
Akandra melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia menuju apartemen Audrey. Ia akan menyelidiki siapa orang yang telah membuat kekacauan ini dan berani bermain-main dengannya.
Tin! Tin!
Terdengar suara klakson dari beberapa pengemudi karena Akandra terus menyalip beberapa pengendara lainnya. Meski begitu, ia tidak mempedulikannya. Dia tetap fokus menyetir dengan wajah yang merah padam karena amarahnya yang kian memuncak.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Akandra sampai di apartemen Audrey. Dia keluar dari mobil dan berlari menuju ruang pengawas, di mana ia bisa meminta petugas apartemen untuk mengecek CCTV yang terjadi pada saat Daniel di serang dan untuk mengetahui siapa pelakunya.
Sesampainya di ruang pengawas, dia langsung mendekati sang petugas. "Tunjukkan rekaman yang terjadi di sekitar luar unit 403 sekarang, cepat!" perintah Akandra.
"Tapi, Tuan. Saya tidak bisa menunjukkan rekaman CCTV terhadap sembarang orang. Ini akan melanggar peraturan di apartemen ini."
"Kau tau siapa saya? Ah, rupanya kau tidak tahu siapa saja." Akandra berdecak kesal.
Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, dia langsung menunjukkan kartu namanya pada sang petugas. Benar saja, cara ini berhasil membuat sang petugas tercekat. "Tapi, Tuan ... bagaimana dengan nasib saya jika saya menunjukkan rekaman CCTV pada anda? Saya bisa saja dipecat dan jika saya dipecat, bagaimana nasib keluarga saya?"
"Saya akan menanggung semuanya. Akan saya pastikan kau aman! Sekarang, cepat tunjukkan rekaman CCTV itu padaku! Saya tidak punya banyak waktu!" tegas Akandra tanpa bertele-tele.
Sang petugas itu pun akhirnya mau menunjukkan rekaman CCTV-nya. Akandra melihat rekaman itu dengan seksama. "Minggir!" Akandra menyuruh sang petugas untuk beranjak dari duduknya.
Sang petugas itu pun menuruti perkataan Akandra. Dia beranjak dari duduknya dan berganti posisi dengan pria tampan dan cukup berpengaruh itu. Sementara itu, Akandra langsung duduk di kursi sang petugas serta mengotak-atik komputernya.
Kedua matanya melihat dengan seksama rekaman CCTV dari menit yang berbeda. Tiba-tiba dia melihat seorang perempuan dengan pakaian serba hitam tampak mencurigakan. Terlihat jelas di belakang wanita itu ada dua pria bertubuh kekar dan wajahnya yang cukup sangar memasuki lift yang sama bersama wanita tersebut.
Akandra terlonjak kaget pada saat melihat wanita misterius itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan calon istrinya, yaitu Audrey. Kedua bola matanya terbelalak dengan sempurna. Kemudian dia mengotak-atik lagi komputer sampai di mana ia melihat dengan jelas kedua pria itu menghajar Daniel.
Dalam rekaman itu, Daniel terlihat lengah karena fokusnya tertuju pada wanita yang diduga adalah Alessa, mantan tunangan Akandra yang telah lama tewas. Hal itu yang membuat Daniel jatuh pingsan hanya dalam beberapa kali pukulan. Selain itu, Akandra melihat, Alessa menaruh kalung tepat di sebelah tubuh Daniel dengan seringaian yang cukup mengerikan.
Percaya tidak percaya, Akandra harus mempercayai dengan apa yang dia lihat saat ini. Meski ini tak masuk akal, dia pun harus terus menyelidiki kasus ini karena salah langkah sedikitpun maka nyawa Audrey akan menjadi taruhannya. Akandra tahu betul seperti apa Alessa. Dia wanita yang sangat nekat.
"Saya beri tugas padamu, jika wanita ini kembali lagi ke unit 403 maka hubungi saya! Ini imbalan untukmu." Akandra mengeluarkan uang 10 juta untuk sang petugas.
"Baik, Tuan. Terima kasih." Sang petugas pun hanya bisa menerima uang tersebut sembari menuruti perintahnya. Kemudian dia menyimpan kartu nama Akandra.
****
Akandra berlari ke arah mobilnya. Dia akan kembali ke rumah sakit untuk memberi tahu adiknya, Affandra. Setelah sampai di depan mobilnya, ia langsung masuk dan melajukannya dengan kecepatan penuh. Di perjalanan, dia mendapat sebuah telepon dari Pak Arman, sang supir yang bekerja di Xaquille Home.
Tak membuang waktu lagi, Akandra pun menerima panggilan tersebut.
__ADS_1
Telepon terhubung!
"Hallo. Ada apa, Pak Arman?" tanya Akandra to the point.
"Gawat, Tuan ...." Terdengar suara panik Pak Arman dari seberang telepon.
"Gawat kenapa? Katakan dengan jelas!"
"Nn-nona Alessa, Nona Alessa masih hidup. Dd-dia sekarang berada di rumahmu, Tuan," jelas Pak Arman dengan gelagapan karena takut.
"Baiklah, aku akan datang. Jangan biarkan wanita itu keluar dari rumah! Tutt!" Akandra mengakhiri obrolannya.
Telepon terputus!
Suasana hati Akandra semakin panas. Darahnya mendidih, kedua tangannya mengepal dan memperlihatkan urat-urat hijau yang menonjol, menandakan jika dia serang marah besar. Sesekali ia memukul stir untuk melampiaskan amarahnya.
Tak ingin membuang waktu lebih banyak lagi, Akandra semakin menambah kecepatan laju mobilnya. Lagi-lagi dia mendapatkan sebuah telepon yang kali ini dari adiknya, Affandra. Mau tidak mau dia pun mengurangi kecepatan lajunya dan menjawab teleponnya.
Telepon terhubung!
"Hallo, Fan. Ada apa? Aku sedang menyetir, jadi cepat katakan apa yang membuatmu meneleponku!"
"Dengarkan aku baik-baik! Pertama kamu jangan memanggil Alessa dengan sebutan Kakak. Dia sudah tidak ada hubungannya lagi denganku. Kedua, kamu harus jagain Audrey dengan baik dan tenangkan dia. Aku sudah tahu mengenai ini dari CCTV apartemen. Dan saat ini Alessa datang ke rumahku. Sekarang aku harus menemuinya dan mengakhirinya permasalahan ini! Aku minta tolong padamu untuk menyuruh para detektif swasta. Selidiki tentang Alessa dan bila perlu selidiki rumah sakit yang menangani Alessa disaat dia dinyatakan tewas. Aku tunggu kabar baiknya!"
"Baik, Kak. Akan aku lakukan, Kakak hati-hati. Bila membutuhkan bantuan, hubungi aku."
"Jangan cemas, aku akan baik-baik saja. Aku tutup teleponnya, sampaikan salamku pada Audrey. Katakan aku mencintainya. Tutt!" Akandra mengakhiri obrolannya.
Telepon terputus!
****
Prang!
Suara pecahan kaca yang sengaja dipecahkan. "Cepat layani aku! Aku masih Nyonya rumah di sini!" teriak seorang wanita berusia sekitar 30 tahun.
Seluruh pelayan yang ada di Xaquille Home merasa takut bukan main. Bagaimana tidak, wanita yang berada di hadapannya tidak lain dan tidak bukan adalah Alessa. Wanita yang telah lama tiada, dan bagaimana bisa wanita yang sudah tiada bisa kembali hidup. Tapi, nyatanya semua orang melihat keberadaan Alessa. Itu tandanya Alessa memang masih hidup.
Dengan penuh ketakutan, semua pelayan melayani Alessa. Apa pun yang Alessa mau harus dituruti oleh pada pelayan. Sikap Alessa dengan Audrey sangat jauh berbeda.
__ADS_1
Alessa cenderung kasar, selalu menindas orang dengan seenaknya. Selain itu, dia adalah wanita kesepian yang selalu menghabiskan uang pemberian Akandra untuk jajan bersama para berondong. Tentu saja dia bersikap begitu karena kekayaan yang orang tua angkatnya berikan telah membuatnya menjadi monster.
Hal ini membuat Akandra muak dan ingin mengakhiri hubungannya. Akan tetapi ia tidak bisa karena rasa cintanya terlalu besar. Hingga suatu hati, di mana dia sendiri yang menyaksikan perselingkuhan Alessa dan membuat hubungannya berakhir seketika.
Namun, siapa sangka hubungan yang telah lama berakhir karena tewasnya Alessa justru kembali memanas dengan kedatangan Alessa yang ternyata masih hidup. Tujuan Alessa datang tidak lain untuk mengambil sesuatu yang telah hilang dari genggamannya. Benar, dia akan mengambil kembali Akandra dari tangan saudarinya, Audrey.
Ternyata, setelah diusut punya usut, alasan Alessa tidak mau mencari keberadaan Audrey adalah untuk membuat posisinya aman. Karena dia tahu, sejak kecil Audrey memiliki sifat yang lemah lembut dan baik hati terhadap sesama. Dari mana dia tahu? Sebab, dia sudah menyewa beberapa orang untuk terus mencari tahu gerak gerik Audrey.
Darahnya semakin mendidih pada saat mengetahui mantan tunangannya akan menikahi saudarinya sendiri. Tentu hal itu membuat hatinya hancur berkeping-keping. Pria yang selama ini akan menjadi suaminya kini akan menikahi wanita yang merupakan saudarinya sendiri.
"Katakan, di mana kamar Audrey?" tanya Alessa dengan suara yang lantang.
Seketika para pelayan saling tertatapan satu sama lain. Dia tidak berani menunjukkan kamar Audrey pada Alessa karena hal itu akan membuat tuannya marah besar. Mereka semua hanya bisa tertunduk tak menjawab pertanyaan Alessa.
"Ck! Baiklah, jika kalian tidak mau menunjukkannya padaku, aku akan mencarinya sendiri." Alessa berdecak kesal.
Kemudian dia berjalan menelusuri setiap ruangan untuk mencari kamar Audrey. Semua orang hanya menatap kepergian Alessa tanpa ada yang berani menghalanginya. Dia harap-harap cemas menunggu kedatangan sang pemilik rumah yaitu Tuan Akandra Xaquille.
Setelah beberapa menit kemudian, Alessa berhasil menemukan kamar yang dipakai Audrey. Tapi, sayangnya ... kamar itu sudah kosong karena Audrey sudah pindah ke apartemen. Alessa memasuki kamar itu dan melihat beberapa barang-barang yang ada di kamar tersebut.
Brakk!
"Jangan sentuh barang-barang yang ada di sini!" teriak seorang pria dengan menendak pintu cukup keras.
Alessa terkejut dan membalikkan badannya. Tanpa merasa takut sedikitpun, ia melemparkan senyuman pada pria yang baru saja datang. Ternyata pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Akandra, mantan tunangannya dulu.
Alessa berjalan mendekati Akandra dan langsung memeluknya dengan erat. "Bicara dengan pelan, Sayang. Kenapa harus berteriak seperti ini," bisik Alessa di telinga Akandra.
Brugh!
Akandra mendorong tubuh Alessa sampai terjungkal ke lantai. Bokongnya mencium lantai disertai meringis. "Kenapa kamu kasar sekali, Mas? Sejak kapan kamu sekasar ini padaku? Apa Audrey telah menghasutmu untuk memperlakukanku seperti, hah?"
"Diam! Jangan sangkut pautkan saudarimu! Dia tidak pernah menghasutku seperti itu. Dia wanita mulia yang telah mengajariku banyak hal. Aku peringatkan padamu untuk jauhi calon istriku! Jangan berani bermain-main denganku!"
"Oh iya? Jika dia wanita mulia, kenapa dia merebut tunanganku dan menjadikannya calon suami? Wanita mulia tidak akan mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Dan satu lagi! Dia bukan saudariku! AUDREY BUKAN SAUDARIKU! AKU MEMBENCINYA!" pekik Alessa dengan semua kekesalannya.
"Audrey!" teriak seorang wanita yang berada di luar kamar tersebut.
****
__ADS_1
Stay tune :)