
"Loh, loh ... bukankah Kakek sedang--"
"Semua itu sandiwara, Cucuku. Kakek tidak sebenarnya sakit. Kakek hanya pura-pura," sela Kakek Abirama disertai duduk kembali di tepi ranjang.
"Apa?" Audrey dan Akandra terlonjak kaget disertai bola mata yang terbelalak dengan sempurna.
"Kami semua sedang bersandiwara, Kak Andra," sahut Affandra.
"Tapi, mengapa? Mengapa kalian mesti bersandiwara seperti ini? Ini sangat tidak lucu! Kalian semua telah membuatku cemas. Kalian tahu, aku ketakutan dan sudah berpikiran yang tidak-tidak mengenai Kakek. Sungguh, kalian membuatku kesal!" tegas Akandra dengan membalikkan badan dan berjalan menuju gordyn jendela.
"Semua atas perintahku, Cucuku. Aku hanya ingin kamu dan Audrey tidak bercerai. Kakek tidak ingin hubungan kalian kandas karena masalah Alessa. Dan Kakek ingin segera mendapatkan cucu dari kalian berdua," jelas Kakek Abirama.
"Buyut?" sahut Akandra dan Audrey secara bersamaan.
Akandra seketika langsung menoleh ke belakang, tepat ke arah kakeknya duduk. Ia berjalan cepat menghampiri sang Kakek disertai tatapan yang begitu lekat. "Kakek ingin buyut?" tanya Akandra lagi untuk memastikan keinginan kakeknya.
"Iya, tentu saja. Kamu 'kan tau sendiri kalau usia Kakek sudah tidak muda lagi. Kesehatan Kakek semakin hari semakin menurun. Dan Kakek ingin sebelum Kakek menemui ajal, aku ingin melihat anak-anakmu dan juga anak dari Affandra nanti. Agar Kakek bisa pergi dengan tenang. Kalian mau 'kan menuruti permintaan Kakek yang ini?" Kakek Abirama menatap kedua cucu dan menantu cucunya dengan tatapan yang sendu.
"Akandra tidak masalah akan hal itu, Kek. Aku serahkan semuanya pada Audrey. Jika istriku siap maka kami akan segera melakukan program kehamilan. Bagaimana, Sayang?" Akandra menjawab pertanyaan Kakek serta diakhiri dengan pertanyaan pada sang istri.
"Bismillah, aku siap, Mas. Jika Kakek sudah menginginkannya maka kita sebagai cucu harus menurutinya. Audrey siap mengandung anak dari Mas Andra, Kakek," tutur Audrey dengan santun dan lemah lembut.
Ia langsung menjawab tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Kenapa? Karena Audrey sudah sangat yakin dengan Akandra. Dia melihat ketulusan dan kasih sayang yang begitu besar pada diri suaminya serta rasa ingin memiliki seorang anak sudah terlihat di mata dan perilakunya.
Jelas saja, bagi seorang Akandra yang merupakan pemilik hotel Xaquille dan juga pengusaha yang mapan, hidupnya akan lebih terasa sempurna jika dia memiliki seorang anak dan bisa merubah statusnya menjadi seorang ayah. Semapan dan setampan apa pun ia, jika dirinya belum dikaruniai seorang anak, maka semua itu hanyalah sia-sia. Sebab kebahagiaan dan kesempurnaan yang sesungguhnya terletak pada habisnya malaikat kecil yang tidak bersayap yaitu anaknya sendiri. Benih dari cintanya bersama Audrey.
"MashaAllah ... kamu serius, Sayang?" Akandra memegang kedua bahu Audrey dan menatapnya dengan kedua mata yang berbinar.
__ADS_1
Audrey mengangguk mantap. "Iya, Mas. Aku serius. Aku siap mengandung anakmu, Tuan Xaquille." Audrey mengelus wajah tampan Akandra dengan tangan kanannya.
"Thank you so much, my wife." Akandra seketika langsung memeluk tubuh Audrey dengan erat karena saking merasa senangnya.
Setelah mendengar kalimat yang dilontarkan istrinya, Akandra sampai menitikkan air mata karena terharu. Dia tidak pernah menduga jika Audrey akan bersedia mengandung dalam waktu dekat. Padahal, sedari awal hubungannya dipenuhi dengan rintangan, bisa dikatakan sudah berada di ujung tanduk dan akan kemungkinan akan bercerai. Namun, atas izin-Nya kini hubungan keduanya membaik dan Audrey telah berlapang dada untuk memaafkan kesalahpahaman Akandra dalam meniduri saudari kembarnya, yaitu Alessa.
Audrey berpikir jika hal itu hanyalah musibah belaka. Sementara itu, semua orang yang ada di kamar tersebut turut merasa haru dan turut meneteskan air matanya. Mereka tidak pernah melihat Akandra sebahagia ini sampai menitikkan air matanya.
"Semoga hubungan kalian makin langgeng ya, Cucuku. Kakek berharap, kalian bisa menjadi pasangan yang ideal yang saling membutuhkan satu sama lain. Lengkapilah setiap kekurangan dari masing-masing dan genggam tangan kalian untuk berjuang sama-sama. Sebab ujian rumah tangga itu pasti ada. Kakek yakin kalian ini sudah dewasa. In Sya Allah, kalian akan mampu menghadapi setiap masalah yang akan datang. Kuncinya hanya satu, yaitu kejujuran. Ingat ... jangan pernah kalian sekali-kali mematahkan, menghancurkan kepercayaan pasangan. Sebab pengkhianatan itu akan selalu berakhir mengenaskan. Kalian paham maksud Kakek 'kan?" Kakek Abirama menasehati cucu menantunya.
"Iya, Kakek. Akan kami ingat selalu pesan nasihat dari Kakek. Kami akan saling support, saling menyayangi dan berjuang sama-sama. Do'akan kami agar kami bisa segera mendapatkan momongan. Semoga Allah SWT memberikan kepercayaan untuk kami berdua, mohon do'anya, Kek." Akandra mencium punggung tangan kakeknya.
"Itu pasti, Nak. Kakek akan selalu mendo'akan cucuku."
"Oh iya, Kek ... bagaimana dengan Affandra? Bagaimana dia punya anak sedangkan dirinya sendiri saja masih menzombie," sindir Akandra seraya melirik ke arah adiknya.
"Rupawan sih rupawan tapi percuma aja kalau statusnya masih jomblo,"
"Astaga ... kamu lihat ini Kakak ipar? Suamimu ini tak ada habis-habisnya menyudutkanku seperti ini," Affandra mengadu pada Audrey perihal Akandra yang meledeknya.
"Sayang, sudah cukup. Jangan meledek adikmu seperti ini. Wajar saja dia masih jomblo, toh masih muda ini usianya. Jangan cemaskan soal jodoh. Setiap makhluk hidup sudah ditakdirkan berpasangan. Mungkin belum waktunya saja," jawab Audrey dengan sedikit bijak.
"Woah ... bijak sekali istriku ini." Akandra mencubit gemas kedua pipi istrinya.
"Nah, berhubung hubungan Akandra dan Audrey sudah membaik. Sebagai tanda syukurku, bagaimana jika malam ini kita adakan makan bersama?" ujar Kakek Abirama dengan antusias.
"Heumm ... boleh juga itu, Kek. Kapan acaranya?" tanya Akandra sembari menoleh ke arah kakeknya.
__ADS_1
"Besok malam, bagaimana?"
"Setuju," jawab semua yang ada di kamar dengan sangat antusias.
****
Malam hari ....
Saat ini Akandra dan Audrey sedang berada di kamarnya. Mereka baru pulang dinner pertamanya setelah menikah. Hubungan keduanya semakin harmonis tanpa lagi membicarakan soal kesalahpahaman malam itu.
"Sayang, berhubung kita sudah membaik dan aku memutuskan untuk memaafkan serta menerimamu kembali, boleh aku meminta sesuatu padamu?" tanya Audrey yang tengah duduk di kursi depan meja rias seraya menatap suaminya dari pantulan cermin.
"Katakanlah, Sayang. Akan aku penuhi permintaanmu itu," jawab Akandra disertai senyuman yang mempesona.
"Aku ingin Mas ...."
Mendengar hal itu, Akandra terperanjat dari duduknya. Kemudian dia berjalan menghampiri istrinya. Tanpa banyak bicara, dia menarik lembut tangan istrinya serta membawanya pergi ke balkon.
"Mari, kita bicara di balkon. Udara di sana akan terasa segar," Akandra mengajak istrinya dengan suara yang begitu lembut.
Sesampainya di balkon, Akandra berdiri tepar di belakang istrinya. "Lihat itu, Sayang!" Akandra menunjukkan jari telunjuknga ke arah langit yang dipenuhi dengan bintang yang bersinar terang.
Audrey menengadahkan kepalanya ke arah langit. "Subhanallah, indah sekali, Mas," ucap Audrey dengan penuh rasa kagum.
Kemudian Akandra memeluk Audrey dari belakang sembari membisikkan sesuatu di telinga istrinya ....
****
__ADS_1
Stay tune :)