Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 76 > Daniel & Black Killer


__ADS_3

"Mas," panggil seorang wanita pada Akandra yang tengah memasuki hotel.


Merasa namanya di panggil, sontak Akandra berbalik badan dan menoleh ke arah wanita yang memanggilnya itu. Setelah melihat ke arah wanita itu, ternyata itu adalah istrinya Audrey. Namun, Akandra menautkan kedua alisnya begitu memperhatikan penampilan sang istri yang tidak biasa ini.


Benar, saat ini Audrey berpenampilan cukup berlebihan dari biasanya. Sang istri dari pemilik hotel Xaquille ini selalu identik dengan penampilan yang sederhana. Namun, kali ini Akandra justru melihat istrinya tampil beda.


"Loh, Sayang. Ada apa denganmu? Tumben sekali penampilanmu seperti ini?" Akandra berjalan beberapa langkah menghampiri sang istri.


Kemudian dia memegang bahu sang istri disertai tatapan yang begitu lekat. "Apakah aku tidak boleh sesekali berpenampilan seperti ini, Mas? Apakah penampilanku ini mengingatkanmu pada wanita lain?" Audrey mendongak menatap sang suami yang tubuhnya jauh lebih tinggi dari dirinya.


"Tentu saja tidak, Sayang. Kamu bebas mau berpenampilan seperti apa. Selama kamu nyaman maka lakukanlah. Tapi, aku heran ... bukankah kamu paling tidak menyukai penampilan terbuka seperti ini?" Dalam lubuk hati Akandra yang paling kecil, dia meragukan sosok wanita yang ada di hadapannya ini.


"Sudahlah, Mas. Lupakan itu, ayo kita pergi makan. Aku lapar," ajak Audrey dengan menggandeng tangan suaminya.


"Tunggu dulu, Sayang. Pakaianku basah, aku harus ke kamar dulu untuk mandi dan mengganti pakaianku," ujar Akandra.


"Sudah tidak apa-apa, lagian restorannya tidak jauh dari pantai ini kok." Audrey terus memaksa suaminya untuk pergi makan siang bersamanya.


Mau tidak mau Akandra pun menuruti kemauan sang istri. Hal itu demi menjaga perasaannya. Meski dia sedikit merasa aneh dengan istrinya ini dan jujur saja jika dalam hatinya saat ini Akandra tengah merasa curiga. Namun, walau dia merasa curiga, hal perasaan itu ia tepis.


"Baiklah, ayo. Sepertinya istriku ini sangat lapar," Akandra terkekeh seraya berjalan bersama sang istri menuju restoran.


Sesampainya di tempat tujuan, keduanya langsung masuk dan memilih tempat yang nyaman untuk menyantap makanan. Setelah menemukan meja yang menurutnya nyaman, Audrey berjalan menghampiri salah satu pelayan di restoran tersebut dan memesan beberapa makanan. Sementara Akandra menunggu di meja.


Memperhatikan gerak-gerik sang istri yang cukup mencurigakan, Akandra memutuskan untuk mengirim pesan kepada Affandra dan juga Daniel. "Mas!" panggil Audrey seraya menepuk pundak sang suami.


Jelas, hal itu membuat Akandra terkejut. Untungnya pesan tersebut sempat dikirim kepada dua orang yang sangat dia percaya. Kemudian, Akandra memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


****

__ADS_1


Di kota yang berbeda, tepatnya di kediaman Akandra Xaquille. Saat ini Affandra dan Daniel sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius. Namun, pembicaraan itu terhenti ketika mendengar dering ponselnya masing-masing. Keduanya saling menatap satu sama lain.


Kemudian mereka membuka ponselnya masing-masing. Begitu mereka membuka ponsel yang terdapat sebuah pesan sama yang dikirim oleh Akandra. Tanpa membuang banyak waktu lagi, keduanya pun membuka pesan tersebut karena merasa ada yang aneh.


Sebab tidak biasanya Akandra mengirim pesan seperti ini. Biasanya Kakak dari Affandra dan Bos dari Daniel ini selalu menelepon jika ada sesuatu yang serius. Namun, kali ini Akandra mengiriminya pesan.


Tak sampai di situ, keduanya semakin terkejut lagi ketika membuka pesan serta membaca isi pesannya. "Gawat. Sekarang juga kau terbang bersama para anak buahku. Sedangkan aku, aku akan stay di sini. Aku harus menghandle perusahaan Kakakku, jika perlu bantuan, hubungi aku!" perintah Affandra pada Daniel.


"Baik, Tuan muda. Saya akan terbang sekarang." Daniel menyetujui tentang tugas yang diberikan kepadanya.


"Bagus. Saya akan pesan tiket penerbanganmu beserta para anak buahku sekarang juga. Sekarang cepat bersiap-siap, penerbanganmu nanti sore!"


"Baik, Tuan Muda. Saya permisi." Daniel beranjak dari duduknya. Ia sedikit membungkukkan badannya tanda penghormatan. Setelah itu, barulah dia pergi meninggalkan tuannya.


Sementara Affandra, dia menatap kepergian Daniel. Setelah tubuh Daniel lenyap dia lahap pintu, Affandra segera menghubungi anak buahnya. Dan tanpa menunggu lama, sang anak buahnya sudah mengangkat telepon dari tuannya. Melihat teleponnya telah tersambung, Affandra menempelkan ponsel di telinganya.


Telepon terhubung!


"Siap, Bos. Apa tugasnya?" tanya seorang pria yang merupakan pimpinan anak buahnya dari seberang telepon.


"Akan kuberi tahu nanti. Sekarang kalian berkemas karena nanti sore kalian akan terbang ke kota B bersama Daniel!" perintah Affandra.


"Baik, Bos. Kami akan segera menemui Bos dan Daniel," jawab pria itu yang langsung menyetujui tugas yang diberikan bosnya.


"Good. Saya tunggu di kediaman Akandra Xaquille! Tutt!" Affandra mengakhiri pembicaraan di telepon dan langsung mematikannya.


Telepon terputus!


****

__ADS_1


Di kota B, malam hari ....


Kini Daniel beserta anak buah Affandra sudah tiba di kota B. Tanpa berlama-lama lagi, Daniel beserta anak buah Affandra berjalan memasuki hotel yang Audrey dan Akandra tinggali selama berada di kota B. Mereka semua memesan kamar yang tidak jauh dari kamar Audrey. Semua itu agar mereka bisa menjaga istri tuannya.


Setelah mendapatkan kunci kamar dari resepsionis, mereka semua berjalan menuju kamarnya masing-masing. Namun, setibanya di sana, mereka mendengar seorang wanita menjerit meminta tolong. Dan Daniel tahu persis suara siapa itu.


Kemudian Daniel memberikan kode melalui tatapan matanya serta gerakan tangannya. Semua partner Daniel yang merupakan anak buah Affandra pun paham dengan kode tersebut. Anak buah tersebut memiliki sebutan untuk gengnya yaitu, Black Killer. Benar, mereka menamai gengnya tersebut sesuai dengan pekerjaannya yang cukup brutal dalam menangani musuhnya.


Namun, saat ini mereka semua sedang menyamar menjadi orang biasa yang ingin berlibur dan menyewa hotel. Semua itu agar identitas mereka semua tidak terbongkar. Sementara Daniel, dia tetap berpenampilan seperti biasanya gitu mengenakan pakaian formal hitam putih.


Setelah intruksi yang diberikan Daniel, mereka yng berjumlah 7 orang bersiaga di luar kamar Audrey. Sementara itu, Daniel membuka pintu kamar Audrey yang kebetulan saat itu terbuka kecil. Pria itu langsung masuk dan betapa terkejutnya ia pada saat melihat wanita yang sangat dia hormati serta merupakan istri dari tuannya sedang terbaring tanpa busana dengan keadaan kedua tangan dan kaki terikat terlentang sudut ranjang.


Sontak, Daniel langsung berbalik badan serta menutup matanya. Sungguh, dia tidak bermaksud untuk melihat pemandangan itu. Semua itu terjadi tanpa dugaannya. Menyadari ada seseorang yang masuk, Audrey yang saat ini tengah terbaring tak berdaya dengan dibanjiri air mata pun segera menoleh ke arah Daniel.


"Daniel, tolong lepaskan ikatan ini. Aku harus menolong suamiku," ucap Audrey dengan suara yang lirih meminta tolong pada Daniel.


"Baik, Nyonya. Akan saya lepaskan, saya ambilkan selimut terlebih dahulu untuk menutupi tubuhmu." Daniel berjalan ke arah selimut yang tergeletak di lantai.


Dengan cepat kedua tangan kekarnya memungut selimut tersebut dan melangkah mundur. "Nyonya, tutupi tubuhmu terlebih dahulu." Daniel memberikan selimut itu tanpa menoleh sedikitpun.


Audrey segera menutupi tubuhnya yang penuh dengan lebam dan terasa lengket itu dengan selimut. "Berbaliklah! Tubuhku sudah tertutup. Sekarang cepat bantu aku," ujar Audrey.


Mendengar itu, Daniel segera berbalik dan membantu istri tuannya membuka ikatan tersebut. "Nyonya, siapa yang tega melakukan ini padamu? Dan di mana Tuan Akandra?" tanya Daniel disela dirinya sedang membuka ikatan tersebut.


".... "


Seketika bola mata Daniel langsung terbelalak dengan sempurna setelah mendengar ucapan dari Audrey.


****

__ADS_1


Stay tune :)


__ADS_2