Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 38 > Percekcokan Double A


__ADS_3

Seketika jantung Akandra langsung berdegup kencang. Hatinya bergetar mendengar kalimat yang Audrey lontarkan. Kalimat yang selama ini selalu dia tunggu.


Akandra melepaskan pelukannya dan menatap kedua manik Audrey dengan tatapan yang hangat. Kemudian tangan kekarnya menyambar tangan Audrey dan membawanya masuk. Sementara itu, Daniel tetap berdiam diri di depan pintu unit.


Audrey terus melihat ke arah tangannya yang sedang digenggam itu. Bibirnya tersenyum, dia belum pernah digenggam sehangat ini oleh pria, sekali pun itu Devanka. Bisa dikatakan Audrey ini memang sosok wanita sekaligus mantan istri yang kurang kasih sayang.


Hal itulah yang membuat Audrey terharu ketika mendapatkan perlakuan hangat dari Akandra. Tanpa dia sadari, senyuman bahagia itu berubah menjadi tetesan air mata. Ia menundukkan kepalanya, agar Akandra tidak mengetahuinya.


"Duduklah, aku mau menanyakan sesuatu padamu." Akandra menyuruh Audrey untuk duduk di sofa panjangnya.


Tanpa mengatakan apa pun, Audrey langsung duduk. Diikuti oleh Akandra yang duduk di sebelahnya. Pada saat Akandra menoleh tepat ke wajah Audrey, dia melihat ada air mata yang menetes dari manik sang wanita kesayangannya.


"Apa yang membuatmu menangis? Apa genggamanku terlalu erat sehingga tanganmu kesakitan?" tanya Akandra seraya memeriksa tangan Audrey yang ia genggam tadi.


Audrey mengangkat wajahnya dan menatap lekat Akandra. "Tidak, Kak. Aku menangis karena aku terharu. Aku beruntung karena aku dikelilingi orang-orang baik seperti Kakak," jawab Audrey dengan mata yang berkaca-kaca.


"MasyaAllah ... benarkah itu? Jadi, mengenai ucapanmu tadi--"


"Ya, Kakak. Aku menerimamu. Mulai sekarang aku akan berusaha membuka hatiku untukmu. Aku akan memperlakukanmu sama seperti Kakak memperlakukanku dengan semua ketulusan Kakak. Akan tetapi, aku belum bisa melangsungkan pernikahan atau pun bertunangan sebab aku masih dalam masa iddah," potong Audrey.


"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Inilah yang aku tunggu selama ini. Jangan khawatir, aku akan setia menunggumu. Mendengar kejujuranmu ini saja sudah membuatku sangat bahagia."


"Terima kasih sudah memahamiku, Kak. Jika Kakak berkenan, apa boleh aku mengetahui kisah masa lalu Kakak? Agar aku bisa mengenal Kakak lebih jauh lagi," tutur Audrey dengan penuh kelembutan dan disertai tatapan yang hangat.


"Tentu saja. Apa yang ingin kamu ketahui dariku? Masa lalu yang mana?" Akandra balik bertanya pada Audrey dengan senyuman di bibirnya.


"Semuanya. Aku ingin mengetahui segalanya, agar pada saat kita menikah nanti sudah tidak ada kebohongan lagi diantara kita," jelas Audrey dengan jujur.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang kisah yang mana dulu yang ingin kamu dengar? Kisah masa kecil, cinta, bisnis, atau mendiang orang tuaku?"


"Mendiang orang tua? Jadi, Kakak--" Audrey tercengang begitu mendengar kalimat terakhir Akandra.


"Ya, orang tuaku sudah meninggal. Aku adalah anak yatim piatu, sama sepertimu. Akan tetapi, aku masih memiliki Affandra dan juga Kakek Abirama," jawab Akandra dengan mata yang sendu.


"Maafkan aku, Kak. Aku tidak bermaksud melukai hatimu seperti ini." Audrey menyentuh kedua tangan Akandra dengan perasaan yang tidak enak.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu berhak tahu semua tentangku." Akandra membalas sentuhan tangan Audrey dengan mengelus pipi Audrey.


"Kakak, kalau boleh ... aku ingin mengetahui kisah cinta Kakak," ujar Audrey.


"Kisah cinta?" Akandra mengerutkan dahinya.


"Ya, Kakak." Audrey menganggukkan kepalanya.


'Haruskah aku jujur tentang kisah cintaku dengan Alessa? Haruskah aku jujur jika penyebab kematian Alessa adalah diriku sendiri?' batin Akandra bertanya-tanya.


Akandra tersadar dari monolognya. "Baiklah, aku akan menceritakannya. Tapi, sebelum itu kamu harus berjanji terlebih dahulu."


"Janji? Janji apa?" Audrey menautkan kedua alisnya.


"Janji, kalau kamu tidak akan meninggalkanku apa pun yang terjadi atau apa pun yang kamu dengan dari ceritaku ini. Sebab ini menyangkut saudarimu." Akandra menyodorkan jari kelingkingnya.


"Baiklah, kalau begitu aku berjanji. Apa pun yang aku dengar dan apa pun yang akan terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku berjanji jika aku akan selalu bersamamu." Audrey tersenyum.


"Sebenarnya aku sudah memutuskan pertunangan dengan Alessa setelah aku memergokinya sedang berselingkuh dengan pria lain. Dan pada saat itu, sebuah kecelakaan terjadi yang menewaskan Alessa dan itu ulahku. Apakah setelah mendengar kejujuranku ini, kamu akan tetap bersamaku?"

__ADS_1


"Menewaskan Alessa? Aa-apa maksudmu?" tanya Audrey gelagapan.


"Aku tidak sengaja menembaknya saat itu."


"Apa? Kakak menembak Alessa?" Seketika Audrey terkejut bukan main.


Kedua bola matanya terbelalak dengan sempurna. Dia tidak menduga jika penyebab kematian saudarinya adalah pria yang akan menjadi calon suaminya nanti. Audrey membenarkan posisi duduknya. Ia terlihat sedikit menjauhi Akandra.


"Aku tidak sengaja, Audrey. Aku tidak tahu jika tembakan itu akan mengenai Alessa. Jika saja aku tahu jika Alessa berani mempertaruhkan nyawa untuk selingkuhannya, aku tidak akan melepaskan tembakan itu. Dia lebih memilih mati demi pria itu ketimbang menikah denganku," jelas Akandra dengan terus mendekati Audrey.


"Kenapa Kakak tega menghilangkan nyawa saudariku? Apakah tidak ada cara lain untuk melampiaskan kemarahanmu? Apa harus menghilangkan nyawanya? Di mana hati nuranimu, Kak Akandra? Kakak tega telah memisahkanku dengan Alessa." Audrey langsung menangis mengetahui fakta itu.


"Aku minta maaf, Audrey. Demi Allah SWT, aku tidak berniat melakukan itu. Itu terjadi begitu saja. Aku telah berdosa, maafkan aku. Percayalah, aku tidak berniat untuk menghilangkan nyawanya." Akandra langsung bersimpuh di kaki Audrey pada saat Audrey berdiri dan hendak pergi.


"Jangan menyebut nama Allah SWT hanya untuk menyembunyikan kejahatanmu itu, Kak! Sungguh, aku tidak menyangka jika pria yang baru saja meluluhkan hatiku dalam sekejap sudah membuatku ragu!" tegas Audrey disertai lelehan air mata yang terus keluar dari kedua matanya.


"Percayalah Audrey, aku tidak melakukan itu secara di sengaja. Jika kamu mau, kamu boleh menghukumku. Tapi, aku mohon maafkan aku." Untuk pertama kalinya Akandra bersimpuh di kaki seorang wanita dan meminta pengampunannya.


"Jangan meminta maaf padaku, Kak. Minta maaf pada Alessa dan juga minta pengampunan pada Allah SWT. Sungguh aku benar-benar kecewa padamu, Kak." Audrey terus menangis merasakan sakit di hatinya.


Bagaimana tidak, dalam sekejap hatinya dipatahkan dengan sebuah fakta mengenai kematian saudarinya. Baru beberapa jam saja dia merasakan indahnya jatuh cinta, tapi sudah dipatahkan kembali. Audrey membalikkan badannya dan berjalan menuju kamar.


Melihat itu, Akandra bangun dan menahan tangan Audrey. "Aku mohon maafkan aku, Audrey. Aku rela melakukan apa pun agar kamu mau memaafkanku. Sungguh, aku menyesal atas kejadian itu." Akandra masih terus memelas pada Audrey.


"Biarkan aku sendiri, Kak. Aku tidak tahu harus memperlakukanmu seperti apa. Mengertilah, ini sangat sulit untukku," jelas Audrey tanpa menoleh ke belakang.


Mendengar itu, mau tidak mau Akandra pun melepaskan pegangan tangannya dan membiarkan Audrey untuk sendiri. 'Seandainya aku tidak mengatakan kebenaran itu, Audrey tidak akan sekecewa ini. Apakah aku ditakdirkan untuk tidak pernah berhasil dalam menjalin hubungan? Apa ini hukuman untukku?' Akandra menyesali atas apa yang telah terjadi.

__ADS_1


****


Stay tune :)


__ADS_2