Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 63 > Audrey Pergi


__ADS_3

Tutt!


Akandra mengakhiri panggilan telepon dengan Affandra. "Daniel!" panggil Akandra dengan suara yang lantang.


Mendengar namanya dipanggil, Daniel yang saat ini berada di luar ruang penyekapan Alessa dan Devanka segera masuk. Dia pergi menghadap tuannya. Setelah berada di hadapan Akandra, Daniel membungkukkan sedikit badannya tanda hormat.


"Iya, Tuan."


"Siapkan mobil sekarang juga, cepat!" perintah Akandra dengan raut wajah yang panik.


"Baik, Tuan." Daniel berlari meninggalkan ruang bawah tanah dan pergi ke basement untuk menyiapkan mobil permintaan tuannya.


Sementara Akandra, dia masih bersama di ruang penyekapan. "Dan kalian berdua! Hari ini kalian bebas dari hukumanku. Tapi, aku akan datang kembali dan memberi kalian pelajaran!" Akandra menunjuk kedua sandranya dengan jari telunjuk disertai tatapan mata yang bengis.


Akandra keluar dari ruang penyekapan dengan kembali memasukkan kode rahasia. Pria itu berjalan dengan langkah yang terburu-buru. Dia menutup semua pintu transparan sebelum meninggalkan ruang bawah tanah.


Tak lama kemudian, Akandra sampai di halaman rumahnya. Dengan cepat dia masuk mobil. Kali ini Akandra duduk di kursi belakang dengan mobil yang dikendarai oleh Daniel, orang kepercayaannya.


"Ayo jalan, kita pergi ke rumah sakit!" perintah Akandra dengan wajah yang cool.


"Baik, Tuan." Daniel melihat tuannya dari kaca spion.


Daniel mulai menghidupkan serta melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Tambah kecepatannya, Daniel! Cepat!" perintah Akandra dengan mata yang sibuk menatap ponsel.


"Siap, Tuan." Daniel menambah kecepatan lajunya sampai di atas rata-rata.


****


Ruang rawat ....


"Habislah aku! Apa yang harus aku katakan pada Kak Akandra." Affandra sedang kebingungan dengan apa yang telah terjadi setelah kepergian dirinya.


Brakk!


Sontak Affandra terperanjat dari duduknya setelah melihat pintu terbuka paksa oleh seseorang. Kemudian dia melihat ada dua orang pria masuk dengan wajah yang tidak asing bagi Affandra. Benar, kedua pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Akandra dan juga Daniel.

__ADS_1


"Bagaimana bisa Audrey pergi? Apa kamu sedang bercanda denganku?" Akandra memegang kedua bahu adiknya disertai tatapan yang tajam.


"Tidak, Kak. Aku serius, Kak Audrey pergi. Dan aku menemukan surat ini di atas bantal," jelas Affandra sembari menunjukkan sebuah surat yang ia temukan pada saat hendak membesuk kakak iparnya tadi. Tanpa banyak basa-basi, Akandra merebut surat tersebut dan langsung membukanya.


{Maafkan aku, Kak. Seharusnya takdir tidak mempertemukan kita. Seharusnya aku tidak pernah hadir dalam kehidupanmu. Mungkin semua itu tidak akan pernah terjadi, hubunganmu dengan saudariku Alessa akan baik-baik saja. Apa yang dikatakan Alessa memang benar, aku tidak pantas bersanding denganmu. Aku hanyalah wanita gadaian. Akulah penyebab retaknya hubungan Kakak dengan Alessa. Aku minta maaf dan aku pamit. Semoga Kakak selalu bahagia. Salam, Audrey.}


Setelah membaca isi surat tersebut, Akandra melihatnya, lalu memasukkannya ke dalam saku jas. "Fan, bantu aku mencari Audrey sekarang juga! Ayo, Daniel!" Akandra bergegas meninggalkan rumah sakit bersama kedua pria tampan tersebut.


Sesampainya di basement rumah sakit, Akandra masuk ke dalam mobilnya. Ia mengendarai mobilnya sendiri tanpa didampingi oleh Daniel. Sedangkan Affandra mengikuti mobil kakaknya ditemani oleh Daniel. Lebih tepatnya mobil Affandra dikendarai oleh Daniel.


****


Setelah beberapa jam mencari Audrey di jalanan, kini Akandra memutuskan untuk pergi ke apartemen Audrey. Hanya dalam beberapa menit saja, Akandra sudah tiba di unit 403 yaitu tempat tinggal Audrey. Akandra masuk unit 403 dan memeriksa semua sudut, barangkali Audrey masih berada di apartemennya.


Namun, setelah dia periksa setiap sudut apartemen, dia tidak menemukan adanya Audrey. Jangankan Audrey, pakaian istrinya saja sudah tidak ada. Itu artinya, Audrey memang sudah bertekad untuk meninggalkan Akandra.


"Tidak, Audrey! Kamu tidak boleh mundur! Kamu tidak boleh pergi ninggalin aku seperti ini. Kita masih berstatus suami istri," gumam Akandra dengan suara yang pelan.


Tubuhnya jatuh di sofa dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Dia benar-benar frustasi. Entah ke mana perginya Audrey, tempat mana yang Audrey datangi saat ini? Ia bahkan tidak tahu banyak mengenai Audrey.


****


"Ada yang bisa Ibu bantu, Neng?" tanya wanita itu pada Audrey yang sedang duduk berhadapan dengannya.


"Maaf, Bu. Saya dengar katanya Ibu memiliki banyak kontrakan. Apa diantara kontrakan semua kontrakan Ibu ada kamar kosong?" tanya Audrey dengan santun dan ramah.


"Ya, Neng. Benar, kebetulan sekali ada dua kamar kosong. Kalau boleh tahu, Neng tinggal sendiri atau sama suami Neng?"


"Saya tinggal sendiri, Bu. Kebetulan suami saya sedang bekerja di luar kota." Audrey tersenyum ramah.


"Baiklah, mari Ibu antar ke kontrakan Ibu." Ibu kontrakan mengajak Audrey menuju ke kamar kosong.


Audrey mengangguk meng-iyakan. Kemudian dia mengikuti langkah sang pemilik kontrakan. Berhubung rumah Ibu tersebut dengan kontrakannya tidak terlalu jauh, Audrey sudah sampai di kontrakan tersebut.


"Ini dua kamar kosong, Neng. Terserah Neng mau isi yang mana." Ibu kontrakan menunjukkan jari telunjuknya ke dua kamar kosong.

__ADS_1


"Boleh saya lihat dulu, Bu?"


"Tentu saja, mari." Ibu kontrakan membuka pintu kamar kosong dan mempersilakan Audrey untuk masuk.


"Terima kasih, Bu." Audrey tersenyum sebelum dia memasuki kamar kosongnya.


Ibu kontrakan hanya menanggapinya dengan anggukan yang disertai senyuman khas ibu-ibu. Kemudian keduanya masuk kamar kosong. Audrey melihat-lihat dari mulai kamar, ruang tengah, dapur dan kamar mandi.


Setelah dirasa nyaman, Audrey pun memutuskan untuk tinggal sementara di kontrakan itu. "Saya pilih kamar yang ini, Bu. Berapa biaya perbulannya?" tanya Audrey sembari mengambul dompet dalam tasnya.


"Murah saja, Neng. Khusus buat Neng yang cantik, Ibu kasih 4,1 juta saja perbulan," jawab Ibu kontrakan dengan ramah.


"Baiklah, ini uangnya. Saya bayar untuk 3 bulan ke depan ya." Audrey memberikan uang kontrakan untuk tiga bulan ke depan.


"Naik, Neng. Ibu terima uangnya, semoga Neng betah tinggal di kontrakan Ibu ya. Jika perlu sesuatu lapor saja sama Ibu. Oh iya, untuk koper Neng yang masih berada di rumah Ibu, nanti biar anak Ibu yang mengantarkannya. Neng istirahat saja," ujar Ibu kontrakan dengan mulutnya manis dan pandai menyenangkan hati orang.


"Baik, Bu. Terima kasih banyak. Maaf saya sudah merepotkan Ibu,"


"Hei, Neng geulis. Tidak perlu seperti itu. Tidak merepotkan sama sekali kok, tenang aja. Neng istirahat saja, Ibu pamit ya."


"Iya, Bu." Audrey tersenyum.


Kemudian Ibu kontrakan pergi meninggalkan Audrey di kamar yang ia pilih. Setelah melihat pemilik kontrakan pergi, Audrey segera menutup pintunya dan mulai beres-beres. Singkat cerita, setelah selesai beres-beres, Audrey duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Kamar itu sudah di fasilitasi dengan barang-barang yang bagus.


Baru saja Audrey menghilangkan penatnya dan hendak memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Audrey membuka matanya dan beranjak dari duduknya. Ia berjalan untuk membuka pintunya.


"Siapa yang datang? Apakah anak Ibu kontrakan? Ya, sepertinya memang dia," gumam Audrey


Namun, pada saat pintu terbuka tubuh Audrey terasa kaku. Kedua matanya terbelalak dengan sempurna melihat seseorang yang tengah berdiri di depan kamarnya dengan koper di tangan orang tersebut.


"Permisi, cari siapa ya?" tanya Audrey dengan ragu.


Begitu pria itu membalikkan badannya ...


Deg!

__ADS_1


****


Stay tune :)


__ADS_2