Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 58 > Akandra Beraksi


__ADS_3

"Berikan aku segelas air saja, Devan. Aku benar-benar kehausan," Audrey meminta segelas air pada Devanka dengan suara yang lirih.


Audrey terpaksa meminta segelas air pada Devanka karena tenggorokannya sudah kering dan merasa sangat kehausan. Bagaimana tidak, ia sudah tiga hari tidak diberi makan dan minum. Untuk makan mungkin Audrey masih bisa menahan rasa laparnya tapi tidak dengan rasa hausnya. Tubuhnya semakin melemah.


"Akan aku berikan setelah kamu mau rujuk denganku dan kembali menikah. Bagaimana?" Devanka tersenyum sinis.


"Lebih baik aku kehausan dari pada harus rujuk denganmu, Devan. Aku tidak akan pernah mengkhianati cinta Kak Akandra. Aku rela mati demi dirinya!" Audrey menolak mentah-mentah tawaran dari mantan suaminya.


"Oh iya? Bagaimana dengan pengkhianatan yang dilakukan Akandra? Bukankah dia sudah bermalam dengan saudarimu? Bagaimana jika malam itu membuahkan hasil?" Devanka menyeringai.


"Apa maksudmu? Kak Akandra tidak mungkin melakukan itu apalagi mengkhianatiku!" tegas Audrey dengan yakin.


"Bagaimana jika Alessa berhasil mengandung buah hati Akandra? Karena semalam Alessa menghubungiku jika mereka sudah melakukan malam pertama dan hari ini Alessa sudah telat datang bulan. Bagaimana menurutmu? Apa kamu masih yakin dengan cintamu? Kamu percaya jika Akandra adalah pria baik-baik yang bisa menahan napsunya?" Devanka mulai meracuni otak Audrey dengan menyerang wanita itu dengan banyaknya pertanyaan.


Mendengar itu, Audrey sedikit terluka hatinya. Akan tetapi dia bisa menahannya. Dia sangat yakin jika Akandra tidak akan berani melakukan itu. Akandra tahu betul mengenai Audrey dan Alessa.


Meski mereka kembar, mereka memiliki sifat dan tanda yang berbeda yang tidak dimiliki masing-masing. Sayangnya, Audrey tidak tahu jika semua yang diucapkan Devanka adalah kenyataan. Memang benar jika Akandra dan Alessa sudah melakukan kesalahan. Akandra sudah terjebak dalam permainan licik Alessa.


Dan yang paling parahnya lagi, Alessa saat ini sudah telat datang bulan. Selama itu, Akandra belum juga menemukan Audrey. Namun, meski Audrey sudah disekap berhari-hari bahkan berminggu-minggu, wanita gadaian yang malang ini tidak pupus harapan. Dia selalu yakin dan percaya jika Akandra akan datang dan membebaskannyanya.


"Dengarkan aku, Devan! Aku tahu apa maksud dan tujuanmu mengatakan semua ini dengan pertanyaan-pertanyaanmu itu. Aku tahu betul apa tujuanmu. Aku semakin yakin jika semua ini adalah ide Alessa. Kamu bekerja sama bukan dengannya? Satu yang ingin aku tanyakan padamu ... apa yang kamu dapatkan dengan bekerja sama dengannya? Apa kamu mendapatkan uang dengan jumlah besar?"


"Rupanya kamu cerdik juga, Audrey. Memang benar jika aku telah bekerja sama dengan saudarimu. Aku bukan hanya mendapatkan uang saja. Aku justru mendapat imbalan yang paling berharga dan sangat mahal." Devanka tersenyum seraya mendekati Audrey.


"Kamu memang pria parasit, Devanka! Aku menyesal karena dulu aku sempat menikah denganmu. Tapi, aku bahagia karena aku sudah terlepas dari pria sepertimu." Audrey menatap Devanka dengan penuh kebencian.


Mendengar semua lontaran kata dari Audrey membuat Devanka naik pitam. Dia mencengkram leher Audrey dengan sangat keras. Sementara itu, Audrey hanya bisa pasrah dan merasa kesakitan serta napasnya sesak kala mantan suaminya tengah mencekiknya.


"Asal kamu tahu saja, Audrey. Satu hal yang akan menghancurkan hatimu! Ada sebuah rahasia besar yang tidak kamu ketahui selama ini!" tegas Devanka dengan bicara tepat di depan wajahnya.


Audrey hanya memejamkan matanya disertai napas yang sesak. Setelah melihat Audrey kesakitan dan merasa sesak, barulah Devanka melepaskan cengkramannya. Wanita malang itu langsung terbatuk.


"Rahasia besar apa? Apa yang tidak aku ketahui?" tanya Audrey dengan napas yang tersenggal.


"Kamu yakin ingin mengetahuinya?" Devanka tersenyum licik.

__ADS_1


Audrey mengangguk. "Katakan!"


"Asal kamu tahu, Audrey sayang. Semua awal penderitaanmu ini adalah settingan dari saudarimu sendiri," jelas Devanka sembari menyunggingkan senyuman.


"Settingan apa maksudmu?" Audrey menatap serius ke arah Devanka yang sudah berdiri di hadapannya.


"Singkatnya gini ... aku menikahimu dulu atas perintah Alessa. Bukan hanya itu, dia menyuruhku untuk membuat hidupmu selalu menderita. Dan dia juga memintaku untuk bungkam soal dirimu yang memiliki saudari kembar."


"Jadi, selama ini kalian sudah--"


"Ya. Aku sudah mengenalnya jauh sebelum aku kenal denganmu. Aku tahu betul seperti apa Alessa. Dia tidak bermain-main dengan tekadnya. Apa pun yang dia inginkan, dia selalu menghalalkan segala cara agar keinginannya bisa terpenuhi," sela Devanka dengan menceritakan sedetail mungkin.


Seketika Audrey langsung meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka jika semua penderitaan adalah atas suruhan saudarinya. Disaat dirinya merasa senang jika dalam hidupnya masih memiliki saudarinya. Akan tetapi dia tidak pernah menyangka jika saudarinya begitu membenci dirinya dan ingin merahasiakan identitasnya.


"Katakan pada Alessa, aku ingin bertemu dengannya!"


"Kamu yakin dia ingin menemuimu? Kamu tahu bukan, jika Alessa bisa saja melukaimu atau bahkan menghilangkan nyawamu?" tanya Devanka.


"Tidak masalah. Jika dia bahagia dengan kepergianku maka lakukanlah. Aku tidak pernah takut padanya. Aku yakin jika Allah akan membantuku. Katakan padanya, temui aku sekarang juga!"


"Baiklah, aku akan memberi tahunya, tapi ...." Devanka mendekatkan bibirnya di telinga Audrey.


****


Drrtt! Drrtt!


Sebuah pesan masuk ke ponsel Alessa. Alessa diam-diam melirik ke arah suami palsunya. Setelah aman, barulah dia diam-diam membuka dan membaca pesannya yang tidak lain dikirim oleh Devanka.


{Audrey ingin kamu menemuinya. Cepat temui dia sekarang!}


"Berani sekali dia menyuruhku seperti ini! Awas saja, akan kuberi dia pelajaran!" umpat Alessa dengan kata yang masih melihat ke layar ponsel.


Sementara itu, Akandra seketika berbalik badan. Dia yang saat ini tengah berdiri di dekat gordyn langsung berjalan ke arah istri palsunya yang sedang duduk di tepi ranjang. "Apa kamu sedang mengumpat, Alessa?" Akandra memancing Alessa dengan memanggilnya dengan nama asli.


"Tidak, Sayang. Mungkin kamu salah dengar," secara tidak sadar Alessa telah menjawab pertanyaan Akandra.

__ADS_1


Namun, beberapa detik kemudian dia menyadari kesalahannya. Dia segera menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. Kedua matanya terbelalak, dia baru ingat jika barusan Akandra memanggil dirinya dengan Alessa, nama aslinya.


'Mampus! Gue kelepasan!' gerutu Alessa dalam batinnya.


"Ada apa? Kenapa wajahmu panik seperti ini, Sayang?" tanya Akandra setelah berada di sebelah Alessa.


Kemudian dia memegang kedua bahu Alessa. Meski dia sangat membencinya dan ingin memberinya pelajaran, ia masih bisa menahan amarahnya. Dia tetap bersikap lembut layaknya seperti suami pada istrinya. Namun, Alessa tetap diam membisu.


"Sayang, kamu kenapa? Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat seperti ini? Apa kamu sakit?" Akandra meletakkan telapak tangannya di kening Alessa.


Alessa menjawabnya dengan gelengan kepala. Keningnya sudah mengeluarkan keringat dingin. Dia benar-benar takut jika perbuatannya akan tercium oleh Akandra.


"Sayang, aku pamit bentar ya. Ada hal yang harus aku urus, kamu enggak apa-apa 'kan aku tinggal bentar?" ujar Alessa dengan mata yang gak berani menatap Akandra.


"Hei, Sayang. Lihat aku!" Akandra menangkup kedua pipi Alessa.


Mau tidak mau, suka tidak suka Alessa terpaksa menatap kedua mata Akandra. "Jika kamu sedang ada masalah, ceritalah padaku. Aku ini suamimu, kamu bisa meminta bantuan padaku," pancing Akandra lagi dengan senyuman palsu.


"Sayang, aku baik-baik saja. Aku akan cerita setelah aku kembali nanti. Aku harus pergi sekarang ya. Sampai ketemu nanti. Muach!" Alessa mengecup pipi Akandra.


Setelah itu Alessa beranjak dari duduknya dan segera pergi menghindari suaminya. Sementara itu, Akandra yang melihat gerak-gerik Alessa yang mencurigakan segera menghubungi Daniel. Tak membutuhkan waktu lama untuk Daniel mengangkat telepon dari tuannya.


Telepon terhubung!


"Hallo, Daniel. Aku punya tugas untukmu," ucap Akandra tanpa basa-basi setelah telepon tersambung.


"Iya, Tuan. Tugas apa yang harus saya lakukan?" tanya Daniel dari seberang telepon.


"Cepat kamu buntuti Alessa! Kamu ikuti ke mana dia pergi dan siapa aja yang wanita toxic itu temui. Setelah itu kamu laporkan apa yang kamu ketahui padaku, maka aku akan segera meluncur! Ingat, jangan sampai Alessa curiga jika kamu sedang menguntit dirinya, paham!" jelas Akandra dengan suara yang tegas.


"Baik, Tuan. Saya paham," jawab Daniel.


"Bagus! Saya tunggu laporannya. Tutt!" Akandra mengakhiri panggilannya.


Telepon terputus!

__ADS_1


****


Stay tune :)


__ADS_2