Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 69 > Tercyduk Suami


__ADS_3

Acara Makan Malam ...


Saat ini Audrey dan suami beserta keluarganya tengah mengadakan makan bersama di salah satu restoran yang cukup terkenal di kotanya. Mereka memesan salah satu ruangan privat untuk acara tersebut. Yang menghadiri acara itu bukan hanya anggota keluarga Xaquille saja, melainkan juga Pak Arman dan juga Daniel. Benar, keluarga Xaquille telah menganggap Pak Arman dan juga Daniel sebagai kerabatnya sendiri.


Mereka menikmati hidangan makan malam tersebut dengan dibumbui obrolan kecil dan sesekali dengan candaan kecil. Sehingga Akandra mulai membicarakan mengenai rencananya untuk berbulan madu kepada keluarganya. "Kek, kami berencana pekan depan akan pergi ke kota B untuk honeymoon," ujar Akandra pada sang Kakek.


"Ya bagus dong. Dengan begitu, Kakek bisa segera mendapatkan cucu dari kalian." Kakek Rama terlihat sangat senang mendengar rencana cucunya yang akan pergi untuk berbulan madu.


"Iya, Kek. Tapi, mengenai bisnisku ... aku meminta Fandra dan Daniel untyk meng-handle'nya. Apa kalian tidak keberatan?" tanya Akandra pada Daniel dan adiknya.


"Pergilah, Nak. Jangan pikirkan tentang kerjaan, biarkan Fandra dan Daniel yang meng-handle'nya. Bukan begitu?" Kakek Rama menoleh ke arah Affandra dan juga Daniel.


"Apa yang dikatakan Tuan Rama benar, Tuan. Tuan tidak perlu mencemaskan akan hal itu. Saya dan Tuan Fandra akan meng-handle'nya sementara waktu sampai Tuan kembali lagi," jawab Daniel disertai dengan senyuman.


"Iya, Kak. Kakak pergilah berbulan madu. Bersenang-senang bersama Kakak ipar, bila perlu habiskan banyak waktu sampai Kakak ipar bunting," Affandra bercanda hingga akhirnya dia tertawa kecil.


"Pasti itu, Fan. Aku akan terus merepotkanmu sampai kamu tidak ada waktu untuk berkencan," Akandra meledek sang adik.


"Yee, apaan sih. Bisnis punya siapa yang harus ngerjain siapa," omel Affandra dengan nada yang ketus.


"Sudah cukup, Mas. Jangan menyudutkan adikmu seperti ini. Berdamailah meski cuma satu hari. Setiap berhadapan kalian pasti selalu adu mulut, apa kalian tidak malu dilihat Kakek?" Audrey melerai Akandra dengan sang adik.


"Mereka tidak mengenal waktu dan tempat, Nak Audrey. Jika mereka mau beradu mulut maka mereka akan melakukannya, meski itu di hadiah kakeknya sendiri. Kakek sudah tidak angkat tangan sama sikap kedua cucuku ini. Benar-benar tidak ada yang mau mengalah. Keduanya sama-sama keras kepala," sahut Kakek Abirama dengan melirik ke arah kedua kakeknya.


Setelah mendengar sahutan dari sang kakek, Akandra dan Affandra pun seketika langsung terdiam. Mereka seakan mendengar semua ucapan yang dilontarkan oleh kakeknya. Akan tetapi mereka pasti akan mengulanginya lagi. Itulah kenapa Kakek Rama sudah cape melerai cucu-cucunya itu.


"Ayolah, Kek. Jangan bongkar aibku di depan istriku. Malu, lah," protes Akandra.


"Hei, Mas ... kamu malu sama istrimu sendiri? Sedangkan kamu bertengkar dan beradu mulut dengan adikmu di hadapanku?" Audrey terkekeh setelah mendengar ucapan suaminya.

__ADS_1


"Apakah kamu sedang meledekku, Sayang?" Akandra menatap lekat istrinya yang berada di samping.


"Tidak, aku tidak meledekmu, Sayang." Audrey tersenyum manis pada suaminya sekaligus mengelus tangannya.


"Ekhem ... sudahi pamer romantisnya dan mari kita pulang. Mataku perih melihat kalian seperti ini," celetuk Affandra dengan sindirannya pada kakak iparnya.


"Hush! Jangan seperti itu, Fan!" Kakek Rama menyenggol lengan cucunya.


"Berhubung ini sudah larut, mari kita pulang." Akandra beranjak dari duduknya.


Kemudian dia mengulurkan tangannya pada Audrey. Melihat itu, sang istri langsung memegang tangan Akandra dan beranjak dari duduknya. Setelah itu diikuti oleh yang lainnya. Mereka semua keluar dari ruang VIP dan meninggalkan restoran tersebut. Tentunya sebelum mereka pulang, Akandra telah membayar semua makanan yang dipesan.


****


Di sisi lain, dalam sebuah ruangan rahasia yang redup cahaya serta berkode tersebut terlihat wanita yang sedang teriak-teriak frustasi dengan kondisi kedua tangan dn kaki masih teringat juga pada kursi. Di sudut lain, ada seorang pria yang yang kedua tangan teringat terlentang ke atas. Tidak, bukan hanya kedua tangannya melainkan kedua kalinya juga turut di ikat dengan rantai. Mereka berdua tidak lain dan tidak bukan adalah Devanka dan juga Alessa, sang saudari Audrey.


"Aarrgghh! Sial! Mau sampai kapan dia menyekapku seperti ini!" teriak Alessa karena frustasi.


"Semua ini gara-gara kamu, Devan! Seandainya kamu melenyapkan Audrey saat itu juga mungkin Akandra tidak akan pernah menemukannya! Rencanaku sia-sia karena memperkerjakan dirimu! Aku sudah membayarmu dengan sangat mahal tapi apa yang aku dapatkan sekarang? Aku malah disekap oleh Akandra dan kamu harus memikirkan cara agar aku terbebas dari sini!" Alessa balik membentak Devanka dengan menyalahkan pada Devanka.


"Apa kamu buta, Nona? Lihatlah! Tangan dan kakiku saja terikat seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa membebaskanmu dengan kondisiku seperti ini. Aku bukan penyihir yang bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan, Nona," jawab Devanka dengan menoleh ke arah wanita yang sedang terduduk.


"Aarrgghh, ****! Setidaknya pikirkan sesuatu agar aku bisa keluar dari sini!" pekik Alessa dengan kesal.


"Sebenarnya ada satu cara agar kita bisa keluar dari sini,"


"Katakan, bagaimana caranya?"


".... "

__ADS_1


****


Pagi hari ...


Audrey terbangun dari tidurnya. Dia bangun dan duduk di tepi ranjang. Kemudian kedua maniknya menoleh ke samping di mana suaminya berada. Akandra masih tertidur lelap dengan bertelanjang dada. Kulitnya putih serta halus.


Audrey sempat tertegun kala melihat dada bidang suami serta roti sobek di perut sang suami. Tubuh yang benar-benar indah dan seksi. Begitulah yang ada di pikiran wanita gadaian yang telah soldout tersebut.


Bibir Audrey tersenyum sembari mmendekatkan wajahnya ke wajah yang suami. Setelah jarak mereka sudah terlalu dekat, perlahan tangan kanan Audrey yang halus dan putih itu mengelus lembut wajah tampan sang suami. Dia menyentuh kedua alisnya yang tumbuh begitu lebat, kemudian turun menyentuh bulu matanya yang lentik. Tak lupa dia juga menyentuh hidung mancung sang suami hingga akhirnya jemari Audrey mendarat di bibir seksi Akandra.


Namun, pada saat kedua mata indah Audrey asyik memandangi ketampanan suaminya, bersamaan dengan itu, Akandra tiba-tiba terbangun. Akandra membuka kedua bola matanya dan mendapati sang istri yang sedang memperhatikan dirinya. Sang pria yang memiliki roti sobek tersebut pun tersenyum mempesona pada Audrey.


Melihat hal itu, Audrey langsung terlonjak kaget. Pada saat dia hendak menjauhi wajah suaminya, Akandra dengan cepat menarik lembut tubuh sang istri hingga secara reflek tubuh Audrey terjatuh tepat di atas tubuh suaminya. Wajah keduanya benar-benar sangat dekat bahkan tidak ada jarak diantara mereka.


Audrey benar-benar malu karena dia tercyduk oleh sang suami yang tiba-tiba membuka matanya. Untuk menghindari rasa malunya itu, Audrey memejamkan matanya. Berbeda dengan Akandra, ia hanya tersenyum melihat tingkah sang istri serta melihat kedua pipi Audrey yang merona bak kepiting rebus.


"Apa yang kamu lakukan, Sayang?" tanya Akandra dengan tatapan yang begitu lekat.


Audrey membuka matanya. "Tidak ada, tadinya aku mau membangunkanmu tapi ... aku tidak tega membangunkanmu yang masih terlelap seperti itu," jawab Audrey dengan menjelaskannya.


"Bukan itu yang aku tanyakan, Sayang. Aku bertanya, kenapa kamu membelai wajahku? Apa kamu ingin kita--"


"Tidak. Kamu salah paham, aa-aku ... aa-aku hanya--" Audrey terbata-bata dengan kedua matanya yang menatap ke sana ke mari.


Cup!


Akandra mengecup bibir Audrey hingga membuat si empunya terkejut dengan bola matanya yang terbelalak dengan sempurna.


****

__ADS_1


Stay tune :)


__ADS_2