
Brakk!
Devanka menutup pintu dengan dibanting. Raut wajahnya menunjukkan jika dirinya sedang kesal. Dia menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Tangan kanannya menyambar teko yang berisi air putih. Kemudian menuangkannya ke gelas kosong. Dengan cepat dia meneguk segelas air tersebut dalam sekali tegukan.
Selesai minum, dia kembali menaruh gelas itu di meja. Devanka menyandarkan kepalanya di sofa sembari menutup mata. Baru saja dia memejamkan matanya beberapa saat tiba-tiba ponselnya berdering.
Dengan cepat tangan kanannya menyambar ponsel yang berada di meja tepatnya sebelah gelas. Begitu ponsel berada di genggamannya, dia mengernyitkan kedua alisnya sembari menatap keheranan ke arah layar ponselnya. Bagaimana tidak, orang yang meneleponnya tidak lain dan tidak bukan adalah Alessa.
Yang membuat Devanka heran adalah, bagaimana bisa orang yang sudah mati bisa hidup kembali. Meski dia keheranan, tetap saja pria itu menjawab teleponnya. Untuk memastikan benar tidaknya, Devanka tidak bicara sebelum orang yang menghubungi dirinya bicara lebih dulu.
Telepon terhubung!
"Hallo," terdengar suara wanita dari seberang telepon.
"Hallo,"
"Kamu pasti sudah mengenaliku dari nomor dan suaraku jadi aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi padamu. Langsung saja ke intinya, aku menghubungimu karena ingin menawarkan kerja sama denganmu," jelas wanita yang bernama Alessa.
"Kerja sama?" Devanka kebingungan dengan tawaran Alessa.
"Ya, kerja sama. Jika kamu setuju, besok kita bertemu di cafe, bagaimana?"
Sejenak Devanka terdiam beberapa saat. Setelah dipikirkan baik-baik dan berhubung tabungannya sudah menipis dia pun bersedia bekerja sama dengan Alessa tanpa tahu kerja sama apa yang Alessa maksud.
"Baiklah, kita bertemu di cafe besok."
"Sampai jumpa. Tutt!" Alessa memutuskan obrolannya.
Telepon terputus!
****
Drrtt! Drrtt!
Suara dering ponsel membuat Audrey terbangun dari tidurnya. Ia meraba-raba meja nakas untuk mengambil ponselnya. Dengan matanya yang masih lengket, ia melihat ke layar ponsel.
Alangkah terkejutnya ia pada saat melihat nama yang terpampang jelas di layar ponsel. Kedua matanya terbelelak dengan sempurna. Bagaimana tidak, orang yang menghubunginya tidak lain dan tidak bukan adalah Devanka, mantan suaminya.
__ADS_1
Audrey bangun dan duduk di tepi ranjang. Kemudian, dia pun menjawab teleponnya. Ia menempelkan ponsel di telinga kanan. Sambil menunggu suara di telepon terdengar, Audrey memutuskan untuk keluar dari kamar dan pergi ke pantry.
Telepon terhubung!
"Halo, Audrey. Untunglah kamu masih mau menjawab teleponku," terdengar suara Devanka dengan napas yang lega dari seberang telepon.
Audrey hanya memutar bola matanya malas. "Ada apa? Kenapa menghubungiku?" tanya Audrey tanpa banyak basa-basi. Ia membuka kulkas dan mengambil minuman dingin.
"Aku merindukanmu, Audrey."
Uhuk! Uhuk!
Audrey yang sedang menikmati minuman segar itu seketika langsung tersedak begitu mendengar ucapan dari mantan suaminya. Dia menaruh ponselnya di meja pantry dan segera minum air putih. Ketika Audrey sedang meneguk minumannya, tiba-tiba tangan kekar seseorang melingkar di perutnya.
Audrey berbalik badan dan melihat orang tersebut. Kemudian dia tersenyum manis saat melihat wajah tampannya pria yang sangat ia cintai. Pria yang tengah memeluk Audrey dari belakang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Akandra Xaquille.
"Sedang apa di sini?" tanya Akandra dengan tangan yang masih melingkar di pinggang ramping Audrey.
Audrey mendekatkan bibirnya di telinga Akandra dan berbisik. "Dia menghubungi," bisik Audrey.
Seketika bola mata Akandra langsung terbelalak mendengar hal yang tidak dia sukai. Ia tahu siapa yang Audrey maksud itu. Tanpa banyak bicara, Akandra melepaskan pelukannya dan menyambar ponsel yang berada di atas meja pantry.
"Kuberi tahu kamu sekali lagi, Devanka! Jangan berani-beraninya menghubungi calon istriku! Jika sampai kamu mengulanginya lagi, maka aku akan membuat perhitungan denganmu! Tutt!" Akandra mengancam Devanka seraya mengakhiri panggilannya.
Telepon terputus!
"Ohoo, calon suamiku ini tegas sekali. Sungguh ... aku semakin mengagumimu," ucap Audrey dengan penuh kejujuran.
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Lagi pula untuk apa mantan suamimu menghubungimu lagi? Apa yang dia katakan?" tanya Akandra dengan wajah yang sedikit cemburu.
"Ekhem. Jangan bilang kalau Kakak cemburu?" tebak Audrey dengan menaik-turunkan alisnya.
"Ya. Aku cemburu padanya. Memangnya kenapa jika aku cemburu?" skak Akandra dengan menarik pinggang ramping ke dalam dekapannya.
Deg!
Jantung Audrey langsung berdegup kencang disaat kedua telinganya mendengar kalimat tersebut. Ia mulai salah tingkah ketika melihat tatapan Akandra yang tidak biasa itu. Wajahnya mulai bereaksi dengan berubah menjadi merona bak kepiting rebus.
"Hehe, tidak apa-apa sih. Aku suka lihat Kakak cemburu kek gini," jawab Audrey cengengesan.
__ADS_1
"Apa? Kamu suka liat aku cemburu? Kamu sengaja bikin aku cemburu, Audrey?"
"Tidak, bukan begitu maksudku. Aku hanya merasa senang saja. Bukankah cemburu itu tanda sayang dan cinta?"
Akandra terdiam, dia tidak menggubris ucapan Audrey. Dia melepaskan pelukannya dan berjalan menuju ruang tengah. Sementara itu, Audrey sudah paham jika Akandra sedang merajuk. Dengan itu, ia segera menyusul calon suaminya ke ruang tengah.
Sesampainya di sana, dia langsung melongo melihat Akandra yang sedang membuka beberapa makanan. 'Malam-malam begini dia memesan makanan?' Audrey bertanya dalam batinnya.
Audrey menghentikan langkahnya tepat di depan Akandra. "Kakak memesan makanan?" tanya Audrey dengan mata yang tertuju ke arah makanan.
"Heumm," jawab Akandra tanpa ekspresi dan sesingkat mungkin.
"Sebanyak ini?" tanya Audrey lagi.
Untuk pertanyaan kedua, Akandra tidak menjawabnya. Ia justru asyik memotret makanan tersenyum tanpa mempedulikan keberadaan Audrey. Melihat hal itu, Audrey pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Dia tidak ingin mengganggu calon suaminya.
"Jika dia merajuk seperti ini, untuk apa masih di apartemenku? Menyebalkan!" umpat Audrey pelan seraya melangkahkan kakinya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Akandra yang sejak tadi bungkam.
Langkah Audrey terhenti. "Tanyakan saja pada makanan-makananmu itu," jawab Audrey dengan ketus.
Akandra langsung tertawa sembari beranjak dari duduknya. Dia berjalan ke arah Audrey. Kemudian dia membalikkan badan calon istrinya dan menatapnya dengan tatapan yang lekat.
"Kamu ini, menggemaskan sekali." Akandra mencubit hidung Audrey.
"Haah?" Audrey keheranan dengan tingkah Akandra yang benar-benar aneh dan tidak seperti biasanya.
"Temani aku makan." Akandra menarik tangan Audrey dan membawanya ke sofa.
"Duduk!" Akandra mendudukkan Audrey.
Setelah itu Akandra duduk di sebelah Audrey. Ia mengambil sepotong pizza dan menyuapi Audrey. "Buka mulutmu," ucap Akandra dengan pizza yang sudah berada di depan mulutnya.
Audrey yang masih keheranan itu pun hanya bisa menuruti perkataannya. Ia membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari tangan sang kekasih. "Kak, apa kamu baik-baik saja? Apa kamu sakit?" tanya Audrey dengan mulut penuh. Kemudian dia menempelkan telapak tangan di jidat Akandra.
"Aku baik-baik saja. Sudah jangan banyak bertanya, makan yang banyak. Oh iya satu lagi ... jika mulut penuh jangan bicara nanti tersedak,"
'Aneh ... benar-benar aneh,' batin Audrey berbicara.
__ADS_1
****
Stay tune :)