
"Saya bukan istrinya. Iya kan, Tuan Akandra?" ucap Audrey dengan mendekatkan wajahnya pada Akandra disertai tatapan yang sinis.
Cup!
Tanpa Audrey duga, Akandra mengecup bibirnya di hadapan orang lain yang tengah berkumpul. "Jangan khawatir, istriku baik-baik saja. Ayo, Sayang." Akandra merangkul Audrey dan membawanya ke makam Alessa.
Tentu saja Audrey tercengang mendengar ucapan yang dilontarkan oleh tuannya. "Apa maksudmu bicara seperti itu? Berani-beraninya Tuan menciumku untuk yang kedua kalinya!" protes Audrey dengan memelototi tuannya.
"Anggap saja itu DP dari maharku nanti sebelum menikahimu," jawab Akandra sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Apa? DP? Dikira nyicil rumah kali ya, dasar Tuan konyol!" Audrey mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Anggap saja aku sedang menyicil cintamu," Akandra terkekeh mendengar jawabannya sendiri.
"Ngadi-ngadi! Sepertinya otak Tuan sudah koslet!" celetuk Audrey dengan kesal.
Setelah itu dia berjalan meninggalkan Tuan Akandra dan menghampiri penjaga makam yang tengah terduduk di sebelah batu nisan. Sementara itu, Akandra pun mengikuti langkah wanita yang berawajah mirip dengan Alessa. Sesampainya di hadapan penjaga makam, Audrey langsung bertanya mengenai makam Alessa.
"Permisi, Pak. Saya mau bertanya, makam Almh. Alessa di sebelah mana ya?" tanya Audrey.
Pada saat penjaga makam hendak memberi tahu letak makamnya, tiba-tiba Akandra memberikan sebuah kode untuk tidak memberi tahu Audrey. Dan benar saja, penjaga makam pun tidak memberi tahunya. "Maaf, Nona. Saya tidak tahu letak makamnya Almh. Alessa, saya baru bekerja di sini," jawab penjaga makam.
'Tidak tahu? Masa iya penjaga makam tidak tahu,' umpat Audrey dalam batinnya.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih." Audrey membalikkan badannya usai berterima kasih pada penjaga makam.
Dug!
Audrey tidak sengaja menabrak dada bidang Tuan Akandra. "Aduh!" Audrey memegangi keningnya.
"Makanya kalau jalan itu pakai mata, jadi nabrak 'kan," omel Akandra.
"Tuan salah, kalau jalan itu pakai kaki bukan pakai mata!" timpal Audrey sembari nyelonong pergi.
Seketika Akandra langsung terkekeh mendengar timpalan Audrey. Entah kenapa semenjak dia membawa Audrey bersamanya, hidupnya terasa berwarna. Tak jarang jika pria tampan ini selalu tertawa melihat tingkah wanita gadaiannya.
****
Ceklek!
Audrey memegang handle pintu dan segera membukanya. Alangkah terkejutnya dia pada saat melihat Tuan Akandra tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Tuan Akandra melemparkan senyuman kecil sembari membawa sekotak obat.
"Boleh saya masuk, Nona?" Akandra mengedipkan sebelah matanya.
"Idih, apaan sih pake ngedipin mata segala." Audrey memutar bola matanya malas.
Kemudian Audrey membalikkan badan dan masuk kamar tanpa menutup pintunya. Melihat itu, Tuan Akandra pun mengikutinya dari belakang. Begitu masuk kamar, tanpa basa-basi Tuan Akandra menaruh kotak obat itu di meja nakas.
__ADS_1
"Duduklah!" Akandra menyuruh Audrey untuk duduk di tepi ranjang.
"Tuan mau apa?" tanya Audrey dengan menatap tuannya dengan mata yang penuh curiga.
"Saya mau meluluhkan hatimu, haha. Sudahlah kamu duduk saja," kekeh Tuan Akandra.
"Gak jelas!" Audrey pun duduk di tepi ranjang.
Akandra menaikkan lengan kemejanya dan duduk di sebelah Audrey. "Berikan kotak obat itu!" pinta Akandra sembari menoleh ke arah kotak p3k yang berada di meja nakas.
Audrey pun menyambar kotak obat yang berada di sebelahnya. Kemudian dia memberikannya pada Akandra. Sedangkan Akandra, dia mengambil beberapa obat untuk mengobati Audrey.
"Tahanlah, ini akan terasa sedikit sakit." Akandra mulai mengobati luka yang ada di wajah Audrey.
Audrey sedikit meringis dan memejamkan matanya menahan rasa perih di wajahnya. Mengetahui hal itu, dengan pekanya Akandra segera meniupi wajah Audrey dengan penuh kelembutan. "Apa kamu masih bisa menahan rasa sakitnya?" tanya Akandra dengan tatapan yang begitu lembut.
Mendengar pertanyaan itu, sontak Audrey langsung membuka matanya yang tengah terpejam menahan sakit. Seketika kedua bola matanya bertatapan dengan Akandra.
Deg!
****
Stay tune:)
__ADS_1