
"Apa yang kau mimpikan tentang Alessa? Apa dia mengatakan sesuatu padamu, Sayang?" tanya Akandra seraya menaruh kembali sendok yang berisi bubur tersebut.
"Iya, Kak. Alessa mengatakan sesuatu padaku," jawab Audrey.
"Apa itu?" Akandra bertanya disertai wajah yang menunjukkan rasa penasarannya.
"Alessa bilang kalau keputusanku tidaklah salah--"
"Keputusanmu yang mana?" Akandra memotong pembicaraan Audrey.
"Astaga, Kakak. Dengarkan aku dulu. Aku belum selesai bicara ini." Audrey menepuk jidatnya sendiri melihat Akandra yang tidak sabar itu.
"Hehe, maaf. Aku sangat penasaran dengan mimpimu itu. Silakan dilanjut, Sayang," Akandra terkekeh karena dirinya sendiri.
"Sebelumnya aku sudah memutuskan untuk menerima lamaranmu, Kak. Akan tetapi aku sempat dibuat ragu lagi karena rahasia kematiannya saudariku. Bagaimana tidak, aku akan menikah dengan pria yang menghabisi nyawa saudariku sendiri. Aku benar-benar gelisah. Hatiku tidak tenang. Aku tidak tahu harus membuat keputusan seperti itu. Dan malam harinya aku bermimpi dengan Alessa. Intinya dia bilang kalau keputusanku tidak salah karena Kakak bukan penyebab dari kematiannya. Melainkan Dia bilang kalau dia meninggal karena kesalahannya sendiri. Dia memintaku untuk menemuimu dan Kakak tahu, apa yang Alessa katakan untuk yang terakhir kalinya?" Audrey menjelaskan secara singkat perihal mimpinya itu.
"Apa yang dia katakan?" tanya Akandra.
"Dia mengatakan kalau dia sudah merestui hubungan kita. Alessa ingin kita hidup bahagia, akan tetapi aku takut, Kak." Kini ekspresi Audrey berubah menjadi sendu.
"Loh, kenapa? Harusnya kamu senang dong dapat restu dari saudarimu. Kenapa malah takut? Apa yang kamu takutkan, Sayang?" Akandra menangkup kedua pipi Audrey disertai tatapan yang begitu lembut.
"Aku takut keluarga Kakak tidak akan merestuiku. Secara aku ini adalah seorang jand--"
"Sstt!" Dengan cepat Akandra menempelkan jari telunjuknya di bibir Audrey sebelum perkataan Audrey selesai.
"Tidak peduli apa statusmu. Semua itu tidaklah penting. Ketahuilah wahai calon istriku, aku menikahimu karena Allah SWT. Aku menyayangimu dengan tulus. Aku mencintaimu lebih besar dari diriku sendiri. Maka dari itu, buang rasa takut di hatimu dan genggam erat tanganku. Ayo, kita berjuang mencari ridho Allah SWT. Kita jalani hidup sebagai pasangan yang murni karena cinta. Percayalah, cinta tidak selamanya menyakitkan. Aku berjanji, selama kamu berada bersamaku ... aku akan menjadi perisaimu. Aku akan menjadi imammu, aku akan menjadi seseorang yang unggul dalam segala hal. Akan kubuat kamu selalu jatuh cinta padaku setiap saat. Itulah janjiku padamu, Audrey." Akandra menatap Audrey begitu teduh dengan kedua matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
Seketika Audrey langsung menangis usai mendengar semua perkataan Akandra. Bagaimana tidak, Akandra terlihat jujur dalam mengatakannya. Sungguh, kedua bola matanya menunjukkan rasa cinta yang tulus dan juga kasih sayang yang begitu besar terhadapnya. Kini hatinya kembali terketuk.
Pintu hati Audrey terbuka lebar untuk pria yang bernama Akandra Xaquille. Perasaan yang sempat dilanda keraguan kini keyakinan itu sudah kembali. Rasa cinta yang awalnya baru 50%, kini sudah mencapai 97%. Itu artinya Audrey sudah semakin yakin untuk menjadikan Akandra sebagai suaminya. Ia sangat yakin jika lambat laun, cinta akan semakin besar terhadap Akandra, begitu pun sebaliknya.
"Kenapa menangis? Apa perkataanku telah menyinggungmu, Sayang?" tanya Akandra dengan penuh kelembutan.
Audrey menggelengkan kepala. "Tidak, Kak. Aku menangis karena aku terharu. Aku belum pernah mendengar kalimat seindah ini. Sungguh, aku semakin jatuh cinta padamu. Aku semakin yakin jika Kakak adalah sosok suami yang aku harapkan selama ini." Audrey menyeka air matanya.
"Apa ini artinya kamu sudah--"
"Benar. Aku sudah memaafkanmu," sela Audrey dengan menunjukkan sedikit senyuman.
Akandra yang mendengar itu langsung merengkuh Audrey ke dalam pelukannya. Air matanya pun menetes saking bahagianya. Kebahagiaan yang ia rasakan kini tidak bisa digambarkan dan tidak bisa diceritakan.
"MashaAllah, sungguh baik sekali hatimu, Audrey. Tidak salah aku telah memperjuangkanmu selama ini. Sungguh, sangat disayangkan wanita mulia sepertimu disia-siakan seperti itu oleh Devan. Suatu saat dia akan menyesali semuanya," ujar Akandra dengan tangan yang masih memeluk tubuh Audrey.
"Lupakan yang sudah terjadi. Lihatlah ke depan dan jangan pernah menengok ke belakang lagi. Aku sudah ikhlas dengn takdirku ini. Aku sudah memaafkan Devan. Begitu pun dengan Kakak, Kakak harus bisa memaafkan Devan. Lupakan semuanya agar hati Kakak tidak merasa kecewa lagi." Audrey melepaskan pelukannya dan menunjukkan senyumannya yang begitu menyejukkan hati.
"Oh iya, Kak ... jika Kakak mengizinkan, hari ini aku akan melamar pekerjaan di salah satu pabrik tak jauh dari sini. Apakah boleh?" tanya Audrey dengan tatapan yang serius.
"Kenapa harus bekerja, Sayang? Selama ada aku, semua kebutuhanmu akan terpenuhi. Kamu duduk diam di apartemen, kalau kamu merasa bete kamu bisa pergi jalan-jalan dan belanja barang-barang yang kamu sukai. Dan peganglah ini, kamu bisa membeli apa pun yang kamu mau." Akandra membuka dompetnya dan memberikan salah satu ATM pribadinya pada Audrey.
"Tidak, Kak. Ini terlalu berlebihan. Ingatlah, status kita belum menikah," timpal Audrey.
"Aku tahu itu. Makanya aku tidak mengizinkanmu bekerja di luaran sana."
"Tapi, kenapa?" Audrey mengerutkan keningnya karena bingung.
__ADS_1
"Karena aku tidak ingin orang lain datang mengganggumu. Bagaimana jika orang itu menguntitmu sampai ke apartemen? Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Sebentar lagi masa iddahmu akan segera selesai dan pernikahan kita akan dilangsungkan maka dari itu aku harus menjagamu dengan baik. Jika kamu bersikukuh ingin bekerja, bagaimanapun jika aku berikan modal saja untuk kamu jalankan bisnis kecil-kecilan?" Akandra menawarkan diri untuk sang kekasih.
"MashaAllah, baik sekali. Apakah itu boleh?"
"Ya, tentu saja. Katakan, usaha apa yang ingin kamu jalankan sekarang?"
"Aku ingin membuka konveksi, aku ingin memproduksi pakaian muslim mulai dari khimar, gamis, dll."
"Itu bagus. Aku akan memberikanmu modal sebanyak yang kamu inginkan. Akan kuhubungi Affandra agar dia menemanimu untuk membeli alat-alat jahit dan juga bahannya. Sebelumnya, apa kamu pernah membuat pakaian? Kamu bisa menggunakan peralatan jahitnya?"
"Iya, Kak. Aku bisa, sebelumnya aku pernah bekerja di salah satu pabrik garment."
"Baiklah, kalau begitu belilah semua bahan dan alat-alat yang kamu inginkan. Jika perlu sesuatu, hubungi aku. Dan ini ponselmu sekarang, nomorku ada di ponsel ini. Hubungi aku kapanpun kamu mau." Akandra mengeluarkan ponsel dari saku jas dan memberikannya pada Audrey.
Audrey menerima ponselnya. "Baik, Kak. Aku akan menghubungimu."
"Bagus. Aku pamit sekarang ya, Affandra akan datang ke apartemenmu. Maka sanbutlah dia seperti adikmu sendiri tapi ingat ... kamu jangan menaruh hati pada adikku itu," goda Akandra dengan sedikit terkekeh.
"Astagfirullah, mana mungkin aku menyukai adikmu sendiri, Kak. Kakak itu pria yang terbaik dari yang terbaik. Aku sudah sangat beruntung memilikimu," timpal Audrey.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Aku hanya bercanda, Sayang. Aku percaya penuh padamu, aku berangkat ya, assalamu'alaikum," Akandra mengucapkan salam seraya berjalan menuju pintu.
"Wa'alaikumsalam," jawab Audrey dengan mengantar Akandra menuju pintu.
Sesampainya di pintu, Akandra lubang membuka pintunya. Alangkah terkejutnya mereka berdua pada saat mendapatkan Daniel sudah terbaring di luar unitnya. Terlihat jelas ada luka memar di wajahnya.
"Daniel! Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu?" Akandra mendekati tubuh Daniel yang terbaring tak sadarkan diri.
__ADS_1
****
Stay tune :)