Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 24 > Audrey Dibuat Penasaran


__ADS_3

Audrey hanya bisa mengangguk pelan dengan mata yang masih menatap ke arah pria di depannya. Akandra pun kembali mengobati wajah Audrey sambil meniupi agar tidak terasa sakit. Kali ini Audrey tidak merasakan sakit melainkan jantungnya yang mulai berdegup kencang setiap kali Akandra mendekatkan wajahnya dan meniupi lukanya.


Jujur saya, ini adalah pertama kalinya ada seorang pria yang begitu peduli padanya. Sebelumnya, tidak pernah ada pria yang sepeduli ini padanya, walau itu suaminya sendiri. Mau dia sakit atau terluka, Devanka tidak pernah mengobatinya. Jangankan mengobati, melihat lukanya saja enggan.


Sehingga tak terasa, Akandra telah selesai mengobati wajahnya. Audrey masih belum sadar jika Akandra sudah tidak mengobati wajahnya, melainkan tengah menatapnya. "Apa masih sakit, Nona?" tanya Akandra dengan senyuman kecil di bibirnya.


Audrey hanya mengangguk kecil sembari tersenyum. "Syukurlah. Jadi, apa kamu sudah jatuh cinta padaku?" Tiba-tiba muncul ide jahil Akandra dengan mengejutkan Audrey dengan pertanyaannya itu.


Dan benar saja, Audrey terkejut dan tersadar dari lamunannya. Dia langsung beranjak dari ranjang dan menjauhi Akandra. "Terima kasih, Tuan," ucap Audrey tanpa menoleh ke arah Akandra yang masih terduduk di tepi ranjang.


"Drey, saya di sini! Kenapa berterima kasih pada gordyn?" timpal Akandra dengan sedikit tertawa kecil.


Benar, jika saat ini Audrey memang sedang menatap ke atau gordyn. Dia benar-benar dibuat salah tingkah oleh tuannya. Karena tidak ingin membuat tuannya berpikir macam-macam, Audrey pun mengalihkan pandangannya ke arah Akandra.

__ADS_1


"Saya ucapkan terima kasih untuk yang kedua kalinya. Terima kasih sudah mengobati luka saya," ucap Audrey dengan sedikit menundukkan kepala.


"Maaf," jawab Akandra.


Audrey yang tengah tertunduk pun seketika langsung mengangkat wajahnya. Dia menatap lekat Akandra dengan wajah yang heran. Wanita itu tidak paham dengan satu kata yang dilontarkan tuannya.


"Untuk apa?" tanya wanita yang berwajah heran itu.


Bagaimana tidak, kini Audrey sedang menatap dirinya dengan wajah yang serius. Wajahnya benar-benar tegang, membuat mukanya lucu dan menggemaskan. Berbeda dengan Audrey, dia tidak mengerti dengan ucapan Akandra.


"Menjahili saya? Menjahili bagaimana? Apa Tuan menulis sesuatu di punggung saya?" tebak Audrey.


Kemudian, Audrey berlari ke arah cermin meja rias dan membelakangi cerminnya agar matanya bisa melihat tulisan yang ada di punggungnya melalui pantulan cermin. Namun, dia tidak melihat ada tulisan apa pun di punggungnya. Tanpa Audrey sadari, kini Akandra sudah berada di depannya. Wanita gadaian itu melihat dengan jelas melalui pantulan cermin jika jarak antara dirinya dengan Akandra sangat dekat.

__ADS_1


Tanpa Audrey duga, Akandra langsung memeluk Audrey dengan hangat dan mengusap lembut punggung Audrey. "Semoga setelah ini, kamu bisa merasakan hidup yang sesungguhnya. Kamu harus ingat ... selama kamu berada di sampingku, kamu akan selalu aman karena aku akan selalu memperhatikanmu dan membuatmu senyaman dan sebahagia mungkin. Jadi, beri aku waktu satu bulan untuk meluluhkan hatimu. Oh iya, apa kamu ingin tahu ... masa gadaianmu?" Akandra melepaskan pelukannya. Dia beralih dengan memegang kedua bahu Audrey dan menatapnya.


"Katakan, berapa lama aku harus menjadi wanita gadaian?" tanya Audrey sambil membalas tatapan tuannya.


"1 bulan. Dalam satu bulan masa gadaian kamu akan habis dan sesuai perjanjian, suamimu akan mengambilmu dariku. Jadi, sebelum masa gadaianmu habis, izinkan aku berjuang untuk mempertahankanmu karena sejujurnya--"


"Apa?" Audrey penasaran dengan kalimat yang tidak Akandra lanjutkan.


"Saya--"


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2