
1 bulan kemudian ...
Setelah hari demi hari dilewati oleh Audrey dan Akandra. Kini tiba di mana hari ini adalah hari pernikahan mereka. Pernikahan mereka tidak terlalu mewah karena atas permintaan Audrey yang tidak menginginkan pernikahan yang begitu mewah. Semua itu bukan tanpa alasan, Audrey beralasan agar pernikahan mereka lancar tanpa gangguan dari saudarinya.
Akandra tengah duduk di hadapan pak penghulu, wali, saksi dan beberapa tamu lainnya. Sementara itu, Audrey masih berada di kamar rias. Ia tengah terduduk di hadapan cermin meja rias. Mempelai wanita itu hanya hanya ditemani dua orang wanita yang membantu dirinya merias.
Setelah semuanya selesai, Audrey pun dijemput oleh Daniel. Mereka berjalan menuju salah satu ruangan yang akan dipakai untuk melakukan akad pernikahan. Namun, di tengah perjalanan, Daniel tiba-tiba meminta izin pada Audrey untuk pergi ke toilet sebentar.
"Nona Audrey, tunggu sebentar. Saya tiba-tiba mau ke toilet," ucap Daniel sembari menahan sesuatu.
"Iya, Kak. Silakan. Aku akan tunggu di sini," jawab Audrey disertai anggukan dan senyuman kecil.
Begitu mendapatkan izin dari Audrey, Daniel pun berlari ke arah toilet. Sedangkan Audrey, ia hanya menunggu orang kepercayaan Akandra datang. Sambil menunggu Daniel, Audrey pun memandangi kedua tangannya yang sudah dihias menggunakan hena.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja tangan kekar membekap mulut Audrey dengan kain yang sudah dicampur dengan obat bius. Audrey mencoba untuk berontak seraya meminta tolong. Akan tetapi, tidak ada satu pun orang yang mendengar apalagi membantunya. Kemudian Audrey jatuh pingsan.
"Cepat bawa dia ke mobil!" perintah seorang wanita yang baru saja datang dengan membawa koper.
"Baik, Bos." Dengan cepat pria bertubuh kekar pun membawa tubuh Audrey menuju mobil yang sudah terparkir di halaman belakang rumah Akandra.
Sementara itu, wanita bernama Alessa berjalan memasuki kamar rias dan meminta para perias tadi untuk merias dirinya. "Cepat kalian rias aku secepat mungkin!" perintah Alessa.
Tentu saja kedua perias tersebut terkejut bukan main. Bagaiamana bisa wanita yang sudah mereka rias kembali menemuinya dan juga meminta untuk dirias kembali. Entah bagaimana caranya, wanita yang sudah siap sedari tadi datang dengan pakaian yang berbeda pada saat dia keluar dari kamar rias.
"Bukankah Nona baru saja keluar dan sudah kami rias. Bagaimana bisa Nona berpenampilan sangat berbeda? Apa yang terjadi?" tanya salah satu perias.
"Sudah, jangan banyak bicara. Cepat rias aku! Pernikahanku akan segera dimulai!" tegas Alessa dengan nada yang ketus.
__ADS_1
Mau tidak mau, kedua perias tersebut pun menuruti perintah Alessa. Mereka mulai merias wajah Alessa. Sementara itu, Daniel yang baru saja datang dari arah toilet pun merasa keheranan pada saat tidak melihat Audrey.
"Loh, ke mana perginya Nona Audrey? Apa dia pergi ke kamar rias lagi?" Daniel bertanya-tanya pada dirinya sendiri seraya berjalan menuju kamar rias.
Sesampainya di kamar rias, Daniel langsung masuk ke kamar tersebut. "Nona Audrey, ayo kita temui Tuan Akandra. Acara akan segera dimulai," ucap Daniel pada wanita yang sedang duduk dan dirias. Ia mengira jika wanita itu adalah Audrey.
"Sebentar, Kak." Alessa beranjak dari duduknya setelah selesai dirias.
Daniel tidak merasa curiga sedikitpun pada wanita yang ada di hadapannya. Kemudian ia pun membawa Alessa untuk menemui Akandra. 'Bagus, Daniel tidak mencurigaiku. Sebentar lagi aku akan menjadi istri Akandra. Dan kamu Audrey ... kamu telah kalah!' batin Alessa berbicara.
****
Di salah satu ruangan yang tidak terawat, terlihat seorang wanita cantik mengenakan gaun pernikahan berwarna putih tengah terduduk di kursi kayu dengan tangan dan kaki terikat. Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Audrey. Wanita yang seharusnya menikah dengan pria bernama Akandra pun hanya bisa terduduk tak sadarkan diri.
Ceklek!
Bersamaan dengan itu, Audrey tiba-tiba tersadar dan terkejut melihat pria yang ada di hadapannya. "Hhmmmppzz!" Audrey mencoba berteriak akan tetapi mulutnya ditutupi oleh kain.
"Kamu mau bicara, Sayang?" tanya pria itu dengan membelai wajah cantik Audrey.
"Hhmmpzzt!" Audrey memberontak dengan mencoba melepaskan ikatan di tangannya.
"Baiklah, aku akan membukanya." Pria itu langsung membuka kain penyumpal tersebut.
"Haaaahh! Apa maumu, Devan?" tanya Audrey dengan napas yang lebih leluasa.
Benar, pria yang sejak tadi memandang, membelai wajah Audrey tidak lain dan tidak bukan adalah mantan suaminya yaitu Devanka. Mendengar hal itu, Devanka hanya tersenyum sembari menatap Audrey dengan tatapan yang aneh. Kemudian, dia beranjak dari duduknya tanpa menjawab pertanyaan dari Audrey.
__ADS_1
"Lepaskan aku, Devan! Kenapa kamu melakukan ini? Ingatlah, bahwa aku ini sudah tidak ada hubungan apa pun lagi denganmu!" Audrey kembali mengingatkan Devanka akan statusnya yang sudah bercerai.
"Aku tahu itu, Audrey. Tapi, aku baru sadar jika aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku membutuhkanmu," timpal Devanka.
"Apa? Membutuhkanku? Haah! Kamu membutuhkanku atau uangku? Apa kamu belum puas telah membuatku tersiksa selama ini? Apa uang yang telah kamu dapatkan dariku belum cukup, hah?" bentak Audrey yang langsung naik pitam.
"Aku tahu aku salah. Selama ini aku telah membuat hidupmu sangat menderita. Maka dari itu, aku ingin menebusnya dengan kembali menikah denganmu. Aku membutuhkan perhatianmu, kasih sayangmu, cintamu dan ketulusanmu. Aku sangat merindukanmu, Sayang." Devanka menangkup kedua pipi Audrey dan menatapnya dengan tatapan sendu.
"Semua sudah terlambat, Devan. Aku sudah bahagia dengan Kak Akandra. Aku akan menikah dengannya. Aku mohon lepaskan aku. Aku akan memberikanmu uang asal kamu lepaskan aku. Saat ini Kak Akandra sedang menungguku," bujuk Audrey dengan nada yang santun.
"Tidak. Semua belum terlambat. Justru kamu yang terlambat menikahi Tuan Akandra," timpal Devanka dengan senyuman penuh kemenangan.
"Apa maksudmu?" tanya Audrey dengan kedua matanya yang membulat.
"Tuan Akandra sudah menikahi Alessa. Saudarimu sendirilah yang telah menggantikanmu," jawab Devanka.
Deg!
Seketika jantung Audrey langsung berhenti berdetak. Lututnya terasa lemas, sehingga tanpa dia sadari, air matanya pun sudah menetes membasahi pipinya. Kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan menatap Devanka.
"Itu tidak mungkin! Kak Akandra tidak mungkin menikahi Alessa. Itu tidak mungkin! Kamu pasti sedang membohongiku!" Audrey tidak mau mempercayai ucapan dari mantan suaminya.
"Itu mungkin! Karena Akandra mengira jika Alessa adalah dirimu. Mungkin saat ini mereka sedang melakukan malam pertama. Sungguh, kamu telah kalah dari saudarimu. Melawan Alessa bukanlah hal yang mudah, sebab wanita itu sangat licik dan berambisi. Dia bisa melakukan segala cara agar bisa mendapat tujuannya. Maka dari itu, menyerah dan menikahlah denganku."
Cuih!
****
__ADS_1
Stay tune :)