Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 35 > Unit 403


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar Audrey diketuk sebanyak tiga kali. Audrey yang saat ini tengah berkemas pun segera melangkahkan kakinya menuju pintu. Sesampainya di pintu, ia langsung membukanya.


Pintu terbuka lebar dan terlihat Akandra sedang berdiri dengan pakaiannya yang sudah rapi. Ia menunjukkan senyumannya yang penuh pesona. Tiba-tiba Akandra memberikan buket bunga yang dia sembunyikan di belakang tubuhnya.


"Selamat pagi, wanita mulia." Akandra memberikan buket bunga seraya menyapa Audrey.


"Selamat pagi, Tuan Akandra." Audrey tersenyum sambil menerima pemberian Akandra.


Mendengar itu, alih-alih tersenyum Akandra justru cemberut. Bagaimana tidak, dia sangat tidak menyukai jika Audrey memanggilnya dengan sebutan Tuan. Akandra nyelonong masuk tanpa mengatakan apa pun.


Audrey hanya tertawa kecil. Dia tahu jika pria yang mendatanginya sedang merajuk. Ia menutup pintu kamarnya dan berjalan menghampiri Akandra.


"Kakak merajuk?" Audrey duduk di sebelah Akandra.


Akandra tidak menanggapi pertanyaan Audrey. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju gordyn. Sementara itu, Audrey tidak mau ambil pusing. Dia memiliki cara ampuh agar Akandra berhenti merajuk dan mau bicara lagi padanya.


Audrey mengambil ponselnya yang berada di meja nakas. Kemudian dia berpura-pura menghubungi mantan suaminya yaitu Devanka. Dia yakin jika Akandra akan berhenti merajuk.


"Hallo, Mas Devan. Ada apa menghubungiku lagi? Apa? Bertemu? Sekarang?" Audrey berpura-pura berbicara di telepon dengan mata yang curi-curi pandang ke arah Akandra.


'Devanka? Dia berani menghubungi Audrey lagi?' batin Akandra langsung bertanya-tanya.


Tanpa berlama-lama, dia membalikkan badannya dan berjalan mendekati Audrey. Dia lupa jika saat ini dirinya sedang merajuk. Setelah berada di hadapan Audrey, kedua tangan kekarnya itu memegang kedua bahu wanita itu.


"Devan yang menghubungimu?" tanya Akandra dengan wajah yang merah padam.


'Sudah kuduga jika kamu akan berhenti merajuk,' batin Audrey tertawa kecil.


Audrey sengaja tidak langsung menjawab. Dia ingin tahu lebih jauh tentang reaksi Akandra. "Audrey! Aku sedang bicara padamu!" tegas Akandra dengan sorot matanya yang tajam.


"Aku tahu. Tapi, aku tidak mau menjawabmu. Sebab tadi kamu juga tidak menjawab pertanyaanku. Jadi, untuk apa aku menjawabmu sekarang?" Audrey membalas perlakuan Akandra.


Gleuk!


Mendengar itu, Akandra hanya tertegun sembari melepaskan pegangannya. "Audrey! Jangan bermain-main denganku! Katakan padaku, apa yang menghubungimu itu Devan?" tanya Akandra sekali lagi. Kali ini dia bertanya lebih tegas.


Audrey tersenyum kecil. "Tidak ada yang mengubungiku, Tuan jealous! Aku hanya membalasmu saja," jelas Audrey dengan tawa kecilnya.


"Jadi, kamu sedang mengerjaiku?" Akandra menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Ya, Tuan." Audrey tertawa.


"Jangan memanggilku Tuan!"


"TUAN!" Audrey sengaja memanggil pria itu dengan sebutan yang tidak disukainya.


"Audrey! Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!"


"Baiklah, Sayang. Aku tidak akan menyebutmu Tuan lagi," goda Audrey dengan menyebut Akandra dengan sebutan Sayang.


"Katakan sekali lagi!"


"Tidak. Ini sudah siang, aku harus segera packing barang-barangku." Audrey menolak dan berjalan menuju koper.


"Ayolah, sekali saja."


"Ada syaratnya,"


"Katakan!"


"Bantu aku berkemas, setelah itu aku akan memanggilmu dengan sebutan itu." Audrey menaik-turunkan alisnya.


"Tanpa kamu memintanya, aku akan membantumu." Akandra langsung membantu Audrey berkemas.


****


Tanpa terasa, kini mereka sudah sampai di basement. "Audrey, masuklah lebih dulu. Aku akan memasukkan kopermu terlebih dahulu." Akandra menyuruh Audrey untuk masuk lebih dulu.


"Baik, Kak." Audrey pun menuruti perkataan Akandra.


Audrey masuk mobil dengan duduk di kursi penumpang sebelah kursi kemudi. Sementara itu, Akandra menutup pintu bagasi dan mengitari mobilnya. Dia masuk mobil dari pintu kemudi.


Sebelum melajukan mobilnya, Akandra memakai seat belt terlebih dahulu. Begitupun dengan Audrey. Setelah itu barulah Akandra melajukan mobilnya menuju apartemen yang sudah dia beli untuk Audrey tinggal.


'Kenapa dia tidak mengatakannya?' batin Akandra bertanya-tanya perihal Audrey yang tidak menepati janjinya.


Audrey yang saat ini sedang memperhatikan gerak-gerik Akandra pun hanya tersenyum. Dia tahu jika Akandra sedang menantikan dirinya menyebut kata yang sudah dijanjikan. "Sayang!" panggil Audrey sambil menoleh ke samping.


Ckitt!


Lagi-lagi Akandra dibuat terkejut dengan ucapan Audrey yang secara tiba-tiba itu. Kedua bola matanya membelalak dengan sempurna. Dia menoleh ke arah Audrey.

__ADS_1


"Katakan sekali lagi!" Akandra membuka seat belt dan membenarkan posisi duduknya agar berhadapan dengan Audrey.


"Sayang!" panggil Audrey sekali lagi dengan nada yang lembut.


"Lagi!"


"Sayang, ini sudah siang. Ayo kita lanjutkan perjalanan," tutur Audrey dengan penuh kelembutan.


Akandra tersenyum bahagia. Dia tidak menjawab ucapan Audrey melainkan segera memakai seat belt dan melajukan mobilnya kembali. Sepanjang perjalanan mereka terdiam tanpa kata hanya tatapan mereka yang asyik memandangi keindahan alam di sepanjang jalan.


Sehingga setelah kurang lebih 27 menit, mereka sampai di salah satu apartemen. Akandra memarkirkan mobilnya di basement. Sesampainya di basement mereka keluar dari mobil dan segera memasuki apartemen.


Untuk sampai di unit yang sudah Akandra beli, mereka harus menaiki elevator terlebih dahulu. Setelah pintu lift terbuka, dengan cepat mereka masuk dan menekan tombol untuk sampai di lantai tersebutlah. Tak membutuhkan waktu lama, kini lift sudah sampai di lantai yang mereka tuju.


Ting!


Pintu lift terbuka, mereka keluar dari lift dan berjalan menuju unit 403. Benar, Audrey tinggal di unit 403. Begitu sampai di pintu unit, Akandra memasukkan password pada sensor yang berada di pintu.


"Loh, Kak ... bukankah itu tanggal lahirku?" tanya Audrey setelah melihat password yang Akandra masukkan.


"Benar, password ini adalah tanggal lahirmu. Ayo, masuk." Akandra mengajak Audrey masuk dengan membawa kopernya.


Audrey mengangguk dan mengikuti langkah Akandra yang masuk. Dia menutup kembali pintunya dan membuka sepatu dan menggantinya dengan sandal yang sudah disiapkan. Kemudian Audrey berjalan menghampiri Akandra yang pergi menuju pantry.


"Kakak sedang apa?" tanya Audrey.


"Tunggulah di ruang tengah, aku akan membuatkanmu sarapan karena kamu belum sempat sarapan."


"Kakak yakin? Apa Kakak tidak cape? Biarkan aku saja yang membuatnya," tawar Audrey.


"Tidak perlu. Aku sangat suka memasak, kamu rapikan barang-barangmu saja sambil menunggu sarapan siap," ujar Akandra.


"Baiklah kalau begitu, aku ke kamar dulu ya, Kak."


"Ya, silakan."


Audrey pun pergi ke kamarnya untuk merapikan pakaiannya. Sementara itu Akandra sibuk membuat sarapan. Sesampainya di kamar, Audrey tidak langsung merapikan pakaiannya. Ia justru merasa takjub dengan isi kamarnya.


"Wah, kamar ini benar-benar sangat indah. Ini membuatku nyaman, aku tidak menyangka jika Kak Akandra sudah mengisi kamar ini dengan barang-batang yang indah. Baik sekali dia." gumam Audrey dengan matanya yang berbinar.


****

__ADS_1


Stay tune :)


__ADS_2