
Affandra terkejut ketika mendengar ucapan kakaknya. Kedua bola matanya terbelalak dengan sempurna. Akandra mengangguk membenarkan.
"Ya, Fan. Audrey ingin bercerai denganku." Akandra menarik sebuah kursi yang berada di sebelah ranjang istrinya, lalu mendudukinya.
"Tapi, kenapa? Kenapa Kak Audrey ingin bercerai denganmu? Apa masalahnya? Apa semua ini ada hubungannya dengan Alessa?" tebak Affandra dengan tatapan yang serius.
"Ya. Semua ini atas kesalahanku. Ini kesalahan terbesarku karena aku terperangkap dengan jebakan Alessa. Seandainya aku tahu jika wanita yang bersamaku malam itu adalah Alessa, aku tidak akan melakukan itu. Sungguh, aku tidak menduga hal ini akan terjadi," jelas Akandra dengan raut wajah yang sedih.
"Tunggu dulu ... jangan bilang kalau Kakak--"
"Ya, aku telah melakukan malam pertama dengan wanita yang bukan istriku. Aku benar-benar ditipu habis-habisan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Entah apa yang akan Audrey lakukan padaku," sela Akandra dengan penuh penyesalan.
"Hei, Kak ... ayolah, jangan putus harapan. Kak Audrey tidak akan meminta bercerai denganmu. Toh semua ini bukan kesalahanmu, semua ini kesalahan Alessa dan wanita itu yang harus bertanggungjawab bukan Kakak. Kak Audrey hanya salah paham saja, biarkan dia untuk menenangkan diri sebentar. Semua ini butuh waktu, Kak." Affandra menepuk-nepuk pundak sang kakak.
"Fan, aku titip Audrey padamu. Aku harus mengakhiri semua permasalahan ini. Aku harus menghukum orang-orang yang telah membuat Audrey-ku terluka. Takkan kubiarkan orang itu hidup dengan tenang!" Kedua mata Akandra berubah menjadi merah darah.
"Jangan cemas, aku akan menjaga dan melindungi Kak Audrey sebaik mungkin. Pergilah, beri mereka hukuman yang setimpal." Affandra tersenyum sebagai tanda support.
"Thanks, Fan." Akandra membalas senyuman adiknya. Kemudian dia hendak pergi meninggalkan ruang rawat.
"Jangan lakukan itu," ucap Audrey dengan suara yang lemas.
Audrey siuman dan tangannya memegang jemari Akandra yang hendak pergi. Sontak, si empunya tersebut berbalik badan. Ia melihat jelas dengan mata kepalanya jika istri kecilnya sudah siuman.
__ADS_1
Akandra berjalan kembali mendekati istri kecilnya. Ia duduk seraya menggenggam tangan Audrey dengan erat. "Syukurlah kamu sudah siuman." Akandra mengelus lembut kepala Audrey.
"Apa yang terjadi, Kak? Kenapa aku bisa ada di rumah sakit?" tanya Audrey dengan melihat ke sekelilingnya.
"Adikku Fandra yang membawamu ke rumah sakit. Dia melihatmu tergrletak yak sadarkan diri di belakang pintu. Sebenarnya apa yang kamu lakukan, Sayang? Kamu tidak mencoba untuk melukai dirimu lagi 'kan?" Akandra menjelaskan keadaan Audrey disertai tatapan yang begitu teduh.
"Tidak, Kak. Aku tidak mungkin melakukan hal itu lagi. Sehancur apa pun hatiku, aku tidak akan pernah terpikirkan untuk melukai firiku. Maafin aku, Kak, Affandra. Aku telah merepotkan kalian berdua," ujar Audrey sembari menoleh ke arah Affandra.
"Jangan berterima kasih, Kak Audrey. Anggap aku sebagai adikmu juga. Ini sudah jadi tugasku untuk melindungi setiap anggota keluargaku. Kalian berdua bicaralah baik-baik, aku pamit." Affandra tersenyum seraya meninggalkan ruang rawat.
Setelah melihat kepergian Affandra, sepasang pengantin baru ini hanya saling bertatapan satu sama lain. "Audrey, sekali lagi aku minta maaf. Sungguh, malam itu aku benar-benar dijebak. Jika saja aku tahu bahwa wanita yang bersamaku itu bukan kamu, aku tidak mungkin melakukan itu. Yang aku tidak habis pikir, bagaimana bisa Alessa meniru setiap kebiasaanmu dari mulai bicara, tatapan, dan lain-lain." Akandra mencium kedua tangan Audrey sembari menjelaskannya.
"Tidak ada gunanya menjelaskan semua yang telah terjadi. Aku tahu kamu menyesal, Kak. Tapi, penyesalan itu tidak akan mengubah semua yang telah terjadi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Di satu sisi, aku sangat mencintaimu. Aku menyayangimu dan aku tidak ingin sampai kehilanganmu. Tapi di sisi lain, aku juga tidak tega membiarkan Alessa menanggung semuanya sendiri. Dia hamil atau tidak kamu harus bertanggungjawab, Kak." Alessa menatap suaminya dengan tatapan yang serius.
"Aku pasti bertanggungjawab, Sayang. Akan aku bayar berapa pun uang yang diminta Alessa. Aku akan memberikan sebagian hartaku padanya asalkan pernikahan kita tidak menjadi taruhannya. Aku bisa gila jika sampai kamu menceraikanku. Jadi, aku mohon padamu, Audrey ... pikirkan baik-baik. Beri aku kesempatan yang kedua bahwa cintaku benar-benar tulus dan aku tidak berniat untuk mengkhianati pernikahan ini," Akandra terus membujuk Audrey.
"Ya, tapi dengan cara apa?" tanya Akandra.
Audrey yang sejak awal menatap tajam Akandra, kini ia sejenak terdiam dan memejamkan matanya. Dia menghembuskan napasnya yang panjang. Setelah itu, Audrey kembali membuka matanya kembali.
"Nikahi Alessa!" tegas Audrey dengan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Sontak, Akandra langsung terperanjat dengan raut wajah yang benar-benar terkejut. Bagaimana bisa dia menikahi kakak iparnya sendiri cuma karena kesalahan yang tidak dia sebabkan. "Tidak, Audrey! Aku tidak akan pernah menikahi kakak iparku sendiri. Bagaimana bisa aku menanggung hukuman yang seberat ini dengan menikahi wanita berbisa seperti saudarimu itu? Kenapa kamu semudah itu memtusukan itu, Audrey? Apa kamu tidak memikirkan perasaanku?" timpal Akandra dengan santun nan lembut.
__ADS_1
Audrey hanya bisa menangis tanpa menoleh sedikitpun pada Akandra. Hatinya benar-benar sakit mendengar ucapan suaminya. Aku tau permintaannya ini telah melukai perasaannya akan tetapi tidak ada cara lain selain menikahi saudarinya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan suaminya.
Sejujurnya, tidak mudah bagi Audrey memutuskan hal ini. Di satu sisi Akandra adalah suaminya dan sisi lain Alessa adalah saudarinya. Audrey tidak bisa memilih salah satu dari mereka berdua. Dia teramat sayang pada mereka, hanya mereka yang Audrey miliki di dunia ini.
"Audrey, lihat aku!" pekik Akandra dengan nada yang sedikit di tinggikan.
Namun, Audrey tidak berani menatap mata suaminya. Ia tidak akan sanggup menatapnya. "Pergilah, Kak. Kita bicarakan ini nanti. Aku butuh sendiri," ucap Audrey tanpa berani menoleh.
"Sekali saja kamu lihat mataku, agar kamu tahu betapa besarnya rasa sayangku padamu, Audrey. Jangan hanya karena aku terjebak oleh permainan saudarimu, kamu bisa menghakimiku seperti ini. Tidak semudah itu aku menikahi wanita. Ingat, pernikahan bukanlah permainan!"
"Aku bilang pergi! Aku butuh sendiri, Kak. Mengertilah," Audrey mengusir Akandra secara halus.
"Lihatlah dirimu, Audrey. Kamu bahkan tidak berani menatapku. Aku tahu kamu tidak akan sanggup bila aku menikahi Alessa. Meski kamu menyembunyikan rasa sakitmu, aku akan tahu. Pikirkan baik-baik dan jangan bermain-main dengan pernikahan!"
Audrey yang melihat itu dengan cepat menyeka air matanya. Ia memberanikan diri untuk menatap suaminya. "Aku sanggup melihatmu menikahi Alessa, Kak. Aku sangat sanggup! Karena apa? Karena aku tahu kalian berdua telah melakukan dosa besar! Kalian telah berzina dan aku tidak akan bisa menerima semua itu. Aku tidak mau memulai sebuah pernikahan dengan dosa yang kalian perbuat!" tegas Audrey yang sudah naik pitam.
"Baiklah, aku akan menikahi Alessa. Tapi, kamu jawab satu pertanyaanku dulu!" tantang Akandra dengan sorotan matanya yang tajam.
"Okay, tanyakan saja."
"Apa kamu siap dimadu?"
Deg!
__ADS_1
****
Stay tune :)