
"Hoamm!" Audrey menguap.
Saat ini Audrey tengah terduduk di tepi ranjang dengan mata yang masih lengket. Setelah beberapa menit mengumpulkan puing-puing kesadaran dan juga ingatan, alangkah terkejutnya ia pada saat menyadari jika dirinya sedang berada di tempat yang asing. Audrey lupa jika ia sedang berada di apartemennya.
Audrey beranjak dari ranjangnya dan mencari keberadaan Akandra. Namun, pada saat dia hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba dia melihat koper pakaiannya sudah tidak berada di tempat, melainkan sudah berada di atas lemari. Untuk memastikan penglihatannya tidak salah, Audrey pun berjalan menuju lemari serta membukakan.
Terlihat jelas jika di dalam lemari, semua pakaiannya sudah tertata rapi. Itu artinya, Akandra lah yang merapikan semua pakaiannya. Audrey pun tersenyum, karena dia tidak menduga jika Akandra akan melakukan semua ini.
"MasyaAllah, baik banget kamu, Kak," Audrey memuji Akandra seraya berjalan keluar dari kamar.
Begitu berada di ruang tengah, Audrey kembali mencari keberadaan Akandra yang tidak terlihat batang hidungnya. Ia pun memutuskan untuk mencarinya ke pantry dan juga meja makan. Barang kali Akandra menunggu dirinya di meja makan.
Namun, sesampainya di meja makan dia sama sekali tidak melihat Akandra. Ia bukannya melihat Akandra justru malah melihat makanan yang sudah dibuat Akandra tapi sudah dihidangkan dengan sangat cantik. Sekali lagi Audrey tersenyum. Kali ini dia tersenyum sembari mengucapkan rasa syukur karena melihat ketulusan hati seorang Akandra. Pria yang awalnya asing kini sudah berhasil menggetarkan hatinya.
'Pria yang baik, haruskah aku membalas perasaan dan juga menerima lamaranmu, Kak Akandra?' Audrey bertanya pada hatinya sendiri.
Audrey kembali sadar dari monolognya. Dia kembali mencari Akandra di seluruh ruangan. Tapi, semua itu tidak berhasil. Audrey tidak menemukan keberadaan pria itu.
Karena merasa khawatir, dia pun memutuskan untuk keluar dari apartemen dan mencarinya. Pada saat ia membuka pintu unit, sekali lagi dia dikejutkan dengan sosok pria gagah yang tengah berdiri di depan unitnya.
"Permisi? Anda siapa?" tanya Audrey pada pria gagah yang berdiri membelakanginya.
Reflek pria gagah itu pun membalikkan badannya. Hati Audrey yang tadinya sedikit cemas dan takut karena dia mengira pria itu adalah Devanka. Namun, dugaan dia salah. Ternyata pria itu adalah Daniel, orang kepercayaan Akandra.
__ADS_1
"Kak Daniel? Sedang apa di depan pintu unit-ku? Kenapa Kakak tidak masuk saja?" tanya Audrey disertai tatapan yang heran pada pria gagah itu.
"Bagaimana mungkin saya berani masuk jika di dalam unit ini tidak ada Tuan Akandra. Saya di sini untuk menjagamu, Nona. Tuan Akandra memerintahkan saya untuk berjaga di sini selama para bodyguard sewaan Tuan belum datang," jelas Daniel dengan tutur kata yang sangat hati-hati dan sopan.
"Loh, Kak Akandra sampe segitunya padaku. Padahal, siapa yang akan menyakitiku? Aku akan baik-baik saja, aku bisa mengurus serta menjaga diriku dengan baik."
"Bukan tanpa alasan Tuan Akandra melakukan ini, Nona. Mau saya ceritakan kisah mengenai Tuan Akandra?" tawar Daniel sembari memberanikan diri dengan menatap kedua mata Audrey.
Dengan cepat Audrey mengangguk mantap. "Ya, Kak. Mari, kita cerita di dalam," ajak Audrey.
"Tidak, Nona. Cerita di sini saja, sungguh ... saya tidak berani masuk selama Tuan Akandra tidak ada. Maafkan saya, Nona. Bukan saya lancang menolak ajakan Nona." Daniel tidak ingin tuannya salah paham jika melihat dirinya sedang bersama wanitanya.
"Baiklah, mulailah bercerita, Kak Daniel." Audrey tersenyum ramah.
"Begini, Non ... jauh sebelum Tuan Akandra memiliki hubungan dengan Nona dan juga mendiang Alessa, Tuan Akandra memiliki hubungan dengan seorang gadis yang berasal dari keluarga sangat terpandang. Wanita itu bernama Anita. Hubungan mereka awalnya romantis dan baik-baik aja. Akan tetapi, pada saat Akandra berniat untuk meminangnya, tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan Anita yang sedang berselingkuh di salah satu hotel yang hotel tersebut adalah hotel miliknya. Hatinya sangat hancur mengetahui wanita yang dia cintai sedang bercinta dengan pria lain tepat di depan matanya dan juga di hotel miliknya," jelas Daniel.
"Silakan, Nona."
"Jika mantannya saja berasal dari orang terpandang, lalu kenapa Kak Akandra memilihku untuk menjadi istrinya? Padahal banyak wanita yang lebih baik dariku. Lagi pula aku hanya seorang janda gadaian. Apakah Kak Daniel tau sesuatu tentang hal itu?" Audrey memang wajah yang serius.
"Perlu Nona Audrey ketahuil. Sejujurnya Tuan Akandra memutuskan untuk tidak menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Akan tetapi, mendiang Alessa datang ke kehidupan Tuan Akandra dan berhasil meluluhkannya. Namun, hubungan mereka itu benar-benar singkat. Pada saat Tuan Akandra sudah bertunangan dengan mendiang Alessa, hati Tuan Akandra kembali hancur Sehancur-hancurnya karena Alessa melakukan hal yang sama seperti Anita lakukan. Dia berselingkuh dengan pria lain dan tepat di depan matanya dan di hotel yang sama. Sejujurnya Tuan Akandra hanya ingin menolong Nona Audrey dari suami bejat seperti Devan, namun seiring berjalannya waktu sikap lembut dan penyabarnya Nona yang berhasil meluluhkan hatinya. Awalnya Tuan menepis perasaan itu, akan tetapi semakin ia menepisnya, perasaan itu semakin besar di dalam hatinya. Maka dari itu, dia sangat yakin jika Nona Audrey adalah sosok wanita yang selama ini dia cari. Nona Audrey dan Tuan secara tidak langsung pernah mengalami kisah cinta yang pahit. Jika saya boleh berpesan pada Nona, saya mohon untuk tidak mengkhianati ketulusan Tuan. Sudah cukup dia mengalami semua penderitaannya selama ini," Daniel menceritakan semua kisah cinta tuannya sembari menitikkan air mata.
"MasyaAllah. Saudariku telah melukai Kak Akandra. Aku akan menebus rasa sakit yang diberikan saudariku dengan membalas perasaan Kak Akandra. In Sya Allah, aku akan menerima dan mengakui perasaan Kak Akandra. Terima kasih, Kak Daniel. Kakak sudah menjawab keraguan di dalam hatiku." Audrey tersenyum lebar pada pria gagah itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, saya senang mendengarnya, Nona." Daniel membalas senyuman Audrey.
****
Akandra tengah menyetir. Dia hendak kembali ke apartemen untuk menemui Audrey lagi. "Jika dengan cara ini kau masih berulah Devanka, maka saya yang terpaksa harus turun tangan. Jadi sayangi nyawamu!" gumam Akandra seraya memukul stir beberapa kali karena kesal.
Tak lama kemudian, dia sampai di tujuan. Akandra memarkirkan mobilnya di basement. Sesampainya di basement, dia berjalan memasuki apartemen.
Akandra berdiri di depan pintu lift dan menekan tombol. Tak sampai satu menit, pintu lift sudah terbuka. Dengan cepat dia masuk dan menekan tombol untuk sampai di unit 403. Di dalam lift, Akandra hanya seorang diri.
Ting!
Pintu lift terbuka. Tanpa berlama-lama, Akandra keluar dari lift dan melangkahkan kakinya menuju unit 403. Sesampainya di unit tersebut, ia melihat Audrey tengah bersama Daniel di luar unitnya. Terlihat jelas mereka sedang berbicara sangat akrab.
Akandra semakin mempercepat langkahnya. Di dalam hatinya, dia sudah muncul sedikit kecemburuan melihat wanita yang dia cintai tengah mengobrol dengan orang kepercayaannya. Tangannya mengepal seakan-akan memukul Daniel.
Sementara itu, Audrey yang menyadari langkah kaki yang dia dengar pun segera menoleh ke sumber suara tersebut. Dan sesuai dugaan, ternyata sang pemilik langkah kaki tersebut benar Akandra. Audrey tersenyum manis ke arah pria itu.
Begitu Akandra sampai di depannya, Audrey langsung memeluk pria itu dengan sangat erat. Tentu saja hal itu membuat Akandra kebingungan. Ekspresi yang awalnya kesal berubah menjadi tanda tanya dengan pelukan tiba-tiba dari Audrey.
"Terima kasih untuk semua ketulusan hatimu, Kak. Aku menghargai semua usaha yang kamu lakukan. Dengan itu, aku sudah memutuskan untuk menerima lamaranmu serta mengakui perasaanmu."
Deg!
__ADS_1
****
Stay tune :)