
Cafe ...
Terlihat seorang pria tengah duduk di salah satu kursi tepatnya di meja paling pojok. Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Devanka. Ia sedang bermain ponsel sembari menyeruput coffee yang sudah dipesannya.
Menit demi menit berlalu. Devanka mulai merasa bete dengan terus melihat jam tangannya. Sudah lewat dari 20 menit dia menunggu kedatangan seseorang, akan tetapi orang tersebut belum menunjukkan batang hidungnya.
Tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Devanka memutuskan untuk menghubunginya. Ia menekan nomor telepon yang diberi nama Alessa dan meneleponnya. Tak membutuhkan waktu lama, kini telepon pun telah diangkat oleh Alesss. Dengan cepat Devanka menempelkan ponsel di telinganya.
Telepon terhubung!
"Hallo, Alessa. Kamu masih di mana? Jadi bertemu tidak? Aku tidak bisa menunggumu terlalu lama. Jika kamu tidak serius, maka aku akan pergi sekarang juga," tutur Devanka setelah telepon tersambung.
"Matikan teleponnya, karena aku sudah berada di belakangmu. Tutt!" Terdengar suara Alessa dari seberang telepon. Kemudian ia memutuskan sambungan teleponnya.
Telepon terputus!
Mendengar itu, Devanka sontak menoleh ke belakang. Dan benar saja jika wanita yang sejak tadi ia tunggu sudah berada tepat di belakangnya. Dengan pakaiannya yang sexy, Alessa langsung duduk di kursi kosong berhadapan dengan Devanka.
Devanka hanya menatap wanita itu yang sibuk melihat kuku-kukunya yang lucu. "Cepat katakan, apa maumu? Kerja sama apa yang ingin kamu tawarkan padaku?" tanya Devanka tanpa banyak basa-basi.
"Slow! Tunggu aku memesan minumanku terlebih dahulu. Setelah itu baru kamu bertanya!" tegas Alessa tanpa menoleh.
Huft!
Devanka hanya bisa menghembuskan napasnya yang kasar. "Ya sudah, cepatlah!" timpal Devanka dengan nada yang malas.
Alessa pun memesan minuman yang ia inginkan. Sambil menunggu minumannya diantar, Alessa berbasa-basi terlebih dahulu pada Devanka. Namun, Devanka hanya menjawabnya dengan ekspresi yang datar.
Sedari dulu Devanka sudah tahu betul bagaimana liciknya Alessa. Jauh sebelum Audrey mengetahui jika ia memiliki saudari kembar, Devanka susah mengetahuinya. Dia menikahi Audrey juga atas permintaan Alessa. Kenapa?
Karena Alessa tidak ingin kehidupan Audrey lebih bahagia, masa depannya lebih cerah darinya. Itulah kenapa dia memaksa Devanka untuk menikahinya. Bukan tanpa sebab Devanka menerima tawaran tersebut. Pria itu diiming-imingi uang ratusan juga jika berhasil menikahi Audrey.
Flashback ...
"Nikahi saudariku, maka aku akan memberikanmu uang cash sebesar 350 juta!" perintah seorang wanita yang bernama Alessa.
"Saudarimu? Yang di panti asuhan Harapan Mama?" Pria bernama Devanka membelalakkan matanya ketika mendengar perintah tersebut.
"Yup, dia Audrey. Dia saudari kembarku," jawab Alessa dengan santai.
"Tapi, kenapa kamu tidak menikahkannya dengan pria mapan seperti Akandra, tunanganmu?" Devanka bertanya mengenai alasan Alessa.
__ADS_1
"Tidak mungkin! Aku tidak mungkin bersaing dengan saudari kembarku. Kamu ingat baik-baik! Meski dia kembaranku tapi kami sangat berbeda. Aku tidak ingin kisah cintaku, kehidupanku yang mewah dan tunangan yang tampan, mapan seperti Akandra dimiliki juga oleh Audrey. Aku ingin hidupnya sesengsara mungkin. Dan satu lagi ... kamu jangan pernah memberi tahunya jika dia mempunyai saudara kembar, paham?" jelas Alessa dengan sorotan matanya yang tajam.
"Okay, aku akan terima tawaranmu ini. Tapi, aku tidak bisa memastikan jika Audrey akan bahagia denganku, karena aku tidak pernah mengenalnya apalagi mencintainya."
"No problem, semua itu terserah padamu. Kamu bisa memperlakukannya sesuai yang kamu inginkan. Lagipula, Audrey sedikit cantik, kamu tidak akan menyesali keputusanmu untuk menikahinya." Alessa tersenyum penuh kelicikan.
"Okay, deal." Devanka saling berjabat tangan dengan Alessa.
***
"Woiiy!" Alessa memukul pelan lengan Devanka yang sedari tadi tengah melamun.
Devanka tersadar dari monolognya. "Ngapain bengong?" tanya Alessa dengan secangkir kopi di tangan kanannya.
"Euh ... enggak. Aku tidak bengong, aku hanya sedang memikirkan--"
"I know. Kamu pasti sedang memikirkan saudariku, 'kan?" tebak Alessa dengan memotong ucapan Devanka.
"Kamu benar. Entah sejak kapan aku mulai tertarik padanya. Padahal kamu tahu sendiri jika aku tidak menyukai Audrey. Tapi, setelah aku menggadaikan bahkan menjualnya pada Akandra justru aku merasa sangat kehilangan. Aku telat menyadarinya, jika aku sangat membutuhkannya. Selama aku menikah dengan saudarimu, dia tidak pernah menyakitiku. Dia selalu merawat dan menyayangiku dengan tulus. Kini aku sungguh menyesalinya," ujar Devanka dengan raut wajah yang menunjukkan kesedihan dan penyesalan.
"Tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi. Sekarang akan kuberi tahukan tujuanku mengajakmu bertemu dan kerja sama. Aku bisa saja membuat Audrey kembali padamu,"
"Tenanglah. Akan kuberi tahukan, tapi sebelum itu kamu harus menandatangani kesepakatan yang akan kita jalankan ini. Kamu tanda tangan di sini." Alessa mengeluarkan sebuah kertas putih yang sudah dipenuhi tulisan. Dia menyuruh Devanka untuk menandatangani kertas tersebut.
Tanpa berpikir panjang, Devanka mengambil kertas itu dan menandatanganinya tanpa membacanya terlebih dahulu. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah, Audrey kembali lagi padanya. Dia tidak ingin kehilangan wanita sebaik Audrey. Sejak Kepergian Audrey, ia baru menyadari akan kebaikan, ketulusan Audrey selama ini.
Maka dari itu, Devanka akan melakukan apa pun agar mantan istrinya kembali lagi padanya. Dia juga akan berjuang untuk mengambil Audrey dari tangan Akandra. Termasuk dengan bekerja sama dengan wanita licik dan jahat seperti Alessa.
"Sekarang katakan, kerja sama apa yang kamu inginkan dan apa imbalanku?" tanya Devanka to the point.
"Jika misi ini berhasil, kamu akan mendapatkan uang cash sebesar 1,2 milyar dan juga Audrey. Tapi, jika itu gagal, maka kamu harus bertanggungjawab," jelas Alessa dengan senyuman liciknya.
"Deal." Devanka menyetujui kerja sama tersebut.
"Okay, nanti malam akan kuberi tahu misi pertama yang harus kamu lakukan. Selain itu aku sudah menyewa seseorang untuk membuntuti Audrey. Sekarang aku harus pergi sebelum ada orang yang melihat kita." Alessa memasukkan kertas yang sudah ditandatangani oleh Devanka ke dalam tasnya.
Devanka hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Alessa pun pergi meninggalkan cafe tersebut. Devanka hanya menatap kepergian Alessa dengan senyuman. Ia merasa jika misi ini akan berhasil. Dia sangat yakin jika Audrey akan kembali padanya lagi.
"Kita akan kembali bersatu, Audrey. Tunggulah sebentar lagi, aku akan mengambilmu kembali," gumam Devanka dengan penuh keyakinan.
****
__ADS_1
"Kak!" panggil Audrey dari pantry.
Akandra yang tengah memakai jas pun menoleh ke arah Audrey. Ia berjalan menghampiri calon istrinya. "Kamu memanggilku, Sayang?" Akandra menatap Audrey dengan tatapan yang teduh.
"Eumm." Audrey mengangguk sembari mengolesi roti dengan selai.
"Sayang, hari ini aku akan ke rumah sakit. Daniel sudah boleh pulang, apa kamu mau ikut?"
"Tentu saja, tapi sebelum itu Kakak sarapan dulu ya. Aku sudah membuatkanmu sarapan." Audrey menyodorkan piring kecil yang berisi roti yang sudah diberi selai.
"Baiklah, aku akan sarapan. Terima kasih, Istriku." Akandra tersenyum sembari mengambil roti tersebut.
Akandra duduk di kursi tepat di depan meja pantry dan menikmati sarapan bersama Audrey. Audrey berjalan ke arah Akandra dan duduk di sebelah calon suaminya. Ia tidak sarapan melainkan asyik memandang pria tampan tersebut sedang menikmati roti sederhana buatannya.
"Apakah enak?" tanya Audrey dengan menatapnya.
"Ini roti terenak yang pernah aku makan selama ini," Akandra memuji roti buatan Audrey.
"Benarkah? Sepertinya Kakak telah memujiku secara berlebihan," kekeh Audrey.
"Aku tidak memujimu, aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan saja. Kamu mau mencobanya?" Akandra menyodorkan roti bekas gigitannya ke bibir Audrey.
Deg!
Audrey terdiam dan menatap Akandra. Sementara Akandra hanya tersenyum mempesona. "Cobalah," ucap Akandra.
Perlahan Audrey pun menggigit roti yang tengah dipegang tangan Akandra. Benar, dia menggigit roti bekas gigitan Akandra. Wajahnya merona karena malu. Karena hal itu, Audrey segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Setelah selesai sarapan, Akandra pun membersihkan mulutnya dengan tissue. Sementara Audrey, ia masih terdiam tanpa kata dengan pandangan yang masih menatap ke arah lain. Akandra yang melihat itu, segera mengambil tissue. Ia membalikkan tubuh Audrey ke hadapannya.
Kemudian Akandra membersihkan bibir Audrey. Jelas saja, hal ini membuat jantung Audrey terus berdegup kencang tak karuan. Ia semakin salah tingkah di hadapan Akandra. Bagaimana tidak, Akandra membersihkan bibirnya disertai tatapan matanya yang begitu lekat dan membuat jantungnya meronta-ronta.
"Sayang, bisakah kamu membantuku membenarkan dasiku? Aku rasa ini terlalu ketat sampai aku sedikit kesulitan bernapas."
"Akan aku betulkan." Audrey segera memegang dasi Akandra dan berniat untuk membetulkannya.
Namun, ketika dia mendekatkan wajahnya dan menatap dasi tersebut tiba-tiba Akandra memegang dagu Audrey dan ....
****
Stay tune :)
__ADS_1