Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 44 > Saudariku Atau Cintaku?


__ADS_3

Akandra kaget sekaget-kagetnya. Kedua matanya membola dengan sempurna seakan-akan hendak melompat saat itu juga dari tempatnya. Bagaimana tidak, Audrey menunjukkan barang yang sudah lama musnah. Musnah dalam artian, kalung itu sudah tiada bersamaan dengan pupusnya perasaan yang ia miliki terhadap Alessa. Ia sudah mengira kalau kalung tersebut sudah hilang bersama kematiannya Alessa.


"Bb-bagaimana mungkin kalung ini kembali lagi? Bukankah kalung ini sudah lama hilang sejak kematiannya Alessa? Dari mana kamu mendapatkannya, Audrey?" tanya Audrey dengan suara yang gelagapan karena terkejut.


"Jadi benar, ini milikmu? Apa Kakak yakin? Coba diperiksa terlebih dahulu barang kali ini hanya serupa saja," pancing Audrey.


Audrey ingin melihat Akandra mengambil kalung itu dan membuka liontin love tersebut. Dengan begitu, ia akan tahu bagaimana reaksi Akandra setelah melihat fotonya dulu bersama Alessa. Jangan katakan Audrey santai-santai saja, sejujurnya dia sangat gelisah dan takut. Ia takut jika Akndra masih menyimpan rasa pada mendiang saudarinya.


Mendengar hal itu, Akandra perlahan-lahan mengambil klung tersebut dan membuka liontin love itu. Dan benar dan dengan dugaannya, jika kalung yang sedang ia periksa memang kalungnya. Kalung yang ia belikan khusus di acara anniversary hubungannya dengan Alessa.


"Benar, Audrey. Ini memang kalungku. Lebih tepatnya ini adalah kalung yang sempat aku berikan pada saudarimu disaat acara anniversary kita. Tapi, aku tidak mengerti ... bagaimana bisa kalung ini bisa berada padamu. Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Akandra dengan wajah yang super kebingungan.


"Kakak yakin tidak lagi menyimpan rasa pada mendiang Alessa? Kalung ini bukan Kakak yang simpan yang secara tidak sengaja terjatuh, 'kan?" tebak Audrey dengan hati yang masih sedikit kecewa.


"Demi Allah, aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun padanya! Sungguh, aku tidak tahu bagaimana bisa kalung yang sudah lama hilang ini bisa kembali muncul dan anehnya, kenapa kalung itu bisa berada di tanganmu? Dari mana kamu bisa mendapatkan kalung itu? Apa seseorang memberikannya padamu?"


"Tidak. Aku tidak sengaja menemukannya di depan unitku. Aku pikir kalung ini milikmu yang tidak sengaja terjatuh pada saat membantu Kak Daniel."


"Tapi, bagaimana bisa kalung itu muncul? Demi Allah, Audrey ... percayalah, kalung itu sudah lama hilang. Jika kamu masih tidak percaya, ayo kita ke rumah sakit dan tanyakan pada Daniel setelah dia siuman, bagaimana?" saran Akandra dengan menatap Audrey begitu lekat.


"Baiklah, aku setuju. Ayo kita tanyakan padanya."


Akandra pun segera melajukan mobilnya kembali setelah mendengar jawaban Audrey. Tentunya sebelum itu, mereka memakai seat belt terlebih dahulu. Selama di perjalanan, mereka terdiam satu sama lain. Tidak ada obrolan sepatah kata pun.


****


Kamar rawat ...


Affandra duduk di sebelah ranjang seraya memperhatikan Daniel yang masih terbaring tak sadarkan diri. Dia tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang pria kekar, kuat dan sedikit bengis ini bisa jatuh pingsan karena pukulan kecil seperti ini. Siapa yang telah menyerangnya? Pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan di benaknya.


Pada saat pikirannya sedang berkecambuk memikirkan pelaku penyerangan Daniel, tiba-tiba pintu terbuka. Terlihat dua orang memasuki kamar rawat. Yang satu perempuan dan satu lagi laki-laki. Benar, mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Akandra dan calon istrinya, Audrey.


"Kalian baru datang, dari mana saja?" tanya Affandra setelah Akandra dan Audrey berada di hadapannya.


"Sorry, Fan. Bagaimana kondisi Daniel?" tanya Akandra to the point.


"Seperti yang Kakak lihat. Dia belum sadarkan diri. Tapi, jangan cemas. Dokter bilang ini hanya luka kecil dan tidak ada luka serius. Maka dari itu, Daniel akan segera siuman. Tapi, sadarkah Kakak jika ada yang ganjil dalam penyerangan ini terhadap orang kepercayaanmu?" Affandra beranjak dari duduknya dan menatap penuh teka-teki sang kakak.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Selama ini Daniel tidak pernah kek gini. Bagaimana bisa dia pingsan padahal dia hanya mendapatkan luka kecil seperti ini. Pria sekuat Daniel bisa jatuh pingsan hanya serangan seperti ini? Bukankah ini sangat tidak masuk akal?" jelas Affandra dengan segala kebingungan.


Sejenak Akandra terdiam beberapa saat. Dia mengamati tubuh Daniel yang masih terbaring lemas di ranjang tak sadarkan diri. Audrey dan Affandra pun saling menatap satu sama lain. Kemudian tatapan mereka beralih ke arah Akandra yang masih mengamati tubuh Daniel.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan penyerangan Daniel. Audrey kamu tetap di sini bersama adikku. Fan, aku titip Audrey ya, jangan biarkan dia pergi ke mana pun!" Akandra bergegas keluar dari ruang rawat.


"Tunggu dulu! Kakak mau pergi ke mana?" tanya Audrey yang seketika membuat Akandra menghentikan langkahnya.


Akandra berbalik badan. "Aku akan memeriksa sesuatu. Dengarkan aku Audrey ... patuhi perkataanku, tetap berada di samping adikku karena Fandra akan menjagamu dengan sangat baik. Benar begitu, Fan?" Akandra menyorotkan tatapannya yng cukup tajam pada adiknya.


"Kakakku benar, Kak Audrey. Aku akan menjagamu, percayalah pada calon suamimu. Dia pergi untuk memeriksa sesuatu. Semua ini pasti ada hubungannya dengan hidup kakakku. Mengertilah,"


Mau tidak mau Audrey pun meng-iyakan perkataan Affandra. "Baiklah, Kakak hati-hati. Aku janji, aku tidak akan pernah meninggalkan tempat ini." Audrey tersenyum tipis.


"Bagus. Aku pergi ya, jaga dirimu baik-baik." Akandra mengelus lembut kepala Audrey sebelum ia pergi.


Setelah melihat kepergian Akandra, Audrey pun berjalan menghampiri Daniel. Ia duduk di sebuah kursi yang berada tepat di ranjangnya. "Kakak," panggil Affandra dengan sedikit ragu-ragu.


"Tidak, tidak. Jangan memanggilku Kakak. Sebentar lagi aku ini akan menjadi adikmu. Panggil saja aku Fandra, sama seperti Kakakku memanggilku," ujar Affandra.


"Baiklah, Fandra. Katakan, ada apa?" Audrey beranjak dari duduknya.


Pada saat ia hendak berjalan menghampiri Affandra tiba-tiba tangan kekar Daniel memegang erat tangan Audrey. Sontak Audrey pun terkejut dan menatap Affandra. "Fan, tanganku." Audrey memberi kode pada Affandra untuk melihat tangannya.


Memahami arti tatapan Audrey, Affandra langsung menatap ke arah tangan Audrey yang saat ini tengah dipegang oleh Daniel. Begitu pun dengan Audrey, dia segera membalikkan badannya dan melihat keadaan Daniel. Benar saja, pada saat dia melihat Daniel, rupanya pria yang sedari tadi tak sadarkan diri kini sudah mulai sadar.


"Dd-dia masih hidup!" ucap Daniel dengan gelagapan. Dengan wajah pucat pasi.


"Dia? Dia siapa?" tanya Audrey sambil mengerutkan keningnya.


"Saudarimu!" tegas Daniel.


Deg!


Seketika jantungnya terasa berhenti berdetak. Antara percaya dan tidak percaya mendengar perkataan Daniel. Audrey terdiam mematung, ia mencerna perkataan yang keluar dari bibir Daniel.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin, Daniel! Kak Alessa sudah lama tiada. Bagaimana bisa dia bisa kembali hidup. Rasanya itu sangat mustahil. Sudahlah, kamu ini baru saja siuman. Ini efek dari obat, makanya kamu halu seperti ini setelah melihat wajah Kak Audrey yang mirip dengan Kak Alessa. Berhenti membuat kekonyolan!" tegas Affandra dengan ketidakpercayaannya.


"Saya serius! Saya melihatnya dengan sangat jelas. Sebelum saya jatuh pingsan, saya sempat dipukuli oleh dua bodyguardnya. Sampai saya pingsan, saya tidak melawannya. Saya masih tidak percaya dengan apa yang saya lihat di unit. Akan tetapi, semua yang saya lihat itu benar adanya," jelas Daniel dengan jujur dan penuh keyakinan.


"Kalau begitu aku percaya padamu, Kak Daniel," sahut Audrey.


Seketika kedua bola mata Affandra terbelalak dengan sempurna. Bagaimana tidak, Audrey justru mempercayai ucapannya sebelum melihat kebenaran yang sebenarnya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Kak Audrey. Bagaimana bisa Kakak percaya dengan perkataan Daniel, sedangkan Kakak sendiri belum mengetahui kebenarannya," protes Affandra.


"Fan, sebelum Kak Daniel mengatakan semua ini. Aku sudah mendapatkan petunjuk jika saudariku masih hidup." Audrey menatap Affandra dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kakak yakin? Apa petunjuknya?" tanya Affandra.


Audrey mengeluarkan sebuah kalung liontin love. Kemudian dia memberikan kalung tersebut pada Affandra. "Kamu pasti mengenali kalung ini. Kamu pasti tahu siapa pemilik kalung ini."


Benar saja, setelah melihat kalung tersebut Affandra langsung menyambar kalung tersebut serta memastikannya dengan membuka liontin love. Alangkah terkejutnya ia, pada saat mendapati sebuah foto Kakaknya dan juga Kak Alesa yang terpajang di dalam liontin tersebut. Dia benar-benar bingung dengan apa yang dia lihat sekarang. Bagaimana bisa, kalung yang sudah lama hilang bersama kematiannya Alessa bisa kembali muncul secara tiba-tiba.


"Bukankah sudah kukatakan bahwa saya benar-benar melihatnya. Kenapa Tuan tidak percaya padaku?" timpal Daniel.


"Baiklah, sekarang katakan padaku, seperti apa Alessa sekarang? Apa wajahnya masih sama dengan Kak Audrey? Ceritakan sedetail mungkin! Karena jika ada yang terlewat maka ini sangat berpengaruh untuk Kak Audrey," ujar Affandra.


"Wajahnya masih sama seperti dulu. Hanya saja dia memiliki sebuah bekas luka di lengan kirinya. Kita bisa membedakannya dari bekas luka tersebut, Tuan."


"Tidak! Itu tidak akan berhasil. Asal kamu tahu, bekas luka itu bisa disembunyikan menggunakan make up. Saya pernah melakukan itu sebelumnya."


"Jika seperti itu, hanya Tuan Akandra lah yang akan bisa membedakan Audrey dan Alessa."


"Bagaimana jika aku menemui Alessa? Aku akan tanya tujuan dia datang kembali apa, jika dia tidak rela Kak Akandra bersamaku maka aku akan merelakannya untuk Alessa. Aku tidak ingin merusak hubungan keduanya," ucap Audrey dengan menyembunyikan kesedihannya.


"Konyol! Tak akan kubiarkan Kakak mundur seperti ini. Ketahuilah, Kakakku sangat menyayangimu. Selama ini dia sudah memperjuangkanmu dan Kakak tahu? Dia sudah memperkenalkanmu pada Kakek. Tolong, jangan sakiti Kakakku dengan mundur. Jika dibandingkan dengan Alessa, Kakak jauh lebih baik darinya. Maka dari itu, Aku lebih merestui hubungan Kakakku dengan Kak Audrey. Aku mohon, Kak. Jangan patahkan hati Kakakku," tutur Affandra dengan sedikit membujuk Audrey.


"Sungguh, ini sangat sulit. Di satu sisi Alessa adalah adikku. Tapi, di sisi lain aku sangat mencintai Kak Akandra. Aku harus memperjuangkan atau merelakan cintaku? Jika kamu berada di posisiku, siapa yang akan kamu pilih? Saudaramu atau cintamu?" Audrey meneteskan air mata sembari menatap Affandra.


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2