Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 29 > Apa Isi Amplop Itu?


__ADS_3

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kini malam yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Bi Lina masih berada di kamar Audrey untuk membantunya bersiap-siap.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara pintu diketuk sebanyak tiga kali. Audrey yang saat ini tengah duduk di depan meja rias pun hendak berdiri. Namun, Bi Lina menahannya.


"Nona duduklah, biar Bibi yang bukakan pintunya," ucap Bi Lina seraya memegang kedua bahu Audrey.


Audrey menanggapinya dengan senyuman serta anggukan kecil. Kemudian Bi Lina berjalan menuju pintu dan segera membukanya. Pada saat pintu dibuka, dia melihat salah satu pelayan sedang berdiri.


"Ada apa? Apa Tuan Akandra sudah kembali?" tanya Bi Lina.


"Iya, Bi. Tuan Akandra beserta Tuan Affandra dan juga suami Nona Audrey sudah datang. Tuan Akandra menyuruhku untuk membawa Nona Audrey ke ruang utama. Apakah Nona Audrey sudah siap?" jelas sang pelayan disertai pertanyaan lagi.


"Tentu saja, Nona Audrey sudah siap. Kamu tunggu di sini. Biar Bibi yang beri tahu Nona Audrey dulu." Bi Lina kembali masuk kamar untuk memberi tahu wanita gadaian itu.


"Siapa yang datang, Bi?" tanya Audrey setelah melihat Bi Lina berjalan ke arahnya.


"Seorang pelayan, Tuan Akandra menyuruhnya untuk membawa Non ke ruang utama. Suami Non sudah tiba, mari." Bi Lina mengajak Audrey ke luar.


"Bi, aku benar-benar takut. Apakah semua akan baik-baik saja?" Audrey menatap Bi Lina dengan mata yang dipenuhi kegelisahan.


"Ya, tentu saja. Semua akan baik-baik saja, percayalah jika Tuan Akandra tidak akan membiarkan Nona pergi. Bibi yakin itu, ayo." Bi Lina mengulurkan tangannya pada wanita yang tengah duduk itu.


Audrey mengangguk dan beranjak dari duduknya. Dia memegang erat tangan Bi Lina. Wanita ini sangat gelisah, bagaimana tidak ... ia harus memutuskan sesuatu yang benar-benar sulit untuknya. Di satu sisi dia sudah jatuh hati pada Tuan Akandra, tapi di sisi lain dia tidak ingin pernikahannya gagal dan menjadi seorang janda.


Dengan langkah kakinya yang berat, Audrey terus memikirkan tentang keputusannya. Ia ditemani Bi Lina dan satu orang pelayan lagi. Sesampainya di ruang utama, dia melihat jelas jika suaminya sedang duduk bersama Akandra dan juga adiknya, Affandra.


Sementara itu, ketiga pria yang tengah duduk tegap seketika pandangan mereka tertuju pada Audrey yang baru saja sampai dan berdiri di depan mereka. Penampilan Audrey benar-benar berbeda dari biasanya, malam ini dia terlihat seperti seorang wanita yang berkelas dan juga elegant. Kedua pelayan yang mengantarkan Audrey segera undur diri. Sedangkan Audrey, dia masih mematung tanpa berani menatap ketiga pria itu.

__ADS_1


Akandra beranjak dari duduknya dan berjalan menuju Audrey. "Mau berapa lama kamu berdiri di sini? Ayo," ajak Akandra sembari menggenggam tangan Audrey di depan suaminya, Devanka.


Tanpa mengatakan apa pun, Audrey mengikuti langkah pemilik rumah dan duduk di sebelahnya. Melihat itu, Devanka hanya tersenyum licik. Alih-alih cemburu, dia justru merasa senang melihat Istrinya sudah berhasil memikat seorang Akandra. Seorang pria yang sangat sulit untuk ditaklukkan.


'Bagus, Audrey! Kamu sudah berhasil menaklukkan singa! Dengan begini, dia akan memberiku banyak uang,' ucap Devanka dalam batinnya. Dia bersorak dalam hatinya.


Akandra mendekatkan bibirnya ke telinga Audrey dan membisikkan sesuatu. "Lihatlah ekspresi suamimu! Dia sama sekali tidak merasa cemburu aku memegang tanganmu. Kamu pasti paham maksudku." Akandra menatap ke arah Devanka.


'Benarkah dia cemburu melihatku bersama Kak Akandra? Jika benar begitu, itu tandanya dia sudah tidak mencintaiku lagi. Apa ini sebuah petunjuk untukku jika hubunganku dengan Devanka harus berakhir? Akankah aku kuat menjalani hidup sebagai seorang janda?' Audrey bertanya-tanya pada dirinya sendiri dalam monolognya.


Tatapannya sayu, dia menatap ke arah suaminya. "Audrey, kamu sangat cantik malam ini," puji Devanka sembari menatap nakal ke arah Audrey.


Berbanding terbalik, Akandra yang melihat tatapan nakal Devanka pada Audrey membuatnya kesal. Salah satu tangannya mengepal dengan sorotan matanya yang tajam. Entah kenapa, dia tidak suka jika Audrey dipuji oleh pria manapun termasuk itu suaminya sendiri. Jangankan cuma dipuji, ditatap nakal saja dia sudah membuatnya naik pitam.


"Langsung saja ke intinya! Jangan bertele-tele!" tegas Akandra dengan nada yang ketus.


Sama halnya dengan Audrey, Affandra pun memiliki pertanyaan yang sama. Dia heran kenapa kakaknya sendiri yang harus cemburu bukan Devanka? Bukankah yang suaminya Audrey itu Devanka? '


Segitu cintanya Kak Akandra pada Audrey sampai dia cemburu pada Devanka?' Affandra bertanya-tanya dalam batinnya.


"Baiklah, saya akan mengutarakan maksud saya datang ke mari. Seperti yang Tuan tahu kalau tujuan saya untuk mengambil Audrey karena masa gadaiannya sudah habis. Namun, saya ingin sedikit bernegosiasi dengan Tuan untuk memperpanjang masa gadaiannya," jelas Devanka.


Akandra yang mendengar itu tersenyum licik. Dia sudah menduga kalau Devanka akan mengatakan hal itu. Ia tahu seperti apa suami Audrey. Kemudian Akandra melirik ke arah Audrey yang terlihat sedang bingung.


"Kita lihat dan dengar, apa yang akan suamimu ucapkan," bisik Akandra pada telinga Audrey.


Pandangan Audrey teralihkan, ia yang awalnya menatap Devanka sekarang beralih jadi menatap pria yang ada di sampingnya. Kemudian Akandra memegang tangan Audrey untuk menenangkannya sembari tersenyum. Melihat itu, Audrey pun membalas senyuman lembutnya Akandra.


"Apa maksudmu? Bukankah hutangmu sudah lunas? Untuk apa kamu ingin memperpanjang masa gadaiannya?" pancing Akandra dengan taktiknya.

__ADS_1


"Saya tahu itu. Saya sedang membutuhkan banyak uang sekarang, jadi satu-satunya cara ya dengan memperpanjang masa gadaian istriku," jelas Devanka tanpa dosa.


"Astagfirullah, Mas! Ingatlah, aku ini istrimu! Aku bukan barang yang bisa kau gadaikan sesuka hatimu! Aku ingin diperlakukan seperti istri pada umumnya, aku sudah tidak tahan menjalin rumah tangga denganmu lagi! Aku ingin kita bercerai!" celetuk Audrey yang membuat Devanka tercengang.


"Apa? Cerai? Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi. Ingatlah, kamu adalah ATM berjalanku, kamu harus terus menghasilkan uang untukku. Aku tidak akan menceraikanmu sampai kapan pun!" tegas Devanka dengan berdiri.


Tatapannya cukup menakutkan, membuat Audrey langsung tertunduk ketakutan. Ia tidak tahan untuk menahan tangisnya, hingga akhirnya air matanya pun mengalir membasahi kedua pipinya. Akandra dan Affandra yang melihat perlakuan Devanka pun langsung naik pitam.


Affandra menarik lengan Devanka dengan kasar dan menyuruhnya duduk. "Jangan membuat keributan di rumah ini! Hargai kebaikan Kakakku!" Affandra menatap Devanka dengan penuh amarah.


Brakk!


Akandra menggebrak meja. "Sudah diam! Sekarang giliran saya yang bicara!" bentak Akandra dengan suaranya yang berat dan tegas.


Seketika semua orang yang berada di ruang utama langsung terdiam, begitu pun dengan Audrey. Dia menyeka air matanya. Dia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Akandra.


"Daniel! Bawakan yang sudah saya siapkan tadi!" Akandra menyuruh Daniel untuk membawa sesuatu.


Dengan cepat Daniel memberikan apa yang dipinta tuannya. "Ini, Tuan."


"Buka itu dan tandatangani!" tegas Akandra dengan memberikan amplop berwarna coklat itu pada Devanka.


"Kak, apa yang kamu berikan pada suamiku?" bisik Audrey pada Akandra.


"Lihat saja! Kamu akan tahu seperti apa Devanka yang sebenarnya!" tegas Akandra tanpa menoleh.


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2