
Sudah seminggu ini baik Agatha, Arka dan Delan menjalani aktivitasnya sebagai senior paling atas di SMA 5 SILA. Mereka sudah naik ke kelas XII sekarang. Kalian pasti tahu kan apa yang paling menyebalkan di kelas XII? apalagi jika bukan segala keriwehan pelajaran yang semakin menggila dan adanya jam extra yang diadakan oleh pihak sekolah untuk menunjang keberhasilan siswa dan siswinya saat Ujian Nasional nanti.
Siang itu mereka tengah berkumpul di kantin, duduk melingkar pada meja kayu berwarna merah cerah.
"Woii, lihat deh!" Agatha berbisik, menunjuk dengan bahasa isyarat.
Arka dan Delan mengikuti arahan Agatha. Dilihatnya Puspita sedang berjalan masuk ke area kantin dengan seorang cowok lumayan keren. Arthur Dewantara kalo tidak salah namanya, Mantan ketua OSIS yang sangat lihat berbicara dalam beberapa bahasa asing.
Arthur Dewantara adalah siswa 1 angkatan di atas Delan dan kawan-kawan. Artinya dia sudah menjadi Mahasiswa sekarang.
"Hai..." Sapa Puspita dengan ramah, sebelum berjalan mengikuti Arthur, menuju meja paling ujung. Matanya sempat menatap wajah Depan selama beberapa detik, dengan tatapan yang dalam.
Delan balas menyapa dengan keramahan yang sama. Wajahnya tak menunjukkan perubahan ekspresi. Ia dan Puspita kini tak lagi sekelas. Mereka juga sudah tidak sibuk mengurus Mading sejak kepengurusan baru terbentuk satu bulan yang lalu, yang mana kepengurusan inti sekarang di ambil alih oleh anak-anak kelas X dan XI.
Mata Agatha bergerak ke meja paling ujung. Meja yang ditempati oleh Puspita dan Arthur. Mereka saling duduk berhadapan, saling tersenyum dan kelihatan begitu... Akrab.
"Lan..."
"Apa?"balas Delan sambil meneguk es teh manis miliknya.
"Lo, ngga cemburu gitu melihat Puspita ada gebetan baru?"
Delan tertawa mendengar pertanyaan Agatha yang spontan barusan.
"Kek nya udah berkali-kali juga ya Ta gue kasi tahu, gue ngga punya perasaan apa-apa sama dia."
"Seriusan Lo?"
Delan tertawa sambil tertawa lagi.
"Hmm... akhirnya mata Puspita sembuh juga ya."
"...?" Arka bingung. Setahunya, selama ini Puspita sehat-sehat saja tidak pernah menderita sakit mata sekalipun.
"Bingung Lo? jangan bingung lah, Lo sendiri kan tahu kalo selama ini Puspita tuh kesengsem berat sama Delan, banyak belek nya sih, heheh...."
"Hahahah..."
__ADS_1
Delan ikut tertawa lepas bersama Arka. Tak lama tawanya memudar berganti dengan wajah pias.
"Kenapa Lo?" tanya Agatha cemas ketika dilihatnya beberapa kali Delan mengerang lirih sambil memegangi perut bagian bawahnya.
Delan hanya mampu menggeleng.
"Sakit lagi?"
"Ngga, gue sehat kok. Ngga apa-apa. Sebentar juga hilang sendiri," Depan menegakan duduknya dan terlihat biasa saja agar Agatha tenang.
"Seriusan?" Tanya Agatha lagi.
Delan mengangguk. Tapi tak begitu yakin dengan anggukannya sendiri.
"Eh, tar malem gue denger ada pameran loh di pasar malam, kuy merapat." Ajak Arka setelah dikiranya kondisi lumayan kondusif untuk memulai perbincangan.
"Gue sih gas lah, ngga tau Delan bakalan ikut apa ngga," tunjuk Agatha dengan dagunya.
"Gue ikut!" balas Delan.
...****************...
Di Pasar malam.
Delan menatap notebook keluaran terbaru di depannya dengan mata tak berkedip. Terhitung sejak mereka masuk sudah 15 menit lamanya lelaki berkacamata minus itu berdiri di depan benda yang dibandrol dengan harga 9.999 juta itu.
"Gimana, Lan? suka sama yang ini ya?" Arka yang baru berkeliling datang menghampiri. Setelah berkeliling di area kulineran, Arka dan Agatha menemani Delan ke pameran Komputer. Kata Delan, komputer jadul miliknya akhir-akhir ini mulai ngadat.
"Sebenarnya iya sih, Ka. Tapi... harganya, duit tabungan gue belum cukup, mungkin lain hari aja baru bisa ke sini lagi. Sekarang temenin gue cari yang second aja, ya?"
"Sorry nih, emang kurangnya berapa, banyak banget ya?"
"Banyak, Ka. Baru aja sepertiganya, heheh...."
Arka merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar kartu kredit berwarna hitam dari dalam dompetnya. "Lo bisa pake-"
"Big No! Ka, Lo udah terlalu sering nolongin gue," Dengan cepat Delan memotong kalimat yang hendak Arka ucapkan karena tahu apa yang akan Arka katakan selanjutnya.
__ADS_1
"Dih, Ge-er Lo, Gue ngga ngasi gratisan ya, ini pinjeman, Hehehe... Lo boleh nyicil kapan aja Lo ada duit, ngga harus sekarang juga."
"Udah ngga usah, Ka. Seriusan Gue..." Kalimat Delan terhenti. Kembali ia meringis menahan ngilu pada perutnya.
"Lan, kenapa Lo?"
Delan masih sama. Meringis sambil memegangi perutnya.
"Aduh, sakit lagi ya?"
Delan hanya mengangguk.
"Oke fiks kita pulang. Lo tunggu di sini bentar ya, gue cari Agatha dulu."
Lagi-lagi depan hanya mengangguk.
Setelah mendudukkan Delan pada sebuah kursi panjang, Arka dengan langkah lebar mencari keberadaan Agatha di tengah banyaknya pengunjung.
Lima menit kemudian Arka datang diikuti Agatha di belakangnya dengan langkah tergesa-gesa.
"Lo kenapa lagi sih, Lan? sehari aja jangan bikin gue khawatir bisa?" omel Agatha saya melihat wajah tampan Delan sudah pucat.
"Nanti aja Ta ngomelnya, mending Lo bantuin gue buka pintu mobil dulu, biar Delan gue yang gotong. Kita balik sekarang."
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
Jangan lupa like, koment, share, vote dan juga rating karya othor ya💜🙏🏻
__ADS_1