Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 33 > Nasi Kebuli


__ADS_3

Audrey keluar dari kamarnya pagi-pagi buta dengan pakaian tidurnya serta rambut diikat gantung alakadarnya. Ia berjalan menuju dapur, berniat untuk menyiapkan sarapan untuk semua orang. Namun, sesampainya di dapur, Audrey tercengang pada saat melihat seseorang yang tengah sibuk memasak.


Karena penasaran dengan orang tersebut, Audrey secara perlahan mendekatinya. Begitu ia berada di pantry, terlihat jelas postur tubuhnya yang sangat tidak asing untuknya. Benar, orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Akandra Xaquille.


Lagi-lagi Audrey dibuat heran dengan aktivitas Akandra yang selalu saja menyibukkan diri di dapur. Padahal jika dia mau, dia bisa menyuruh beberapa pelayan untuk memasakkan makanan yang dia inginkan. Tapi, Audrey tidak tahu jika sang pemilik rumah itu sudah terbiasa hidup mandiri pada saat ia masih kecil.


Menyadari Audrey berada di belakangnya, Akandra pun mematikan kompor dan menaruh spatula di wajan. Dia berbalik badan menghadap wanita itu. "Selamat pagi," Akandra menyapanya dengan ramah disertai senyuman.


"Pagi, Kak." Audrey membalas sapaan Akandra.


"Bagaimana tidurmu semalam?"


"Alhamdulillah, nyenyak. Bagaimana dengan Kakak sendiri? Dari yang aku lihat, Kakak sepertinya tidak nyenyak. Apa Kakak sakit?" tanya Audrey dengan memandang jeli wajah Akandra terutama bagian mata.


"Ya, semalam aku tidak bisa tidur."


"Kenapa? Apa Kakak sakit?" Audrey reflek menempelkan telapak tangannya di kening Akandra.


"Bagaimana aku bisa tidur, sedangkan aku belum menaklukkan hatimu, wahai wanita mulia. Sepertinya aku akan bisa tidur nyenyak setelah aku bisa menggantikan posisi mantan suamimu di hatimu itu." Akandra memegang tangan kanan Audrey yang tengah menempel di dahinya.


Tatapan Akandra begitu lekat. Terlihat dengan jelas, jika Akandra menunjukkan rasa cintanya melalui kedua matanya. Melihat hal itu, Audrey menyadari jika pria yang berdiri di hadapannya menunjukkan rasa cintanya. Akan tetapi, hatinya belum siap menerima perasaan Akandra.


"Bersabarlah. Jika Kak Akandra memang tulus mencintaiku maka Kakak harus bersabar. Tidak mudah untuk jatuh cinta lagi, sebab saat ini aku masih merasa takut untuk memulainya."


"Jangan cemaskan itu, aku pastikan akan selalu sabar menunggumu. Aku akan berjuang penuh agar bisa mendapatkan cintamu itu."


"Itu, bagus. Oh iya, Kak ... itu Kakak sedang masak apa? Kok banyak sekali porsinya?" tanya Audrey seraya menatap makanan yang berada di wajan berukuran besar.


"Ini nasi kebuli, aku memasaknya khusus untukmu dan juga anak-anak di langit asuhan Harapan Mama." Akandra membalikkan badannya kembali dan menuangkan makanan yang berada di wajan itu ke dalam kotak khusus makanan.


"MasyaAllah, kenapa Kakak tidak beri tahu aku? Aku bisa membantumu dari awal." Audrey segera mendekati Akandra dan membantunya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin mengganggu jam istirahatmu. Lagi pula suasana hatimu sedang tidak baik-baik aja. Tapi, jika kamu mau membantuku, kamu bisa menaruh nasi kotak ini ke dalam box itu." Akandra menunjukkan ke arah box yang berada di sebelah meja makan.


"Aku baik-baik saja, Kak. Jangan cemaskan itu. Aku akan selalu membantumu setiap kali Kakak membutuhkan bantuanku." Audrey tersenyum seraya membawa beberapa nasi kotak kebuli dan memasukkannya ke dalam box.


****


Di kediaman Devanka ....


Keadaan rumah Devanka benar-benar sangat berantakan. Banyak botol-botol minuman beralkohol serta kartu remi dan cemilannya. Bukan hanya itu saja, Devanka juga terlihat sangat berantakan.


Di mana dia tergeletak gak sadarkan diri tanpa baju ditemani dia wanita yang setia berada di sampingnya. Benar, setelah pulang dari Perumahan Bryce Wilton, Devanka langsung berpesta dan menghambur-hamburkan uangnya dengan beberapa PSK. Bagaimana tidak, uang yang diberikan Akandra sangatlah besar. Tentu saja dia akan berfoya-foya.


Satu persatu dari PSK itu bangun. Pada saat mereka bangun, mereka segera merapikan pakaiannya dan duduk di sebelah Devanka. Sehingga setelah beberapa menit kemudian, Devanka bangun dan tersenyum puas kepada kedua PSK itu.


Devanka duduk di tengah kedua PSK tersebut seraya merogoh saku celananya. Tanpa berlama-lama, dia memberikan uang kepada kedua wanita itu sebagai bayaran karena keduanya sudah menemaninya semalaman. "Terima kasih, Tuan. Anda baik sekali karena memberikan kami uang yang lebih," puji salah satu PSK.


Wanita PSK yang satunya lagi pun turut memujinya. Bagaimana tidak, Devanka sudah memberikan bayaran dua kali lipat dari harga normal. Tentu saja hal itu membuat kedua PSK tersebut merasa senang bukan main.


"Baik, Tuan. Kami pulang dulu," jawab kedua PSK secara bersamaan.


"Ya, pergilah!"


Kedua PSK itu pun dengan cepat pergi meninggalkan kediaman Devanka. Sementara itu, Devanka pergi menuju kamarnya untuk melanjutkan tidurnya lagi. Benar saja, sesampainya di kamar, Devanka langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Kenapa aku tidak menjualmu sejak awal, Audrey! Kalau saja aku tahu hargaku sangat mahal, aku pasti menjualmu sedari dulu, hihi." Devanka meracau karena pengaruh alkohol yang belum hilang.


****


"Kalian, bawa box ini dan letakkan di mobilku sekarang!" perintah Akandra pada beberapa pelayannya.


"Baik, Tuan," jawab semua pelayan dengan segera membawa box itu.

__ADS_1


Melihat semua pelayannya sudah pergi membawa box itu, Akandra pun bergegas meninggalkan dapur. "Kak Akandra, tunggu!"


Akandra yang hendak melangkahkan kakinya pun dengan cepat berbalik badan. "Iya, Audrey. Ada apa?"


"Bolehkah aku ikut ke panti asuhan bersamamu? Aku ingin bertemu dengan anak-anak dan juga Ibu panti," Audrey membujuk Akandra dengan senyuman yang manis.


"Ya sudah, kamu ganti pakaianmu terlebih dahulu. Aku tunggu di mobil," timpal Akandra.


"Siap, Kak. Aku akan bersiap-siap sekarang." Audrey begitu antusias karena mendapatkan izin untuk ikut ke panti.


Audrey berlari menuju kamarnya. Dengan perasaan yang senang, dia terus menerus setiap ruangan. Sehingga tak lama kemudian, dia sampai di kamarnya. Audrey memakai pakaian yang menurutnya nyaman dipakai. Begitu pun dengan riasan, ia memoles wajahnya senatural mungkin.


Karena hal itulah, dia selsai bersiap-siap dalam waktu 10 menit. Audrey keluar dari kamar dengan antusias penuh. Ia kembali berlari ke arah pintu utama untuk keluar.


"Kak, maaf lama," ucap Audrey setelah berada di hadapan Akandra.


Akandra yang saat ini tengah duduk di body depan mobilnya pun langsung turun. Dan menatap Audrey dari ujung kepala sampai ujung kaki. Audrey yang melihat itu sedikit heran, karena tidak biasanya Akandra menatapnya dengan tatapan seperti itu.


'Sepertinya dia akan mengomeliku lagi tentang penampilanku ini,' Audrey berargumen dalam hatinya.


"Bagus! Kamu sudah tau cara berpakaian dan juga merias diri. Ayo masuk!" Akandra berjalan ke pinggir mobil dan membuka pintu mobilnya untuk Audrey.


'Hah? Dia tidak mengomeliku? Apa dia sedang memujiku?' batin Audrey bertanya pada dirinya sendiri.


"Audrey!" panggil Akandra dengan nada yang sedikit tinggi.


"Eh, iya." Dengan cepat Audrey masuk mobil.


Begitu pun dengan Akandra. Dia mengitari mobilnya dan segera masuk dan duduk di kursi kemudi. Tak membuang waktu lama, Akandra segera melajukan mobilnya menuju panti asuhan, tempat Audrey berasal.


****

__ADS_1


Stay tune :)


__ADS_2