
Jam sudah menunjukkan pukul 22:30 saat Arka kembali ke rumahnya setelah mengikuti party yang Zaros adakan bersama rekannya yang lain.
Dengan langkah terseret Arka memasuki rumah besar itu. Saat hendak masuk ke salah satu ruangan, langkahnya terhenti. Ia melihat kedua orang tuanya lagi-lagi tengah baku mulut. Arka tertegun. Hatinya miris. Ia menata mereka dengan sedih.
Dua orang yang begitu amat Arka rindukan selama ini kehadirannya itu tak pernah berhenti saling menyalahkan, saling mencaci dan memaki. Mata mereka penuh dengan emosi dan rasa lelah. Sama sekali sudah tidak terlihat tanda-tanda cinta di hati mereka seperti waktu dulu.
Papi Arka menghardik sang istri dengan kasar. Bukanya merasa takut dan berhenti berteriak, Maminya malah semakin keras berteriak sambil menyebut nama Safira berulang-ulang, membuat lelaki paruh baya yang masih gagah dan tegap itu makin tersulut emosinya.
PLAKK!!!
Sebuah tamparan keras berhasil mendarat dengan mulus di pipi sang istri. Seolah tak berarti apa-apa, Sang istri kembali berteriak-teriak dengan suara yang jauh lebih keras. Seperti menantang.
Tangan Papi Arka kembali ingin terayun tapi terhenti saat mendengar seruan putra semata wayangnya.
"JANGAN, PAPI!" Teriak Arka lantang. "Jangan lakuin kekerasan lagi sama Mami," lanjutnya.
Pasangan suami istri itu menoleh berbarengan ke arah sumber suara. Wajah mereka tampak kaget melihat keadaan sang anak yang berantakan. Mata merah, seragam kusut. Sangat tidak terurus.
"Dari mana saja kamu? jam segini baru pulang. Pelajar apa yang malam-malam masih keluyuran?" tanya papinya dingin.
"Eh? sejak kapan kamu perduli?" balas Arka tak kalah dingin.
__ADS_1
"Jawab saja kalau papi sedang bertanya, Arka" Papi Arka mengeram rendah.
"Sejak kapan Papi menjadi kepo sekali dengan urusan Aku? Papi ngga perlu tahu, dan ngga usah tahu karena bukan urusan Papi."
Papi Arka tercengang.
"Selama ini juga Papi ngga pernah kan perduli sama aku, ngga usah sok-sok an nyalahin aku supaya bisa kabur dari masalah Papi sama Mami, deh. Kalian membuat ku muak,"
Sang ayah semakin bertambah kaget. "Dasar anak kurang ajar! beraninya kamu berkata demikian terhadap irang tua sendiri, apa sekolah murahan itu yang telah mengajarimu untuk menjadi seorang pemberontak?"
"Jangan bilang murahan, Pi. Bagiku, sekolahku adalah sekolah terbaik sedunia! Malah seharunya Papi yang ngaca, kelakuan Papi dengan para ****** itu lah yang terlihat murahan!"
Wajah Papi Arka menegang, tangannya bergetar. Alih-alih meminta maaf kepada sang anak, si Papi justru menyalahkan sang istri. "Lihat, inilah hasil didikan istri yang tidak becus seperti kamu." katanya ketus pada sang istri.
"Berhenti Pi! stop nyalain orang lain atas kesalahan yang Papi buat sendiri. Papi sering menyalahkan Mami, Papi pikir, Papi sendiri sudah becus menjadi orang suami sekaligus ayah?" Mami Arka yang tidak terima disalahkan pun balas menyerang.
Tangan Papi Arka kembali terayun tapi singgah di udara karena Arka cepat-cepat menarik maminya. Alhasil, Papi Arka hanya memukul udara saja.
"Pukul aku aja, Pi. JANGAN MAMI! kasihan." Kata Arka terdengar merengek.
Papi Arka merasa hatinya begitu nyeri saat melihat anak semata wayangnya berkaca-kaca demikian hanya karena membela sang ibu. Tanpa kata lelaki tua yang masih tampan di usianya itu bergerak meninggalkan sepasang anak dan ibu itu di sana.
__ADS_1
Dengan manipulatif nya mami Arka menghapus air matanya, seolah-olah dialah yang paling tersakiti.
"Mami ngga apa-apa? pipinya sakit kah? Arka ambilin salep ya?" Tanyanya merasa iba. Ia menatap sang mami dari ujung hingga kaki, untuk memastikan jika tidak terjadi apa-apa pada sang mami.
Perempuan bertubuh ramping itu menggeleng, mencium kedua pipi Arka bergantian. "Mami ngga apa-apa kok sayang, kamu tidur ya? mami juga mau istirahat, capek."
Capek? batin Arka tertawa miris mendengarnya. Dia yang pertama kalinya tertampar oleh sang ayah bahkan tidak ditanya, tapi baiklah mari kita maklumi dulu. Mungkin memang benar jika saat ini maminya sedang lelah.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
Jangan lupa like, vote, koment, share dan juga ratingnya ya bestie๐๐ป๐
__ADS_1