
Seketika Akandra dan Alessa pun menoleh ke arah sumber suara. Kedua bola matanya terbelalak pada saat mendapati Audrey sudah berada di hadapannya. Hal itu membuat Akandra cemas dan langsung mendekati wanita yang tengah berdiri di tengah-tengah pintu.
"Jangan langkahkan kakimu pada janda gadaian ini!" pekik Alessa dengan nada tinggi.
Meski mendengarnya, Akandra tidak mempedulikan ucapannya. Dia justru semakin cepat mendekati Audrey. Sementara itu, Audrey yang melihat itu cukup terharu. Ternyata dugaannya selama ini tentang perasaan Akandra salah besar. Rasa cinta Akandra ternyata lebih besar pada dirinya ketimbang Alessa.
"Kenapa kamu ke mari, Sayang? Bukankah kamu sudah berjanji untuk tetap berada di rumah sakit? Katakan ... dengan siapa kamu pergi? Di mana Affandra?" tanya Akandra sembari mengelus wajah Audrey.
"Maafkan aku, Kak. Aku tidak mungkin diam saja disaat Alessa membuat keributan di rumahmu. Jangan cemas, aku pergi dengan adikmu," jawab Audrey disertai senyuman.
"Ck! Jangan ikut campur kamu, Audrey! Ketahuilah, semua ini terjadi karena dirimu. Selain janda gadaian kamu juga berani wanita tak tahu diri! Berani sekali kamu merebut Akandra dariku!" Alessa berdecih kesal diakhiri dengan bentakan.
Tentu saja hal itu membuat hati Audrey merasa sakit. Dia tidak menyangka jika saudarinya tega mengatakan kalimat seperti itu. Sementara itu, Akandra yang mendengar itu tentu langsung naik pitam. Kedua tangannya mengepal seraya hendak menghampiri Alessa.
Akan tetapi Audrey segera menarik lembut lengan Akandra. Ia tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Tenanglah," tutur Audrey dengan penuh kelembutan.
"Bagaimana aku bisa tenang sementara dia berani mengatakan hal buruk tentangmu? Aku tidak tahan mendengar kalimat itu, Sayang."
Sekali lagi Audrey tersenyum. "Maka tutuplah telingamu, Kak. Biar aku yang bicara dengan saudariku." Audrey perlahan mendekati Alessa.
"Saudari kamu bilang? Aku tidak sudi memiliki saudari murahan sepertimu! Cuih!" bentak Alessa sambil meludah.
__ADS_1
"Semoga Allah SWT mengampuni, Alessa. Tidak masalah jika kamu mengataiku hal buruk, tapi berhati-hatilah dalam berbicara. Sebab bisa saja kalimat yang kamu lontarkan padaku bisa saja menjadi boomerang bagimu. Berhati-hatilah," Audrey memperingati Alessa dengan nada yang lembut nan santun.
"Oh iya? Tapi aku tidak peduli! Yang jelas, aku ingin kamu menyerah! Lepasin Akandra, karena dia masih menjadi milikku. Jika kamu ingin menjadi saudariku maka batalkan pernikahan kalian! Bagaimana?" Alessa tersenyum licik ke arah Akandra.
Deg!
Jantung Audrey terasa berhenti berdetak. Bagaimana bisa dia membatalkan pernikahan yang sudah direncanakan sejak awal? Lagi pula Akandra adalah sosok pria yang baik hati dan ia sangat menyayanginya. Bagaimana mungkin dia melepaskan pria seperti Akandra. Tapi, biar bagaimana pun juga Alessa masih menjadi saudarinya. Dia masih memiliki aliran darah dengannya.
'Apa yang harus aku putuskan sekarang? Aku tidak mungkin memilih salah satu di antara mereka?' batin Audrey bertanya-tanya.
"Audrey, jangan terpengaruh oleh ucapannya! Dengarkan aku ... dia hanya ingin merusak hubungan kita. Dia ingin pernikahan kita batal, jangan dengarkan ucapannya. Dia adalah wanita yang licik, aku sangat mengenalnya." Akandra langsung angkat bicara pada saat melihat kebimbangan di mata Audrey.
Audrey menoleh ke arah Akandra. "Kak, sejujurnya kalian berdua sangat berarti dalam hidupku. Alessa adalah saudariku dan Kakak adalah orang yang paling aku sayangi. Maka dari itu aku tidak bisa memilih salah satu dari kalian." Audrey menatap Akandra dengan tatapan sendu.
Audrey terdiam. Dia mencoba mencerna semua ucapan Akandra. Kemudian Audrey pun menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Bukan tanpa sebab, karena Audrey setuju dengan ucapan Akandra.
"Ck. Jangan harap aku akan luluh! Kamu harus ingat, Audrey! Kamu akan menyesal karena telah mengambil tunanganku! Akan kubuat hidupmu tidak akan pernah tenang. Kamu lihat, apa yang akan aku lakukan padamu!" bentak Alessa dengan mata yang merah pekat akibat amarahnya yang kian memuncak.
"Alessa, aku tidak mengambil Kak Akandra darimu. Bukankah hubungan kalian sudah berakhir lama? Lalu untuk apa kamu masih mengharapkan cinta Kak Akandra? Ikhlaskan saja, Alessa. Kamu harus tahu jika cinta itu tidak harus memiliki dan cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kamu paham itu 'kan," timpal Audrey yang masih dengan nada santun.
"Apa? Ikhlaskan?" Alessa membelalakkan matanya dengan sempurna. "Tidak semudah itu aku mengikhlaskan Akandra, apalagi untuk janda gadaian sepertimu! Apa kamu pikir aku akan rela melepaskan tunanganku untukmu, hah? Sadar diri, kamu itu wanita rendahan! Kamu tidak cocok untuk menggantikan posisiku sebagai istrinya Akandra! Yang berhak menjadi istrinya hanya aku, ALESSA! Paham kamu!" bentak Alessa lagi. Kali ini nada bicaranya lebih tinggi dari yang sebelumnya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kenapa kamu begitu membenciku? Apa salahku sampai kamu menghinaku habis-habisan? Kita ini saudari kembar, Alessa. Kamu harus tahu itu. Tidak bisakah kamu sedikit menghormatiku sebagai saudarimu?" tanya Audrey dengan nada yang lirih.
"Kamu memang pantas untuk dihina seperti ini! Kita memang kembar tapi kita beda kasta. Dan aku tidak sudi memiliki saudari kembar sepertimu! Lebih baik aku mati dari pada harus memiliki saudari sepertimu! Dengarkan aku baik-baik! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menghormatimu. Bahkan aku tidak akan menganggapmu ada. Akan kuberi hadiah yang pantas untukmu hari ini." Alessa hendak melayangkan satu tamparan pada Audrey.
Namun, sebelum tamparan itu mendarat pada Audrey. Akandra dengan cepat Akandra menggantikan posisi Audrey dengan dirinya. Sehingga tamparan tak terhindarkan.
Plakk!
Tamparan keras yang dilayangkan Alessa tepat mendarat di pipi Akandra. Rasa panas dan perih Akandra rasakan namun, ia tidak membalasnya hanya bisa mengepalkan kedua tangan disertai tatapan mata yang merah pekat dan juga wajahnya yang merah padam menandakan jika ia tengah marah.
Sementara itu, karena Audrey tidak suka dengan cara kasarnya Alessa, ia pun menghampiri saudarinya dan menatapnya dengan tatapan yang tajam. "Pergi dari sini, Alessa! Jangan pernah melukai Kak Akandra lagi. Mulai detik ini, jika kamu berani menyakiti calon suamiku maka kamu akan berurusan denganku!" Audrey membentak Alessa untuk yang pertama kalinya.
"Berani kamu mengusirku, hah! Belum dinikahi saja sudah belagu. Biar kuberi pelajaran kamu." Alessa menjambak rambut Audrey dengan keras sampai Audrey meringis kesakitan.
Audrey pun membalas jambakan Alessa dengan jambakan juga, sehingga mereka saling jambakkan. Tentu saja Akandra yang melihat itu tidak tinggal diam. Dia langsung melerai keduanya. Kini dia berada di antara tengah-tengah Alessa dan juga Audrey. Tak lama kemudian datang Affandra dan juga Pak Arman.
Mereka turut memisahkan saudari kembar yang tengah bertengkar itu. Akandra saat ini menjadi korban atas pertengkaran yang terjadi ini. Suasana semakin tidak kondusif membuat Akandra langsung naik pitam.
"CUKUP!" teriak Akandra dengan wajah marahnya yang begitu mengerikan.
Seketika semua orang langsung terdiam. Begitupun dengan Alessa dan Audrey. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani angkat bicara. Jangankan bicara untuk sekedar menatap Akandra saja tidak berani.
__ADS_1
****
Stay tune :)