada kakaknya dengan tatapan yang sinis.


"Sudah, jangan menyudutkanku seperti itu. Ayo masuk," ajak Akandra seraya memasuki ruang tersebut.

__ADS_1


"Siapa yang menyudutkanmu, Kak? Aku hanya sekedar bertanya saja," timpal Affandra seraya mengikuti kakaknya dari belakang.


Mereka pun duduk secara berhadapan di sofa yang ada di ruangan tersebut. Affandra yang sudah tidak sabar ingin bertanya sedari tadi, langsung memulai pembicaraan. "Kak, boleh aku tanya sesuatu?" Affandra menatap kakaknya dengan tatapan yang serius.


"Ya, katakan saja." Akandra menyandarkan tubuhnya ke sofa.


"Kenapa Kakak tidak melamar Kak Audrey saja pada saat di ruang itu? Apa alasan kakak tidak melamarnya? Apa karena Kak Audrey tidak bersedia menikah denganmu?" Dia tidak tahu jika Kakaknya sudah menyatakan perasaannya pada Audrey.


"Bukan begitu. Audrey hanya belum siap untuk menikah kembali. Seharusnya aku mengesampingkan ego dan menunggu waktu yang pas untuk melamarnya. Lagi pula, wanita mana yang akan menerima lamaran pria lain tepat di hari yang sama. Di mana dia ditalak oleh suaminya. Maka dari itu, aku memutuskan untuk menunda lamarannya. Meski aku ingin sekali menyematkan cincin ini di jarinya." Akandra menaruh kotak yang berisi cincin itu.


Dengan cepat Affandra menyambar kotak tersebut dan membukanya. "Wah, Kak. Apakah cincin ini diamond? Benar-benar cantik, aku rasa ini akan cocok di jari Kak Audrey." Kedua bola mata Affandra terbelalak pada saat melihat cincinnya.


"Bukan. Cincin itu terbuat dari tembaga!" celetuk Akandra sembari memicingkan matanya.


"Haha, Kakak bisa saja. Kali aja Kakak belikan Kak Audrey cincin yang sedikit norak," ledek Affandra disertai tawa kecilnya. Dia berusaha menghibur sang Kakak yang sedang kecewa itu.


"Hehe, sorry. Aku hanya bercanda." Affandra tertawa seraya menunjukkan tanya peace.


"Fan, ambilkan wine itu. Ayo kita minum bersama," titah Akandra seraya menunjuk ke arah rak gang dipenuhi dengan minuman beralkohol.


"Kakak yakin akan minum lagi? Ingat, Kak. Jangan terlalu sering minum minuman beralkohol. Jaga kesehatanmu, lagi pula Kak Audrey tidak akan menyukainya jika Kakak selalu minum kek gini," Affandra mengingatkan kakaknya.


"Ayolah, hanya malam ini saja. Aku akan berhenti minum setelah Audrey menerima lamaranku."


"Baiklah, terserah Kakak saja. Aku hanya mengingatkan. Aku tidak akan minum sebab aku harus pulang dan tidak baik jika aku menyetir dalam keadaan mabuk." Affandra berjalan ke arah rak itu dan mengambil satu botol wine.


"Menginap saja di sini, Fan. Temani aku minum,"

__ADS_1


"Tidak bisa, Kak. Besok aku ada pertemuan yang tidak bisa aku batalkan."


"Ya sudah, kamu duduk dan temani aku saja."


Affandra menaruh sebotol wine beserta gelas khusus wine di meja. Tanpa berlama-lama, Akandra segera menuangkan wine ke dalam gelas. Dalam hitungan detik, ia sudah meneguk wine tersebut.


"Katakan, bagaimana menurutmu tentang Audrey? Apa kamu tidak keberatan jika aku menikahinya?" tanya Akandra dengan mata yang memandangi gelas berisi wine itu.


"Jangan tanyakan itu! Sebelum Kakak bertanya seperti itu, aku sudah menyetujuinya. Aku tidak keberatan, justru aku merasa sangat bahagia jika Kakakku ini sudah bisa memulai hidupnya kembali. Sudah cukup lama Kakak melajang dan ini saat yang tepat untuk memulai sebuah pernikahan. Taklukkan hatinya dan buat Kak Audrey bucin akut sama Kakak, semangat." Affandra menyemangati Akandra untuk memperjuangkan cintanya.


"Tenang saja, akan aku taklukkan Audrey. Aku akan jadi sosok suami idaman yang selalu diimpikan setiap wanita. Aku akan memuliakan dia selama aku hidup. Aku juga akan membuat anak sebanyak mungkin agar rumah tanggaku semakin harmonis," ucap Akandra dengan senyuman kecil di bibirnya.


"Aamiin, semoga impian Kakak segera terlaksana. Semoga hati Kak Audrey bisa secepatnya luluh."


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, mereka berada di ruang rahasia sudah 1 jam lebih. Akandra terus meneguk wine. Entah sudah berapa banyak dia meminumnya. Kini kepalanya sudah terasa berat dan pandangannya pun kabur.


"Sudah cukup! Jangan minum lagi, Kakak sudah terlalu banyak minum. Ayo, aku antar Kakak ke kamar." Affandra mengambil gelas di tangan kakaknya dan memapah Akandra menuju kamarnya.


"Wine itu belum habis. Aku masih ingin minum, biarkan aku menghabiskannya dulu," Akandra meracau dengan langkah yang sempoyongan.


"Tidak! Kakak harus istirahat, ayo." Affandra memaksa kakaknya keluar dari ruangan itu.


Setelah bersusah payah memapah kakaknya menuju ke kamarnya. Akhirnya Affandra pun sampai di kamar tersebut. Tanpa membuang waktu lama, dia langsung memasukkan password untuk membuka kamar Akandra. Setelah itu, barulah pintu terbuka.


Affandra membawa masuk Akandra dan langsung menidurkannya di ranjang. Bibir Akandra terus meracau mengatakan kalimat-kalimat yang konyol. Sang adik hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya membuka sepatu sang kakak dan menyelimutinya.


****

__ADS_1


Stay tune :)


__ADS_2