
Tok! Tok! Tok!
Belum sempat Akandra menjawab pertanyaan Audrey, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar. Akandra tidak melanjutkan ucapannya, melainkan berjalan ke arah pintu. Sesampainya di pintu, pria itu segera membuka pintunya.
"**-tuan? Maafkan saya, saya tidak tahu jika Tuan sedang berada di kamar Nona Audrey. Maafkan saya karena saya telah mengganggu Tuan bersama Nona Audrey," ucap salah satu pelayan dengan sedikit gelagapan karena takut.
"Santai saja, ada apa?" tanya Akandra dengan berdiri tepat di depan sang pelayan.
"Makan malam sudah siap, Tuan."
"Baiklah, kami akan segera turun. Pergilah,"
"Saya permisi." Pelayan itu pun menundukkan kepalanya, lalu pergi meninggalkan kamar Audrey.
Akandra kembali masuk ke kamar dan membawa kotak obat yang dia bawa tadi. "Audrey, saya tunggu kamu di meja makan. Makan malam sudah siap, saya pergi duluan." Akandra pergi meninggalkan Audrey di kamarnya.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Audrey berjalan mengikuti Akandra, kemudian dia menutup pintu kamarnya setelah melihat Akandra pergi. Dia duduk di depan meja rias sembari menatap wajahnya sendiri. Perlahan tangannya mengelus luka yang telah diobati Akandra.
"Kira-kira apa yang Tuan Akandra ucapkan tadi? Haruskah aku memberinya kesempatan untuk membuka hatiku? Tapi ... aku masih menjadi istri sahnya Devanka. Dalam waktu satu bulan suamiku akan menjemputku, entah kenapa aku merasa sedih dan tidak ingin meninggalkan rumah ini dan juga Tuan Akandra? Apakah hatiku sudah luluh karena kebaikannya?" Audrey bermonolog dalam lamunannya.
"Enggak! Itu enggak boleh terjadi! Aku tidak mungkin berkhianat pada suamiku! Biar bagaimanapun juga Devanka tetap suamiku, walau dia suka menyiksaku tapi dia tetap suamiku. Tapi ... apa aku tahan jika dia terus menyiksaku dan menjadikan aku budaknya lagi? Berapa lama aku akan menahannya? Ya Allah, kenapa aku terjebak di antara dua pria seperti ini? Berikan aku petunjuk, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku kembali pada suamiku atau aku memilih bersama Tuan Akandra dan menerima tawarannya?" batin Audrey semakin bimbang.
Dia tidak tahu keputusan apa yang akan dia ambil nanti. Audrey beranjak dari duduknya dengan pikiran yang berkecambuk. Perlahan dia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju meja makan.
****
"Wanita itu selalu saja membuatku menunggu. Kalian pergilah ke kamarnya dan suruh dia menemuiku!" perintah Akandra yang sudah mulai bete.
Bagaimana tidak, dia sudah menunggu lebih dari setengah jam di meja makan. Entah apa yang Audrey lakukan di kamarnya sampai dia harus menunggunya selama ini. Sementara itu, para pelayan hendak pergi ke kamar Audrey. Namun, sebelum mereka pergi, Audrey sudah berada di depan mereka.
__ADS_1
"Itu tidak perlu, Tuan amarah. Wanita yang Tuan cari sudah berada di hadapanmu," sahut Audrey dengan berdiri di depan Akandra.
"Apa yang kamu lakukan selama di kamar? Kenapa kamu selalu membuatku menunggu lama? Apa kamu pikir saya pria pengangguran yang punya banyak waktu?" Akandra memicingkan matanya pada Audrey.
"Lah, kalau begitu kenapa Tuan menunggu saya? Kenapa tidak makan duluan saja? Kenapa harus repot-repot menunggu saya?" celetuk Audrey dengan posisi masih berdiri di depan Akandra.
Mendengar itu, Akandra langsung berdiri dari duduknya dan berjalan mengitari meja makan menuju Audrey. Tanpa mengatakan apa pun, Akandra menarik pinggang ramping Audrey dan menatapnya dengan lekat. Sontak, Audrey membelalakkan matanya.
"Saya sudah berjanji padamu, Nona. Itulah kenapa saya masih menunggumu di meja makan. Apakah kamu lupa, bahwa sebentar lagi kamu akan menjadi istriku? Ingatlah, kita akan segera menikah!" tegas Akandra sembari mendekatkan wajahnya.
Gleuk!
Audrey hanya tertegun terdiam mematung mendengar ucapan tuannya. Sekali lagi, jantungnya kembali berdegup kencang. Untuk yang kesekian kalinya, Audrey dibuat terdiam membisu. Sementara itu, para pelayan hanya bisa tertunduk melihat adegan tak terduga itu.
****
__ADS_1
Stay tune :)