
"Hei, Mas! Kamu mencuri lagi," ucap Audrey dengan matanya yang masih terbelalak karena terkejut dengan serangan bibir yang diberikan suaminya.
"Aku tidak mencuri, Sayang. Itu hakku, aku bebas mau mencium bibirmu kapanpun aku mau. Benar 'kan?" skak Akandra dengan menaik-turunkan alisnya.
"Iya, tapi ... kamu selalu menciumku disaat aku lengah," timpal Audrey tanpa berani menatap kedua mata sang suami.
"Baiklah, kalau begitu aku ulang lagi agar kamu tidak kaget." Akandra memegang wajah sang istri dan hendak menciumnya kembali.
Akan tetapi, Audrey menolak. "Ini sudah siang, aku harus pergi mandi." Audrey beringsut dari ranjang dan segera pergi ke kamar mandi.
Sementara itu, Akandra yang melihat Audrey yang sengaja menghindari serangan bibirnya itu hanya tertawa kecil disertai gelengan kepalanya.
****
Di sisi lain, Daniel tengah mengantarkan makanan kepada ruang bawah tanah untuk diberikan kepada Alessa dan Devanka. Sebelum sampai di ruang penyekapan, pria itu harus melewati beberapa lorong dengan pintu yang terdapat kode rahasia. Meski begitu, Daniel tetap berhasil masuk sebab hanya Daniel dan tuannya lah yang mengetahui kode tersebut.
Sesampainya di ruang penyekapan, Daniel membuka pintunya dan segera masuk. Daniel menaruh makanan tersebut di salah satu meja dengan dua kursi yang terbuat dari kayu. Daniel mengambil kunci yang berada di belakang vas bunga dan membuka rantai yang mengikat Devanka serta melepaskan ikatan Alessa.
"Silakan makan," ucap Daniel pada keduanya.
Alessa dan Devanka sontak saling melemparkan tatapan yang penuh dengan teka-teki. Kemudian wanita berbisa itu menyunggingkan senyumannya pada Devanka. Seolah dirinya tengah merencanakan sesuatu dan Devanka mengetahui arti dari tatapan serta senyuman Alessa.
"Kalau begitu, saya tunggu di luar. Jika makanan sudah habis, beri tahu saya," ucap Daniel pada keduanya setelah melihat Alessa dan Devanka duduk dan mengambil porsi makanan masing-masing.
"Tunggu dulu!" Alessa menatap ke arah Daniel yang hendak pergi keluar.
"Iya, ada apa?" Daniel kembali membalikkan badannya.
"Boleh aku minta sesuatu padamu?" Alessa menatap Daniel dengan tatapan penuh dengan tipu muslihat.
"Katakan, apa yang kamu inginkan?" tanya Daniel to the point.
"Aku minta bedak bayi. Rasanya seluruh tubuhku gatal lama-lama di sini dan aku perlu menaburinya dengan bedak. Maukah kamu membantuku? Atau--" Audrey menghentikan perkataannya dan beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Kemudian wanita itu berjalan menghampiri Daniel disertai tatapan yang mendalam. Tak lama setelah itu, Alessa mendekatkan bibirnya di telinga Daniel. Sebelum mengatakan sesuatu, Alessa memberi sedikit rangs*ngan kecil dengan tiupan halus di telinga Daniel. Sehingga Daniel bergidik.
"Atau kamu yang mau menggaruk seluruh tubuhku ini? Rasanya sangat gatal sekali. Aku membutuhkan sesuatu yang akan menghilangkan kegatalanku ini," bisik Alessa dengan suara yang genit dan terdengar sedikit nakal.
Mendengar hal itu, Daniel sontak mendorong tubuh Alessa. "Baiklah, akan aku bawakan sekarang." Daniel tidak kuat berlama-lama dengan wanita nakal seperti Alessa. Sehingga dia pun pergi meninggalkan Alessa dan Devanka.
"Haha, kamu lihat itu, Devan? Rencana kita akan berhasil," Alessa tertawa puas.
"Kamu memang wanita nakal dan berbisa, Alessa. Perlu kuacungi jempol kalau kamu memang pandai dalam menggoda pria," Devanka memuji cara Alessa sembari mengacungkan jempolnya.
"Gampang kalau soal itu. Ingat, jika kita sudah keluar dari ruangan ini, kamu harus lakukan sesuatu untukku, paham!" tegas Alessa.
"Itu, pasti. Aku tipe pria yang tidak pernah mengingkari janjiku," jawab Devanka dengan penuh percaya diri.
"Bullshit!" Alessa mengerlingkan kedua matanya.
****
Brugh!
Tiba-tiba Daniel terjatuh karena tidak sengaja telah menabrak tuannya, yaitu Akandra Xaquille. Sontak, Akandra langsung mengulurkan tangannya dan membantu Daniel berdiri. Daniel bangun dan menundukkan sedikit kepalanya.
"Maafkan saya, Tuan."
"It's okay. Kamu habis dari mana?" tanya Akandra.
"Saya dari ruang penyekapan, Tuan. Saya memberikan makanan pada Alessa dan Devanka," jawab Daniel dengan terlihat kesal di wajahnya.
"Okay. BTW, kenapa dengan wajahmu? Apa kamu sedang kesal? Apa mereka membuatmu kesal? Sebelumnya saya tidak pernah melihatmu seperti ini?" Akandra kembali bertanya setelah melihat reaksi wajah Daniel yang terlihat kesal.
"Anu, Tuan ... wanita itu membuatku merinding. Dia benar-benar wanita murahan yang aku temui selama ini. Itu menjijikkan," jawab Daniel dengan terus bergidik ngeri mengingat perlakuan Alessa.
"Ya sudah, pergilah. Tenangkan hatimu. Saya akan pergi jalan-jalan dengan istriku. Aku titip rumah dan jaga baik-baik tawanan kita itu!" perintah Akandra pada orang kepercayaannya.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Daniel membungkukkan sedikit badannya sebagai tanda hormat.
Akandra pergi ke kamarnya, sementara itu, Daniel pergi ke minimarket untuk membeli bedak atas permintaan Alessa. Dia pergi menggunakan sepeda motor karena minimarket lumayan jauh dari kediaman Akandra. Selang beberapa menit kemudian, Daniel sampai di minimarket tersebut.
Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, Daniel memarkirkan motornya dan segera turun serta berjalan memasuki minimarket. "Permisi, Mbak. Bedak bayi di sebelah mana ya?" Daniel bertanya pada sang kasir.
"Khusus kebutuhan bayi ada di rak sebelah kanan, Pak." Mbak kasir menunjukkan tempat penyimpanan kebutuhan bayi.
"Okay, terima kasih."
Kemudian Daniel berjalan ke arah rak yang ditujukan oleh Mbak kasir. Dan benar saja, di rak tersebut banyak sekali kebutuhan bayi, mulai dari bedak, sabun, shampo, pampers dll. Daniel segera mengambil bedak bayi berukuran besar dan langsung membawanya ke kasir untuk transaksi.
Selesai membayar bedak tersebut, Daniel keluar dari minimarket dan kembali pulang ke kediaman Xaquille. Daniel kali ini melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Rupanya dia masih kesal pada Alessa. Selain Alessa yang telah menyuruhnya, wanita itu juga telah membuatnya bergidik ngeri karena kenakalannya.
Selang beberapa menit kemudian, Daniel kini sudah sampai di kediaman Xaquille. Dia memarkirkan kembali motornya ke basement. Setelah itu, pria itu masuk rumah melalui pintu belakang yang tertuju langsung pada lorong bawah tanah. Seperti biasa, Daniel memasukkan kode rahasia untuk masuk ke ruang penyekapan tersebut.
Brakk!
Daniel membuka pintu dengan keras membuat kedua orang yang berada di dalam ruangan tersebut terkejut. Tanpa mempedulikan keduanya, Daniel menaruh bedak tersebut di atas meja tepat di hadapan Alessa. Melihat kekesalan di wajah Daniel, Alessa pun berdiri dan mengelus lengan, bahu serta wajah Daniel.
"Terima kasih, rupanya kamu pria yang baik," Alessa memuji kebaikan Daniel dengan kalimat manisnya serta belaian nakalnya.
"Mundur! Dan kembali ke tempat dudukmu!" Daniel mendorong tubuh Alessa dengan kasar sejauh satu meter.
"Kamu ini bagaimana, bukankah aku sudah bilang jika aku sedang gatal-gatal. Jika tangan dan kakiku diikat lagi, bagaimana bisa aku menaburkan bedak di tubuhku ini? Apa kamu mau melakukannya untukku?" goda Alessa dengan sengaja mencondongkan dadanya.
"Menjijikkan! Kamu lakukan sendiri atau kamu bisa minta bantuan pada pria itu!" tegas Daniel dengan segera pergi meninggalkan ruang penyekapan.
"Wah, wah ... bravo! Sungguh, caramu ini benar-benar unik dan sangat licik, Alessa." Devanka bertepuk tangan karena cara Alessa telah berhasil.
****
Stay tune :)
__ADS_1