
Audrey mengurungkan niatnya untuk duduk. Sementara itu, Akandra berdiri dan menatap tajam ke arah Kakeknya. 'Apakah Kak Akandra mengatakan pada kakeknya jika aku ini hanya wanita gadaian? Tapi, kenapa? Kenapa dia mengatakannya? Bukankah Kakek Rama sedang menunggu dirinya? Bukankah kakeknya sudah merestui hubungannya? Lalu kenapa Kakek bersikap seolah-olah tidak menyukai dirinya?' batin Audrey bertanya-tanya setelah melihat ekspresi Kakek Rama.
"Kak, duduklah. Tidak apa-apa, aku akan pergi," ucap Audrey sembari memegang tangan Akandra di hadapan Kakek Rama dan juga Alessa.
"Tidak, Audrey. Pasti ada seseorang yang telah mempengaruhi Kakek. Tetap bersamaku, akan aku jelaskan semuanya pada Kakek," timpal Akandra dengan menoleh ke arah Audrey.
Audrey tersenyum. "Tidak perlu, Kak. Apa lagi yang ingin Kakak jelaskan. Bukankah Kakak sendiri yang memberi tahu Kakek jika aku ini memang wanita gadaian? Itu memang benar, aku memang wanita gadaian. Tidak perlu menjelaskan apa pun lagi. Dengarkan kata Kakekmu, aku tidak pantas bersanding denganmu, Kak. Aku permisi, Kak. kakek." Audrey langsung pergi meninggalkan Akandra, Alessa dan juga Kakek Rama.
"Audrey, Tunggu!" Akandra hendak mengejar Audrey akan tetapi Kakek Rama menghalanginya.
"Akandra! Berhenti! Jika kamu mengejar wanita gadaian itu maka kamu akan dicoret sebagai cucuku!" Kakek Rama mengancam Akandra.
Seketika Akandra langsung menghentikan langkahnya. Ia hanya bisa memandang kepergian Audrey dengan mata yang sendu. Dia tidak bisa membangkang terhadap Kakeknya.
Mau tidak mau dia harus tetap berada di rumah Kakek Rama, walau dalam hati kecilnya, ingin mengejar Audrey. Akandra membalikkan badan dan mengepalkan kedua tangan ketika melihat ke arah Alessa. Tanpa berlama-lama, Dia segera menarik kasar lengan Alessa dan membawanya pergi.
"Lepasin tanganku, Akandra! Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Alessa dengan terus berontak.
"AKANDRA!" pekik Kakek Rama.
Sontak Akandra langsung menghentikan langkahnya dan terdiam. Kemudian dia berbalik badan. "Tenanglah, Kek. Aku tidak akan jahatin wanita ini. Aku hanya perlu bicara dengannya," ujar Akandra dengan tatapan yang sinis ke arah Alessa.
"Ya sudah, tapi ingat! Jangan lukai Alessa," ucap Kakek Rama.
Akandra tidak menanggapi ucapan Kakek Rama. Ia kembali melanjutkan langkahnya dan membawa Alessa ke halaman belakang rumah. Alessa merasa pergelangan tangannya sakit karena Akandra yang memegangnya cukup erat dan meninggalkan bekas merah di pergelangan tangan sang mantan tunangannya.
Sesampainya di halaman belakang, Akandra melepaskan pegangannya dengan kasar. "Gila kamu, Akandra! Kenapa kamu kasar sekali padaku," pekik Alessa dengan memegangi pergelangan tangannya yang terasa panas, dan sakit.
"Itu baru peringatan saja, Alessa! Ketahuilah ... aku bisa melakukan lebih dari ini jika kamu berani mengusik wanitaku! Jika sampai kamu berani menyentuh Audrey, aku tidak akan segan-segan untuk menjebloskanmu ke dalam penjara! Ingat, ini bukan ancaman belaka. Aku serius! Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku!" tegas Akandra dengan memperingati Alessa untuk tidak melebihi batas.
__ADS_1
"Memangnya apa yang aku lakukan? Kenapa kamu semarah ini, cuma karena Kakek tidak menyukai Audrey? Apakah itu salahku, hah?" timpal Alessa.
"Kamu pikir aku bodoh? Aku tahu jika kamu sudah mengatakan hal buruk tentang saudarimu pada Kakekku! Apa kamu pikir dengan mengatakan hal ini bisa membuatku kembali menikahimu? Hah, tidak. Tidak akan pernah aku mengulangi kesalahan untuk yang kedua kali dengan mencintai wanita rendah yang haus **** sepertimu! Itu tidak akan pernah terjadi!" bentak Akandra.
Plak!
Mendengar bentakan yang begitu menyakitkan membuat Alessa seketika naik pitam. Tangan kanannya melayang dan menampar pipi Akandra dengan keras. Tamparan itu membuat pipi Akandra terasa panas, perih dan berbekas.
"Jangan katakan itu lagi! Dia bukan saudariku! Dan aku bukan wanita rendah yang kau maksudkan itu!" Alessa balik membentak Akandra disertai berlibangnya air mata.
"Kenapa? Apa hatimu terluka dengan ucapanku?" Akandra menyunggingkan senyuman.
Alessa terdiam dan tertunduk. "Ini yang Audrey rasakan ketika kamu merendahkannya. Kamu itu wanita sama seperti Audrey, tapi kenapa kamu tidak memahami perasaan Audrey? Kamu tahu bagaimana penderitaan saudarimu pada saat menikah dengan Devan tapi di mana hati nuranimu? Kamu tidak pernah membantunya, kamu justru tidak mengakuinya sebagai saudarimu. Lalu, kata apa yang pantas untuk wanita seperti dirimu?" skak Akandra dengan menyadarkan Alessa.
"Aku tidak sudi memiliki saudari sepertinya! Dia telah merebutmu dariku. Apa pantas wanita pelakor sepertinya diakui sebagai saudari?" Alessa memutar balikkan fakta.
"Merebut katamu? Kau salah, Alessa! Justru akulah yang merebut Audrey dari Devan. Aku PEBINOR! Aku telah mengejar Audrey pada saat dia masih berstatus istri Devan. Dan perlu kamu ketahui ... wanita gadaian seperti Audrey lebih mulia dari pada wanita sepertimu yang rela tidur dengan banyak berondong hanya untuk kesenangan dan kepuasanmu saja. Audrey tidak pernah menyerahkan kesuciannya pada siapapun termasuk padaku. Walau aku sudah memberikan banyak uang pada Devan aku tidak pernah menyentuh Audrey, begitupun dengan Audrey. Dia tidak pernah menggoda atau mendekatiku. Memandangku saja tidak pernah. Kau paham maksudku, Alessa. Semoga setelah ini, pintu hatimu terketuk dan matamu terbuka lebar jika semua yang kamu lakukan itu salah. Berubahlah, tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik. Relakan aku dan move on dari masa lalumu. Fokus lanjutkan hidupmu. Hanya itu yang bisa aku katakan padamu," jelas Akandra panjang kali lebar.
****
Sesampainya di ruang tengah, Akandra duduk di sebelah Kakek Rama dan menjelaskan semua mengenai Audrey. Dengan nada santun dan penuh rasa hormat dia mengatakan hal jujur mengenai kehidupan Audrey, wanita yang akan dia nikahi. Meski awalnya Kakek Rama sempat tidak ingin mendengarnya. Namun, setelah berkali-kali Akandra menyakinkannya akhirnya Kakek Rama mau mengerti dan mulai menerima Audrey.
"Apa kamu yakin akan menikahi Audrey," tanya Kakek Rama sekali lagi untuk memastikan keputusan yang diambil cucunya.
"Iya. Aku yakin, Kek. Audrey adalah wanita yang selama ini Aku cari. Semua kepribadian yang aku idamkan selama ini ada pada diri Audrey. Aku sangat yakin jika pernikahanku akan bahagia, jadi aku mohon, terima Audrey sebagai anggota keluarga di Xaquille family." Akandra memohon restu pada kakeknya.
"Baiklah, jika keputusanmu sudah bulat. Kakek tidak bisa melarangmu atau menghalangimu untuk menikahinya. Akan tetapi, jika Audrey sampai membuatmu terluka dengan mengkhianatimu seperti Alessa, maka Kakek tidak akan mengampuninya," ujar Kakek Rama.
Benar, Akandra sudah menceritakan semuanya. Mulai dari kehidupan Audrey sampai hubungannya dengan Alessa dulu beserta dengan pengkhiatan yang berakhir jadi insiden yang mengerikan beberapa tahun lalu. Selama ini, Akandra belum menceritakan mengenai insiden itu pada Kakek. Termasuk juga dengan pengkhianatan Alessa.
__ADS_1
Karena menurut Akandra, tidak ada gunanya menceritakan sesuatu yang telah terjadi terlebih lagi Alessa saat itu dinyatakan sudah mati. Namun, sekarang keadaan menjadi plot twist yang membuat Akandra terpaksa menggali masa lalunya untuk menyelamatkan masa depannya dengan Audrey. Meski hatinya kembali merasa sakit, tapi akan lebih sakit jika dia kehilangan Audrey, wanita yang sangat ia cintai.
****
Di sisi lain, Audrey tengah berjalan di sepanjang jalan. Dengan teriknya matahari membuat kepalanya terasa pusing. Tubuhnya sudah berkeringat karena berjalan cukup jauh.
Audrey terpaksa berjalan karena tasnya tertinggal di mobil Akandra sehingga membuat dirinya tidak bisa memesan taksi. Karena merasa lelah, ia pun duduk di salah satu kursi besok yang ada di pinggir jalan. Ia memijat-mijat kakinya yang terasa pegal dengan kepala yang tertunduk.
Tiba-tiba seseorang memberikan minuman dingin pada Audrey. Sontak Audrey mendongak menatap ke arah orang itu. Alangkah terkejutnya Audrey sampai ia terperanjat dari duduknya.
Orang yang memberi minuman dingin itu tidak lain dan tidak bukan adalah Devanka, mantan suaminya. Karena takut, Audrey langsung pergi meninggalkannya. Devanka pun mengejar mantan istrinya itu.
"Audrey, tunggu!" teriak Devanka.
"Berhenti mengejarku, Devan. Kita susah tidak punya hubungan apa pun lagi!" teriak Audrey dengan menoleh ke belakang.
Brugh!
Sehingga tanpa dia duga, kakinya tersandung dan terjatuh. Tubuhnya jatuh telungkup. Meski Audrey merasakan sakit, namun ia mencoba untuk bangun karena ia takut Devan berbuat macam-macam padanya.
Sayangnya, pada saat Audrey mencoba untuk bangun Devanka sudah berhasil memegang tangan Audrey. "Aku mau bicara denganmu, Audrey."
"Lepaskan tanganku! Atau aku akan teriak?" Audrey mengancam Devanka.
"Silakan, karena tidak akan ada yang menolongmu di sini."
"Tolong! Seseorang tolong ak--" Teriakan Audrey terhenti karena Devanka tiba-tiba membungkam mulutnya.
****
__ADS_1
Stay tune :)