
Di kamar Akandra ....
Akandra perlahan membuka matanya. Ia melihat sekeliling kamarnya termasuk melihat istrinya yang tengah tertidur di kursi sebelah ranjang dengan menggenggam tangannya. Akandra yang melihat itu tersenyum kecil sembari mengelus lembut kepala Audrey.
Tidak sengaja Akandra melihat luka lebam di sudut mata istrinya. Ia mengusap lembut luka tersebut. "Aaww," ucap Audrey yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
"Hoam," Audrey menguap seraya menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Maaf mengganggu tidurmu, Sayang," tutur Akandra dengan senyuman kecil di bibirnya.
"Tidak apa-apa, Kak. Maaf aku ketiduran." Audrey membalas senyuman suaminya.
"Kamu pasti lelah, kemarilah. Tidur di sampingku." Akandra menepuk ranjang sebelahnya.
"Bolehkah?" Audrey menoleh ke arah ranjang yang suaminya tepuk.
"Tentu saja, kamu 'kan istriku. Kamu berhak atas diriku dan juga rumah ini. Peluk aku, Audrey." Akandra merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan dari istrinya.
Audrey tersenyum sembari naik ke atas ranjang. Tanpa banyak basa-basi lagi, Audrey langsung memeluk suaminya. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Akandra. Setelah beberapa hati disekap oleh Devanka, ia baru bisa merasakan kenyamanan dikala dirinya memeluk pria yang dia cintai.
"Sayang, apa Devanka yang melukaimu sampai seperti ini?" Akandra mengangkat dagu Audrey agar bisa menatap wajahnya.
"Devan hanya memukulku sekali saja. Selebihnya adalah perbuatan Alessa. Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil saja. Aku sudah terbiasa dengan luka seperti ini," jawab Audrey dengan senyuman terbaiknya.
"Tidurlah, aku akan temui mereka berdua. Akan kubalas perbuatan mereka." Akandra melepaskan tangan Audrey yang sedang melingkar di tubuhnya.
"Kamu mau ke mana, Kak? Ingatlah, lukamu belum kering. Kendalikan amarahmu, dan temani aku." Audrey menahan tangan Akandra yang hendak beranjak dari ranjang.
"Tidak bisa, aku harus membalas perbuatan mereka karena sudah melukaimu dan berani bermain-main denganku,"
"Aku tahu, Kak. Tapi, lakukan itu nanti. Kesembuhanmu jauh lebih penting. Aku tidak ingin melihatmu sakit, turuti aku sekali saja. Tetap bersamaku." Audrey menangkup kedua pipi Akandra disertai dengan tatapan yang serius.
Akandra terdiam. Kemudian, secara perlahan dia mulai mendekatkan wajahnya dan hendak mencium bibir ranum istrinya. Akan tetapi, sebelum bibir Akandra mendarat di bibir istrinya, Audrey menutup bibirnya sendiri dengan telapak tangannya.
Audrey mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Ini kali pertama Audrey menolak ciuman dari suaminya. "Ada apa? Apa kamu marah padaku?" tanya Akandra yang merasa heran dengan penolakan dari istrinya.
"Aku hanya ingin bertanya satu hal padamu, tapi kamu harus menjawabnya dengan jujur." Audrey kembali menatap lekat suaminya.
__ADS_1
"Tanyakan saja, aku akan menjawabnya dengan jujur."
"Apa benar, Kakak sudah melakukan malam pertama dengan Alessa?" tanya Audrey dengan hati tidak tenang.
Huft!
Akandra menghembuskan napasnya kasar. Kemudian Akandra mengangguk dengan wajah yang tampak sedih disertai maya yang dipenuhi dengan penyesalan. "Maafkan aku," hanya itu yang Akandra ucapkan.
Audrey memejamkan matanya. Hatinya hancur secara berkeping-keping kala mendengar jawaban jujur dari suaminya. Bagaimana bisa Akandra mengkhianati pernikahannya tepat di malam pertamanya. Malam pertama yang harusnya dia lakukan bersama suaminya, justru suaminya sendiri malah melakukan malam pertama dengan wanita lain.
"Baiklah," timpal Audrey sembari meneteskan air matanya.
Kemudian Audrey beranjak dari ranjangnya. Dia berjalan menuju pintu kamar dan ingin meninggalkan suaminya. "Sayang, aku bisa jelasin semuanya." Akandra beranjak dari ranjangnya dan berjalan menghampiri istrinya.
"Tetap di sana! Jangan mendekat! Aku butuh waktu, jujur ... aku tidak percaya jika Kakak tega mengkhianati pernikahan kita tepat di malam pertama. Sungguh, ini menyakitkan dari semua penderitaan yang telah aku alami selama ini," ujar Audrey dengan nada yang begitu lirih.
"Maka dari itu, dengarkan penjelasanku dulu. Semua ini adalah jebakan Alessa. Dia sengaja menjebakku, jika saja aku tahu kalau wanita yang bersamaku malam itu adalah Alessa, aku tidak mungkin melakukan itu. Sungguh, itu sangat menjijikan bagiku, Audrey. Percayalah padaku, aku tidak berniat untuk mengkhianatimu." Akandra terus mendekati Audrey.
"Berhenti! Jangan mendekat lagi. Aku tau itu jebakan, tapi setidaknya kamu bisa bedakan mana Audrey dan mana Alessa. Jangan munafik, Kak. Kakak bilang sangat menjijikkan tapi Kakak sangat menikmatinya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Bagaimana jika Alessa mengandung anakmu?" skak Audrey dengan mata yang penuh dengan rasa kekecewaan.
"Cukup, Kak Akandra. CUKUP! Satu yang akan terjadi jika Alessa mengandung anakmu. Kamu tau, apa itu? Aku akan mundur. Aku akan melepaskanmu, Kak. Aku akan bercerai denganmu dan kamu harus menyetujuinya. Kamu harus tanggung jawab atas apa yang kamu lakukan itu!" tegas Audrey.
"Tidak akan pernah! Aku tidak akan menikahinya. Lebih baik aku mati dari pada harus menikahi wanita berbisa seperti saudarimu itu! Aku yakin pasti ada jalan keluarnya untuk masalah ini," Akandra mencoba meyakinkan Audrey.
"Kamu benar, Kak. Hanya satu jalan keluarnya, yaitu NIKAHI ALESSA! hanya itu jalan keluarnya." Audrey langsung keluar dari kamarnya dan pergi meninggalkan kediaman suaminya.
Prang!
Sementara itu, Akandra mengamuk. Dia menghancurkan semua barang yang berada di dekatnya. "Aaarrggghhh!" Akandra berteriak karena frustasi.
****
Ting!
Pintu lift terbuka. Terlihat seorang wanita dengan wajah yang penuh dengan luka lebam keluar dari lift. Wanita itu berjalan ke arah unit 403. Benar, wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Audrey. Ia memasukkan password untuk membuka pintunya.
Setelah pintu terbuka, dengan cepat Audrey masuk. Dia menutup pintu dengan keras. Tubuhnya merosot ke lantai sembari menangis.
__ADS_1
"Tega kamu, Kak! Kenapa kamu mengkhianatiku? KENAPA?" teriak Audrey dibumbui dengan air mata yang mengalir deras.
"Aaarrggghhh!" Audrey memukul-mukul pahanya.
Kemudian dia memeluk kedua lututnya. "Aku membencimu, Kak Akandra. Sungguh, aku sangat membencimu. Selama ini aku selalu percaya padamu bahwa kamu adalah pria yang baik tapi apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu tega menodai pernikahan kita," ucap Audrey dengan suara yang begitu lirih dan melemah.
****
Di ruangan yang dipenuhi dengan alat medis, terlihat seorang wanita sedang terbaring tak sadarkan diri. Di beberapa tubuhnya terpasang beberapa alat. Wanita itu adalah Audrey, sang istri dari pemilik hotel xaquille.
Di samping ranjang Audrey, ada Affandra yang sedang berjaga. Dia diberikan tugas oleh kakaknya jika dia harus menjaga kakak iparnya untuk beberapa hari ke depan selama Akandra belum sembuh total. Malam itu, Affandra datang ke apartemen Audrey. Namun, begitu masuk dia dikejutkan dengan Audrey yang sudah tergeletak tak sadarkan di lantai.
Maka dari itu, Affandra memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Dan saat ini, Akandra sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Rupanya, Affandra telah memberi tahu Akandra mengenai kondisi istrinya.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu. Monolog Affandra buyar, ia pun menoleh ke arah pintu dan segera berjalan menuju sumber suara untuk membuka pintu ruang rawat.
Begitu pintu terbuka, ternyata Akandra yang mengetuk pintu tersebut. Akandra nyelonong masuk dan berjalan menghampiri Audrey. Setelah sampai di ranjang istrinya, ia memegang pinggir perutnya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Kak, kamu baik-baik saja?" tanya Affandra seraya mendekati kakaknya.
"I'm okay. Bagaimana keadaan istriku?"
"Seperti yang Kakak lihat. Kak Audrey belum sadarkan diri. Jiwanya benar-benar terguncang. Dia shock dengan apa yang dialaminya. Tapi, Kakak jangan khawatir. Dokter bilang, Kak Audrey akan segera sadar," jelas Affandra.
"Apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Audrey tidak sedang menyakiti dirinya sendiri 'kan?"
"Tidak, Kak. Kak Audrey hanya pingsan saja. Tadi dokter menyarankan, untuk tidak membuat Audrey setres. Maka dari itu, Kakak harus memberikan waktu sebentar untuk Kak Audrey menenangkan dirinya. Semua yang Kak Audrey alami bukanlah masalah sepele, beri dia waktu," jelas Affandra.
"Baiklah, semoga istriku baik-baik saja dan mrngurungkan niatnya untuk bercerai denganku," timpal Akandra.
"Apa? Bercerai?"
****
Stay tune :)
__ADS_1