
"Allohu Laa Ilaaha Illaa huwal hayyul goyyum, laa ta'khudzuhu sinatuw waala Naum, lahuu maa fissamaawati wa... wa.. Wassalam gue lupa, lanjutannya apalagi." ucap Freya panik, "
"Astagfirullah,,. Gue Kristen, Fre. kalo Lo lupa." Agatha mengelus dada nya dramatis melihat wajah panik berlebihan dari teman sebangku nya itu.
"Lagunya, ujung-ujungnya nyebut juga..."
"Refleks gue,."
Freya memutar kedua bola matanya malas, tangan nya terjulur kearah kening untuk mengecek suhu tubuh Agatha.
"Ngapain sih, Fre.?" Agatha mendelik seraya menepis tangan Freya dari kening nya. Entah sejak kapan gadis itu kembali dari kantin dan langsung membuat rusuh di kelas.
"Lah,,, normal Lo.? gue kira lagi kemasukan mahluk halus."
"Ya Lord, tolong jaga kesucian mulut gue untuk tidak mengucapkan kalimat terlarang karena mempunyai teman seperti Freya, Aminnn." Agatha menengadahkan kepalanya keatas kemudian mengatup dan membuka kedua tangan nya di depan dada setelah doa nya selesai.
"Lo parah banget sih, Fre. Temen sendiri sehat Wal'afiat begini Lo katain. Inget, Fre. ucapan adalah doa. Jangan sembarangan kalo berucap. Kalo gue kemasukan beneran gimana, Lo mau tanggung jawab.?"
"Gue bantu jawab aja, Ta." Freya menggeleng kuat seraya mengibas-ngibaskan tangannya di udara.
"Dilan aja ga kuat, apalagi gue." lanjut nya.
"Ya makanya, sukur-sukur kalo kemasukan jin yang semasa hidupnya selalu slay. Kan anggunly gitu bawaannya, nah kalo kemasukan jin reog gimana.? ish... amit-amit jabang Jungkook."
Marina yang duduk di pojokan sedari tadi diam menyimak perdebatan unfaedah yang terjadi antara Agatha dan juga Freya hanya tersenyum kecil seraya menggeleng pelan melihat kekonyolan dua wanita di kelas baru nya ini.
"Dih,,, lagian Lo aneh banget, balik-balik dari kantin pake acara senyum-senyum sendiri ga jelas. Kan gue ngeri jadinya mau duduk dampingan sama Lo." sahut Freya membela diri.
"Sableng,,," ketus Agatha.
"Jadi kenapa Lo senyum-senyum sendiri kalo bukan lagi kemasukan mahluk halus.?" tanya Freya.
"Noh."
Agatha pun menyodorkan sebatang coklat Silverqueen berukuran jumbo dihadapan wajah Freya.
__ADS_1
"Waya-waya coklat sebatang Lo berhasil buat gue bergidik ngeri, Ta." ucap Freya sambil mengambil sepotong coklat yang Agatha sodorkan kedepan wajah nya dan memasukkan kedalam mulutnya.
"Emang dari siapa sih, kelihatan seneng banget Lo menerimanya.?"
"Arka,." sahut Agatha.
Tangan gadis itu masuk kedalam saku tas tas nya dan menunjukkan sepaket coklat isi sepuluh namun sisa sembilan karna satu nya sudah ia makan bersama-sama dengan teman sebangku nya yang lain.
"Apaan nih.?" ujar Freya, jari tangannya yang lentik bergerak cepat mengambil bingkisan dan selembar kertas berisi tulisan permintaan maaf dari Arka untuk Agatha.
"Baca aja."
Freya membaca dengan mulut ternganga. membuat gadis tomboi berpipi chubby di sebelahnya terkikik geli.
"Huwaaa... Si Arka romantis banget, Gila. Gue juga pengen dong punya temen seperti doi." Freya menghentak-hentakan kaki nya gemas setelah membaca tulisan tangan Arka pada selembar kertas.
"Pantes aja Lo senyum-senyum sendiri dari tadi, gue juga kalo diginiin sama si Arka mah auto jungkir balik tujuh hari tujuh malam." lanjut nya kemudian kembali menatap surat yang masih di genggamnya erat.
"Kamu sih, apapun pasti selalu romantis, Fre. sendal jepit bekas aja, asal di kasi kata-kata gombalan juga romantis kan.?"
Meski kedatangannya belum seberapa lamanya di 5 SILA, tetapi gadis kelahiran Bandung asli itu sudah memiliki banyak teman karena sifat nya yang ramah dan akrab kepada semua orang.
"Ishh... ga gitu juga, Na. Konsepnya." decak kesal terdengar dari bibir Freya.
"Terus, apa dong namanya.?" tanya Marina dengan alis nya terangkat sebelah seolah sedang menantang.
"Itu namanya kreatif, Tau."
"Antara kreatif dan ga modal buat romantis juga beda tipis, Fre." balas Agatha.
"Hahahaha...."
ucapan frontal dari Agatha berhasil membangkitkan suasana kelas yang semulanya hening.
"Kok kalian gitu sih, sama gue." Freya langsung manyun karena kesal dan duduk memunggungi Agatha juga Marina.
__ADS_1
Bukannya merasa simpati atau peduli melihat Freya yang mulai merengek ngambek, Agatha dan teman sekelas Freya yang lain malah serempak tertawa terbahak-bahak.
Aksi ketiganya baru terhenti saat suara langkah kaki disertai dengan kemunculan seorang guru perempuan yang masih kelihatan cantik di usianya yang tak lagi muda itu kedalam kelas.
Ibu Natasha nama nya, dia adalah guru matematika wajib sekaligus guru wali di kelas Agatha.
Di tangan sebelah kirinya ada beberapa tumpukan buku, sedangkan di tangan sebelah kananya terdapat mistar panjang berbahan milenium.
"Selamat siang semuanya," sapa nya berusaha terlihat ramah.
"Selamat siang juga Bu," koor seisi kelas serempak.
"Baik, untuk mempersingkat waktu kita. silahkan buka buku LKS kalian di halaman 71, Bagian B. Hari ini kita akan melanjutkan sedikit tentang materi kita di Minggu kemarin yaitu tentang Himpunan."
"Siap Bu.,"
.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
Holla-holla hai bestie, jangan lupa like, koment, share dan juga vote ya😊
terimakasih sudah mau stay bersama othor sampai hari ini🤗 tanpa support dan dukungan dari kalian othor ga tau mau dibawa kemana karya ini.
__ADS_1
semoga kalian sehat selalu dan diberikan kelancaran rezekinya, Aminnnn🙏🏻
Love U all🙆